Moving On

Moving On
S2 Bab 59



Lukas berjalan ke kamar Lana. Pria itu berdiri di ambang pintu sambil melihat wajah Lana. Ia kembali menutup pintu lalu berjalan masuk ke dalam. Wajahnya terlihat sangat khawatir tadi. Tapi, kini saat melihat Lana baik-baik saja. Lukas bisa kembali tenang. Pria itu duduk di kursi kecil yang ada di samping tempat tidur. Sedikit menjauh.


Lana mengukir senyuman saat melihat Lukas. Rasa sakitnya tidak sedang kambuh malam itu. Lana bisa terlihat sedikit tenang. Tidak seperti tadi siang. Tubuhnya harus tersiksa karena kesakitan. Wanita itu menepuk tempat tidurnya yang ada di samping agar Lukas berada di sampingnya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan malam itu.


Lukas beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu berjalan pelan mendekati posisi Lana berada. Ia naik ke atas tempat tidur dan duduk agak lebih pinggir. Lana ada di sampingnya dengan posisi bersandar. Wanita itu membuka tangan Lukas dan menjatuhkan kepalanya di lengan kekar kekasihnya.


“Jangan tinggalin aku. Setidaknya, sampai aku benar-benar pergi,” ucap Lana dengan suara yang lirih.


“Aku tidak suka kau mengatakan kalimat seperti itu,” protes Lukas dengan wajah tidak suka.


“Aku tidak akan pergi sebelum kau benar-benar menjadi milikku,” jawab Lana lagi. Wanita itu berbicara tidak nyambung dengan kalimat yang ia ucapkan. Ada tawa kecil yang sengaja dibuat Lana.


Lukas menghela napas. Pria itu menunduk untuk menatap wajah Lana yang bersandar di lengan kekarnya.


“Apa yang sekarang kau rasakan?” Lukas mengambil tangan Lana lalu menggenggamnya dengan erat. Pria itu mengusap lembut punggung tangan Lana.


“Malam ini tubuhku terasa jauh lebih baik dari pada siang tadi. Aku juga bisa menolong Nona Emelie tadi. Aku bahkan tidak yakin bisa melakukannya,” ucap Lana sambil menundukkan kepala.


“Virus itu akan bereaksi di malam hari selama proses penyebaran ke seluruh tubuh. Setelah virus itu berhasil menguasai tubuhmu, maka kau akan merasakan sakit yang luar biasa,” gumam Lukas di dalam hati.


Lukas menatap kepala Lana yang menunduk. Pria itu terlihat bingung dengan ekpresi wajah kekasihnya, “Lana, apa yang kau pikirkan?” Lukas mengeryitkan dahi.


“Aku hanya bingung, kenapa di saat aku membenci Agen Mia dia terlihat sangat baik. Lalu di saat aku sudah mempercayainya dia justru berubah menjadi jahat seperti ini,” jawab Lana dengan suara yang pelan.


“Mia bekerja sama dengan Morgan. Aku juga tidak menyangka sebelumnya. Permainannya cukup indah hingga Bos Zeroun saja bisa tertipu dan tidak pernah mencurigainya. Termasuk aku,” jawab Lukas dengan wajah menyesal.


Memang trik Agen Mia cukup hebat dalam mengelabuhi Zeroun dan semua orang selama ini. Jejak sedikitpun tidak ia tinggalkan untuk membuat Lukas dan yang lainnya curiga.


Lukas kembali membayangkan wajah Zeroun saat di mobil. Pria itu terlihat sangat menyesal dan menyalahkan dirinya. Ia belum pernah ceroboh sebelumnya. Tapi, bagaimanapun juga. Zeroun hanya seorang manusia. Tidak selamanya ia berprilaku sempurna tanpa kesalahan sedikitpun. Keteledorannya kali ini membuat rasa aneh di dalam hati Lukas dan Zeroun.


“Sekarang dimana Agen Mia?” Lana menatap wajah Lukas yang terlihat melamun.


“Bos Zeroun meminta pasukan Gold Dragon untuk mengurung Agen Mia sebelum mengambil keputusan nantinya.” Lukas mengusap lembut pipi Lana, “Jangan pikirkan yang lain. Sekarang kau harus memikirkan dirimu sendiri.”


