
Hongkong.
Helikopter yang di tumpangi Lana dan Lukas berjalan menuju ke arah permukaan laut. Langit mulai terlihat berwarna orange. Tidak lama lagi, matahari akan muncul ke permukaan untuk menyinari bumi.
Lana menggenggam lengan Lukas dengan wajah penasaran. Sejak tadi pertanyaannya tidak juga di jawab oleh Lukas. Pria itu terlihat sangat percaya diri kalau kejutannya akan berhasil membuat Lana bahagia.
“Lana, lihatlah di sana,” ucap Lukas sambil menunjuk ke arah lautan yang terbentang luas.
Lana mengeryitkan dahi. Tidak ada apapun yang terlihat spesial di permukaan laut tersebut. Sudah berulang kali Lana memperhatikan laut biru itu tapi tidak ada apapun di sana. Hanya ada dua buah kapal berukuran kecil kalau di lihat dari udara.
“Apa yang harus aku lihat di situ?” ucap Lana sambil menagih satu penjelasan kepada Lukas.
“Sebentar lagi,” bisik Lukas. Pria itu memperhatikan matahari yang mulai naik ke permukaan bersamaan putaran jarum jam.
Lana masih memperhatikan lautan yang tadi ditunjuk Lukas. Kedua matanya terhenti pada kapal yang mulai bergerak. Kapal itu bergerak dengan sangat cepat hingga meninggalkan jejak yang bisa di lihat dengan jelas. Dua kapal itu menyatu di ujung hingga membentuk gambar hati yang cukup indah. Matahari yang baru saja muncul mempercantik keindahan laut pada pagi itu.
Lana menutup mulutnya dengan tangan. Kedua matanya berkaca-kaca. Wanita itu sangat suka dengan kejutan yang diberikan Lukas pagi itu. Ia bahagia. Bahkan tidak menyangka kalau Lukas bisa seromantis itu.
“I love you,” ucap Lana sebelum mendaratkan kecupan di bibir Lukas, “Ini sangat indah.”
Lukas menghela napas. Ia merasa cukup lega karena bisa melihat wanita yang ia cinta tersenyum bahagia saat melihat kejutan yang ia berikan, “Seperti ini rasanya melihat wanita yang kita cintai suka dengan apa yang kita berikan kepadanya. Sungguh aneh, tapi nyata. Wanita memang tidak pernah menolak dengan kejutan manis seperti ini,”gumam Lukas di dalam hati.
Walau hanya kejutan sederhana yang tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya, tapi Lukas telah berhasil membuat Lana-nya bahagia. Senyuman itu harganya sangat mahal bagi Lukas. Walaupun selama ini Lana bisa di bilang dengan wanita yang murah senyum dan tertawa bahagia.
“Setelah ini apa lagi?” ucap Lana sambil menatap wajah Lukas.
“Setelah ini kita pulang. Kau harus mandi. Bukankah saat ini kau belum mandi,” ucap Lukas sambil melirik penampilan Lana yang terlihat berantakan.
Lana memajukan bibirnya, “Tidak ada lagi?”
“Lagi?” celetuk Lukas bingung.
Lana mengangguk pelan, “Ya. Aku ingin kejutan lagi, Tidak cukup jika hanya satu kali.” Lana mengusap lembut perutnya yang terbilang masih rata. Wanita itu memandang Lukas dengan wajah yang sangat memelas, “Lagi, ya....”
Lukas mendengus kesal, “Apa maksud dari mengusap perut seperti itu?” ucap Lukas sambil memperhatikan tangan Lana yang masih setia dengan perutnya.
“Itu tandanya, permintaan bayi. Bukan aku yang memintanya, tapi anak yang ada di dalam perutku,” ucap Lana dengan suara pelan dan sangat menyakinkan.
“Darimana kau tahu kalau itu keinginannya?” tanya Lukas penuh selidik.
