Moving On

Moving On
Tidak terduga



Zeroun menatap wajah Damian dengan tatapan yang sangat menakutkan. Tanpa menunggu lama lagi, pria itu menarik kerah kemeja yang kini di kenakan oleh Damian. Melayangkan pukulan demi pukulan untuk memberi pelajaran kepada pria tak berperasaan itu. Pukulan pertama dilayangkan di bagian perut Damian. Pukulan yang dipenuhi tekanan itu berhasil membuat Damian merasakan sesak.


Tapi, Damian juga tidak mau menyerah. Pria itu berusaha keras untuk melayangkan pukulan kepada Zeroun. Belum sempat pukulan itu mendarat di wajah Zeroun, tangannya sudah tertahan dan digenggam kuat oleh Zeroun. Pria itu menatap tajam mata Damian yang kini jaraknya tidak terlalu jauh dari hadapannya.


Tanpa segan-segan lagi, Zeroun melintir tangan Pangeran Monako itu. Masih terbayang jelas di dalam ingatan Zeroun. Bagaimana traumanya Emelia saat pria yang kini ada di hadapannya berani menyentuh wanitanya.


“Kau pantas mati, Damian!” teriak Zeroun dengan satu tendangan kaki hingga membuat Damian mengeluarkan darah di bagian mulut.


Di sisi lain. Adriana tidak lagi tega melihat kekasihnya teraniaya. Wanita itu berusaha mencari pistol untuk menembak Zeroun dari sisi lain. Satu pistol terletak bebas di tepi gedung. Wanita itu memutar arah tubuhnya dan berlari menuju ke tepian gedung itu.


Emelie menatap Adriana dengan seksama. Wanita itu mengeryitkan dahi saat melihat tujuan Adriana berlari memutar arah. Sungguh hal yang membuat syok. Ketika Adriana berdiri dan menggenggam sebuah pistol dengan tangan gemetar. Wanita itu memang belum pernah memegang sejata berbahaya seperti itu. Tapi, demi menolong Damian. Adriana memberanikan diri untuk menembak pria yang kini menyakiti orang tercintanya.


Emelie berlari ke dalam mobil. Wanita itu mencari-cari pistol lain yang bisa ia gunakan untuk menyelamatkan Zeroun. Di bawah, tepatnya di dekat pedal gas. Emelie menemukan sebuah pistol di sana. Dengan gerakan cepat, Emelie meraih pistol itu. Membawanya pergi meninggalkan mobil.


Emelie berdiri di samping mobil sambil membidik ke arah pistol yang kini di arahkan oleh Adriana. Dengan hembusan napas yang terasa berat, Emelie mulai menarik pelatuk pistolnya. Wanita itu sangat yakin, kalau kini ia bisa menghalangi Adriana.


DUARRR


Suara tembakan yang di keluarkan Emelie cukup membuat semua orang mematung beberapa detik. Pistol yang di genggam Adriana terhempas hingga jatuh ke lantai yang cukup jauh. Zeroun memandang ke arah Emelie dan Adriana. Pria itu sedikit kehilangan kosentrasinya saat mendengar tembakan yang di layangkan kekasihnya.


Damian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pria itu menendang tubuh Zeroun hingga pria itu mundur beberapa langkah atas sakit yang ia terima barusan.


Emelie bernapas lega saat melihat senjata yang ada di tangan Adriana terhempas. Tapi, kali ini wanita itu tidak lagi bisa bersabar melihat sifat buruk Adriana. Emelie berlari dengan cepat untuk memberi pelajaran pada wanita yang pernah berstatus sebagai adiknya itu.


Matahari membuat suasana mengerikan itu semakin mencekam. Keringat terus saja berkucur deras membasahi tubuh setiap orang. Suara tembakan terdengar dimana-mana seperti para pasukan bersenjata yang sedang berlatih. Siang itu juga tidak ada angin yang menyejukkan tubuh. Setiap jiwa hanya kini dipenuhi amarah yang membara.


“Adriana. Apa kau ingin berbuat curang?” Emelie berdiri di hadapan Adriana. Wanita itu menatap penuh kebencian wajah wanita yang ada di depannya. Satu tangannya masih memegang pistol yang tadi ia kenakan untuk menolong Zeroun.


“Emelie, satu hal yang mau aku katakan padamu. Setidaknya sebelum kau membunuhku.” Adriana mengukir senyuman manis.


“Ya, kau boleh mengatakannya. Aku orang yang masih memiliki perasaan. Sangat jauh berbeda denganmu yang membunuh orang lain tanpa berpikir dua kali.”


“Saat kau berusia sepuluh tahun, kau pernah mengalami kecelakaan hingga kehilangan banyak darah. Golongan darahmu merupakan golongan darah yang sangat sulit untuk di cari saat itu. Kau pasti juga tahu, kalau Ratu tidak akan menggunakan darah dari kelas biasa untuk putri tercintanya. Pada saat itu usiaku masih menginjak delapan tahun. Dengan berani dan tanpa perasaannya Ratu memintaku mengikuti tes darah itu. Sialnya golongan darah kita sama. Di usiaku yang masih sekecil itu, aku di paksa untuk memberikan darahku untuk menolongmu, Emelie.”


Emelie mendengarkan cerita Adriana dengan seksama. Wanita itu kembali ingat dengan kejadian saat dirinya masih kecil. Memang benar kecelakaan itu pernah terjadi. Tapi hingga detik ini, ia tidak pernah tahu kalau Adriana juga pernah berjasa dalam keselamatan hidupnya.


“Aku tidak mau meminta bayaran apapun. Aku hanya ingin semua kebaikan yang selama ini kalian berikan impas. Kita sama-sama tidak memiliki hutang budi. Kalau saja sejak awal pernikahanmu dengan Damian tidak pernah terjadi maka semua ini juga tidak akan terjadi, Emelie,” ucap Adriana sambil menahan sesak di dalam dadanya. Matanya mulai terasa perih. Namun, Adriana tidak mau terlihat lemah. Dengan sekuat tenaga ia menahan air mata itu agar tidak terjatuh.


“Aku tidak pernah mencintai, Damian,” jawab Emelie dengan suara pelan.


“Tapi kau tidak menolak pernikahan itu, Emelie,” teriak Adriana dengan suara serak.