Moving On

Moving On
Sempurna



Lukas melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali ia membuang tatapannya keluar jendela agar tidak terlihat oleh Lana kalau bibirnya sedang tersenyum. Masih terbayang jelas di dalam ingatannya adegan romantis beberapa menit yang lalu.


“Aku tidak menyangka kau bisa seromantis Bos Zeroun.” Lana menghirup aroma bunga mawar yang kini ada di genggamannya. Lukas sudah memberi tahunya kalau itu bunga yang sengaja ia beli khusus untuk Lana. Walaupun memberi tahunya penuh dengan wajah menyeramkan.


“Kenapa wanita selalu suka dengan bunga,” ucap Lukas dengan ekspresi dinginnya. Sorot matanya masih fokus ke jalan depan yang di penuhi dengan mobil.


“Aku tidak suka bunga,” jawab Lana sambil menurunkan bunga itu dan meletakkan di atas pangkuan. Ekspresi wajahnya berubah sedih. Sepertinya bunga itu mengingatkannya akan sesuatu.


Lukas memandang wajah Lana sekilas, “Lalu, kenapa kau terlihat bahagia saat melihat bunga itu.”


“Itu karena bunga ini pemberianmu. Aku selalu menyukai semua barang yang kau berikan, Lovely.” Lana mengukir senyuman manis.


Dalam waktu singkat, kaki Lukas menginjak rem mobil secara mendadak. Lagi-lagi bunga yang ada di genggaman Lana harus terjatuh di bawah kaki.


“Apa yang kau lakukan?” protes Lana. Kali ini ia memakai sabuk pengaman hingga tubuhnya tidak lagi kena dashboard mobil.


“Apa yang kau katakan barusan? Apa kau bisa mengulanginya?” ucap Lukas dengan wajah kurang yakin.


Terdengar suara klakson mobil dari arah belakang. Lukas melirik dari spion dengan wajah kesal sebelum melajukan mobilnya lagi. Lelaki itu mencari tempat yang cocok untuk memberhentikan mobilnya.


Lana tertawa kecil saat mendengar pertanyaan Lukas saat itu, “Lovely, aku sangat mencintaimu.”


“Lana, kau ....” ucapannya tertahan. “Lovely? Apa kau mau mengerjaiku saat ini, Lana?” Lukas kembali membayangkan Zeroun saat memanggil Emelie dengan sebutan Baby. Sungguh tidak di bayangkan di lubuk hatinya yang paling dalam kalau kini wanita yang ia cintai meminta hal yang aneh seperti Emelie. Kata Lovely yang baru saja terucap memang cukup membuat Lukas kaget seketika.


“Kau tidak mau memanggilku dengan sebutan itu?” ucap Lana untuk kembali memastikan.


“Tentu saja tidak,” jawab Lukas ketus sebelum melajukan kembali mobilnya. Lelaki itu ingin membawa Lana mengunjungi suatu tempat. Ada banyak pertanyaan yang kini tersimpan di dalam hatinya. Hal itu cukup berkaitan dengan masa lalu Lana.


Lana menghela napas. Memang tidak mudah bagi Lana untuk membujuk Lukas. Walau ekspresi wajah dua pria itu sama-sama dingin. Tapi, tetap saja Zeroun dan Lukas memiliki suasana hati yang berbeda saat sedang jatuh cinta. Jika Zeroun lebih terbuka sedangkan Lukas tidak. Ia jauh lebih tertutup dan tidak ingin memiliki hubungan yang diketahui semua orang.


“Maaf. Aku hanya ingin menjalin hubungan seperti pasangan pada umumnya. Melupakan status berbahayamu yang cukup menyeramkan itu. Tapi, jika kau menolak aku juga tidak akan memaksa. Aku juga tidak ingin membuat hidupmu susah atau merasa terbebani atas hadirnya diriku. Aku ....”


“Lovely!” ucap Lukas dengan nada sedikit tinggi.


Lana mengukir senyuman manis, “Katakan sekali lagi.” Walau mengucapkannya dengan wajah marah. Tapi, tetap saja sudah berhasil membuat Lana terharu dan bahagia.


“Lovely ... Lana, apa kau sangat bahagia ketika berhasil membuatku malu pada diriku sendiri seperti ini?” Lukas membuang pandangannya keluar jendela.


