
Setelah berjam-jam melewati baku tembak dan baku hantam, kini Zeroun dan pasukan Gold Dragon pulang dengan wajah dipenuhi luka. Bahkan Lana juga tidak lagi bisa membawa mobilnya sendiri. Ada pasukan Gold Dragon yang mengemudikan mobilnya. Malam ini mereka kehilangan pasukan Gold Dragon hampir 25 persen dari jumlah semula.
Lukas semakin di selimuti kekhawatiran. Sebagian Gold Dragon juga telah pergi berangkat ke kota Sapporo untuk menolong Serena di kota itu. Pria itu berpikir keras untuk mencari pasukan baru yang banyak dalam waktu satu hari. Jika tidak memiliki pasukan tambahan, mereka bisa di pastikan akan kalah dalam penyerangan gudang senjata nantinya.
Zeroun duduk di bangku belakang sambil bersandar dengan posisi nyaman. Pria itu memiliki luka kecil di ujung dahinya. Matanya terpejam untuk mengatur napasnya yang sempat terputus-putus. Jari-jarinya berwarna kemerahan karena memukul beberapa Heels Devils yang ingin mencelakai dirinya.
Jesica tidak ikut dalam petarungan tadi. Tetapi dia telah mengutus seorang pria yang cukup tangguh untuk melawan Zeroun. Bahan saat dipetarungan tadi, Zeroun sedikit kesulitan mengalahkannya. Seseorang mengeluarkan tembakan dan menyelamatkan nyawanya tepat waktu.
“Apa Gold Dragon yang menembak pria itu tadi?” ucap Zeroun masih dengan posisi memejamkan mata.
“Bukan Bos. Saya juga tidak tahu, siapa yang menolong anda tadi. Arah tembakannya berasal dari gedung yang cukup jauh. Ada orang yang mengawasi kita secara diam-diam.” Lukas menambah laju mobilnya.
“Selidiki secepatnya!” perintah Zeroun sambil melanjutkan tidurnya.
“Baik, Bos ! Dari tembakannya dia seorang wanita. Bahkan tembakannya tidak tepat sasaran. Pria itu masih bisa kabur dengan dada terluka.” Lukas kembali membayangkan wajah musuhnya yang sudahdibilang sekarat tetapi masih bisa berlari jauh. Pasukan milik Jesica memang tidak bisa di anggap sepele. Beberapa anggota pilihan miliknya selalu saja orang-orang yang tidak mudah terkalahkan.
Beberapa saat kemudian. Tepatnya pukul 4 pagi. Zeroun dan seluruh pasukan Gold Dragon tiba di rumah Dengan langkah cepat, Zeroun berjalan menuju ke kamar tidurnya. Pria itu ingin segera mandi sebelum beristirahat.
Didalam kamar, terlihat sang kekasih yang masih terlelap tidur dengan posisinya yang cukup nyaman. Selembar selimut itu sudah turun hingga ke pingganga. Zeroun mengukir senyuman saat melihat wajah kekasihnya itu. Pria itu berjalan perlahan untuk membenarkan selimut Emelie.
Setelah puas melihat wajah sang kekasih, Zeroun berjalan menuju ke kamar mandi. Pria itu segera mengganti pakaiannya yang berlumuran darah.Tubuhnya yang kotor juga ingin segera ia bersihkan secepatnya.
Air shower keluar dengan cukup deras. Zeroun mandi di bawah pancuran itu sambil mengusap lembut wajahnya. Di depan cermin, pria itu menatap wajahya sendiri dengan penuh amarah. Selalu saja Jesica hadir di setiap rencana yang ia susun. Bahan, bisa di bilang hidupnya tidak lagi tenang sejak dirinya dan Gold Dragon menetap di Brasil.
Kedua tangannya terkepal kuat hingga memutih saat membayangkan wajah Jesica. Bos Mafia itu benar-benar dendam dengan pemilik nama.
“Aaaa!” teriak Zeroun hingga suaranya memenuhi isi kamar itu. Satu tangannya ia angkat dan ia pukulkan ke arah kaca. Membuat jari-jarinya berdarah karena terkena pecahan kaca.
“Jesica! Aku tidak akan membiarkanmu tetap hidup. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.” Ada amarah yang kini menyala-nyala di kedua bola mata hitamnya. Air yang ada di permukaan lantai kini telah terganti dengan warna merah. Luka di jari-jari Zeroun terlihat semakin parah karena memukul kaca itu.
