
Matahari yang cerah telah kembali muncul ke permukaan. Sinar mentari pagi menembus masuk kedalam kamar melalui jendela kaca. Gorden-gorden tipis yang melekat di jendela juga mulai berterbangan saat angin kecil menerpanya.
Emelie mulai membuka matanya secara perlahan. Wanita itu tidur dengan posisi miring ke kiri dan menghadap ke jendela. Ada senyum indah saat ia melihat keindahan gunung yang ada di luar sana. Embun pagi terlihat seperti selimut di atas gunung-gunung itu.
Suasana pagi yang sangat menyejukkan mata. Wanita itu sangat bahagia bisa tinggal di rumah itu. Sebuah rumah impian yang selama ini ingin ia tempati. Suara kicauan burung juga terdengar begitu merdu. Emelie melamun beberapa menit sambil menikmati udara segar yang masuk ke dalam kamar.
Tangan kanan Zeroun terlihat melingkar di perut Emelie. Pria itu masih tetap memejamkan mata walau ia sudah terbangun dari tidurnya. Kedua bola matanya terpejam sambil memikirkan alasan atas luka yang kini ia derita. Sudah bisa di bayangkan bagaimana wajah panik kekasihnya saat melihat luka-luka itu nantinya.
Emelie mengukir senyum manis saat melihat tangan kekar kekasihnya kini ada di tubuhnya. Wanita itu mulai menggerakkan tubuhnya untuk memandang wajah sang kekasih. Sesuai dengan dugaan Zeroun sejak awal. Saat pertama kali melihat wajahnya yang terluka wanita itu akan langsung berteriak.
“Baby, apa yang terjadi?” Emelie beranjak dari posisi tidurnya. Dua tangannya menyentuh wajah Zeroun yang terdapat beberapa luka.
“Aku baik-baik saja, Baby,” jawab Zeroun dengan senyum kecil. Pria itu membuka matanya secara perlahan. Mengedipkan matanya berulang kali sambil memandang wajah cantik wanitanya.
“Selamat pagi, Baby,” sambung Zeroun.
“Luka ini,” ucap Emelie sambil memperhatikan luka yang kini ada di dahi kekasihnya.
“Apa yang sudah terjadi? tadi malam ini masih baik-baik saja.” Emelie mengusap lembut luka di dahi Zeroun yang hampir mengering. Tatapan matanya turun ke arah tangan pria itu yang kini masih berada di pinggang ramping miliknya. Emelie meraih tangan Zeroun yang sejak tadi terlihat disembunyikan.
“Baby, apa ini?” Emelie mengangkat tangan yang tertutup perban. Masih terlihat jelas darah segar di perban putih itu.
Zeroun menarik tubuh Emelie hingga membuat tubuh wanita itu ada di atas tubuhnya. Mengecup kening kekasihnya beberapa detik sambil memejamkan mata.
“Aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil. Jangan khawatir hingga seperti itu,” ucap Zeroun dengan senyuman manis.
“Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Kau pergi saat Aku tidur?” Emelie mengeryitkan dahi dengan mata penuh selidik.
“Aku terpeleset di kamar mandi tadi malam. Tangan kananku terbentur kaca hingga terluka seperti ini.” Zeroun memperhatikan jarinya dan kembali membayangkan tindakan ceroboh yang ia lakukan tadi malam.
“Benarkah?” Emelie terlihat belum percaya.
Zeroun mengangguk pelan, “Aku tidak akan berani berbohong padamu sayang.” Zeroun mengecup bibir Emelie dengan begitu mesra. Menarik tubuh wanita itu agar semakin melekat di atas tubuhnya. Satu tangannya yang lain terlihat melingkari pinggang ramping milik Emelie.
Emelie menahan tubuhnya dengan kedua tangan yang berada di samping kepala Zeroun. Secara perlahan putri kerajaan itu mulai membalas kecupan hangat Zeroun. Wanita itu masih menyimpan rasa curiga atas penjelasan kekasihnya. Ada satu hal yang ganjil dari penjelasan yang baru saja diberikan oleh Zeroun.
Zeroun melepas kecupannya dengan senyum dibibir, “Sayang, ayo kita berenang.”
“Berenang?” Emelie mengeryitkan dahi atas tawaran Zeroun pagi itu.