“Aku kan ibunya. Tentu saja aku tahu. Berbeda denganmu yang hanya melihatnya dari luar saja. Aku dan bayi ini memiliki ikatan batin yang cukup kuat,” ucap Lana sambil membuang tatapannya ke arah lain.
Lukas terdiam sejenak. Pria itu berpikir keras untuk membuat kejutan selanjutnya. Ia hanya memikirkan kejutan indah seperti ini saja awalnya. Tidak di sangka kalau Lana akan menagihnya dengan kejutan lainnya.
“Lukas,” ucap Lana saat Lukas tidak memberi kepastian apa-apa.
“Apa yang kau inginkan? Aku akan mengabulkannya. Untuk saat ini aku tidak bisa memikirkan apapun,” jawab Lukas jujur.
Lana tersenyum dengan wajah berseri. Memang sejak awal, kalimat seperti itulah yang di nantinya, “Apa kau serius?” tanya Lana untuk kembali memastikan.
“Ya,” jawab Lukas cepat.
“Pesawat,” ucap Lana mantap.
Lukas yang tadinya berwajah cukup tenang kini telah berubah serius. Pria itu memandang wajah Lana dengan seksama. Permintaan Lana terbilang cukup aneh dan mustahil. Pesawat bukan benda yang bisa ia beli hanya dengan membalikkan telapak tangan, “Apa anak kita ingin memiliki pesawat pribadi walaupun belum lahir?” ucap Lukas sambil memegang perut Lana.
“Apa yang kau pikirkan?” Lana mengeryitkan dahi dengan wajah penuh selidik.
“Tentu saja aku menyimpan nama-nama bank terbesar yang ada di dunia ini,” jawab Lukas asal saja.
“Lukas,” rengek Lana.
Lukas tertawa lalu menarik Lana ke dalam pelukannya, “Apa kau benar-benar ingin pesawat?”
Lana mengangguk cepat, “Aku ingin memainkannya di halaman belakang.”
Lukas terdiam lalu menunduk untuk memandang wajah Lana, “Halaman belakang?”
“Ya. Apa yang kau pikirkan? Aku minta pesawat mainan. Karena aku cukup tahu, kalau uangmu tidak akan sanggup membelikanku pesawat sungguhan, jadi aku meminta pesawat mainan saja,” ucap Lana dengan bibir tersenyum.
Lukas tertegun mendengar kalimat yang diucapkan Lana, “Apa dia benar-benar ingin pesawat?” gumam Lukas di dalam hati.
“Lukas, apa kau tidak mau membelikannya?” tanya Lana lagi.
“Tentu saja aku akan membelikannya nanti. Aku akan membeli dua agar aku bisa ikut menemanimu bermain nanti.”
Lana mengukir senyuman bahagia, “Terima kasih.”
***
Emelie dan Zeroun sedang ada di meja makan. Mereka akan melalui ritual makan siang bersama dengan anggota kerajaan yang lainnya. Emelie tetap memberikan kursi utamanya kepada Zeroun walaupun jabatannya jauh lebih tinggi daripada pria itu.
Suasana meja makan itu sangat tenang. Hanya terlihat terdengar beberapa hentakan sendok dengan mangkuk kaca yang ada di atas meja. Semua orang fokus pada makanan mereka masing-masing.
Tidak dengan Zeroun. Pria itu terlihat tidak berselera untuk makan. Sejak awal ia hanya membolak-balik makanannya yang ada di atas piring. Pria itu juga melamun seolah sedang memikirkan sesuatu.
Emelie memperhatikan Zeroun dengan seksama. Selama di meja makan, mereka tidak diperbolehkan untuk mengeluarkan kata. Tapi, Emelie merasa kesulitan jika harus diam saja melihat suaminya bertingkah aneh. Hingga akhirnya, wanita itu menyenggol kaki Zeroun untuk memecahkan lamunannya.
Zeroun memandang wajah Emelie lalu mengangkat dagunya seolah bertanya ada apa. Tetap dengan bibir yang tidak mengeluarkan kata.
