Moving On

Moving On
S2 Bab 7



Di dalam pesawat.


Lukas meletakkan Lana dengan hati-hati di atas tempat tidur. Pria itu beranjak dari duduknya untuk mengambil telepon yang ada di hadapannya. Ia memberi perintah kepada bawahannya untuk memanggil Alika. Lukas terlihat sangat panik saat melihat wanita yang iacintai kini tidak sadarkan diri. Pria itu tidak tahu harus berbuat apa.


Tidak menunggu terlalu lama, Alika muncul di ruangan sempit itu. Wanita itu duduk di tepian tempat tidur sambil memegang tangan Lana, “Lana, bangun.” Satu tangannya mengusap lembut pipi Lana yang masih terlihat memejamkan mata.


“Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?” ucap Lukas dengan kedua tangan di dalam saku.


“Maaf, Bos karena Lana telah menyusahkan anda.” Alika membungkuk hormat dengan wajah dipenuhi rasa bersalah.


Lukas menaikan satu alisnya, “Kau tidak menjawab sesuai dengan pertanyaanku,” protes Lukas tidak terima.


Alika memandang wajah Lana sebelum memandang wajah Lukas lagi, “ Lana hanya terlalu banyak pikiran, Bos. Ini memang sudah biasa terjadi.”


Alika sudah tahu cerita tentang Morgan. Wanita itu tidak ingin terlalu banyak kata hingga membuat dirinya nanti jadi terjebak.


“Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan?” Lukas menatap wajah Alika dengan tatapan cukup serius, “Kau pasti tahu tentang Lana dan Morgan.”


Alika menunduk dengan bibir membisu. Posisinya kini berada di level yang sangat sulit. Ia tidak memiliki kesempatan untuk maju maupun mundur. Alika terpojok di sudut hingga membuat posisinya seolah terjepit, “Morgan, Bos?” ucap Alika penuh basa-basi. Wanita itu masih berusaha mengulur wakt agar tidak jadi menceritakan masa lalu adiknya kepada Lukas.


“Hmm,” gumam Lukas pelan.


“Soal itu ... saya hanya tahu kalau mereka berpacaran saja, Bos.” Alika memandang wajah Lana dengan seksama, “Morgan meninggalkan Lana begitu saja saat Lana merasa sangat cinta dan bahagai dengan hubungan yang sudah ia jalin.”


“Hanya itu?” ucap Lukas dengan wajah tidak percaya.


“Saya hanya tahu tentang itu, Bos. Maafkan saya jika jawaban saya tidak sesuai dengan keinginan anda, Bos.” Lana melai menggerakkan tangannya. Secara perlahan Lana membuka mata. Wanita itu memandang wajah Alika terlebih dahulu sebelum menatap wajah Lukas yang berada cukup jauh dari posisinya berada.


“Lana, apa kepalamu masih sakit?” ucap Alika sambil membantu Lana untuk duduk.


“Sudah jauh lebih ringan kak. Aku tidak merasa sakit seperti tadi,” jawab Lana. Wnaita itu kembali ingat dengan pertikaian yang terjadi dengan Lukas sebelum ia memejamkan mata.


Alika mengerti dengan kehadirannya yang terbilang menjadi pengganggu. Wanita itu berpamitan kepada Lukas untuk meninggalkan Lana dan Lukas berduaan di dalam ruangan sempit itu.


“Apa aku tidur terlalu lama?” tanya Lana sambil berusaha mengakrabkan diri.


“Lima jam?” celetuk Lana kaget.


“Apa kau tidak percaya padaku?” Lukas menaikan satu alisnya.


Lana menggeleng pelan dengan senyum menyeringai, “Tidak. Aku cukup percaya padamu.”


“Tapi aku sangat sulit untuk percaya padamu, Lana. Kau wanita yang di penuhi dengan rahasia dan kebohongan.” Lukas beranjak dari duduknya. Pria itu ingin segera keluar untuk meninggalkan Lana sendiri di dalam kamar itu.


