
Langit sudah berubah jingga. Matahari sudah mulai tenggelam. Gumpalan-gumpalan awan terlihat menghiasi langit Inggris di senja itu. Emelie menatap langit dengan senyum kecil. Tangannya menyentuh kaca mobil seolah-olah menyentuh langit senja itu secara langsung.
Mobil yang ditumpangi Emelie berjalan dengan kecepatan sedang. Beberapa polisi juga mengawal Emelie di barisan depan. Kepulangan Emelie kali ini, benar-benar dijaga dengan begitu ketat. Tidak ingin kejadian yang sama terulang untuk kesekian kalinya.
Adriana memperhatikan Emelie dengan senyum jahat. Wanita itu memperhatikan jalanan yang mulai sepi. Menuju ke Istana, memang harus melewati hamparan pepohonan yang sangat luas. Beberapa menit lagi, mereka akan tiba di gerbang masuk Istana. Setelah mobil itu berhasil melewati gerbang istana itu, maka semua akan bai-baik saja.
“Putri, Yang Mulia sangat merindukan Putri.” Adriana memecahkan suasana sunyi itu untuk mengalihkan perhatian Emelie.
“Ya, Saya juga sangat merindukan Yang Mulia.” Emelie hanya ingin menjawab sekedarnya saja. Menyangkut Yang Mulia Raja dan Ratu, membuat hatinya sedikit sensitive.
“Maafkan Saya, Putri.” Adriana memasang wajah sedih dengan mata berkaca-kaca. Meraih tangan Emelie dengan wajah yang dipenuhi penyesalan.
“Karena Adriana tidak bisa menjaga Raja dengan baik.” Buliran air mata menetes sebagai pelengkang dramanya sore itu.
Emelie menarik tubuh Adriana, memeluk wanita berstatus adiknya itu dengan penuh kasih sayang.
“Jangan menyalahkan diri seperti itu. Semua sudah menjadi takdir yang harus kita lewati.” Emelie mengusap lembut punggung Adriana. Air matanya juga meleleh dengan hati yang sangat sedih.
Terdengar dentuman yang sangat dahsyat dari arah depan. Emelie melepas pelukannya dengan wajah kaget. Mobil itu berhenti mendadak. Beberapa mobil polisi yang ada di baris depan, semua melayang ke atas. Api berkobar memenuhi mobil itu. Sudah bisa dipastikan, semua penghuni mobil itu tidak akan selamat.
“Apa yang terjadi?”tanya Emelie dengan wajah panik.
“Putri, sepertinya ada yang ingin menyerang kita.” Supir itu mengeluarkan senjata. Menghidupkan handsfreenya untuk memberi kabar ke pasukan Istana yang jaraknya beberapa kilometer di depan. Namun, usahanya sia-sia. Berulang kali ia mencoba, tapi tidak kunjung tersambung dengan pihak istana.
“Putri, apa yang harus kita lakukan?” Adriana memasang wajah takut.
“Tenang Adriana,” jawab Emelie sambil memandang sekeliling yang terlihat sunyi.
Pasukan pengawal di belakang mobil Emelie keluar dari dalam mobil dengan senjata yang lengkap. Memeriksa keadaan sekitar dengan begitu waspada. Tugas menjaga Putri kerajaan juga sudah seperti tugas menjaga perbatasan. Mereka harus rela mengorbankan satu-satunya nyawa yang mereka miliki demi melindungi Emelie.
Suasana hening namun mencengkam. Emelie dan Adriana masih duduk dengan gelisah di dalam mobil. Beberapa pengawal terlihat bingung, karena tidak ada satupun yang berhasil memberi kabar ke Istana. Jaringan terputus.
Satu pria berseragam resmi mengetuk pintu kaca mobil Emelie. Pria itu ingin memberi laporan tentang penyerangan mendadak yang baru saja terjadi.
Emelie membuka kaca mobilnya dengan wajah datar. Menatap pengawalnya dengan tatapan penuh arti.
“Putri, apapun yang terjadi. Sebaiknya anda jangan buka pintu atau keluar dari mobil. Mobil ini memiliki kaca anti peluru. Anda akan aman jika bertahan di dalam mobil.
DUARR!
Pengawal itu belum menyelesaikan perkataannya. Dalam hitungan detik ia mematung dengan mulut berdarah. Matanya melebar menatap wajah Emelie.
“Tutup kaca, Putri!” ucapnya dengan nada lirih menahan sakit.
