
Almira
Sehabis dari toilet, aku mendengar samar-samar ada orang berbicara dengan nada keras.
Sebelum menggapai gagang pintu, aku mendengar percakapan mereka.
"Tinggalkan Dia, hanya itu permintaan Mama."
"Please Ma, selain itu. Aku gak bisa ninggalin Dia. "
Aku hanya menunduk di balik pintu ruangan,mendengarkan perdebatan ibu dan anak.
Seharusnya, hari ini adalah pertemuan special bagiku. Dia ,Elnino Oliverio,sosok sahabat,yang ingin memperkenalkan aku di depan keluarganya.
Satu bulan yang lalu, Nino melamar diriku. Dia ingin mengajak hubungan ini lebih dari kata sahabat, lebih tepatnya menikah. Awalnya aku ragu, karena keluarganya tak mungkin menerima gadis miskin seperti diriku. Saat itu, Nino terus mencoba meyakinkan untuk berjuang bersama. Dengan keteguhannya meluluhkan hatiku, akhirnya aku menerima lamarannya.
Dan sudah kuduga,tak akan mudah untuk masuk bagian keluarganya. Aku ingat dengan jelas reaksi mereka di awal kehadiranku, terkejut dan acuh tak acuh. Seharusnya, aku sadar diri, siapa diriku?. Tempatku bukan disampingnya.
Aku berbalik arah menuju pintu keluar. Aku melangkah dengan tertatih. Apa seperti ini, orang yang sedang patah hati ?. Sepertinya, ini lebih menyakitkan. Aku merasa, ada ribuan panah yang munusuk dibalik punggungku.
"Bodoh, kamu Almira.Mau saja kamu di permalukan sama mereka," kataku dengan mata yang mulai berkaca- kaca,"Jangan menangis, kamu bukan orang lemah."
Aku terus berlari menuju ke taman yang berada di restoran. Kemudian aku duduk di bangku taman. Aku managis dan terus menangis.
" Kenapa, hidupku seperti. Ya tuhan."
Tiba- tiba terdengar seseorang memanggil diriku.
" Almiraa.." teriak seseorang. Dan dia adalah Nino. Aku sangat mengenal suaranya. Suara yang selalu menemani hari-hari aku,setelah kematian orang tuaku.
" Almira..." Suaranya begitu lirih , saat berada di depanku.
Aku menatap wajahnya, terlihat ada kesedihan di mata Nino. Kemudian dia bersuara, " Maaf ,sayang. " Dia membelai wajahku dengan lembut. Aku mencoba menutup mata, untuk merasakan sentuhannya,
Dia berlutut didepanku,dan mata kita saling bertemu. Nino mencoba menggengam kedua tanganku.
"Lebih baik,Kita berpisah. "
Dia mendongak, saat aku berkata pisah. Raut wajahnya berubah marah ,seperti tidak menerima kata-kataku.
"Kita sudah sepakat akan berjuang bersama Al. Kenapa, kamu jadi begini." Dia berubah menjadi gelisah dan tidak tenang.
Aku masih saja menangis. Nino beranjak didepanku, dan duduk di sebalahku.
"Lebih baik kita pulang. Kita bahas lagi dengan kepala dingin." Ajak Nino. Dia berdiri manarik pergelangan tanganku.
Aku mengibas tanganku, dan berteriak " Kenapa , kamu masih kukuh. Orang tua kamu, nggak merestui kita."
Setelah itu, dia memeluk diriku. " Aku sayang kamu, Almira." katanya dengan suara lembut. Aku membalas pelukannya dengan erat.
Saat itu lah, terakhir aku bertemu dengannya. Aku pergi melarikan diri, ingin menyembuhkan hati ini. Dan membawa sebagian kenangannya.
Biarlah orang berkata aku egois, tapi ini demi masa depanku. Aku pun sadar, aku bukan orang yang tepat bagi Nino. Biarlah semua ini menjadi kenangan buat kita.
Nino
Semua menjadi kacau, saat Almira tak ada di rumahnya.Dia menghilang seperti di telan bumi.Ini semua karena mama yang tak merestui ke inginanku untuk menikahi Almira.
Status sosial yang selalu menjadi masalah bagi mama. Dia selalu memandang orang dengan kekeyaannya.
Aku seperti orang gila mencari keberadaannya. Orang-orang terdekatnya seperti diam saat aku mencarinya.
terimakasih bagi para reader. 😍
Jangan lupa follow akun ini dan ikuti cerita selanjutnya.
Dari penulis ecek-ecek 🥰