
Emelie duduk di tepi tempat tidur dengan deraian air mata. Hatinya sangat rindu dengan ketenangan yang selama ini ia rasakan. Ia bahkan belum berhasil untuk mengembalikan nama baik Zeroun Zein, tapi kini justru nyawanya dalam bahaya. Untuk detik ini, ia menyerah. Seluruh kekuatan yang ia miliki selama ini seakan hilang entah kemana. Emelie merasa kini dirinya seperti wanita yang sangat lemah.
Zeroun masuk ke dalam kamar sambil membawa gelang yang pernah ia berikan. Langkahnya terhenti saat melihat Emelie yang sedang menghapus air mata. Sejak tadi. Emelie belum ingin menceritakan semua masalah yang ia alami.
“Apa kau menangis?” Zeroun duduk di kursi kecil yang ada d hadapan Emelie.
“Aku, hanya rindu kepada Yang Mulia.” Emelie memandang gelang itu dengan wajah berseri.
“Dimana kau menemukannya?” Emelie merebut paksa gelang itu dari tangan Zeroun. Memasangan gelang itu di tangan kirinya. Wajah sedihnya telah berganti dengan senyuman indah.
Zeroun tersenyum kecil memperhatikan senyum Emelie.
“Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” tanya Zeroun dengan wajah menyelidik.
Emelie memandang wajah Zeroun yang kini ada di hadapannya. Ada rasa ingin meluapkan semua isi hatinya saat itu. Namun, ada juga keraguan untuk tidak menceritakan semuanya. Emelie tidak tahu, kalau Zeroun sudah mengetahui semua masalah yang kini ia hadapi.
“Aku, ingin minta maaf. Karena tidak bisa mengembalikan nama baik Gold Dragon.” Wajah Emelie lagi-lagi berubah sedih. Wanita itu menundukkan wajahnya. Ada rasa menyesal dan bersalah kepada Zeroun saat ini. Sejak awal ia sudah berjanji untuk membantu Zeroun membersihkan nama baiknya.
“Tidak perlu, Aku sudah memiliki semua bukti yang diperlukan.” Zeroun angkat bicara. Ia tidak ingin melihat Emelie terus-terusan memasang wajah sedih seperti itu.
“Benarkah?” tanya Emelie dengan wajah penuh semangat.
Zeroun mengangguk pelan, “Tapi, aku butuh bantuanmu Emelie. Bukti ini harus kita serahkan ke Inspektur Tao. Hanya dia polisi yang jujur dalam pekerjaannya. Hanya kau yang bisa menjelaskan semua ini kepada Inspektur Tao.”
“Itu sangat mudah, kita hanya perlu menemuinya dan menjelaskan semuanya.” Emelie tersenyum ramah. Walaupun kini hatinya masih terasa perih.
“Tidak semudah itu. Inspektur Tao di pindah tugaskan ke wilayah terpencil. Kita harus menemuinya di tempat itu.”
“Aku tidak tahu, kalau Inspektur Tao kini tidak ada di kota ini.” Emelie merubah eksresi wajahnya.
“Apa kau mau membantuku?” tanya Zeroun sekali lagi.
“Tentu saja, ini pertama kalinya aku bisa membalas budi atas perbuatan baikmu selama ini.”
Zeroun tersenyum lagi, “Tidurlah, sudah malam. Besok kita akan berangkat untuk menemui Inspektur Tao.” Zeroun beranjak dari duduknya. Melangkah pergi meninggalkan kamar Emelie.
Emelie tersenyum memandang punggung Zeroun yang sudah hilang di balik pintu.
“Setelah masalahmu selesai, Aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi. Aku akan menyelesaikan semua masalah yang ku punya sendirian.”
Emelie mulai membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memejamkan mata dengan hembusan napas yang mulai teratur.
.
.
“Emelie ... Emelie ....” Zeroun menepuk pelan pipi Emelie. Pria itu terlihat sangat khawatir saat melihat Emelie menangis sambil memejamkan mata. Emelie terus saja menyebut nama Adriana. Ia seperti ketakutan. Emelie sedang mimpi buruk malam itu. Seolah-olah Adriana mengejarnya dan ingin membunuhnya secara langsung.
Emelie membuka mata dengan wajah panik, ia memeluk tubuh Zeroun. Menenggelamkan kepalanya di dalam dada bidang Zeroun yang kini bertelanjang dada. Pria itu bahkan tidak sempat mengenakan baju. Saat mendengar suara tangisan Emelie, ia berlari begitu saja menuju ke kamar Emelie.
“Aku sangat takut, Adriana ingin membunuhku.” Emelie terlihat sangat ketakutan. Memeluk tubuh Zeroun dengan begitu erat.
