Moving On

Moving On
Persembunyian Zeroun



Zeroun berhenti di parkiran Apartemen mewah yang ada di kota Cambridge. Masih menggunakan topi dan kaca mata hitam untuk menyembunyikan identitas dirinya. Sebisa mungkin, Zeroun juga menghindari camera CCTV yang terletak di setiap sudut gedung.


Beberapa hari ini, Zeroun bersembunyi di salah satu kamar mewah yang ada di gedung bertingkat itu. Hidupnya terasa nyaman walaupun di luar polisi masih terus memburu dirinya. Di tambah lagi, Apartemen itu merupakan milik salah satu rekan bisnisnya. Zeroun seperti mendapat perlindungan saat tinggal di tempat itu.


Setelah tiba di dalam kamar, Zeroun melepas topi dan kaca mata hitam miliknya. Meletakkan dua barang itu di atas meja. Pria itu menjatukan tubuhnya di atas sofa berwarna biru tua. Menatap langit-langit kamar dengan hembusan napas yang teratur. Lagi-lagi nama Emelie terlintas di dalam pikirannya. Entah kenapa, ia ingin melihat keadaan Putri Kerajaan itu.


Zeroun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Melacak posisi Emelie saat ini. Perasaannya terasa sedikit tenang, saat melihat posisi Emelie kini sudah ada di dalam Istana. Dengan senyum kecil, Zeroun membuka rekaman camera di gelang Emelie agar bisa melihat apa yang kini dilakukan wanita itu


Wajah Emelie terlihat sangat cantik. Wanita itu tersenyum manis sambil memandang gelang pemberian Zeroun. Sesekali ia mencium gelang itu seperti sebuah benda yang sangat ia sukai. Zeroun terlihat menahan tawa. Memperhatikan dengan seksama, setiap inci wajah Emelie. Bibirnya yang merah, matanya yang indah. Alisnya yang terukir begitu menawan. Semua terlihat sangat sempurna.


Emelie meletakkan gelang itu di atas nakas, sebelum berlari ke kamar mandi. Melihat Emelie ingin segera mandi. Zeroun tidak lagi mau melanjutkan pengintaiannya. Pria itu mematikan ponselnya, meletakkannya di atas meja. Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Dengan begitu waspada, Zeroun berjalan ke arah pintu. Satu pistol melekat di tangannya untuk jaga-jaga.


Zeroun mengintip wajah tamunya dari lubang kecil yang ada di pintu. Napasnya kembali lega, saat melihat orang yang berkunjung adalah pelayan yang biasa mengantar makanan untuk dirinya. Pria itu membuka kunci kamar sebelum menarik handle pintu kamarnya.


“Selamat sore, Tuan. Ini minuman yang anda pesan.” Pelayan itu membawa meja dorong yang berisi aneka wine berwarna-warni. Zeroun memesan minuman itu secara khusus untuk menghilangkan rasa bosannya selama bersembunyi di dalam kamar.


“Letakkan di sana.” Zeroun menunjuk ke arah meja yang terletak tidak jauh dari jendela. Pelayan itu masuk membawa minuman-minuman itu ke dalam. Menyusun gelas dan botol minuman itu dengan rapi di atas meja. Setelah selesai, pria itu menunduk lalu pergi meninggalkan kamar Zeroun.


Zeroun kembali menutup pintu kamarnya. Pria itu juga ingin mandi untuk membersihkan dirinya yang terasa lengket. Pistol hitam yang mengkilat itu masih ada di genggaman tangannya. Ia tidak ingin mejauhkan senjata api itu dari hidupnya. Hanya benda itu yang bisa menolongnya, saat keadaan sangat berbahaya.


“Aku tidak bisa begini terus-terusan. Aku harus segera menemukan bukti untuk membersihkan nama Gold Dragon.” Zeroun memejamkan mata. Berendam di dalam bak mandi dengan begitu tenang.


***


Di Brazil.


