
Beberapa tahun yang lalu, Granada.
Lukas dan pasukan Gold Dragon baru saja tiba di Spanyol. Mereka semua mendapat tugas dari Zeroun untuk mengantar sebuah paketan rahasia kepada pengusaha kaya yang ada di Granada. Tidak ada kesulitan sedikitpun dari misi yang di berikan Zeroun pagi itu. Semua terlihat baik-baik saja. Bahkan paketan rahasia yang menjadi tugas utama mereka telah sampai ke tangan Tuannya dengan baik.
Lukas memandang wajah beberapa pria yang berbaris rapi di hadapannya. Pria itu memainkan senjata apinya dengan senyuman tipis, “Aku tidak ingin ada masalah di tempat ini. Nanti malam kita sudah bisa kembali ke Hongkong.”
“Baik, Bos,” jawab seluruh pasukan Gold Dragon secara serempak.
Lukas memutar tubuhnya. Pria itu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tiba-tiba saja ia ingin berjalan-jalan untuk menikmati kota Granada. Sudah cukup lama ia tidak bersenang-senang seperti itu. Selama ini hidupnya hanya di penuhi dengan senjata api dan pertarungan jalanan.
Lukas berjalan sendirian di jalan setapak sambil menikmati bangunan Granada. Pria itu tampak tenang dan menikmati pemandangan. Tiba-tiba, dua orang tampak mencelakai seorang anak kecil. Anak kecil itu berusia sekitar 10 tahun dan berjenis kelamin wanita. Anak kecil itu menangis dengan wajah yang cukup sedih.
Lukas tidak tega melihat pemandangan itu. Walau selama ini ia suka membunuh, tapi tetap saja ia belum pernah membunuh anak kecil sebelumnya. Lukas benci pemandangan itu.
“Hei, lepaskan dia!” ucap Lukas sambil berdiri tegak menatap wajah pria-pria berjaket hitam.
“Siapa kau? Pergilah! Jangan ikut campur urusan kami,” ucap salah satu pria. Tanpa banyak kata lagi, dua pria itu membawa anak kecil itu ke arah mobil. Mereka seperti penculik anak kecil.
Lukas mengertakkan giginya. Ia lupa kalau kini tidak ada di wilayah miliknya. Sedikit saja tindakan yang ia lakukan akan menimbulkan efek yang cukup besar nantinya. Lukas memukul pria itu hingga genggaman mereka pada anak kecil itu terlepas.
Lukas memandang anak kecil yang jatuh terduduk, “Pergilah!”
Anak kecil itu mengangguk ketakutan sebelum lari untuk kabur dari tempat itu. Bahkan anak kecil itu tidak lagi berani memandang wajah Lukas yang sedang bertarung.
Lukas menatap wajah dua pria itu secara bergantian. Ia juga sudah tidak sabar untuk memberi pukulan hebatnya kepada dua pria itu. Tidak ingin memberi jeda kepada musuhnya untuk melawan, Lukas memutar tubuhnya. Pria itu menendang perut dan wajah dua pria yang ada di hadapannya hanya dengan satu trik pukul saja.
“Kau akan menyesal karena sudah berani mengganggu urusan kami. Bos Morgan akan membunuhmu,” ucap salah satu pria sambil menghapus darah yang ada di sudut bibirnya.
“Morgan? Nama yang cukup keren. Katakan pada Bos kalian yang bernama Morgan itu kalau aku tidak takut.” Lukas memutar tubuhnya. Pria itu berjalan santai meninggalkan dua pria yang telah babak belur karena terkena pukulannya.
Beberapa pasukan Gold Dragon sudah berkumpul di sebuah club malam. Termasuk Lukas di sana. Hari masih sore, mereka ingin menghabiskan waktu untuk bersenang-senang lebih dulu. Tidak ada kesenangan lain selain meminum minuman keras.
Lukas duduk di sebuah kursi sambil menuang minuman beralkohol ke dalam gelasnya. Pria itu meneguk menumannya dan menikmati setiap tetes yang masuk ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari club tersebut. Lukas megalihkan pandangannya. Seharusnya, jika hari masih sore. Belum ada tamu yang berkunjung ke tempat itu. Lukas sengaja memesan tempat itu sebagai tempat mereka beristirahat.
Sekelompok orang muncul dengan wajah yang cukup menakutkan. Pasukan Gold Dragon yang ada di tempat itu juga sudah bersikap waspada. Mereka menggenggam senjata api mereka dan siap untuk bertarung.
Lukas merasakan sesuatu yang tidak beres. Pria itu beranjak dari kursinya lalu berdiri di depan pasukannya sebagai sosok pemimpin, “Apa yang kau inginkan? Aku tidak suka diusik.”