“Tidak akan ada yang bisa mencelakaimu, selama kau ada di sampingku. Emelie.”
Emelie mulai tersadar. Suara Zeroun membuat pikirannya kembali normal. Emelie melepaskan pelukannya, lalu menjauhkan kepalanya dari dada bidang milik Zeroun.
Matanya melebar saat melihat tato naga yang terukir indah di dada bidang milik Zeroun. Pria itu memiliki tubuh yang begitu sempurna dan menggoda. Ini pertama kalinya Emelie bisa melihat tubuh pria yang bertelanjang dada seperti itu. Wajah Emelie berubah malu dan merona. Emelie menundukkan wajahnya untuk mengalihkan tatapan matanya dari dada bidang milik Zeroun.
“Apa itu simbol Gold Dragon?” tanya Emelie sambil menunduk.
Zeroun tersenyum kecil saat melihat wajah merona Emelie malam itu.
“Ya, ini simbol Gold Dragon. Pasukan Gold Dragon memiliki tato ini di setiap tangannya.”
Emelie mencengram kuat seprei tempat tidurnya. Ia tidak lagi tahu harus berkata apa saat itu. Bahkan mengangkat wajahnya saja tidak berani.
“Emelie,” ucap Zeroun dengan nada yang lembut. Perlahan ia menyentuh dagu Emelie. Zeroun ingin menatap langsung wajah wanita itu. Ia tidak suka Emelie terus-terusan menyembunyikan wajah cantiknya.
Emelie memandang wajah Zeroun. Bola mata biru itu menatap mata Zeroun tanpa berkedip. Wanita itu kini benar-benar kagum dengan pesona yang dimiliki Zeroun.
Sama halnya dengan Zeroun. Perlahan Zeroun memajukan wajah Emelie agar mendekat dengan wajahnya. Bibir Emelie yang merah dan basah, sangat menggoda Zeroun dimalam itu. Zeroun juga mendekatkan wajahnya. Sudah lama ia tidak merasakan perasaan itu. Perasaan ingin memiliki dan menguasai. Zeroun terus mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling bersentuhan.
Emelie meletakkan satu tangannya di dada bidang milik Zeroun. Ia berusaha untuk mendorong tubuh Zeroun agar menjauh dari tubuhnya. Tapi, saat bibir itu menyatu dengan bibirnya, Emelie tidak kuasa untuk menolaknya. Bibir Zeroun terasa sangat hangat dan Emelie menikmatinya. Matanya terpejam, merasakan aliran aneh di dalam tubuhnya. Jantungnya berdetak dengan begitu cepat.
Ciuman Zeroun terasa lembut dan sangat romantis. Pria itu sudah lama tidak menyentuh wanita. Ini pertama kalinya ia berani melakukan hal itu sejak hatinya di patahkan oleh Erena.
Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya. Pria itu tidak lagi bisa mengendalikan hasrat dalam dirinya. Ia ingin melakukan lebih dari itu. Satu sifat yang tidak pernah ada di dalam daftar riwayat dirinya. Selama ini ia selalu bisa mengendalikan hawa nafsunya. Tapi, bersama dengan Emelie. Ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk menolak.
Ciuman Zeroun turun ke leher jenjang milik Emelie. Ciuman lembut itu sudah berubah menjadi sebuah gairah. Emelie memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan Zeroun atas tubuhnya. Ini pertama kalinya Emelie bisa seintim itu dengan seorang pria. Ia tahu, apa yang terjadi selanjutnya jika ia tidak segera menghentikan perbuatan Zeroun.
Tapi, sepertinya Emelie pasrah dengan semua yang terjadi. Dengan berani, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Zeroun.
Dalam sekejab, semua gerakan itu terhenti. Dengan napas yang saling beradu satu sama lain. Emelie seakan ingin protes kepada Zeroun. Pria itu menghentikan cumbuannya begitu saja saat Emelie sedang menikmatinya.
“Maafkan aku, Emelie.” Zeroun melepas pelukannya dari tubuh Emelie. Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Emelie.
Emelie mematung memandang kepergian Zeroun. Ia juga sudah kembali sadar dengan apa yang baru saja ia perbuat. Dengan penuh takut, Emelie memegang bibir yang sempat di cium oleh Zeroun. Ia tidak pernah berpikir, kalau ciuman pertamanya hilang di bibir Zeroun. Ada senyum kecil dan rasa bahagia di dalam hati Emelie.
“Apa ini?” ucapnya pelan sambil memegang jantungnya yang berdebar dengan begitu cepat. Emelie tidak tahu perasaan apa yang kini ia rasakan. Melihat hari sudah semakin larut, Emelie berbaring di atas tempat tidur. Memejamkan mata dengan wajah tersenyum bahagia.