Moving On

Moving On
Rencana Baru



Kali ini bukan mafia yang menyerang Gold Dragon. Tetapi polisi yang telah mencurigai Gold Dragon. Markas Gold Dragon di kepung oleh komplotan polisi. Inspektur Tao menjadi pemimpin penyerangan malam itu. Tidak ada jalan untuk membela diri. Semua barang bukti di lokasi kecelakaan Ratu mengarah pada Zeroun Zein. Kini Lukas dan seluruh pasukanya adalah buronan di Inggris.


Semua pasukan Gold Dragon menggunakan topeng untuk menutupi identitas diri. Malam itu mereka harus mati-matian bertarung dengan aparat negara. Zeroun tidak ada di lokasi itu. Sejak siang ia pergi dan belum kembali.


Lana dan beberapa pasukan Gold Dragon menembak beberapa polisi yang sudah berhasil masuk. Lukas belum pulih sepenuhnya, tubuhnya terasa sangat lemah. Lana mendorong kursi roda Lukas dengan begitu cepat. Setiap meter, mereka harus bertemu dengan polisi bersenjata yang akan menghalangi.


Lana tidak menyerah. Sekuat tenaga ia melindungi Lukas agar tidak tertembak. Setelah berjalan menuju jalan keluar, Lana tidak lagi bisa menemukan cela. Lana dan Lukas sudah di kepung oleh polisi. Lana mencengkram kuat kursi roda Lukas. Berpikir kerasa agar bisa kabur meinggalkan tempat itu.


Satu ledakan baru saja di layangkan salah satu Gold Dragon. Lana mendorong kursi roda kearah pintu yang ada di sudut ruangan. Mendobrak pintu itu agar bisa keluar.


Diluar sudah ada dua mobil menunggu mereka. Lana memasukan Lukas kedalam mobil sambil menembaki polisi yang ingin mengikutinya.


Setelah beberapa menit menghindari kejaran polisi. Mereka menuju kearah titik pertemuan. Mobil itu melaju dengan cepat, menuju kepadang rumput yang sunyi.


Angin di Padang rumput itu berhembus dengan sangat kencang. Membuat tubuh siapa saja merasa dingin dan terasa beku.


Setelah berhasil kabur dari kejaran polisi. Zeroun juga pergi ke Padang rumput itu. Ia sudah merencanakan pelarian Lukas dan Lana malam ini. Di susul oleh beberapa pasukan Gold Dragon lainnya.


Ada helikopter yang sudah menunggu di lapangan luas. Zeroun berdiri di tempat itu, menunggu kedatangan Lukas.


Saat melihat kedatangan mobil yang membawa Lukas, Zeroun membuka kaca matanya. Ekspresi wajahnya dingin.


Lana mengeluarkan Lukas dari dalam mobil, dibantu beberapa pasukan Gold Dragon. Memasukan Lukas ke dalam helikopter. Lana duduk di samping Lukas dengan wajah khawatir.


Zeroun berjalan dengan tenang untuk mendekati Lukas. Berdiri dengan posisi menghadap wajah Lukas dan Lana.


“Pergilah ke pelabuhan. Sudah ada kapal yang menunggu kalian di sana. Kita tidak bisa pergi melalui udara. Lana ikutlah bersama Lukas. Kalian akan berangkat ke Brazil lebih dulu. Ada hal penting yang harus aku selesaikan disini. Setelah selesai aku akan menyusul kalian.” Zeroun memegang tangan Lukas dengan senyuman kecil.


“Maafkan saya, Bos.” Lukas terlihat merasa bersalah.


“Jika ingin mendapatkan maafku, kau harus segera pulih. Perang sesungguhnya ada di Brazil.” Zeroun memandang wajah Lukas dan Lana bergantian.


“Pergilah, sudah waktunya. Kabari aku kalau sudah tiba di Brazil.” Zeroun menutup pintu halikopter itu.


“Kami akan menunggu anda, Bos,” teriak Lukas dengan hati yang perih.


Zeroun memandang kepergian helikopter Lukas. Tangannya terkepal kuat menyimpan dendam yang begitu dalam.


“Heels Devils, aku pasti bisa mengalahkanmu.”


Nama Jesica menjadi target utama hidupnya saat itu. Ia bersumpah untuk tidak akan kembali ke Hongkong sebelum membunuh wanita licik itu.


***


1 Minggu kemudian.


Pagi yang cerah. Emelie sudah mengenakan pakaian resmi dinasnya. Rok dibawah lutut, Blezer dan topi yang menutupi rambutnya yang di sanggul rapi. Hari itu, Emelie mengambil alih semua tugasnya sebagai seorang Putri Kerajaan. Sudah cukup baginya untuk bersedih. Kini saatnya untuk dirinya bangkit dan memulai semuanya lagi.


