Moving On

Moving On
Chapter 11



Taman safari,Bogor.


Saat ini, mereka berada di taman safari. Ara yang meminta ingin melihat wisata satwa.


"Mama,gajahnya besar banget!"


Ara sangat antusias sekali,melihat berbagai satwa. Dia tak berhenti kagum dan bertanya dengan kedua orang tuanya.


"Pa...papa. liat jerapanya tinggi banget."


"Iya sayang. Hati -hati ,jangan loncat-loncat."jawabnya.


Terlihat jelas sekali, Ara begitu bahagia dan menikmati perjalanannya di Taman Safari. Bahkan nasihat untuk jangan meloncat, ia abaikan. Almira hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya.


Bagi Ara, melihat satwa adalah hal yang baru. Dia belum pernah pergi ke taman safari, hanyaΒ  menonton di televisi saja. Kesibukan pekerjaan,Almira belum pernah mengajak Ara belibur kemana-mana. Hanya hangout berdua di cafe-cafe setiap weekendnya.


Almira tak pernah melewatkan momen tersebut dengan mengabadikan dengan kamera. Dia memotret setiap interaksi putrinya bersama Nino. Dan mengabadikan foto bersama bertiga. Agar bisa di kenang oleh Ara bahwa kedua orang tuanya sangat menyayanginya.


Setelah satu jam berada di taman safari, mereka mencari restoran terdekat. Karena sudah saatnya jam makan siang. Nino mengendarahi mobilnya menuju restoran ala jepang terdekat.Β  Sesampainya di resto, mereka memesan makanan dan menikmatinya.


Mereka kembali ke penginapan. Setelah beberapa jam menikmati wisata yang berada di Bogor. Ara yang terlihat kelelehan,kini dia tertidur dalam pangkuan Almira.


"Dia tertidur ?" tanya Nino.


"Iya. Dia sangat kelelahan hari ini."jawabnya. Almira memandang putrinya tertidur dalam pangkuannya sambil membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Dia sangat aktif hari ini."ujar Nino.


"Ini pertama kalinya, dia melihat satwa. Dulu aku jarang mengajaknya liburan."


"Sekarang, dia menikmatinya." Nino memandang Almira. Dia membelai rambut Almira,menenangkannya.


"Benar. Makasih untuk hari ini." ujar Almira tersenyum kepada Nino.


"Sama-sama. Love you..."


"Love you to." jawabnya.


***


Di balkon, Almira dan Nino menikmati secangkir kopi. Udara dingin tak menyurutkan menikmati pemandangan villa di malam hari.


"Kau tau, hatiku gelisah." ucap Almira memecahkan keheningan di antara Nino saat ini.


" Aku merasa berdosa, menyakiti hati wanita lain." lanjutnya.


Nino paham wanita lain yang di maksut oleh Almira. Dirinya masih terdiam membisu memandang depan dengan tatapan kosong.


"Mari kita akhiri semua ini nin." ucap Almira.


"Bagaimana kamu bisa berucap sebelum berjuang,Al."


"Aku ingin bersamamu dan Ara." lanjut Nino. Dia memandang Almira dengan wajah senduh.


Dia meraih tangan Almira. Kemudian, Nino menggenggam tangan Almira dengan erat.


"Sayang, jangan menyerah. Aku,kamu dan Ara berhak bahagia bersama. Ini saatnya,Al!"


"Tapi..."


Nino menyela omongan Almira,"Kita berusaha dulu Al.Hmmm." Nino mencoba meyakinkan Almira.


"Demi Ara,Al. Kita harus berjuang bersama demi putri kita." Nino memeluk Almira.


Almira mengeratkan pelukan nino."Maaf,aku hanya takut."


Tak hanya Almira yang memiliki ketakutan,sama halnya dengan Nino. Nino berusaha tegar di hadapan mereka. Dia berencana, setelah kepulangan ini nino akan berbicara dengan keluarganya. Dia ingin memperjuangkan mereka. Nino sangat mencintai Almira. Demi kebahagian putrinya, dirinya akan melakukan apa aja.


"Udara semakin dingin. Kita kembali kamar yuk..."ajak Nino. Dan di setujui oleh Almira.


"Hayoo." Almira membawa cangkir kosong yang diminumnya.


Setelah itu Almira membawa cangkir ke ruang dapur. Kemudian, dia kembali ke kamarnya menyusul Nino yang sudah berada di kamarnya.