Zeroun menyudahi mandinya. Pria itu mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Memilih setelan santai untuk ia kenakan selama beristirahat. Langkahnya terhenti saat ingin naik ke atas tempat tidur. Pria itu melihat tetesan darah miliknya yang kini berserakan di lantai. Pria itu menghembusan napasnhya secara kasar sebelum pergi meninggalkan kamar.
Lukas baru saja selesai mandi. Pria itu duduk di kursi yang ada di dapur dengan segelas air putih di depannya. Masih terbayang jelas, segala rencana besar yang elah mereka susun. Segala resiko yang akan mereka terima nnatinya juga sudah terasa hingga menggetarkan jiwanya.
“Belum tidur,” ucap Zeroun yang tiba-tiba saja muncul dan duduk di salah satu kursi yang melingkari meja makan itu.
Lukas memandang Zeroun dengan dahi mengeryit. Pria itu memperhatikan luka di jari-jari Zeroun yang masih baru, “Apa anda baik-baik saja, Bos?” Lukas beranjak dari duduknya untuk mengambil kotak P3K. Sejak dulu, setiap kali Zeroun terluka memang Lukas yang berperan menjadi perawat pribadi bagi dirinya. Zeroun meletakkan tangannya di atas meja dan membiarkan Lukas mengobati lukanya.
“Semua baik-baik saja, Bos. Ada seorang pria bernama Louis yang dikirim Jesica untuk mencelakai Nona Zetta. Tapi, sepertinya Nona Erena berhasil mengatasinya.” Lukas menggunting perban di tangan Zeorun sebelum mengembalikan kotak P3K itu ke dalam lemari.
Zeroun tersenyum kecil saat membayangkan wajah Erena, “Wanita itu memang selalu bisa di andalkan dan sedikit keras kepala. Setidaknya musuh yang dikirim Jesica bisa membuat Serena tertahan di kota itu. Sejak beberapa hari yang lalu, dia sangat ingin tiba di sini untuk membantu kita.”
Lukas mengambil segelas air putih dan meletakkannya di hadapan Zeroun Zein. Entah kenapa, setelah mengingat kembali nama Erena hati Lukas dipenuhi dengan harapan kalau wanita itu segera tiba di Brasil untuk membantunya.
“Tapi, dia sudah memiliki anak. Aku tidak aan membiarkannya tiba di sini. Aku akan menghalanginya agar ia tidak pernah berhasil tiba di sini untuk bertarung lagi.” Zeroun meneguk air putih itu.
Kalimat Zeroun membuat harapan yang dimiliki Lukas hancur berkeping-keping. Pria itu menatap ke arah gelas kosong yang baru saja diletakkan oleh Zeroun di atas meja.
“Aku ingin tidur. Setidaknya kita punya waktu satu hari untuk beristirahat.” Zeroun beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ke arah kamar. Lukas memandang punggung Zeroun dengan wajah sedikit kesal. Pria itu juga beranjak dari posisinya duduk untuk kembali ke dalam kamar.
“Untuk apa kau mengintip di situ?” ucap Lukas sambil melirik ke arah dinding yang terlihat kosong.
“Masih tidak mau keluar?” sambung Lukas cepat.
Tiba-tiba saja Lana muncul dengan wajah cemberut. Wanita itu terus saja mengumpat di dalam hati saat keberadaannya diketahui oleh Lukas.
“Lukas, maafkan Aku.” Lana berjalan dengan wajah menunduk.
“Maaf?” Lukas mengeryitkan dahi.
Lana mengangguk pelan. Wanita itu berdiri di hadapan Lukas masih dengan wajah menunduk, “Aku yang membuat kita terjebak di ruangan pendingin itu. Tetapi kau masih mau memanggilkan dokter untuk menyembuhkan penyakitku. Seharusnya Aku tidak terus-terusan menyalahkanmu.”
“Apa kau bisa berbicara sambil mengangkat kepalamu?” Lukas melipat kedua tangannya di depan dada.
Lana mengangkat wajahnya dengan dua bola mata menatap wajah Lukas, “Maaf Bos Lukas yang baik.” Ada senyum manis di bibir Lana malam itu.
Lukas lagi-lagi ingat dengan bibir milik Lana yang pernah mendarat di bibirnya, “Sudahlah, Aku mau tidur.” Lukas berlalu begitu saja tanpa mau memandang wajah Lana lagi.
Lana memasang wajah kesal atas sikap angkuh Lukas pagi itu, “Dia memang pria yang aneh bukan?”
Like, Komen, Vote....terima kasih