“Terima kasih,” ucap Lana sebelum mendaratkan satu kecupan di bibir Lukas. Wanita tangguh itu cukup bahagia saat Lukas mau memanggilnya dengan sebutan manis seperti yang ia inginkan.


Kenapa hatiku merasa sakit saat melihat wajah sedihnya seperti tadi. Apa seperti ini namanya jatuh cinta? Aku tidak menyangka kalau sesulit ini rasanya saat jatuh cinta.


Lukas menambah laju mobilnya. Lelaki itu ingin segera tiba di lokasi yang sudah ada di dalam pikirannya.


Beberapa saat kemudian.


“Gold dragon?” celetuk Lana. Wanita itu memandang simbol Gold Dragon berukuran besar yang ada di dinding. Di cat menggunakan pilox dengan warna dan bentuk yang sama persis dengan apa yang ada di dada Zeroun dan Lukas.


“Ini markas kita,” jawab Lukas sebelum membuka sabuk pengamanya. Lelaki itu lebih dulu keluar dari dalam mobil.


“Markas?” ucap Lana pelan sebelum mengikuti jejak Lukas keluar dari dalam mobil.


Lukas berdiri di depan mobil. Lelaki itu menatap markas miliknya dan Zeroun dengan seksama. Bayang-bayang keramaian yang selama ini terlihat di gedung itu adalah sebuah bayangan yang sangat ia rindukan. Walau dalam beberapa hari lagi Lukas pasti sudah berhasil mengisi gedung itu dengan pasukan Gold Dargon lagi.


“Apa aku boleh masuk?” ucap Lana dengan wajah penuh semangat.


Lukas memandang wajah Lana sebelum mengangguk pelan. Sepasang kekasih itu berjalan masuk menuju ke dalam gedung.


“Gedung ini kosong. Tapi, masih ada banyak senjata di dalamnya. Apa kau tidak takut ada yang mengambil stok senjata kita?” tanya Lana dengan wajah serius.


“Tidak ada yang berani menapakkan kakinya di dalam gedung ini. Bahkan di halaman depan.” Lukas berjalan menuju ke arah bar besar. Ada banyak minuman keras di lemari. Lelaki itu memilih jenis minuman favoritnya sebelum menuangnya ke dalam gelas kristal.


“Ya. Jika mereka berani masuk sudah pasti nyawa mereka akan melayang bukan? Walau tidak ada yang menjaga gedung ini tapi tetap saja kelihatan sangat berbahaya.” Lana memandang gelas yang ada di genggaman Lukas. Wanita itu merampas gelasnya dan meneguknya dengan segera, “Lumayan,” ucap Lana dengan senyuman. Wanita itu tidak terlalu peduli dengan ekspresi wajah Lukas saat ini.


Lukas menatap wajah Lana dengan tatapan serius sebelum menuang kembali minumannya. Kali ini ia tidak ingin kalah. Lelaki itu dengan segera meminum minuman beralkohol yang baru saja ia tuang. Menyesapi setiap tetes yang sudah masuk ke dalam mulutnya.


Lukas mengambil satu gelas kosong lalu menuang minuman berlakohol itu ke dalamnya, “Minumlah,” ucapnya sambil menyodorkan gelas itu.


Lukas memberi Lana minuman beralkohol dalam dosis yang cukup tinggi. Ia tahu, kalau Lana wanita yang mudah mabuk.


Lana menerima gelas itu. Meneguk isinya dengan cepat dan rakus. Tidak ada yang ia takuti saat berada di dekat Lukas. Wanita itu cukup percaya dengan pria yang kini ada di hadapannya.


Gelas demi gelas di habiskan oleh Lana dengan penuh semangat. Hingga akhirnya wanita itu mabuk dan mulai tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Lukas mengukir senyuman kecil saat melihat Lana menjatuhkan tubuhnya di atas meja bar.


Lukas bangkit dari kursi yang ia duduki. Menarik tubuh Lana ke dalam pelukannya. Sorot matanya cukup tajam saat itu. Ia memandang wajah Lana dengan seksama.


“Lana, katakan padaku. Bagaimana hubunganmu dengan Morgan?”


.


.


.


Vote ya Readers... biar Babang Zeroun bertahan di 20 besar... terima kasih buat dukungannya...


Vote 100k kita crazy up lagi...😘