“Ya, berenang di bawah matahari sungguh menyenangkan.” Zeroun melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Pria itu sengaja membawa Emelie pergi ke kolam renang sebelum pasukan Gold Dragon mengganti kaca yang pecah.
“Aku ingin mengganti pakaian renang,” jawab Emelie sambil beranjak dari tempat tidur. Wanita itu memilih pakaiannnya di dalam lemari yang sudah tersusun rapi.
“Emelie!” teriak Zeroun sambil berlari untuk menahan langkah kekasihnya.
“Kenapa?” Emelie menatap wajah Zeroun dengan tangan menggenggam baju renang.
“Ayo kita berenang,” jawab Zeroun dengan wajah mulai panik. Di dalam kamar andi masih ada baju terakhirnya yang dipenuhi dengan darah segar. Akan menjadi masalah besar jika Emelie berhasil menemukan baju miliknya itu.
“Iya, Aku harus mengganti pakaianku dengan baju renang ini.”
“Tidak perlu. Begini saja kau sudah terlihat cantik.” Tanpa banyak kata lagi. Zeroun membawa tubuh kekasihnya ke dalam gendongan. Membawa wanita itu menuju ke arah kolam renang.
“Zeroun, lepaskan. Aku harus mengganti pakaianku,” protes Emelie dengan wajah kesal.
“Sayang, kau lebih cantik mandi dengan menggunakan gaun seperti ini.” Zeroun menurunkan tubuh Emelie dan menatap wajah wanita itu dengan seksama.
“Tapi,” ucapan Emelie terhenti saat tubuhnya seakan melayang di udara. Dalam waktu sekejab, Zeroun dan Emelie sudah ada di dalam kolam renang secara bersamaan. Tumpahan air itu membasahi tepian kolam renang dengan begitu deras.
“Zeroun! Kau ini,” protes Emelie saat ia masuk kedalam kolam renang dalam keadaan belum siap. Dengan lebut Emelie merapikan rambutnya yang menutupi wajahnya.
Zeroun juga membantunya sambil tertawa dengan wajah ceria. Pria itu telah berhasil menjahili kekasihnya pagi ini. Walaupun niat awalnya hanya menyembunyikan masalah yang sudah ia buat di dalam kamar mandi.
“Sayang, lihatlah. Ini terlihat sangat indah.” Zeroun tertawa melihat gaun Emelie yang kini terapung di permukaan air. Gaunnya yang tidak terlalu tebal kini memamerkan bagian depan dadanya dengan lekuk sempurna.
Emelie menunduk melihat penampilannya yang memalukan itu. Wajahnya merona malu saat kedua mata kekasihnya kini memperhatikan penampilannya.
“Zeroun, kenapa kau berubah mesum seperti ini!” Emelie mendorong tubuh Zeroun saat pria itu terus saja menertawainya.
“Maaf Baby,” jawab Zeroun sambil menahan tawa. Pria itu memandang ke arah kamar. Pasukan Gold Dragon terlihat pergi meninggalkan kamar sambil membawa kaca yang telah pecah. Ada senyum puas di bibir Zeroun atas kerja bawahannya pagi itu.
Emelie berenang ke arah tepian untuk naik ke atas. Wanita itu ingin segera mengganti gaunnya yang basah. Keinginannya untuk berenang bersama Zeroun sudah tidak ada lagi. Wanita itu ingin mandi di kamar mandi secepatnya.
“Sayang, maafkan Aku,” teriak Zeroun sekali lagi. Pria itu masih berdiri di tengah-tengah kolam.
“Kau pria yang menyebalkan!” Emelie berjalan masuk ke dalam kamar. Wajahnya terlihat cukup kesal pagi itu. Bajunya yang basah, memamerkan lekuk tubuhnya yang begitu indah.
Zeroun menggeleng kepalanya dengan wajah bahagia. Melihat tubuh seksi kekasihnya memang selalu saja membuatnya lepas kendali. Pria itu juga baru saja sadar kalau kini ia masuk ke dalam kolam dengan setelan santainya.
“Sepertinya renang pagi ini berakhir sampai di sini,” ucap Zeroun pelan sambil berenang menuju ke tepian. Pria itu juga tidak lagi bersemangat untuk melanjutkan mandinya di kolam renang yang dingin itu. Ia lebih memilih mengikuti jejak kekasihnya untuk mandi di kamar mandi dan segera mengganti pakaiannya dengan yang kering.
like...komen dan vote. terima kasih.