Moving On

Moving On
S2 Bab 49



Pistol yang ada di tangan Arron terpental hingga beberapa meter. Peluru berwarna emas berhasil menghalanginya untuk melakukan aksi penembakan terhadap Zeroun. Lukas mengukir senyuman tipis. Tembakan tepat sasaran itu berasal dari pistol Lukas.


“Kau mau berbuat curang? Eh?” ucap Zeroun dengan senyuman menghina. Pria itu mendekati Arron lalu memukul wajah pria itu berulang kali hingga ia tegeletak di atas permukaan lantai. Darah keluar semakin deras.


Arron terlihat sangat menyedihkan malam itu. Tatapan matanya juga sudah semakin tidak jelas. Berulang kali ia berusaha menguasai penglihatannya, namun sangat sulit untuk ia lakukan.


Zeroun membersihkan tangannya dengan sebuah sapu tangan berwarna putih. Pria itu melempar sapu tangannya ke arah lain sebelum mengangkat pistol berwarna hitam miliknya. Kali ini tidak ada lagi yang menghalangi niatnya untuk merenggut nyawa Arron. Dengan sorot mata yang cukup tajam Zeroun menarik pelatuk pistolnya hingga berulang kali.


DUARR DUARR.


Lana memejamkan mata saat melihat adegan keji yang ada di depan matanya. Dua peluru menancap di dahi Arron hingga membuat pria itu melebarkan kedua matanya. Menatap ke arah atas dengan tatapan menyedihkan.


Lukas menarik pinggang Lana ke dalam pelukannya, “Semua baik-baik saja.”


Zeroun memandang wajah Morgan sekilas. aoa terlihat tidak tertarik untuk melawan Morgan langsung. Tubuhnya berputar lalu berjalan pergi menghampiri Lukas dan Lana, “Aku serahkan pria itu kepada kalian.”


“Baik, Bos,” ucap Lukas dan Lana secara bersamaan.


Agen Mia menatap wajah Zeroun dengan seksama sebelum mengikuti jejak kaki Zeroun dari belakang. Wanita itu seperti angkat tangan dan tidak mau ikut campur dalam masalah Morgan.


Lukas menatap wajah Lana dengan seksama, “Apa kau baik-baik saja?”


Lana mengangguk pelan, “Aku baik-baik saja. Aku senang bisa bersama denganmu lagi.”


“Cih, adegan romantis kalian itu membuatku ingin muntah!” umpat Morgan sambil berusaha bangkit dari posisinya duduk. Pria itu memandang ke arah tubuh Arron yang telah tewas sebelum memandang wajah Lukas dan Lana lagi.


“Kau selanjutnya,” ucap Lukas dengan tatapan membunuh. Pria itu menarik senjata apinya lagi ke atas. Ujung pistol yang selalu mengeluarkan peluru itu ia arahkan langsung ke arah Morgan berada.


Morgan mengukir senyuman tipis. Ia terlihat tidak takut sama sekali. Kedua matanya menatap wajah Lana dengan tatapan kecewa, “Jika aku tidak bisa mendapatkanmu maka pria ini tidak akan mendapatkanmu, Honey.”


Lukas menatap wajah Morgan dengan tatapan waspada. Kalimat yang baru di ucapkan Morgan memang sangat mencurigakan. Lana memegang lengan Lukas dengan rasa takut. Ia cukup tahu bagaimana suasana hati Morgan malam itu.


“Aku bukan yang bodoh.” Morgan menghapus bercak darah yang ada di sudut bibirnya, “Lana sudah meminum racun yang aku berikan. Penawarnya hanya ada pada diriku. Ia tidak akan mati selama meminum penawar itu. Aku sengaja memberikan obat itu kepadamu untuk jaga-jaga kalau kau ingin berkhianat kepadaku. Beberapa hari lagi racun itu akan mulai berekasi.”


Lukas dan Lana sama-sama syok saat mendengar kalimat yang baru saja di ucapkan oleh Morgan. Sepasang kekasih itu seperti tidak memiliki pilihan lain selain membiarkan Morgan bebas begitu saja.


Morgan berjalan pergi dengan langkah yang cukup tenang. Ia tahu kalau rencananya telah berhasil menyelamatkan nyawanya malam itu. Senyuman tipis mewakili rasa kemenangannya malam itu.


“Oiya, satu lagi. Aku akan memberikan penawar itu secara cuma-cuma jika kau mau melayaniku di tempat tidur, Lana,” ucap Morgan untuk memanas-manasi hati Lukas malam itu.


