Moving On

Moving On
Sarapan Pagi



Emelie keluar meninggalkan kamar mewah itu. Berjalan sambil mencari keberadaan meja makan tempat Zeroun menunggu dirinya. Rumah itu memang sangat luas. Emelie sempat kebingungan saat mencari letak dapurnya.


Saat sedang mencari, Emelie bertemu dengan Lukas. Putri kerajaan itu tersenyun ramah saat berpapasan dengan Lukas.


“Bos Lukas. Apa kau bisa membantuku?” Ada senyum manis yang terukir di bibir Emelie pagi itu.


Lukas mengeryitkan dahi. Bertemu dengan Emelie adalah satu hal yang ingin ia hindari. Di tambah lagi, aroma tubuh Emelie yang kini sama dengan Zeroun.


Wanita yang cukup berani.


Lukas tidak ingin terlalu dekat dengan Emelie. Kedekatannya dengan Emelie akan membuat masalah bagi dirinya. Apa lagi wanita itu sosok yang berharga bagi bosnya saat ini.


“Putri, jangan becanda dengan sebutan itu. Panggil saya Lukas seperti Bos Zeroun memanggil saya.” Lukas menunduk dengan satu permintaan yang baru saja ia sebutkan.


Emelie terlihat kesal. Putri kerajaan itu berkacak pinggang sambil memasang wajah angkuh favoritnya.


“Kau sejak dulu memang sangat menyebalkan. Sekarang, bawa Aku pergi menemui Zeroun. Aku sudah berkeliling di lorong ini tapi tidak juga bisa menemuinya. Kami ingin sarapan bersama.” Emelie membuang tatapannya dari wajah Lukas.


“Mari Putri, ikuti saya.” Lukas menunduk dan memberi jalan untuk mengantar Emelie bertemu dengan Zeroun.


“Satu lagi, jangan panggil Aku Putri. Itu hanya akan membuatku ingat dengan istana.”


“Baik, Nona,” jawab Lukas tanpa banyak membantah.


“Itu jauh lebih manis,” jawab Emelie dengan kedua tangan di pipinya. Wanita itu memasang wajah imut yang sangat menggemaskan.


Lukas menggeleng kepalanya sebelum melanjutkan langkah kakinya. Ia ingin segera mempertemukan wanita itu dengan Bos Zeroun. Kepalanya akan semakin sakit jika berada lama dihadapan Emelie.


Di meja makan berukuran sedang, Zeroun duduk dengan ponsel di genggamannya. Pria itu memperhatikan susunan gedung yang akan ia kunjungi nanti malam. Sebuah hotel namun memiliki ruang rahasia di salah satu lantainya. Di lantai itulah, Jesica akan beraksi untuk mencuri chip berharga yang bisa mempertemukannya dengan gudang senjata.


Pencurian chip berharga itu memang sudah disusun rapi oleh Heels Devils. Malam ini akan ada pesta besar di gedung itu. Membuat perhatian para penjaga akan teralihkan ke pesta yang akan diadakan oleh salah satu konglomerat di Brazil.


Zeroun tersenyum kecil saat sudah menemukan ide untuk nanti malam. Satu jarinya ia ketuk-ketukan di atas meja makan.


Emelie yang baru saja tiba tidak ingin mengganggu keseriusan Zeroun pagi itu. Wanita itu duduk di salah satu kursi sambil memandang wajah Zeroun.


Bibirnya tersenyum bahagia, saat memandang wajah Zeroun. Ya, lagi-lagi putri kerajaan itu merasakan hati yang berbunga-bunga atas hubungannya bersama Zeroun.


Lukas menunduk sebelum pergi meninggalkan meja makan. Pria itu pergi begitu saja tanpa ingin mengeluarkan kata agar tidak mengganggu Zeroun.


Zeroun memasukkan ponselnya di dalam jas. Pria itu juga tersenyum menatap wajah cantik Emelie pagi itu.


“Ada apa? Kenapa memperhatikanku seperti itu?” Memasukkan ponsel ke dalam saku.


“Emelie,apa kali ini kau memakai parfumku?” Zeroun mengeryitkan dahi.


“Kau sangat tampan Zeroun,” jawab Emelie tanpa berkedip. Wanita itu sepertinya tidak sadar dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Bahkan tidak peduli dengan pertanyaan Zeroun yang ditujukan untuknya.


Emelie menyadari ucapannya. Wajahnya berubah serius dan mengalihkan pandangannya dari Zeroun.


“Kenapa Aku selalu menjadi begini tiap kali ada di dekatmu.” Emelie mengambil roti bakar yang sudah terhidang di hadapannya.


Zeroun menggeleng kepalanya saat melihat tingkah laku kekasihnya itu. Pria itu juga mengambil roti bakar untuk sarapan paginya.


