Moving On

Moving On
Jebakan Gold Dragon



Zeroun beranjak dari posisinya. Bos mafia itu berjalan dengan ekspresi dingin untuk mendekati Agen Mia. Dua bola matanya terlihat begitu tajam. Pria itu berdiri di hadapan Agen Mia dengan jarak beberapa centi saja. Wajahnya ia condongan agar bisa melihat jelas wajah wanita tangguh yang kini menodongkan pistol ke arahnya. Tidak ada rasa takut sama kali dari aura wajah Zeroun Zein malam itu. Di tengah-tengah kondisi tertekan seperti itu, ia masih bisa mengangkat senyumnya di ujung bibir.


“Apa kau mengancamku? Nona Mia Alexander.” Ada senyum puas di sudut bibir Zeroun malam itu.


Agen Mia sempat terperanjat kaget saat mendengar nama akhir yang baru saja disebutkan oleh Zeroun. Tidak ada satu orangpun yang mengetahui asalnya selama ini. Tapi, Zeroun. Entah darimana pria itu tahu semuanya. Bahkan nama Alexander sudah ia kubur bertahun-tahun yang lalu saat wanita itu ingin melupakan semua hal yang berkaitan dengan nama itu.


“Pilih sekarang! Aku tidak memberimu banyak waktu untuk mengambil keputusan.” Agen Mia berusaha keras untuk tidak terhanyut dalam perkataan Zeroun malam itu. Ia kembali sadar dan ingat dengan misinya malam itu.


Zeroun memundurkan kepalanya dan kembali berdiri tegak dengan tawa kecil, “Apa kau pikir Aku takut dengan ancaman murahanmu seperti ini? He?” Mengeryitkan dahinya.


Zeroun mengangkat satu tangannya, “Bagaimana kalau Aku yang gantian mengepungmu saat ini?” Memetik jarinya dengan kuat.


Seluruh pasukan Gold Dragon yang bersembunyi keluar dari segala penjuru. Tidak cukup hanya menodongkan pistol dari jarak dekat. Beberapa penembak jitu telah mengeluarkan laser merah yang mengincar masing-masing satu polisi. Sama halnya dengan Lukas dan Lana. Dua tangan kanan Zeroun itu menodongkan senjata api ke arah Agen Mia. Tidak terlalu peduli dengan todongan senjata polisi-polisi itu lagi.


Agen Mia menelan salivanya secara perlahan. Kedua bola matanya memperhatikan seluruh pasukan Gold Dragon yang kini mengelilinginya. Jika mau baku tembak juga sudah bisa dipastikan kalau tim miliknya yang akan kalah. Jumlah Gold Dragon memang bisa dibilang tiga kali lipat jauh lebih banyak dari tim miliknya.


Dari arah belakang Agen Mia, satu polisi wanita terlihat berjalan mendekatinya. Wanita itu berbisik untuk mengajak Agen Mia mundur. Semua yang akan mereka lakukan hanya akan mencelakai tim inti yang selama ini sudah ia persiapkan.


“Karena kau aparat negara, malam ini Aku akan membiarkanmu pergi,” ucap Zeroun sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.


“Sampaikan salamku pada Inspektur Tao saat ia sudah bangun. Dia juga harus membalas budi atas penyelamatan yang kami kirim. Tidak ada yang gratis di dunia ini.” Zeroun memutar tubuhnya untuk membelakangi Agen Mia.


Mendengar nama Inspektur Tao disebutkan, membuat Agen Mia kembali berpikir dua kali. Zeroun Zein bukan lawan yang sama seperti yang ia hadapi selama ini.


“Mundur!” perintah Agen Mia sambil berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Wanita tangguh itu harus kembali pulang dengan tangan kosong. Kedua bola matanya memandang sinis ke arah Zeroun sebelum menginjak pedal gas mobilnya. Seluruh mobil polisi itu pergi begitu saja meninggalkan areal yang ditempati Gold Dragon.


Lana terlihat bernapas lega malam itu. Keinginan Zeroun untuk menemui Agen Mia telah berjalan cukup lancar. Kini mereka sangat yakin, kalau Agen Mia akan berpikir dua kali sebelum menyerang Gold Dragon lagi. Kesalahpahaman itu sudah diluruskan dengan cara mereka.


“Aku harap wanita itu tidak lagi mengira kalau kita bekerja sama dengan Heels Devils.” Lana memasukkan senjata api miliknya.


