
Beberapa hari kemudian.
Hari terus berganti. Masa lalu terus berlalu dan menjadi kenangan indah yang sulit untuk di lupakan. Aroma bunga mawar merah tercium dengan begitu harum. Lana memejamkan mata sambil menikmati aroma bunga itu sebelum meletakkannya di atas makam. Tangannya mengusap lembut batu nisan yang ada di sana. Air mata harus kembali menetes saat melihat rerumputan makam yang kini ada di hadapannya.
“Hai, apa kabar?” ucap Lana dengan nada lirih. Matanya yang sempat berkaca-kaca harus meneteskan air mata dengan begitu deras, “Besok aku akan pergi meninggalkan Spanyol.” Ada senyum kecil dibalik wajah sedihnya.
“Seharusnya kita tidak bermusuhan sejak awal. Kau pria yang cukup bodoh. Kenapa kau harus menolongku,” ucap Lana dengan suara yang serak. Tetes air mata jatuh ke atas makam yang ia kunjungi.
“Kau tahu kalau aku pernah mencintaimu. Bahkan rasa itu masih ada sejak kita bertemu kembali. Tapi, yang tersisa hanya sayang. Aku menyayangimu. Kenapa kita tidak bisa berdamai dan menjalin ikatan persaudaraan. Apa kau terlalu marah padaku hingga tidak lagi memberi kesempatan kepadaku mencintai pria lain? Dasar bodoh! Kau pria yang cukup egois.” Lana menutup wajahnya dengan telapak tangan. Semilir angin membuat rambut Lana berterbangan. Suasana saat itu terasa sangat hening. Hanya terdengar isak tangis Lana.
Tangan Lana terkepal kuat untuk menahan dirinya agar tidak menangis lagi. Bibirnya gemetar. Lana menghapus tetes air mata di pipi sebelum mengatur napasnya yang berubah sesak.
“Terima kasih karena sudah mencintaiku. Maafkan aku karena tidak pernah mengerti ketulusan cinta yang kau miliki. Terima kasih, Morgan. Cintamu akan selalu aku kenang. Pengorbananmu akan selalu ada di dalam ingatanku dan tidak akan pernah terlupakan.” Lana mendaratkan satu kecupan di nisan bertuliskan nama Morgan. Matanya terpejam untuk kembali membayangkan masa-masa indahnya bersama Morgan.
Tiba-tiba sebuah jas berwarna hitam menyelimuti tubuh Lana. Dalam hitungan detik tubuh Lana yang semula merasa dingin kini berubah menjadi hangat. Lukas berdiri di belakang Lana. Pria itu menatap wajah Lana dengan ekspresi dingin favoritnya.
“Dia pria yang cukup hebat,” ucap Lukas sambil melihat batu nisan bertuliskan nama Morgan tersebut.
Lana mengukir senyuman sebelum beranjak dari posisinya. Lukas juga membantu Lana untuk berdiri. Setelah berdiri, wanita itu melingkarkan tangannya di tubuh Lukas. Ia memeluk pria itu dengan penuh cinta, “Aku mencintaimu, Lukas.”
Lukas menghela napas sebelum mengusap lembut punggung Lana. “Kau harus bertanggung jawab karena membuat Lanaku menangis, Morgan. Aku sangat tersentuh dengan pengorbananmu. Terima kasih dan selamat tinggal. Senang bisa bertemu dengan pria sepertimu. Aku mendapat banyak pelajaran. Setidaknya aku tahu bagaimana bentuk pengorbanan kepada wanita yang kita cintai. Kau harus tenang di alam sana. Jangan pikirkan Lana lagi. Mulai detik ini, aku adalah pria yang akan menjaganya,” ucap Lukas kepada Morgan. Pria itu memandang ke arah langit seolah Morgan sedang melihatnya.
Lukas melepas pelukannya. Pria itu mengusap lembut pipi Lana sambil menatapnya dengan sorot mata yang tajam. Dalam hitungan detik posisi Lukas terganti. Kali ini pria tangguh itu berlutut dengan satu kaki tertekuk ke atas di hadapan Lana. Sebuah kotak cincin ia keluarkan dari dalam saku.
