
Di pinggiran kolam ikan yang sangat luas. Cahaya lampu warna–warni membuat tampilan kolam ikan itu terlihat begitu sempurna. Di bawah cahaya rembulan, ikan–ikan itu berenang kesana kemari. Emelie berdiri ditepian kolam. Ia tidak lagi sanggup menatap wajah Zeroun. Apalagi untuk melihat kepergian pria itu.
Namun ini adalah malam terakhirnya untuk bisa melihat wajah Zeroun. Hatinya sedih dan terluka. Emelie belum siap untuk berada jauh dari Zeroun. Ada rasa menyesal di dalam hatinya karena membiarkan masalah ini cepat selesai.
Emelie telah jatuh hati kepada Bos Mafia Gold Dragon. Kebersamaan mereka selama beberapa hari ini telah menumbuhkan rasa cinta di dalam hati Emelie. Tapi, ia merasa kini cinta pertamanya tidak terbalaskan. Zeroun tidak terlihat peduli atau menaru hati kepadanya. Pria itu hanya menganggap Emelie seseorang yang harus di tolong dan bebas di tinggalkan saat ia sudah tidak memiliki masalah lagi.
Dengan wajah sedih dan putus asa. Emelie memejamkan matanya. Meremas dresnya untuk menekan rasa terluka di dalam hatinya.
Dari belakang, terdengar langkah kaki seseorang yang ingin mendekati Emelie. Wanita itu memutar tubuhnya untuk melihat wajah seseorang yang kini berdiri dibelakangnya. Lagi-lagi rasa nyaman dan tenang itu muncul. Saat Emelie bisa melihat wajah Zeroun Zein ada dihadapannya.
“Zeroun?” ucap Emelie dengan senyum manisnya.
“Apa kau sudah selesai?” Emelie kembali teringat dengan kesibukan Zeroun di dalam. Sebelum ia pergi meninggalkan Zeroun bersama dengan Damian.
Zeroun mengangguk pelan, berdiri di samping Emelie dengan tatapan ke arah kolam. Wajahnya sedingin es dengan kedua tangan di dalam saku. Tidak ada senyum atau wajah ceria sama sekali.
“Aku akan meninggalkan kota Cambridge malam ini.” Zeroun mengutarakan isi hatinya untuk berpamitan kepada Emelie.
Rasa luka itu memenuhi hati Emelie. Satu perasaan yang tidak rela kalau harus di tinggal oleh Zeroun. Ia ingin mencegah pria itu untuk tidak pergi. Tapi, semua itu tidak mungkin terjadi.
“Emelie, satu hal yang ingin Aku katakan padamu. Jalan hidup Kita berbeda. Hidupku sangat berbahaya. Kau tidak akan mungkin sanggup menghadapi kehidupan seperti yang kini Aku alami.” Zeroun tahu arti kesedihan Emelie. Kesedihan Emelie sekarang sama dengan luka yang ia rasakan. Pria itu juga merasa berat untuk meninggalkan Emelie.
“Zeroun, apa kau mau membawaku ke suatu tempat?” Emelie menatap wajah Zeroun dengan seksama. Wajahnya dipenuhi dengan harapan kalau Zeroun mau mengabulkan permintaannya.
Zeroun melihat jam yang melingkar di tangannya. Ia masih memiliki waktu dua jam lagi sebelum berangkat ke Brazil.
“Kemana?” Zeroun mengeryitkan dahi.
“Suatu tempat untuk merayakan perpisahan kita.” Emelie mengukir senyuman terpaksa.
Zeroun mengangguk setuju sebelum memutar tubuhnya menuju ke arah mobil. Emelie mengikuti Zeroun dari belakang.
Setelah berada di dalam mobil selama beberapa menit. Kini Zeroun dan Emelie tiba di tempat yang diinginkan oleh Emelie.
Emelie membawa Zeroun ke sebuah bukit yang menghadap langsung ke arah kota. Wanita itu tersenyum puas saat bisa mengunjungi tempat favoritnya bersama dengan Zeroun. Bibirnya tersenyum dengan tangan di rentangkan. Emelie menikmati keindahan kota dari bukit berbatu itu.
“Apa kau sering kesini?” Zeroun tersentuh dengan keindahan kota Cambridge di malam hari.
“Ini kedua kalinya Aku kesini. Aku berjanji pada tempat ini. Untuk datang lagi bersama dengan seseorang yang sangat berharga dalam hidupku.” Emelie masih memejamkan mata saat menjawab pertanyaan Zeroun.
Zeroun menatap wajah Emelie, “Kanapa harus aku? kau memiliki Damian. Kenapa tidak membawa pria itu kesini.”
“Aku tidak menyukainya. Cepat atau lambat Aku akan membatalkan pertunangan ini. Cincin pertunangannya juga sudah hilang entah kemana.” Emelie tertawa kecil seolah-olah hatinya sedang bahagia.
“Emelie ... Aku ....” ucapan Zeroun terhenti. Emelie membalas tatapan matanya.