“Zeroun, siapa yang menyiapkan semua ini?” Emelie mencari-cari keberadaan pelayan yang sejak tadi tidak ia temui.


“Lukas, semua ini dibeli. Tidak ada koki di rumah ini.” Zeroun melanjutkan sarapannya.


“Tidak baik untuk kesehatan jika kita terus-terusan memakan makanan beli.” Emelie juga memakan potongan rotinya dengan wajah yang sedang berpikir.


“Mulai besok biar Aku yang memasak untuk semuanya.” Emelie mengambil air putih dengan wajah berseri.


Zeroun tersenyum saat mendengar perkataan Emelie, “Kau hanya boleh memasak untukku.”


“Zeroun, kau ini Bos yang pelit.” Emelie menyipitkan kedua matanya sambil tersenyum kecil.


“Kau milikku Emelie, apapun yang kau lakukan itu milikku. Aku tidak ingin berbagi dengan yang lain lagi.”


“Lagi?” Emelie mengeryitkan dahi. Ada yang salah dari perkataan Zeroun pagi itu. Pria itu mengatakan sesuatu yang pernah membuatnya merasa takut kehilangan lagi.


Zeroun meletakkan pisau dan garpunya di atas piring. Pria itu sadar dengan perkataannya. Entah kenapa pagi itu ia tidak bisa mengontrol dirinya. Agar semua masa lalu yang pernah ia miliki tidak lagi naik ke permukaan.


“Maksudku dengan yang lain,” sambung Zeroun karena tidak ingin Emelie semakin curiga dengan perkataannya.


“Hmm, baiklah. Aku akan memasak untukmu.” Emelie mengedipkan sebelah matanya.


Zeroun dan Emelie melanjutkan sarapan paginya dengan penuh canda tawa. Di balik sifatnya yang dingin, Zeroun masih memiliki sifat jahil untuk mengganggu Emelie. Wanita itu terlihat bahagia saat merasakan kebersamaannya yang begitu indah bersama dengan Zeroun.


Dari kejauhan, Lukas berdiri tegab tanpa berkedip. Pria itu memperhatikan kebersamaan Emelie dan Zeroun. Ada rasa tenang dan bahagia di dalam hatinya karena Zeroun bisa kembali merasakan cinta.


Tetapi, mengingaat semua misi berbahaya yang akan mereka hadapi membuat Lukas menjadi ragu. Kalau mereka tidak akan mudah mengalahkan Heels Devils. Di tambah lagi, Emelie bukan wanita tangguh yang bisa melindungi dirinya sendiri seperti mantan kekasih bosnya dulu. Wanita itu hanya wanita lemah yang akan menangis saat merasakan sakit di bagian tubuhnya.


“Aku harap semua berjalan sesuai rencana.” Lukas pergi meninggalkan ruangan itu berjalan ke arah kamar Lana. Pria itu sedikit penasaran, kenapa Lana bisa di kejar-kejar dan dikeroyok oleh Heels Devils. Pintu kamar Lana ia ketuk berulang kali. Tapi tidak ada jawaban sama sekali. Dengan penuh hati-hati Lukas membuka pintu kamar itu. Menutup kembali pintu itu tanpa suara.


Lana tertidur di atas tempat tidurnya. Ada sebuah diary kecil yang menjadi perhatian Lukas saat itu. Pria itu berjalan ke arah nakas untuk mengambil diary milik Lana. Lukas duduk di tepian tempat tidur sambil membaca diary milik wanita tangguh itu. Ada banyak tertulis harapan Lana di dalam diarynya. Wanita itu tidak ingin selamanya berada di antara Gold Dragon. Ia juga memiliki keinginan yang sama dengan Emelie. Hidup bebas tanpa ada aturan yang harus di patuhi.


“Kenapa setiap wanita ingin kebebasan? apa hidup seperti sekarang itu bukan kebebasan. Kau bebas membunuh siapa saja yang tidak kau suka.”


Lukas meletakkan diary itu kembali ke atas nakas. Pria itu beranjak dari duduknya untuk meninggalkan kamar Lana. Berbeda dengan Zeorun. Sejak dulu, Lukas belum pernah dekat dengan wanita. Pria itu bukan hanya memiliki sifat dan wajah yang dingin. Tetapi hati yang dingin dan tak pernah berperasaan.


Detik ini ia dibuat pusing dengan kelakuan dua wanita baru yang tiba-tiba hadir di dalam lingkungannya. Yang satu wanita kerajaan yang memiliki sifat tidak jelas. Yang satu wanita tangguh namun memiliki hati yang begitu lemah. Lukas memijat dahinya saat kepalanya terasa sedikit pusing. Meninggalkan kamar Lana untuk kembali ke kamar miliknya dan beristirahat.