Moving On

Moving On
S2 Bab 91



Cambridge.


Di sebuah aula berukuran luas dengan dekorasi yang cukup megah. Di dalam aula itu telah di isi olah seluruh anggota kerajaan Inggris dan tamu dari seluruh kerajaan yang ada di seluruh dunia. Bahkan ada juga tokoh agama dan perdana menteri di dalamnya.


Emelie memandang wajah Zeroun dengan bibir tersenyum indah. Beberapa menit lagi, Mahkota kerajaan akan diletakkan di atas kepalanya. Debaran jantungnya semakin tidak karuan saat pintu besar bercat emas yang ada di hadapannya terbuka lebar.


Emelie mulai mengatur napasnya. Ia menatap ke arah depan lalu melangkah dengan hati-hati. Siang itu gaun sutra berwarna putih yang dikenakan Emelie tertutup oleh jubah kenegaraan yang panjangnya mencapai 5,5 meter. Jubah itu menggunakan bahan kain beludru yang didesain khusus dan memang disiapkan untuk Sang Ratu.


Tibanya Putri Emelie di sambut oleh seluruh tamu undangan yang telah hadir. Bahkan untuk warga negara juga bisa melihat melalui TV besar yang terpasang di setiap sudut kota.


“Sayang, tenanglah,” ucap Zeroun dengan suara yang cukup pelan. Hanya Emelie yang mendengar suara Zeroun siang itu. Emelie mengatur napasnya lagi. Wanita itu merasakan gugup yang luar biasa.


Acara penobatan itu di mulai dengan doa. Emelie dan Zeroun duduk di kursi kenegaraan yang diletakkan di sisi altar. Setelah acara doa selesai, Putri Emelie bergeser dan berdiri di depan tahta Raja. Kursi yang ada di depan Emelie adalah kursi penobatan. Seluruh tamu undangan juga memperhatikan kursi itu dengan seksama. Ada rasa haru dan bahagia saat membayangkan ke depannya Emelie yang akan duduk di kursi tersebut.


Emelie berdiri di depan semua orang sambil mengucapkan sumpah. Bibirnya mengukir senyuman indah. Wanita itu membayangkan bagaimana momen Ibunya dulu saat menggantikan posisi Ayahnya sebagai Ratu. Sayangnya, hal itu tidak berlangsung lama. Tidak selang beberapa minggu sang Ibu harus menyusul Yang Mulia Raja. Emelie meneteskan air mata bahagia.


Wanita itu bersumpah kalau dirinya akan memerintah negara sesuai dengan undang-undang dan tradisi. Menjalankan hukum dengan seadil mungkin. Membuat negara yang ia pimpin makmur dan terhindar dari kemiskinan.


Setelah pengucapan sumpah, Emelie telah resmi menyandang status sebagai seorang Ratu. Emelie membungkukkan sedikit tubuhnya untuk menerima mahkota yang akan diletakkan di atas kepalanya. Wanita itu meneteskan air mata haru. Ia mengukir senyuman yang sangat indah. Hatinya bahagia. Impian kedua orang tuanya telah terwujud detik itu juga.



Seluruh tamu undangan bersorak untuk meninggikan nama Emelie. Mulai detik ini, wanita itu bukan lagi seorang putri. Di usianya yang masih menginjak 26 tahun, Emelie telah menyandang jabatan menjadi seorang Ratu. Ratu Emelie.


Zeroun mengukir senyuman bahagia, “Selamat, Sayang. Aku turut bahagia saat melihat kau bahagia. Semoga kau bisa menjadi seorang Ratu yang adil dan bijaksana. Kau memang pantas menyandang status ini Emelie. Wanita lembut dan tegas. Tidak pantang menyerah dan memiliki hati yang selalu memaafkan,” gumam Zeroun di dalam hati.


Acara pelantikan itu berlangsung hingga beberapa jam. Hingga tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Emelie dan Zeroun baru saja tiba di dalam kamar mereka. Wanita itu terlihat lelah dengan segala aturan yang harus ia patuhi saat di altar.