Lana kembali meneteskan air matanya. Momen manis itu tidak pernah ia bayangkan kalau akan terjadi hari ini. Lana menutup mulutnya dengan tangan dengan wajah tidak percaya.
“Lana, pria sepertiku tidak akan pernah menjanjikan hal yang terlalu banyak. Hanya satu janji yang mungkin akan aku tepati hingga aku mati. Aku akan selalu menjagamu dan membuatmu bahagia. Lana, will you merry me?” ungkap Lukas dengan wajah yang bersungguh-sungguh. Singkat, padat dan tepat. Begitulah hidup Lukas selama ini. Ia tidak suka hal yang terlalu berlebih dengan sejuta alasan. Lukas pria yang lebih mencintai bukti nyata daripada hanya sekedar kata.
Lukas mengeryitkan dahi saat mendengar kata maaf. Sekilas ia berpikir, mungkin Lana tidak akan memilihnya karena kini Morgan telah pergi karena menyelamatkan nyawanya. Sekilas Lukas membayangkan kalau Lana mungkin belum siap untuk menikah. Kata maaf yang keluar dari bibir Lana memang membuat sejuta kalimat tanya di dalam pikiran Lukas.
“Bunuh saja aku daripada kau menolakku, Lana,” gumam Lukas di dalam hati dengan hati kecewa.
“Wajahmu sungguh jelek jika seperti itu,” ledek Lana dengan tawa kecil.
Lukas menghela napas. Pria itu berdiri saat melihat wanita yang ia lamar justru tidak lagi terbawa suasana romantis, “Lana, apa kau tidak serius dengan cintaku?”
Lana menatap wajah Lukas dengan seksama. Detik itu juga Lukas kembali menutup kotak cincinnya. Lana merebut paksa kotak cincin tersebut. Ia mengedipkan sebelah matanya, “Aku ingin kau melamarku di tempat yang indah seperti Bos Zeroun melamar Nona Emelie. Tempat seperti ini tidak bisa di pamerkan,” ucap Lana masih dengan tawa kecil.
“Dasar wanita nakal.” Lukas mendengus kesal. Pria itu kembali lega saat mendengar jawaban yang terucap dari bibir Lana. Dengan gerakan cepat ia menarik pinggang Lana. Lukas mendaratkan bibirnya di bibir Lana.
Mata sepasang kekasih itu saling terpejam untuk menikmati kecupan hangat sore itu. Lana menggenggam kuat kotak kecil yang berisi cincin lamaran Lukas. Wanita itu sangat bahagia. Tidak ada hal lain yang ia pikirkan selain menikah dengan Lukas. Lana bersedia menjadi istri dari pria es yang kini memeluknya.
Sifat Lukas selama ini justru membuat hatinya selalu sejuk dan nyaman, “Aku mencintaimu, Lukas. Sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku.”
“Tidak akan. Aku akan selalu ada di sampingmu, Lana. Kita akan selalu bersama. Aku bertarung, kau bertarung. Aku menembak kau menembak. Seperti itulah hidup kita nanti.” Lukas memeluk Lana lebih herat lagi. Pria itu menghirup aroma rambut kekasihnya dengan penuh perasaan.
“Tawaran yang cukup menarik. Tapi, apa kau tidak bisa menjanjikanku dengan mobil mewah, rumah mewah atau liburan mewah?” ucap Lana dengan suara pelan. Wanita itu melingkarkan tangannya di pinggang Lukas.
“Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan. Besok kita akan merampok bank terbesar yang ada di Amerika agar bisa mengabulkan semua permintaan mahalmu itu,” jawab Lukas asal saja.
Lana tidak lagi bisa menahan tawanya. Wanita itu kembali tertawa ceria saat mendengar jawaban konyol yang di ucapkan oleh calon suaminya. Pelukannya semakin erat bersamaan angin yang bertiup semakin kencang.
Lukas melepas pelukannya. Ia menggenggam pergelangan tangan Lana. Pria itu membawa Lana pergi meninggalkan makam Morgan. Angin terus berhembus dengan kencang hingga membuat dedaunan kering berterbangan. Rintik hujan mulai menetes untuk menghilangkan jejak yang telah di tinggal Lana dan Lukas di tempat itu.