Emelie mematung sejenak menatap pengawal yang ada di depan matanya. Wanita itu mendorong tubuh pengawalnya agar menjauh dari kaca, lalu menutup kaca mobil dengan segera.
Di luar mobil, dengan sisa tenaganya. Pengawal itu mengeluarkan pistol dan menebak musuh yang ada. Baku tembak terjadi dimana-mana. Semua musuh keluar dari areal persembunyian. Beberapa di antaranya masih bersembunyi dengan senjata laras panjang. Membidik dengan begitu jitu mengincar nyawa Emelie.
“Putri, bagaimana ini.” Adriana menggoyang-goyang tubuh Emelie dengan wajah sangat panik.
“Bagaimana kalau mobil kita sudah dipasang Bom seperti mobil polisi itu Putri. Kita akan mati. Ayo kita lari putri.”Adriana menggenggam tangan Emelie dengan mata berkaca-kaca.
“Adriana, tenang ... kau membuatku semakin takut.” Emelie memperhatikan pengawal kerajaan yang masih terus menembak melindungi mobilnya.
“Putri, jangan keluar.” Supir yang duduk di bangku depan memberi peringatan kepada Emelie dan Adriana.
“Apa kau gila! bagaimana kalau mobil ini benar-benar sudah di pasang Bom. Apa kau berani mengambil resiko. Di dalam mobil ini ada nyawa yang sangat berharga. Nyawa penerus kerajaan.” Adriana menatap supirnya dengan penuh emosi.
“Adriana, tenangkan dirimu!”teriak Emelie tidak suka.
“Kakak, untuk kali ini Aku tidak bisa menuruti perintahmu. Aku akan turun dari mobil ini untuk menyelamatkan nyawaku. Terserah Kakak mau ikut atau tidak.” Adriana membuka kunci mobil.
“Adriana, apa yang kau lakukan!” Emelie menahan tubuh Adriana dengan wajah kesal.
“Maafkan aku Kak!” Adriana menghempaskan tangan Emelie. Wanita itu berlari begitu saja meninggalkan Emelie yang masih duduk di dalam mobil.
Emelie berubah panik saat pintu mobil terbuka. Ia berusaha untuk menutup kembali pintu mobil itu. Tapi, tidak semudah yang dibayangkan. Tembakan demi tembakan menyerang mobilnya. Bahkan pasukan yang melindunginya sudah mulai gugur, hanya tersisa beberapa dengan senjata yang sudah hampir habis.
Supir di bangku depan keluar dari dalam mobil berusaha menutup pintu mobil Emelie. Tapi, baru saja dia keluar dari dalam mobil. Pria itu sudah disambut oleh tembakan bertubi-tubi yang entah berasal dari mana.
“Putri, tolong Putri,” teriak Adriana dari luar mobil dengan wajah ketakutan.
Emelie memandang ke arah kaca belakang mobil. Terlihat Adriana berjongkok di rerumputan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Wanita itu terlihat ketakutan sambil menangis penuh putus asa.
Emelie mulai dilema dengan keputusan yang akan ia ambil. Menarik napas sambil memejamkan mata untuk sejenak.
“Aku harus keluar menolong Adriana,” ucapnya dengan suara yang pelan namun tetap tegas.
Emelie memperhatikan keadaan di depannya yang terlihat sunyi. Wanita itu tidak menyadari leser merah di dadanya. Satu penembak jitu sudah ada yang mengintainya. Siap untuk menarik pelatuk dan merenggut nyawanya kapan saja.
Dengan panuh hati-hati, Emelie menurunkan kakinya ke permukaan jalan. Satu pengawal menghalangi cahaya leser itu. Membelakangi Emelie untuk melarang Emelie keluar dari dalam mobil.
“Putri, tetap di dalam mobil.” Menghadang Emelie agar tidak keluar dari dalam mobil.
“Adriana,” teriak Emelie dengan tatapan mencari.
“Biar kami yang melindungi Putri Adriana. Sebaiknya anda tetap di dalam mobil, Putri.” Pengawal itu menembak musuhnya di sisa kekuatan terakhir yang ia miliki.
Emelie mengurungkan niatnya. Kakinya ia masukkan ke dalam mobil lagi.
Dari kejauhan, Adriana mengukir senyuman tipis. Menekan handsfree yang ada di telinganya
“Sudah saatnya,” ucapnya dengan senyuman tipis penuh kemenangan. Sebentar lagi ia akan melihat Emelie pergi untuk selama-lamanya.
Like jangan Lupa.😊