Tanpa ingin mengganti pakaiannya. Emelie menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kedua tangannya ia rentangkan ke sisi kanan dan kiri tubuhnya, “Tubuhku sangat lelah,” ucapnya sambil memejamkan mata.


Zeroun mengukir senyuman. Pria itu berjalan mendekati tempat tidur lalu berjongkok di bawah kaki Emelie. Ia melepas sepatu yang di kenakan Emelie dengan penuh kelembutan.


“Apa yang kau lakukan?” ucap Emelie cepat. Wanita itu segera duduk dan melepaskan kakinya dari genggaman Zeroun.


Zeroun terlihat tidak peduli. Pria itu duduk di tepian tempat tidur lalu menarik kaki Emelie lagi. Ia memijat kaki Emelie yang terlihat memerah karena seharian memakai sepatu high heels, “Apa ini sakit?”


Emelie menurunkan pandangannya. Wanita itu mengukir senyuman bahagia, “Tidak sakit lagi sekarang.”


Zeroun mengukir senyuman sebelum memijat kaki Emelie. Pria itu terlihat tidak tega dengan kaki istrinya yang memerah, “Jangan memaksakan diri. Kau bisa duduk jika lelah. Kenapa harus berdiri selama berjam-jam seperti tadi?” protes Zeroun dengan wajah tidak suka.


“Kau juga berdiri tadi. Bukankah kau bisa duduk?” sambung Emelie sambil memandang wajah Zeroun.


“Aku hanya ingin merasakan apa yang kau rasakan. Jika kau berdiri seperti itu, tentu saja aku ikut berdiri.” Zeroun meletakkan kaki Emelie di atas tempat tidur, “Aku mau mandi.”


Emelie memadang punggung Zeroun yang berjalan ke arah kamar mandi, “Baby....” rengek Emelie dengan suara yang cukup manja.


Zeroun menghentikan langkah kakinya. Pria itu memutar tubuhnya untuk melihat wajah istrinya, “Ada apa, Sayang?”


“Ikut,” ucap Emelie sambil mengangkat tangannya, “Mandiin.”


Zeroun menaikan satu alisnya. Tingkah laku Emelie malam itu membuat hatinya sangat bahagia. Ia memutuskan untuk kembali ke tempat tidur, “Kemarilah.”


“Aku juga sangat merindukanmu, Sayang. Tapi, kau pasti sangat lelah,” bisik Zeroun dengan tatapan penuh arti.


Emelie mengangkat wajahnya. Wanita itu memandang wajah Zeroun dengan senyuman kecil. Kedua tangannya naik ke atas untuk membuka satu persatu kancing kemeja Zeroun, “Aku tidak lelah lagi.”


Zeroun tertawa kecil saat mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh istrinya, “Baiklah. Ayo kita mandi bersama Ratu Emelie.” Zeroun memegang tangan Emelie lalu menurunkan tangan wanita itu. Ia mendaratkan kecupan mesra di leher istrinya. Kecupan itu cukup berhasil membuat godaan tersendiri bagi Emelie.


“Hanya mandi?” ucap Emelie sambil memejamkan mata.


Satu tangan Zeroun mulai menurunkan resleting gaun istrinya, “Kau harus bertanggung jawab karena sudah membangunkannya.”


Emelie tertawa sebelum melingkarkan tangannya di leher Zeroun, “Sepertinya kita harus berkeringat dulu sebelum mandi.”


Zeroun menatap wajah Emelie dengan tatapan yang sangat intens, “Ide yang bagus.” Zeroun menjatuhkan tubuh Emelie di atas tempat tidur. Pria itu mulai mengecup pucuk kepala Emelie. Turun ke hidung dan berpindah ke pipi sebelum akhirnya berlabuh di bibir.