“Lana, aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku dengan cara seperti ini. Percayalah padaku. Aku pasti akan menemukan penawarnya. Secepatnya, kau akan kembali sehat seperti biasa.” Lukas meletakkan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri pipi Lana.


“Aku sangat beruntung bisa mengenal pria baik seperti dirimu, Lukas. Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari hidupku.” Lana memegang kedua tangan Lukas yang ada di pipinya. Wanita itu menggenggam kedua tangan Lukas sebelum melepaskannya. Ia mendekatkan wajahnya sebelum mencium bibir Lukas sambil memejamkan mata.


Lukas membalas ciuman Lana dengan penuh perasaan dan kelembutan. Satu tangannya menarik pinggang Lana agar tidak menjauh dari tubuhnya. Malam itu sebenarnya Lukas takut. Sangat-sangat takut kehilangan Lana. Tapi, sebisa mungkin ia sembunyikan perasaan takutnya agar Lana tidak sedih saat menatap wajahnya.


“Aku akan berjuang mendapatkan penawar itu. Walau nyawa taruhannya, Lana,” gumam Lukas di dalam hati sambil memejamkan mata.


***


Di sisi lain.


Agen Mia di seret paksa ke ruangan berukuran sempit dan di penuhi debu. Tidak ada cahaya dan udara yang masuk ke dalam ruangan itu. Satu-satunya akses untuk berada di dalamnya hanya melalui pintu.


Agen Mia menatap sinis wajah Gold Dragon yang menyeret paksa tubuhnya. Wanita itu mengukir senyuman kecil, “Kalian juga akan merasakan nasip yang sama denganku. Kenapa kalian percaya pada mereka? Kapan saja mereka bisa membunuh kalian.”


Tapi, pasukan Gold Dragon yang membawa Agen Mia tidak goyah sedikitpun. Mereka lebih sibuk mengikat tubuh Agen Mia di sebuah kursi sebelum meninggalkan wanita itu sendirian di dalamnya. Tanpa kata atau jawaban. Pintu kembali tertutup.


Agen Mia menatap sekeliling ruangan yang ia tempati sebelum berteriak kencang. Wanita itu tidak terima dengan hukuman yang kini ia dapatkan, “Aku harus bisa kabur dari tempat ini. Aku akan membalas dendamku kepada kalian semua. Kalian juga harus merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan.”


Agen Mia tertawa kencang hingga suaranya memenuhi isi ruangan tersebut. Ruangan itu terasa sangat dingin dan menyeramkan. Bahkan jauh lebih menyeramkan dari pada penjara yang pernah ia tempati waktu itu.


Jika saat di penjara ada Inspektur Tao dan beberapa narapidana lain yang menemaninya. Tapi, malam ini Agen Mia sendirian. Ia seperti di asingkan dari kehidupan yang seharusnya mengisi hari-harinya.


Agen Mia menunduk dalam. Setelah tertawa riang seperti orang yang tidak waras. Tiba-tiba saja Agen Mia ingin menangis. Wanita itu kembali meratapi kehidupannya selama ini. Di mulai dari ia bangun di sebuah rumah sakit dan di tolong oleh Inspektur Tao.


Bayang-bayang pembantaian yang cukup keji terhadap keluarga Alexander kembali memenuhi ingatannya. Inspektur Tao menemaninya selama ini. Agen Mia merasa kalau hidupnya sudah berada di jalan yang benar selama ini. Tapi, kenyataan tidak semudah itu. Pertemuannya dengan Gold Dragon justru membuat mala petaka hingga sekarang.


“Kak Tao, kau dimana. Aku sangat membutuhkanmu,” ucap Agen Mia sambil memejamkan mata. Air mata yang sempat menetes deras telah terhenti. Tubuh Agen Mia terlihat sangat lelah. Wanita itu mulai memejamkan mata untuk istirahat. Ia ingin tidur dan bermimpi indah agar bisa melupakan beban yang kini memenuhi pikirannya. Walau keesokan harinya ia harus bangun dan kembali mengingat semua rasa sakit hatinya kembali.