Almira mendekati Nino yang berada di kasur. Nino mendengkap Almira agar dirinya bisa memeluknya. Kemudian, Nino mencium kening Almira.


"Good night sayang."ucap Nino


"Good night,bee."


"Lama nggak mendengar kamu memanggil aku dengan bee..."ujarnya.


"Kenapa? Gak suka." Almira merajuk dengan raut wajah cemberut, seolah dia kesal dengan Nino.


"Suka. Suka pake banget malahan. Hehehe..."


"Sekarang, kamu jadi suka ngambekan ya bee." lanjutnya.


"Soalnya sekarang ada kamu. Hehehe..." jawab Almira.


"Pengen di cium." ujar Almira dengan suara manjanya.


"Uluh...uluh... sini aku cium. Muach..." Nino mengecup bibir Almira hanya sekilas.


"Yang lama dong bee..." rajuknya.


"Entar jangan kaget loh,kalau keblablasan."


"Wah..nggak bisa. Aku lagi datang bulan. Hahaa..."


"Bohong kamu bee... Coba sini aku lihat."


"Hahaha geli nino."


"Dasar pembohong. Rasaiin ini. Hahaha..." Nino semakin menggelitik badan Almira. Hingga Almira menyerah.


"Nyerahhh bee. Pliss...udah bee."


"Hahaha...dasar."


Mereka sama-sama berhenti sejenak untuk menetralkan nafas. Kemudian Nino mendekat ke arah Almira. Wajahnya mendekat wajah Almira.


Nino membelai wajah Almira dengan lembut. Matanya tak henti menyesuluri wajah wanita yang berada di depannya. Masih cantik seperti dulu.


Dan terjadilah mereka melakukan yang pernah dulu ia lakukan dan di rindukan. Kehangatan yang mereka dambakan bersama.


Erangan Almira memenuhi kamar yang mereka tempati. Udara dingin berubah menjadi panas.


Nino sangat menyukainya,suara erangan Almira. Hingga gairah panas mereka menuju klimaks.


"Love you..." ucap Nino dengan suara tersengal -sengal.


Almira masih terdiam dengan nafas tak beraturan, " love you to..."


Nino sekali lagi memberikan ciuman liar untuk mengakhiri sesi bercintanya. Kemudian dia memeluk Almira.


"Thanks sayang." Ucap Nino.


"Hmmm..." Almira hanya bergumam. Dan tubuhnya semakin mendekatkan kepelukan Nino.


" Tidur sayang. Besok kita harus menyenangkan putri kita."ujar Nino.


" Iya bee... Good night."


" Night."


Dan mereka tertidur dengan nyenyak. Menikmati malam bersama-sama. Mungkin bisa jadi untuk terakhir mereka bisa bersama sebelum masalah menghampiri.


****


Keesoknya ,Almira terbangun. Dia memandang Nino masih tertidur di sebelahnya. Dia memandang dengan intens, mengingat dalam memori otaknya.


Almira sadar, dia tak akan bisa memiliki orang yang ia cintai. Mungkin sudah takdir sudah tidak berpihak terhadapnya.


Almira sudah memutuskan akan menyerah, meski dirinya dan Ara akan sedih. Tapi dia tak bisa egois,tak hanya dirinya yg akan tersakiti tp semuanya. Lebih baik dirinya yang tersakiti. Itulah keputusan Almira.


Sepertinya Almira akan kembali ke paris. Dia akan menerima kembali pekerjaan yang menghidupi dirinya hingga sukses. Bagi Almira lebih baik seperti itu.


Almira membelai wajah Nino tertidur dengan tenang. Dia akan menjadi susah bangun kalau sudah tertidur. Kebiasaan yang tak pernah hilang.


Almira tersenyum dengan hangat. Dia mencium bibir Nino dengan sekilas.


Nino merasakan seseorang menciumnya, dia terbangun.


"Morning bee... "ujar Almira ketika Nino membuka matanya.


"Morning juga sayang." jawabnya.


"Love you... "ujar Almira dengan membelai wajah Nino.


"Always love you babe. Kamu harus ingat itu." lanjutnya.


"I know bee. Love you to." jawab Nino. Dia mencium kening Almira.


****


Good night.


Thanks you,


Kim nana πŸ’‹


Selamat membaca para readers πŸ˜—


Jangan lupa like πŸ‘ and koment ya 😊


Love ya ❀