“Biarkan saja dia pergi. Kita akan pikirkan cara untuk mencari penawarnya sebelum memberinya pelajaran,” ucap Lana dengan suara yang serak.


Lukas menurunkan pistolnya dengan hati yang mulai tenang. Kedua matanya masih memandang kepergian Morgan tanpa berkedip. Giginya saling beradu karena terlalu kesal melihat tingkah laku Morgan malam itu.


“Kau akan baik-baik saja, Lana.” Lukas mempererat pelukannya pada tubuh Lana. Ia juga cukup bingung dengan langkah selanjutnya. Jika benar racun yang ada di dalam tubuh Lana adalah racun yang sangat sulit mencari penawarnya, maka ia akan kehilangan Lana untuk selama-lamanya. Lukas tidak ingin hal itu terjadi.


Lana melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lukas. Baru saja beberapa saat yang lalu ia mengukir senyuman bahagia, tapi detik itu ia harus kembali kahwatir dan merasa sedih. Lana sangat menyesali kecerobohan yang telah ia perbuat. Andai ia tidak seceroboh itu maka semua akan baik-baik saja.


“Aku ingin istirahat. Tubuhku terasa lelah,” ucap Lana sambil memejamkan mata. Entah kenapa, Lana merasa tubuhnya tidak bertenaga dan kedua matanya terasa sangat mengantuk.


“Ya, Aku akan membawamu kembali ke markas.” Lukas mengangkat tubuh Lana ke dalam gendongannya lalu membawa Lana pergi meninggalkan ruangan itu. Sorot mata Lukas yang cukup tajam terlihat sedih atas kabar buruk yang baru saja ia terima.


Tidak peduli kalau waktu sudah menunjukkan tengah malam. Setelah tiba di markas nanti, Lukas ingin menghubungi Dokter agar bisa memeriksa Lana dengan segera. Ia tidak akan bisa hidup dengan tenang jika tidak menemukan titik terang atas racun yang kini ada di dalam tubuh Lana.


Lana memejamkan mata dan mulai tertidur di dalam gendongan Lukas. Kedua tangannya melingkari leher Lukas. Beberapa pasukan Gold Dragon yang masih setia menemani Lukas juga mengikuti Lukas dari belakang.


Seluruh pasukan Gold Dragon yang ada di situ bisa mendengar jelas kalimat yang diucapkan oleh Morgan. Mereka juga tidak terima jika ada masalah baru yang menyerang Lukas. Padahal sejak awal mereka semua sudah berkahayal kalau malam ini mereka akan menang dan akan segera berpesta.


“Bos, saya akan membantu anda,” ucap salah satu pasukan Gold Dragon kepada Lukas.


“Kami juga, Bos,” sambung yang lainnya. Kalimat itu di ucapkan secara serempak oleh pasukan Gold Dragon hingga membuat suara yang menggema.


Lukas menghentikan langkah kakinya saat mendengar kalimat itu. Bibirnya mengukir senyuman tipis dan memandang semua anggota Gold Dragon, “Terima kasih. Kita akan berjuang bersama-sama. Mungkin saat ini yang kita hadapi sangat berbeda dari pertarungan yang selama ini kita hadapi. Tapi, saya cukup yakin kalau kita yang akan memenangkannya nanti.”


“Hidup Gold Dragon,” teriak salah stau pria dan diikuti seluruh pasukan Gold Dragon. Mereka semua terlihat sangat kompak dan bersemangat dalam memberi kekuatan kepada Lukas. Mereka tahu kalau ini pertama kalinya Lukas jatuh cinta. Mereka juga tidak tega jika jalan cerita kisah cinta atasannya itu mengalami hal yang cukup sulit seperti Zeroun dulunya.


Lukas memasukkan Lana ke dalam mobil. Pria itu menutup pintu mobil lalu berjalan ke arah bangku kemudi. Lukas membuka pintu mobil dengan perasaan ragu-ragu. Lagi-lagi hatinya harus menggeram saat membayangkan rencana licik yang sudah di persiapkan oleh Morgan, “Awas saja kau. Aku akan membunuhmu nanti.”


Lukas masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan markas white tiger yang hanya tinggal nama. Menembus kabut malam yang pekat dan kesunyian malam yang terasa sangat dingin. Mobil pasukan Gold Dragon juga berbaris di belakang mobil Lukas dengan begitu rapi.


.


.


.


Jangan lupa vote, like dan komen. terima kasih.