Moving On

Moving On
Kejutan Lana



Di kamar, Zeroun sudah bangun lebih dulu. Pria itu memandang wajah tenang kekasihnya sambil tersenyum indah. Mendekatkan wajahnya agar bisa melihat jelas wajah cantik Emelie. Jarinya mencubit lembut hidunga kekasihnya sambil menahan tawa. Pria itu terlihat bahagia saat berhasil menjahili kekasihnya yang sedang terlelap dalam tidurnya.


Merasa ada yang mengganggu, Emelie mulai membuka kedua bola mata biru miliknya. Wanita itu mengukir senyuman indah saat melihat wajah Zeroun di hadapannya.


“Apa Aku tertidur cukup lama?” Emelie mengucek bola matanya agar bisa melihat dengan jelas wajah Zeroun siang itu.


Zeroun menggeleng pelan dengan senyuman sebelum mengecup pucuk kepala Emelie, “Tidak terlalu lama. Aku hanya ingin membangunkanmu untuk makan siang.”


“Baby!” protes Emelie.


Zeroun tertawa kecil, “Baby, Ayo kita bangun dan makan siang,” ucap Zeroun dengan nada yang cukup lembut.


“Ayo, Baby,” jawab Emelie dengan senyuman indah miliknya.


Sepasang kekasih itu beranjak dari tempat tidur sambil bergandengan tangan. Ada senyum indah di bibir mereka berdua. Langkahnya terlihat santai saat menuju ke meja makan.


Emelie memperhatikan keadaan sekitar yang cukup sunyi. Sangat berbeda jika dibandingan dengan suasana ramai sebelum dirinya masuk ke dalam kamar. Tapi, wanita itu tidak ingin bertanya. Putri Kerajaan itu hanya diam mengikuti ajakan Zeroun menuju ke meja makan.


“Siapa yang memasak semua ini?” Emelie terlihat bersemangat saat melihat makanan yang begitu meggiurkan di depan matanya. Makanan-makanan itu telah tersedia di meja dan tertata cukup rapi.


“Lana yang memasak semua ini,” jawab Zeroun sambil mengambil alih posisi duduknya.


“Dimana Lana dan Lukas?” Emelie mencari-cari ke sekeliling. Hanya terlihat pistol milik Lana yang tertinggal di atas meja.


Zeroun menggeleng pelan kepalanya sebelum memulai makan siangnya. sepasang kekasih itu terlihat suka dengan hidangan yang sudah di masak oleh Lana. Tanpa tahu, nasip si pembuat makanan yang kini sedang terjebak di suatu tempat.


***


Lana duduk di permukaan lantai dengan tubuh yang sudah mulai kedinginan. Sudah hampir satu jam ia berada di dalam ruangan pendingin itu. Bibirnya yang merah sudah berubah menjadi biru karena kedinginan. Tubuhnya juga sudah mulai terlihat mengigil.


Lukas memandang wajah Lana dengan penuh simpati. Pria itu terlihat kasihan dengan keadaan Lana saat ini. Pria itu beranjak dari kursinya sambil membuka jas hitam miliknya. Memberikan jas hitam itu kepada Lana untuk melindungi tubuhnya dari rasa dingin.


“Pakai ini,” ucap Lukas sambil berjongkok di hadapan Lana.


Lana menatap wajah Lukas sebelum menerima jas hitam itu, “Terima kasih.”


Lana memakai jas milik Lukas untuk mengurangi rasa dingin yang kini ia rasakan. Perutnya terasa sangat lapar ditambah lagi keadaan yang cukup dingin itu membuat Lana menjadi sakit. Wanita itu menundukkan wajahnya saat merasakan suhu tubuhnya yang tidak lagi bersahabat.


“Apa Kau sakit?” Lukas mengeryitkan dahi.


Lana menggeleng pelan, “Pikirkan cara agar keluar dari tempat ini. Kenapa Kau terlihat begitu senang berada di dalam ruangan ini.”


Lukas beranjak dari posisinya. Pria itu mengambil sebotol bir sebelum meneguknya secara perlahan. Lana memandang wajah Lukas dengan seksama. Hatinya dipenuhi rasa kesal danemosi yang meledak-ledak.


Sudah berjam-jam berlalu. Botol kosong dari bir yang diteguk Lukas juga sudah berjajar rapi di permukaan lantai. Pria itu bersandar di rak minuman keras sambil terus meneguk minuman beralkohol itu.