“Tunggu!” teriak Lana dengan suara lantang, “Aku memang berbohong padamu, Lukas. Bahkan cukup banyak kebohongan yang sudah aku perbuat. Tapi, cinta dan kesetiaanku tulus. Perasaan itu sebah kebenaran yang tidak bisa di katakan salah. Kau harus percaya padaku. Aku hanya mencintai dirimu. Tidak ada nama lain di dalam hati ini selain namamu, Lukas.” Lana menghapus tetes air mata yang mulai jatuh.


Kalimat yang di ucapkan Lana behasil membuat Lukas luluh. Bahkan pria itu mengurungkan niatnya untuk pergi meninggalkan Lana sendirian. Ia berjalan mendekati tempat tidur single yang di tiduri Lana sebelum duduk dengan posisi nyaman.


“Apa yang harus aku lakukan jika kau ada di posisiku? Kenapa kau terlihat sangat sulit untuk mengakuinya!” protes Lukas sambil mengeryitkan dahi.


“Aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ingin kau tahu. Aku juga tidak terlalu peduli dengan hal itu.” Lana memegang kedua tangan Lukas, “Lukas, semua yang telah terjadi di masa laluku cukup sulit untuk aku jelaskan sekarang. Beri aku waktu untuk mempersiapkan diri sebelum menceritakan semuanya.” Lana meletakkan tangan Lukas di pipinya. Wanita itu mendaratkan satu kecupan di tangan Lukas dengan penuh cinta.


Lukas menghela napas, “Baiklah. Aku akan memberimu waktu. Secepatnya ceritakan padaku agar aku tidak terus-terusan salah paham pada dirimu.” Lukas menatap wajah Lana dengan cukup serius.


“Terima kasih,” jawab Lana bahagia. Wanita itu duduk di atas pangkuan Lukas dengan posisi manja. Kedua tangannya melingkari leher kekasihnya dengan posesif. Tidak menunggu terlalu lama, Lana mendaratkan satu ciuman manis di bibir Lukas.


“Aku mencintaimu,” ucap Lana pelan sebelum mengecup bibir Lukas lagi. kali ini ciumannya berlangsung cukup lama dan penuh dengan godaan. Ia memang terus saja memancing kekasihnya agar berbuat lebih terhadap dirinya. Tapi, Lukas memang pria yang cukup hebat dalam menahan diri. Sebesar apapun godaan yang di berikan Lana, ia mampu mengontrol dirinya agar tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi.


“Kau memang pria yang cukup baik, Lukas. Aku wanita beruntung yang berhasil mengenalmu. Walaupun aku tidak tahu, apa aku juga membawa keberuntungan atau tidak di dalam kehidupanmu yang sekarang,” gumamnya di dalam hati. Lana cukup tersanjung dengan prilaku Lukas.


“Aku juga mencintaimu, Lana.” Lukas mengusap lembut pipi Lana dengan jemarinya sebelum mendaratkan satu kecupan lembut di dahi Lana. Sentuhannya di penuhi dengan cinta dan kasih sayang yang tidak bisa di hitung jumlahnya.


“Terima kasih karena mau memahamiku. Terima kasih karena mau berada di sampingku. Aku sangat beruntung bisa memilikimu,” ucap Lana dengan senyuman yang cukup indah. Wanita itu menyingkir dari pangkuan Lukas. Ia kembali duduk di atas tempat tidur yang sempat ia tiduri.


Lukas mengusap lembut pipi Lana sebelum beranjak dari duduknya, “ Sebentar lagi kita akan tiba di Hongkong. Kita harus kembali duduk di kursi,” ajak Lukas sambil mengulurkan tangannya.


Lana mengukir senyuman sebelum meraih tangan Lukas, “Aku sudah tidak sabar untuk bermain-main di Hongkong.”