Malam itu Emelie memberikan kepuasan untuk suaminya. Ia serahkan rasa sayang dan cinta yang ia miliki hanya untuk Zeroun seorang. Hanya satu impian wanita itu. Ia ingin segera mengandung seorang Baby.


***


Keesokan harinya, Hongkong.


Lana terbangun saat mendengar suara yang cukup berisik di halaman belakang. Wanita itu beranjak dari tidurnya dengan mata yang masih berat. Ia cukup kesal mendengar suara berisik itu. Seharusnya di jam sekarang ia masih terlelap dalam mimpinya.


Lana berjalan ke arah pintu. Wanita itu masih mengenakan hotpan dan tangtop berwarna putih. Langkahnya terlihat malas. Wajahnya belum sempat terkena tetesan air. Bahkan ia juga belum sempat menyikat gigi. Hatinya sangat penasaran dengan sumber suara yang cukup membuat curiga tersebut.


Lana membuka pintu yang menghubungkan dirinya kehalaman belakang. Wanita itu mengukir senyuman indah saat melihat Lukas telah berdiri di depan helikopter. Pria itu membuka kedua tangannya dengan wajah yang sangat ceria.


Lana mengucek lagi kedua matanya. Ia tidak percaya dengan pemandangan yang ia lihat. Tidak mungkin Lukas bisa seromantis itu pikirnya. Berulang kali Lana mengira pemandangan yang ia lihat hanya mimpi. Langit juga masih gelap karena matahari belum muncul ke permukaan. Rerumputan juga masih basah karena terkena tetesan embun.


Lana mencubit wajahnya namun ada rasa sakit di sana. Detik itu juga ia percaya kalau apa yang ia lihat bukan mimpi. Lana mengukir senyuman indah sebelum berlari kencang untuk memeluk tubuh Lukas.


Langkahnya cepat dan pasti. Lukas masih membuka kedua tangannya untuk menerima tubuh Lana ke dalam pelukannya. Langkah Lana tidak semulus yang ia harapkan. Ada sebuah batu yang membuat wanita itu terjegal dan terhempas ke depan.


Lukas dengan cepat menangkap tubuh Lana. Pria itu berhasil menangkap tubuh wanitanya di waktu yang tepat. Sorot matanya yang semula baik-baik saja kini sudah berubah dipenuhi amarah. Ekpresi wajahnya telah kembali menjadi dingin dan menakutkan.


Lana hanya bisa tersenyum menyeringai. Wanita itu mengusap lembut pipi Lukas agar pria itu tidak marah kepadanya, “Terima kasih, Sayang.”


Lukas membantu Lana berdiri. Kini wanita itu berdiri tegak di hadapannya, “Apa kau lupa kalau kau sedang mengandung anakku? Berhati-hatilah. Kau harus menjaga anakku dengan baik Lana.”


Lana menunduk untuk melihat perutnya yang masih terlihat rata. Wanita itu mengusap lembut perutnya dengan bibir tersenyum, “Sayang, lihatlah Daddy. Ia sangat mengkhawatirkanmu. Tapi tidak berani menyentuhmu.”


Lukas mengeryitkan dahinya. Pria itu menarik tangan Lana lalu memeluknya dari belakang. Secara perlahan ia meletakkan kedua tangannya di depan perut Lana yang masih rata, “Apa seperti ini?” ucap Lukas dengan penuh keraguan.


Lana mengangguk cepat, “Rasanya sangat nyaman, jika kau meletakkan tanganmu di sini.”


“Baiklah, aku akan melakukannya setiap saat.” Lukas mendaratkan kecupan singkat di leher Lana, “Sekarang, ayo kita pergi. Waktunya akan segera tiba.”


“Kemana?” ucap Lana penuh rasa penasaran.


“Kejutan,” jawab Lukas dengan wajah berseri. Pria itu melepas jas miliknya lalu memakaikannya di tubuh Lana. Ia terlihat tidak peduli kalau saat itu wanitanya belum mandi bahkan belum mencuci muka. Baginya Lana selalu terlihat cantik.