Emelie memandang wajah seluruh tamu kerajaan lalu mengatur napasnya, “Maafkan saya. Kondisi saya siang ini kurang baik. Saya ingin beristirahat di kamar. Maafkan saya karena tidak bisa menemani kalian makan hingga selesai.”
“Baik, Yang Mulia Ratu. Jaga kesehatan anda,” ucap beberapa anggota kerajaan.
Mendengar kalimat yang diucapkan Emelie, Zeroun segera beranjak dari kursi yang ia duduki, “Apa kau baik-baik saja?” ucapnya dengan suara yang cukup pelan.
“Ikuti aku,” perintah Emelie sebelum berjalan cepat. Wanita itu memandang ruang kerjanya lalu membawa Zeroun masuk ke dalam ruangan tersebut.
Zeroun menutup pintu lalu berjalan mendekati posisi Emelie berada, “Sayang, apa yang terjadi?”
Emelie memegang dahi Zeroun. Wanita itu memasang wajah yang sangat khawatir, “Apa kau sakit? Tapi suhu tubuhnya terasa normal.” Emelie kembali memastikan. Ia memegang dahi Zeroun lagi.
“Sayang, ada apa sebenarnya?” ucap Zeroun sambil menurunkan tangan Emelie yang ada di dahinya.
“Kau terlihat tidak berselera saat makan. Tidak seperti biasanya,” ucap Emelie sambil memandang wajah Zeroun.
Zeroun menghela napas, “Ya. Aku tidak berselera makan. Aku ingin makan buah-buahan saja siang ini.”
“Buah? Sejak kapan kau suka buah?” tanya Emelie bingung.
“Aku juga tidak tahu. Aku ingin memakan mangga,” ucap Zeroun sambil membayangkan betapa segarnya potongan mangga tersebut.
“Mangga?” ucap Emelie tidak percaya.
“Sepertinya mangga muda jauh lebih enak,” sambung Zeroun lagi.
Saat mendengar namanya saja sudah membuat Emelie ngilu. Wanita itu tidak suka buah yang asam, “Hanya itu? Aku akan meminta pelayan untuk menyiapkannya.”
“Tambahkan strawberry dan apel hijau,” ucap Zeroun sebelum menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Emelie menggeleng pelan sebelum berjalan ke arah pintu. Wanita itu berdiri di depan pintu lalu berteriak memanggil pelayan. Tiga wanita muncul di hadapannya. Tiga wanita itu telah siap menerima perintah sari sang Ratu.
“Aku ingin kalian menyiapkan Mangga muda, Stawberry dan Apel hijau,” ucap Emelie sambil memandang satu persatu pelayan pribadinya.
“Yang Mulia, apa anda mulai menyidam?” ucap salah satu pelayan.
“Menyidam?” celetuk Emelie bingung.
“Iya, Yang Mulia. Nyidam adalah keadaan dimana anda menginginkan sesuatu yang aneh saat hamil,” sambung pelayan lainnya.
“Aku yang hamil, bagaimana mungkin dia yang menyidam,” gumam Emelie di dalam hati.
“Yang Mulia, hanya itu saja?” sambung pelayan lain untuk kembali memastikan.
Emelie mengangguk pelan, “Ya. Aku ingin buah itu segera tiba.”
“Baik, Yang Mulia.” Ketiga pelayan itu membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan Emelie.
Sedangkan Emelie, wanita itu masih berdiri di depan pintu dengan tatapan bingung. Ia masih membahas masalah nyidam yang baru saja diucapkan bawahannya, “Apa Zeroun nyidam? Bagaimana mungkin bisa,” ucapnya tidak percaya.
***
Reader : Kapan Lana nikah Thor?
Author : Besok kita masuk part penikahan ya reader.
Reader : Ada Serena Thor?
Author : Ada, sebagai tamu.
Minggu ini penentuan vote yang dapat 3 besar dan 10 besar ya reader. Hari Minggu akan saya bagikan nama2 yang terpilih. Sesuai dengan rangking periode. Ok segitu aja terima kasih.😘