
Lana melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Detik itu ia berniat untuk pergi menjauh agar tidak dapat hukuman dari Lukas. Hanya membayangkannya saja sudah membuatnya merinding. Apa lagi sampai benar-benar terjadi. Awalnya Lana hanya ingin mengerjai Lukas dengan cara menggertaknya. Tidak di sangka, Lukas memberi respon dengan cara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Kini Lana tidak tahu harus pergi kemana. Setidaknya malam ini ia tidak bertemu dengan Lukas dahulu. Wanita itu akan memikirkan alasan yang tepat agar kekasihnya tidak marah keesokan harinya.
“Dia tidak mungkin bisa mengejarku. Aku sudah pergi cukup jauh,” ucap Lana dengan senyuman yang di penuhi percaya diri.
Lana memandang ke arah spion. Wanita itu terlihat kaget saat melihat mobil Lukas yang kini melaju kencang mengejar mobilnya. Tidak ingin tertangkap secepat itu. Lana menambah laju mobilnya. Ia berusaha kabur dari kejaran Lukas.
“Kenapa dia bisa tahu kalau aku ada di jalan ini!” umpat Lana dengan wajah cukup kesal.
Lukas menatap mobil Lana dengan tatapan tidak terbaca lagi, “Apa kau pikir bisa lari dariku dengan semudah itu? Awas saja kau nanti!” Lelaki itu menambah laju mobilnya. Ia cukup yakin, kalau sebentar lagi akan bisa menangkap kekasihnya yang kini berusaha kabur.
Lana mencengkram kuat stir mobil yang kini ia kendalikan. Jarak mobil Lukas sudah semakin dekat. Tidak ada lagi kesempatan untuknya kabur saat itu. Langit juga sudah semakin gelap. Lampu jalanan yang kini ia lewati telah bersinar terang.
Hingga beberapa kilometer selanjutnya Lana menyerah. Ia cukup lelah bermain kejar-kejaran mobil di jalanan bersama Lukas. Lana mulai menurunkan laju mobilnya. Wanita itu memikirkan cara lain agar Lukas tidak marah padanya, “Aku harap rencana ini berhasil,” ucap Lana pelan.
Lana memberhentikan mobilnya secara mendadak saat mobil Lukas berada di depan mobilnya. Wanita itu memukul-mukul stir mobilnya sambil memandang Lukas yang telah turun dari dalam mobil.
Lukas memandang ke arah mobil Lana dengan tatapan yang cukup mengerikan. Lelaki itu berjalan mendekat sebelum berdiri di samping pintu mobil Lana sambil mengetuk kaca mobil dengan durasi cepat. Ia sudah tidak sabar untuk menghukum Lana saat itu.
Lana menurunkan kaca mobil dengan satu senyuman menyeringai. Wanita itu memasang wajah tidak bersalah agar Lukas tidak tega memarahinya, “Lukas, aku ingin membeli sesuatu,” ucapnya dengan suara yang cukup pelan.
“Turun!” perintah Lukas tanpa bisa di bantah lagi.
Lana menghela napas sebelum menutup kembali kaca mobil. Secara perlahan wanita itu membuka pintu mobil dan menurunkan kakinya secara takut-takut. Bibirnya mengukir senyuman terpaksa saat sudah berdiri di hadapan Lukas.
“Hai, Bos Lukas. Apa Bos Zeroun sudah sampai dengan selamat?” ucap Lana dengan penuh basa-basi.
Lukas menekan satu tangannya di atas mobil. Lelaki itu menatap wajah Lana dengan jarak yang cukup dekat. Lana memundurkan tubuhnya untuk menghindar dari sentuhan wajah Lukas. Kedua bola matanya memandang keadaan sekitar yang kini terlihat sunyi.
Lana tertawa kecil, “Sayang, aku tidak akan lupa. Aku hanya ingin keluar sebentar untuk membeli sesuatu,” ucap Lana dengan suara yang cukup pelan, “Kakiku sakit. Ya. Kakiku sakit. Jadi aku butuh salep untuk mengobatinya.”
Lukas menundukkan tatapan matanya untuk memeriksa kaki Lana. Namun kaki itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada bekas luka sedikitpun di kaki kekasihnya, “Ikut denganku.”
Lukas berjalan menuju ke arah mobilnya. Lelaki itu belum menemukan cara untuk menghukum Lana. Tapi ia tidak ingin berlama-lama ada di luar. Zeroun ada di istana. Ia takut di saat Zeroun membutuhkannya ia tidak ada di samping Zeroun.
Lana berjalan pelan mengikuti langkah Lukas dari belakang. Wanita itu memulai aktingnya agar tidak mendapat hukuman dari Lukas. Ia bejalan dengan kaki pincang sebelah. Sesekali terdengar suara Lana meringis kesakitan.
Lukas menahan tangannya saat ingin menarik pintu mobil. Lelaki itu memutar tubuhnya untuk melihat Lana yang terlihat kesakitan. Dahinya mengeryit bingung. Sekilas ia percaya kalau kini kaki kekasihnya memang sedang sakit.
Lukas menutup kembali pintu mobil yang sempat terbuka sedikit. Lelaki itu berjalan mendekati posisi Lana berada. Tanpa banyak kata, ia mengangkat tubuh Lana lalu meletakkannya di atas bahu. Satu tangannya menahan bagian kaki Lana agar tetap berada pada posisinya.
Lana cukup syok saat itu karena kini kepalanya dalam posisi terbalik, “Apa yang kau lakukan!” protes Lana sambil memukul punggung Lukas dengan begitu kuat.
“Aku membantumu berjalan. Apa kau bisa diam dan tidak bergerak! Tubuhmu cukup berat, Lana,” jawab Lukas sebelum berjalan menuju ke arah bangku penumpang.
“Lukas, apa kau tidak ikhlas membantuku? Sebaiknya kau juga tidak membantuku dengan cara seperti ini.” Lana terus memberontak agar Lukas segera melepaskannya. Satu tangannya masih terus memukul sebagai ungkapan tidak terimanya.
Lukas membuka pintu mobil. Lelaki itu menjatuhkan tubuh Lana di bangku penumpang. Tubuhnya membungkuk untuk memasang sabuk pengaman Lana. Setelah semua terlihat aman, Lukas kembali menutup pintu mobil. Lelaki itu menghubungi seseorang untuk menjemput mobil Lana.
Lana menatap wajah Lukas dari dalam mobil. Bibirnya mengukir senyuman karena merasa kebohongannya kali ini cukup berhasil, “Siapa suruh kau bersikap cuek padaku. Apa kau pikir aku tidak kesal jika kau memasang sifat cuek seperti tadi.” Lana melipat kedua tangannya di depan dada, “Terkadang dia terlihat cukup romantis. Terkadang dia berubah menjadi sosok yang cukup menjengkelkan.”
Lukas masuk ke dalam mobil. Lelaki itu mulai memutar arah mobilnya. Kedua bola matanya tidak lagi mau menatap wajah Lana. Bahkan mengeluarkan suara saja ia tidak begitu tertarik.
“Sepertinya dia benar-benar marah. Aku harus membujuknya agar ia tidak marah lagi,” ucap Lana di dalam hati.
“Dasar wanita. Kenapa mereka selalu membuat repot hidup para pria!” umpat Lukas di dalam hati sebelum menambah laju mobilnya. Lelaki itu menembus kesunyian jalan yang terbentang lurus di hadapannya.