Lukas menatap wajah Lana beberapa menit. Entah kenapa, setiap kali memandang wajah Lana bayangan ciuman itu selalu mengiang di kepalanya.


“Dasar wanita menyebalkan!” umpat Lukas sambil berlalu pergi.


“Menyebalkan?” celetuk Lana tidak terima.


“Aku baik-baik saja sejak tadi. Tetapi setelah mendengar ucapanmu itu suasana hatiku berubah menjadi jelek. Apa memang ini salah satu hobimu?” teriak Lana tanpa peduli ada Zeroun di tempat itu.


Lukas menatap wajah Lana dengan tatapan tidak suka. Ingin sekali ia membalas perbuatan tidak senonoh Lana di ruang pendingin itu.


Zeroun mengeryitkan dahi melihat dua bawahannya itu adu mulut. Pria itu bersandar di depan mobil untuk menjadi penonton setia. Sama halnya dengan Gold Dragon lainnya. Mereka berdiri melingkari Lana dan Lukas di tengah-tengah.


“Kau yang menyebalkan! Aku tidak menyentuh sehelai rambutmu malam ini. Kenapa kau merasa terganggu!” Kedua tangannya diletak di pinggang dengan ekpresi wajah menantang Lukas.


“Beraninya Kau,” sambung Lukas sambil mengeluarkan pistol miliknya. Emosi pria itu tidak lagi terkendali.


“Apa Kau pikir Aku takut!” teriak Lana tidak mau kalah. Wanita tangguh itu menodongkan pistol miliknya kearah wajah Lukas dengan wajah emosi.


Lana dan Lukas saling menodongkan senjata di tengah-tengah kumpulan Gold Dragon. Mereka berdua benar-benar tidak sadar kalau Zeroun berada di tengah-tengah untuk menyaksikan pertengkaran mereka saat ini.


“Bos! Kita diserang!” teriak salah satu pasukan Gold Dragon.


Teriakan itu cukup membuat semua orang terperanjat kaget. Zeroun memutar tubuhnya dengan tenang untuk melihat tamu tidak di undang malam ini. Pria itu memberi perintah kepada penembak jitu di atas gedung untuk menembak. Beberapa pasukan Gold Dragon juga sudah menembak dengan begitu ahli.


Lana mematung melihat pasukan musuh yang tiba-tiba datang. Kini posisi mereka berada di ujung gedung. Bisa di bilang, jika tidak berhasil menghalangi musuh untuk mendekat, mereka akan terpojok di ujung gedung tinggi itu.


“Apa Kau buta, kenapa kau tidak menembak!” protes Lukas saat melihat wanita tangguh itu larut dalam lamunannya.


DUARR! DUARR!


Lolos dari baku tembak dengan Agen Mia, kini Gold Dragon harus berhadapan dengan Heels Devils yang menyerang secara mendadak. Suara tembakan itu cukup memekakan telinga.


Zeroun mengeluarkan pistol terbarunya dengah ekspresi dingin. Menembak satu persatu musuh yang ingin mendekat dengannya. Beberapa musuh yang menggunakan sepeda motor sangat mudah untuk mereka kalahkan.


Tetapi, dengan beberapa musuh yang kini berada di dalam mobil sangat sulit untuk dikalahkan. Mobil-mobil besar berwarna hitam itu melaju dengan cepat ke arah Zeroun berada.


Lukas berlari cepat ke arah bagasi mobil. Pria itu melempar granat ke arah mobil yang ingin menabrak bos mereka.


DHOMMM!


Mobil itu terpental ke arah langit dengan kobaran api. Beberapa mobil yang ada di belakang juga ikut terbakar saat terkena kobaran api yang cukup besar itu.


Zeroun juga melompat jauh untuk menghindari panas dari kobaran api itu. Lukas menarik Lana dengan cepat dan membawanya bersembunyi di balik mobil.


Beberapa pasukan Gold Dragon yang berada jauh dari lokasi ledakan itu terlihat sibuk menembak musuh-musuh yang masih belum kalah.


Dari salah satu gedung. Agen Mia terlihat serius untuk menyelidiki perkataan Zeroun tadi. Dengan senjata sniper ia menonton perkelahian antara Gold Dragon dan Heels Devils.


“Pria yang menarik,” ucap Agen Mia sambil tersenyum puas menatap wajah Zeroun melalui lensa bidiknya.