“Aku tidak ingin ada di istana itu. Aku ingin pergi bersamamu, Zeroun.” Mata Emelie berkaca–kaca. Ada wajah memohon dari tatapan Emelie malam itu.
“Aku janji, tidak akan menyusahkan hidupmu. Tidak akan membuatmu sedih atau pusing. Tapi, tolong ijinkan Aku ikut denganmu.”
“Maafkan Aku, Emelie. Tapi, Aku tidak bisa membawamu kedalam masalah ini.” Zeroun mendekati Emelie dan menggenggam tangannya.
“Tidak ada lagi yang ingin mencelakaimu, Emelie. Kau seharusnya bisa hidup tenang di istana.” Zeroun berusaha menyakinkan Emelie agar wanita itu merubah keinginannya.
Emelie menggelengkan kepalanya, “Aku ingin ikut bersamamu.”
Buliran air mata menetes. Zeroun menghapus buliran air mata yang membasahi wajah Emelie.
Maafkan Aku Emelie, Aku ingin kau ada disisiku selamanya. Tapi, Aku sendiri tidak tahu. Apa Aku bisa kembali ke Hongkong dengan selamat atau tidak nanti.
Zeroun tersenyum kecil memandang wajah Emelie.
“Sudah waktunya, Aku harus pergi. Aku akan mengantarmu kembali ke istana.” Zeroun menarik tangan Emelie. Tetapi, Emelie menahan langkahnya. Melepaskan genggaman tangan Zeroun.
“Aku tidak ingin kembali ke istana. Aku ingin ikut denganmu. Aku mohon.” Protes Emelie dengan suara serak bercampur air mata. Putri Kerajaan itu tidak ingin berpisah dengan Zeroun.
“Baiklah, beri Aku satu alasan kenapa Aku harus membawahmu pergi bersamaku?” Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama.
Dengan sabar, ia menunggu jawaban yang akan segera di ucapkan oleh Emelie. Tapi, Emelie tidak kunjung mengeluarkan kata. Bibirnya seperti terkunci untuk mengatakan alasan itu.
“Jika tidak ada, ayo kita pergi dari sini dan Kau harus kembali ke istana.” Zeroun memutar tubuhnya berjalan kearah mobil.
Emelie mengepal kuat kedua tangannya. Menghapus rasa gengsi adan angkuh yang ia miliki. Hal itu harus dikatakan agar ia tidak kehilangan Zeroun.
“Karena Aku mencintaimu, Zeroun,” teriak Emelie.
Zeroun menghentikan langkahnya. Mematung beberapa detik. Ungkapan perasaan Emelie menggema memenuhi hamparan luas itu. Terbawa oleh angin hingga berhasil masuk ke dalam hati Zerun.
Zeroun memutar tubuhnya untuk menatap wajah Emelie. Ada perasaan bahagia saat mendengarkan alasan yang di ucapkan oleh Emelie. Bos mafia itu berjalan mendekati tubuh Emelie, menyentuh pipi Emelie dengan kelembutan.
“Katakan sekali lagi Emelie, Aku ingin mendengarnya.” Emelie menatap wajah Zeroun tanpa berkedip.
“Aku mencintaimu Zeroun. Sangat mencintaimu. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan itu ada. Bawa aku pergi bersama denganmu. Aku rela kehilangan seluruh harta yang Aku miliki. Tapi Aku tidak akan bisa kehilangan dirimu.” Emelie menangis atas kalimat yang ia ucapkan. Hatinya rapuh-serapuhnya. Ia tidak tahu, apa berkata jujur bisa membuat Zeroun tidak pergi menjahuinya.
Zeroun menarik tubuh Emelie kedalam pelukannya. Memberi kehangatan dengan penuh cinta. Kepalanya ia benamkan di dalam leher Emelie yang jenjang.
“Maafkan Aku, Emelie.” Zeroun memeluk Emelie untuk beberapa saat. Memejamkan mata dengan hembusan napas yang hangat. Setelah puas memeluk Emelie, ia melepas pelukannya. Menatap wajah Emelie dengan seksama.
“Aku akan membawamu pergi bersama denganku. Aku akan berusaha untuk selalu melindungimu.” Zeroun mencium bibir Emelie. Menghapus keegoisan yang selama ini memenuhi hatinya.
Namun, entah kenapa untuk mengatakan kata cinta. Bibir pria itu masih terasa kaku. Ada rasa ragu saat ingin mengucapkannya. Walaupun kini ia tahu, kalau ia juga tidak ingin jauh dari Emelie.
Kini pria itu sudah membuka hatinya untuk merasakan cinta. Ia tidak ingin kehilangan wanita yang ia cintai lagi. Emelie menggenggam kemeja Zeroun. Matanya terpejam saat Zeroun mencium bibirnya.
Hatinya sangat bahagia, karena Zeroun juga merasakan perasaan yang sama dengan dirinya. Walaupun Zeroun tidak mengungkapkan rasa itu secara langsung.
Tapi, sentuhan itu sudah mewakili isi hati Zeroun malam itu. Tidak ada lagi yang akan ia khawatirkan saat Zeroun berada di sisinya.