Pria itu melipat kedua tangannya di depan dada, “Bukankah kau yang lebih dulu mencari masalah kepada gengku?” ucap pria itu dengan tatapan tidak suka.
“Apa kau pria bernama Morgan itu?” ledek Lukas dengan tatapan menghina.
Morgan terlihat tidak suka saat mendengar kalimat yang di ucapkan Lukas. Pria itu menyerang lebih dulu tanpa memberi kode apapun sebelum menyerang. Pertarungan sengit itu terjadi.
Seluruh pasukan milik Lukas dan Morgan saling memukul satu sama lain. Di tengah-tengah arena ada Lukas dan Morgan yang juga saling memukul dan berusaha mengalahkan.
“Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku,” ucap Lukas di sela-sela pertarungan. Wajah Morgan ia rekam di dalam ingatannya. Pria itu akan selalu menjadi musuhnya jika suatu saat ia bertemu lagi.
Morgan tidak mau kalah. Pria itu juga mengumpulkan tenaga penuh untuk mengalahkan Lukas. Ia memukul dan memelintir tangan Lukas.
Pertarungan itu terjadi dalam durasi yang cukup lama. Merasa Lukas bukan lawan yang seimbang, Morgan memutuskan untuk mundur. Pria itu kabur dari club tersebut bersamaan pasukan gengnya yang masih tersisa.
Lukas merapikan penampilannya lagi. Pria itu mengukir senyuman kecil, “Kau pria yang cukup memalukan. Kabur di saat hampir kalah.”
Lukas kembali duduk pada kursi yang sebelumnya ia tempati. Pria itu kembali meneguk minumannya.
“Bos, malam ini kita tidak bisa berangkat ke Hongkong. Akan ada hujan badai hingga membuat bandara harus di tutup,” ucap salah satu pasukan Gold Dragon.
“Ya,” jawab Lukas singkat.
Waktu terus berlalu. Hingga malampun tiba. Lukas sudah berpindah ke club lainnya. Kali ini mereka berada di club yang memiliki kamar untuk mereka menginap. Lukas tidak ingin mencari markas atau apapun di Granada. Ia tidak akan lama juga di kota itu.
Lukas duduk di sebuah kursi lalu meneguk minumannya dengan rakus. Seorang wanita berpakaian seksi duduk di hadapannya. Wanita itu menyodorkan sebotol minuman kepada Lukas, “Ini minuman terbaik kami. Anda bisa mencobanya,” ucap wanita itu dengan nada manja.
Lukas tidak terlalu peduli dengan tubuh wanita itu. Namun, ia tertarik dengan anggur merah yang ada di hadapannya. Lukas merebut botol itu sebelum meneguknya. Pria itu mencicipi rasa minuman beralkohol yang tersaji di hadapannya. Memang cukup berbeda. Minuman itu terasa jauh lebih nikmat jika di bandingkan minuman yang selama ini mereka miliki.
“Anda bisa meminum semuanya,” ucap wanita itu dengan bibir tersenyum.
Wanita itu duduk di atas pangkuan Lukas dan mengalungkan kedua tangannya di leher Lukas. Ia terlihat sangat tertarik dengan tubuh gagah Lukas. Namun, belum sempat wanita itu melakukan hal yang lebih. Lukas sudah mendorong tubuh wanita itu agar menjauh dari tubuhnya.
“Menyingkirlah. Aku tidak suka di sentuh wanita!” ucap Lukas tanpa mau memandang. Pria itu melanjutkan kegiatannya untuk meminum minuman yang tersaji.
Setelah habis berbotol-botol, Lukas merasa sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Pria itu tampak gelisah. Wanita seksi yang semula tidak membuatnya tertarik, detik itu juga terlihat sangat menggoda. Lukas sangat butuh seorang wanita.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” ucap wanita itu dengan nada sensual. Sepertinya memang sejak awal wanita itu telah memiliki niat jahat kepada Lukas. Ia telah berhasil menjebak Lukas. Memasukkan obat ke dalam minuman beralkohol hingga membuat hasrat Lukas tidak bisa di kendalikan.
“Siapa kau?” protes Lukas dengan ekspresi dingin favoritnya.
“Kau pria yang cukup tampan. Kau juga bukan orang sini. Aku sangat tertarik dengan tubuhmu yang gagah ini. Malam ini juga kau harus menemaniku. Kita akan bersenang-senang di kamar,” ucap wanita itu dengan gerakan menggoda. Ia tidak pernah tahu, kalau pria yang ia inginkan malam itu tidaklah sama dengan pria-pria sebelumnya yang ia temui.