
Salvador.
Setelah berjam-jam menempuh perjalanan. Kini Zeroun tiba di kota yang terletak di Timur laut Brasil. Salvador merupakan salah satu kota tertua yang ada di Brasil. Kota ini sangat jarang mendapat perhatian dari para aparat negara. Kotanya yang cukup makmur membuat pihak kepolisian memberi hak istimewa kepada kota itu.
Zeroun memandang laut biru yang kini sudah terganti warna hitam. Seberkas cahaya matahari yang baru saja tenggelam masih menyisakan sedikit cahaya. Kali ini, markas keduanya di Brasil terletak di pingiran pantai. Rumah mewah berlantai dua itu terletak di atas bukit yang menghadap langsung ke arah laut.
Lukas sengaja memilih tempat itu karena lokasinya yang cukup nyaman. Selain itu, hampir seluruh penduduk yang tinggal di kota itu adalah pasukan Gold Dragon yang ada di Brasil.
Mobil hitam Zeroun melewati jalan menanjak yang hanya bisa di lalui satu mobil. Setelah beberapa meter menanjak, mobil itu berhenti di depan rumah mewah. Pria itu menatap wajah Emelie lagi sebelum mematikan mesin mobilnya.
Bos Mafia itu tidak mau mengeluarkan kata. Kedua bola matanya memandang ke arah pintu. Lukas muncul di depan pintu itu dengan wajah bahagia. Sejak tadi, pria berstatus bawahannya itu memang sangat mengkhawatirkan keadaannya.
Zeroun keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arah bangku penumpang. Pria itu mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya. Salah satu pasukan Gold Drgaon menutup kembali pintu mobil, saat Zeroun sudah berjalan menjauhi mobil hitam itu.
“Selamat malam, Bos.” Lukas menunduk sejenak sebelum memperhatikan kemeja Zeroun yang kini di penuhi darah. Ada kain tipis yang terikat di Luka itu.
“Bos, lengan anda?” ucap Lukas sambil mengeryitkan dahi.
“Panggilkan Dokter untuk Emelie,” perintah Zeroun sambil berlalu masuk ke dalam rumah itu. Satu pasukan Gold Dragon membawa Zeroun untuk menuju kamar tidur miliknya. Dengan langkah cepat dan pasti, Zeroun menjejaki langkahnya di anak tangga yang menjulang ke atas. Pria itu cukup puas dengan markas barunya saat ini.
“Silahkan, Bos.”
Zeroun masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tubuh Emelie di atas tempat tidur. Pria itu segera menarik selimut berwarna hitam yang ada di tempat tidur itu untuk menutupi tubuh kekasihnya. Lukas muncul dengan kotak P3K untuk mengobati luka pada lengan Zeroun.
“Bos, Saya akan mengobati luka anda,” tawar Lukas sebelum meletakkan kotak P3K dan air untuk di atas meja.
Zeroun memandang wajah Emelie dengan wajah sedih. Menyentuh dengan lembut dahi wanita itu. Suhu tubuhnya sudah mulai turun. Tetapi, wanita itu tidak kunjung membuka mata. Membuat hati Zeroun terlihat tidak tenang dan gelisah.
Zeroun beranjak dari tempat tidur itu dan berjalan ke arah sofa. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang empuk. Membuka satu persatu kemeja putih yang kini ia kenakan. Setelah tubuh Zeroun bertelanjang dada, Lukas mulai membersihkan darah yang sempat mengering di kulit lengan Zeroun.
“Saya akan membuat mereka membayar luka ini, Bos,” ucap Lukas sambil menjahit luka yang ada di lengan Zeroun dengan hati-hati. Luka itu tidak terlalu lebar. Tetapi, cukup membuat Zeroun kehilangan banyak darah.
“Aku ingin istirahat untuk beberapa hari,” jawab Zeroun dengan suara lelah. Pria itu memutuskan untuk beristirahat dengan tenang di markas barunya, sebelum menyerang markas Heels Devils dan menghabisi seluruh penghuninya.
“Saya akan mengatur semuanya, Bos.” Lukas melanjutkan pengobatannya dengan wajah serius.