Pekerjaan yang selama ini di ambil alih oleh Adriana. Detik ini ia ambil kembali. Membebaskan Adriana dari seluruh tanggung jawab yang pernah ia berikan.


Emelie duduk di kursi kerja Ratu sambil memeriksa beberapa bisnis dan kegiatan yang pernah menjadi jadwal Ratu. Suara pintu terbuka menghentikan aktifitas pagi Emelie saat itu.


Pengawal setia Ratu telah tiba. Pria berusia 40 tahun itu menunduk hormat di hadapan Emelie saat berhadapan langsung dengan Emelie. Pria itu sempat menghilang setelah kabar kepergian Ratu.


“Anda tahu, kalau saya akan memanggil anda ke istana?” Emelie terlihat tertarik dengan pengawal rahasia ibunya itu.


Pengawal itu sangat setia kepada Ratu. Seluruh penyelidikan yang dibilang rahasia, akan menjadi tugas khusus bagi pria itu


Pria itu mengukir senyum kecil,” Maafkan saya, Putri. Saya tidak bisa melindungi Ratu. Kejadian itu berlangsung dengan sangat cepat. Ratu meminta saya untuk mengantar surat itu di dalam laci. Saya tidak menyangka, kecelakaan itu berlangsung saat saya belum tiba untuk melindungi Ratu.”


“Seseorang ingin membunuh Ratu?” tuduh Emelie dengan begitu cepat. Tidak ada lagi keraguan di dalam hatinya. Emelie tahu kalau kecelakaan itu memang sudah direncanakan.


Pria itu membungkuk, “Benar Putri.”


Emelie berjalan mendekati pria itu, “Siapa yang ingin mencelakai Ratu? Aku akan membunuhnya.” Emelie di sulut Emosi.


“Maafkan saya Putri, Saya belum berhasil mengetahuinya.” Wajah Pria itu terlihat bersalah karena belum berhasil mengetahui identitas pembunuh yang asli.


“Lalu, kenapa mereka ingin menangkap Zeroun?” Emelie kembali ingat dengan penyerangan polisi di lokasi pemakaman.


Pengawal itu mendogakkan wajahnya yang sejak tadi tertunduk dalam. Memandang Emelie dengan seksama.


“Seseorang menjebak pria itu. Semua bukti menyeretnya ke dalam kecelakaan Ratu. Putri Adriana memasang perintah untuk menangkap pria bernama Zeroun Zein dan seluruh anggota mafia Gold Dragon yang ia miliki.”


Sejak awal, pengawal itu sudah tahu. Kalau bukan Zeroun yang berniat mencelakai Ratu.


“Adriana?” Tiba-tiba saja Emelie ingat dengan perkataan Ratu kalau Adriana bukan adik kandungnya. Emelie memandang pria itu dengan wajah serius.


“Apa anda tahu, kalau saya dan Adriana bukan saudara kandung.”


Pria itu megangguk pelan, “Ratu pernah memberi tahu saya, Putri.”


“Apa anda mau membantu saya?” Wajah Emelie dipenuhi dengan permohonan.


Pria yang kini berdiri di hadapanya bukan pria yang bisa dengan mudah di ajak kerja sama.


“Perintah anda sama dengan perintah Ratu, Putri. Saya akan menuruti semua perintah anda. Nyawa saya akan saya berikan untuk melindungi Putri.” Pria itu menekuk kepalanya.


“Bagus,” sambung Emelie dengan satu senyum kecil.


“Kita harus mengikuti permainan mereka terlebih dahulu. Kita tidak bisa menyerang mereka tanpa bukti. Kita juga harus tahu, siapa saja yang mendukung Adriana selama ini.” Emelie semakin yakin, Adriana ada di balik semua masalah ini.


“Saya akan mengirim orang saya untuk melindungi Putri.”


“Satu lagi,” ucap Emelie cepat.


“Saya ingin bertemu dengan Zeroun Zein hari ini.” Wajah Emelie terlihat bersemangat saat bibirnya menyebutkan nama Zeroun.


“Baik, Putri. Saya akan mengurus semuanya.” Pria itu membungkuk lagi.


“Saya permisi dulu, Putri.”


Emelie melipat kedua tangannya di depan dada. Memandang kepergian pengawal barunya dengan wajah yang terlihat tidak bersahabat.


“Jika memang kau terbukti ada di belakang kematian Ratu. Aku yang akan menghukummu secara langsung Adriana.” Mata Emelie di penuhi amarah dan rasa ingin balas dendam.