“Lukas! hentikan! apa kau sudah gila! Kau sudah banyak minum. Apa kau ingin mabuk dan sakit?” Lana beranjak dari posisi duduknya, berdiri di hadapan Lukas. Wajahnya sudah memutih dengan bibir yang benar-benar biru.


“Aku tidak akanmabuk hanya meminum beberapa botol saja. Hanya dengan cara ini agar Aku bisa mempertahankan suh tubuhku saat ini.” Lukas melanjutkan kegiatannya meminum bir itu.


“Benarkah?” ucap Lana yang terlihat tertarik. Wanita itu merebut paksa bitil bir yang ada di tangan Lukas. Meneguknya dengan begitu cepat.


“Tidak seperti itu cara minumnya,” ucap Lukas sambil menatap wajah Lana dengan seksama.


“Lalu?” Lana memandang botol minuman yang ada di genggaman tangannya.


“Minum secara perlahan dan sesapi rasa yang ada di dalam minuman ini.” Lukas memandang wajah Lana dengan rasa kasihan. Wanita itu benar-benar sangat kedinginan saat itu.


Lana mengukir senyuman kecil di bibir birunya, “Baiklah, akan Aku coba.” Wanita itu mulai meneguk minumannya dengan hati-hati. Semua perkataan Lukas memang benar. Tubuhnya terasa sedikit hangat ketika minuman itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Merasa minuman itu sangat bermanfaat, Lana menghabiskan isi botol minuman itu dengan segera.


Setelah habis meneguk minuman yang ada di tangannya, Lana membuka botol baru. Wanita itu terlihat ketagihan dengan minuman beralkohol itu tanpa tahu efek samping yang akan ia dapatkan nantinya.


“Jangan yang itu,” ucap Lukas sambil menarik botol yang ada di genggaman Lana.


“Yang ini kadar Alkoholnya terlalu tinggi,” sambung Lukas sambil mengembalikan botol minuman itu pada tempatnya.


“Bukankah bagus? semakin tinggi kadar alkoholnya maka semakin cepat tubuhku merasa hangat.” Lana tidak lagi peduli dengan larangan yang dibuat oleh Lukas. Wanita itu mengambil botol yang sama dan meneguknya dengan cepat. Ada senyum puas dan bahagia saat ia berhasil meminum satu botol minuman itu.


“Pantas saja Kau bisa bertahan sejak tadi. Ternyata minuman ini benar-benar bisa menghangatkan tubuhmu bukan?” Wajah Lana sudah semakin memerah. Wanita itu menjadi mabuk karena tidak biasa meminum-minuman keras.


Lukas menarik napasnya secara kasar sambil merebut paksa botol kosong itu, “Sudah cukup!”


Lana menggeleng dengan tubuh sempoyongan, “Hei Lukas, apa kau ingin membunuhku? Kau tidak mengijinkanku minum agar Aku mati kedinginginan bukan?” Lana tertawa dengan begitu lantang. Wanita tangguh itu tidak lagi sadar dengan apa yang ia ucapkan. Dengan penuh semangat, Lana mengambil botol minuman yang sama. Lukas mencegahnya dengan gerakan cepat.


“Aku sudah bilang, Cukup! Kau sudah mabuk Lana!” Lukas meletakkan botol itu kembali ke tempatnya.


“Aku ingin minum lagi! kenapa Kau selalu saja menyebalkan Lukas!” teriak Lana smabil memukul-mukul dada bidang milik Lukas.


“Kau sangat suka menganiaya hidupku. Apa Kau benar-benar benci padaku?” Lana menjatuhkan tubuhnya di dada bidang milik Lukas. Membuat pria itu mundur beberapa langkah dengan mata melebar.


“Lana, Kau ini merepotkan saja.” Lukas berusaha untuk menjahui tubuh Lana dari tubuhnya. Tetapi, gerakannya terhenti saat tiba-tiba saja bibir Lana menyatu dengan bibirnya. Wanita itu berjinjit sambil mengunci kedua tangannya di leher milik Lukas. Ciuman Lana yang terasa hangat membuat Lukas mematung menjadi batu. Ini pertama kalinya Ia berciuman dengan seorang wanita. Jantungnya berdebar dengan begitu cepat. Ada aliran aneh yang mengalir di dalam tubuhnya.


Like, Komen, Vote. Terima kasih.💗