Jesica duduk dengan kaki di atas meja kaca. Ada gelas berisi wine berwarna kristal di tangannya. Bibirnya yang merah berpadu dengan bola matanya yang dipenuhi dendam. Ada rasa marah dan kesal atas rencananya yang gagal karena Zeroun hari ini. Di lantai yang tidak jauh dari sofa, ada banyak pecahan gelas yang tadi sempat ia lempar. Wanita itu benar-benar murkah dengan Zeroun. Ingin sekali ia membunuh Zeroun detik ini juga. Tetapi, kekuatan yang Ia miliki belum cukup untuk mengalahkan bos mafia musuhnya itu.
Di depan kursi tempatnya duduk ada Adriana yang kini memandangnya dengan wajah tidak suka. Sejak awal, Adriana tidak pernah setuju untuk tinggal di markas Heels Devils. Namun, tidak ada pilihan lain baginya. Wanita itu tidak ingin celaka karena mendapat serangan balasan dari Emelie.
“Apa kalian gagal?” ucap Adriana dengan kaki dilipat. Sejak pulang, bos mafia Heels Devils itu tidak bercerita apa-apa. Membuat rasa penasaran di dalam hati Adriana kian mencuat.
“Kalau saja kekasihmu itu berhasil melakukan semuanya sejak awal, maka kami tidak akan gagal,” jawab Jesica sambil meneguk minuman beralkohol itu.
“Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Aku ingin kau segera membunuh Emeli.” Adriana membuang tatapannya ke arah lain. Setelah menyebut nama Emelie isi hatinya dipenuhi dengan kata sakit hati.
“Bukankah wanita itu kini bersama Pangeran Monako itu.” Ada senyum kecil di sudut bibir Jesica. Sejak dulu, Jesica memang tidak pernah takut dengan Adriana.
“Damian bersama Emelie?” Ada wajah cemburu saat mendengar dua nama itu kini sedang bersama.
“Apa Damian tidak memberitahu rencananya padamu?” Jesica meletakkan gelas kaca itu di atas meja. Menatap wajah Adriana dengan tatapan menghina.
“Aku rasa saat ini dia sudah tidur dengan Putri kerajaan itu,” sambung Jesica dengan satu alis di angkat.
Adriana mengepal kedua tangannya untuk menolak cerita yang kini di katakan oleh Jesica. Wanita itu masih percaya dengan kekasihnya.
“Damian tidak mungkin melakukan itu,” sangkal Adriana dengan wajah memerah.
“Kau bisa menanyakannya langsung nanti,” jawab Jesica sambil beranjak dari duduknya.
“Daripada di sini bersamamu. Lebih baik pergi untuk bermain-main dengan tikus kecil ini.” Jesica tersenyum kecil menatap foto Agen Mia yang kini melekat di dinding ruangan itu. Ada dendam di dalam hati Jesica saat dua kali rencananya di gagalkan oleh polisi wanita itu.
“Wanita ini harus memilih takdirnya malam ini. Bergabung denganku atau merelakan nyawanya yang hanya berjumlah satu itu. Melayang pergi dan tak kembali.” Jesica berjalan pergi meninggalkan Adriana sendirian di ruangan itu. Beberapa pengawal yangsempat berdiri di ruangan itu juga pergi mengikuti langkah kaki Jesica.
“Apa ini benar hidupku yang sekarang? atau ini hanya mimpi buruk? kenapa hidupku jadi seperti ini sekarang.” Adriana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Wanita itu kini tidak tahu lagi harus berbuat apa. Semua yang telah terjadi seperti sebuah mimpi buruk baginya. Awalnya ia hanya ingin menikah dengan Damian dan membunuh Emelie agar mendapat kasih sayang Raja dan Ratu. Tidak di sangka, orang tua angkatnya itu justru pergi untuk selamanya. Sedangkan Emelie masih bisa menghirup udara bebas.
“Aku akan membunuhmu, Emelie. Aku ingin kau mati ditanganku saat ini.” Adriana beranjak dari duduknya. Wanita itu berjalan ke arah pintu untuk mencari keberadaan Damian saat ini. Ia tidak ingin semua perkataan jesica benar-benar terjadi. Hatinya sungguh tidak rela jika Damian benar telah tidur dengan Emeli.
Like, Vote dan komen. Author begadang lho ngetiknya 🤭