Lukas sudah kembali sehat seperti biasa. Pria itu diberi tugas kepada Zeroun untuk mengumpulkan pasukan Gold Dragon yang tinggal di Brazil. Walaupun jumlahnya tidak sebanyak di Hongkong, tetapi jumlah pasukan Gold Dragon yang ada di Brazil cukup membantu Lukas saat itu.


Setiap hari mereka menyelidiki tentang Heels Devils. Apapun itu yang berhubungan dengan identitas musuhnya akan ia ingat dan ia pelajari. Lukas tidak ingin kalah lagi. Setiap saat ia berlatih ilmu bela diri bersama dengan Lana.


Hari demi hari mereka lewati dengan penuh perkelahian dan kadang canda tawa. Membuat mereka berdua terlihat sangat akrab saat ini. Lana tidak lagi menganggap Lukas pria yang menyeramkan. Begitu juga dengan Lukas, pria itu tidak lagi menganggap Lana sebagai wanita yang menyebalkan. Mereka terlihat seperti satu kesatuan yang saling membutuhkan satu sama lain.


Baju Lana terlihat basah atas peluh yang mengucur deras dari tubuhnya. Lana berjalan ke arah meja untuk mengambil air mineral. Satu botol ia ambil lalu ia lemparkan ke arah Lukas berada. Setelah itu ia mengambil botol lainnya untuk diminum.


Lukas meneguk minuman itu sebelum berjalan mendekati Lana. Pria itu juga memperhatikan keadaan sekitar dari atas ketinggan.


“Sejak kecil, pemandangan seperti ini adalah suatu keadaan dimana aku berada di zona aman. Jika keadaan semakin bahaya, Aku tidak akan bisa berdiri untuk menikmati hembusan udara ini.” Lukas merentangkan tangannya. Menutup mata sambil menghirup udara segar dengan penuh penghayatan.


Lana memperhatikan wajah Lukas dengan seksama. Ada senyum kecil di bibirnya yang merah. Tidak ingin ketahuan oleh Lukas, Lana mengalihkan tatapan matanya ke arah lain.


“Kenapa kau mau masuk ke dalam Gold Dragon? bagaimana bisa kau bertemu dengan Bos Zeroun?” Lukas membuka mata. Menatap wajah Lana dengan penuh tanda tanda. Sejak pertama kali bertemu Lana, ia masih menyimpan rasa penasaran. Kenapa Lana bisa ikut kedalam Gold Dragon.


Lana menggeleng kepalanya pelan, “Aku juga gak tahu. Aku hanya mengikuti perkataan Kakakku untuk berada di dalam pesawat itu. Entah kenapa, tiba-tiba Bos Zeroun memilihku. Bukankah kata Kakak kalau Bos Zeroun sudah memilih, tidak ada yang bisa menolaknya?” Lana menatap wajah Lukas dengan serius.


Lukas mengangguk, “Tidak ada yang bisa membantah perintah Bos Zeroun. Perintahnya suatu ketentuan yang harus di patuhi.” Lukas menatap ke arah gedung-gedung tinggi yang ada di hadapannya.


“Aku harap, masalah di Inggris segera selesai agar Bos Zeroun bisa segera menemui kita. Rasanya detik ini, aku ingin terbang kesana untuk mendampinginya.”


“Bos, anda ….”


“Lukas, namaku Lukas.” Lukas memandang wajah Lana.


“Mulai sekarang, panggil aku Lukas.” Lukas memandang ke depan lagi.


“Lukas ….” ucap Lana dengan nada yang sangat pelan.


Lana juga menatap gedung-gedung yang ada di depan. Sejak kecil, dirinya sudah hidup di jalanan. Namun, karena kerja keras sang kakak. Wanita itu bisa sekolah hingga ke jenjang yang sangat tinggi.


Lana juga dbekali ilmu bela diri untuk bisa melindungi dirinya dari bahaya. Namun, selama ini ia hanya melawan msh kelas menengah kebawah. Tidak pernah terpikirkan di dalam pikiran Lana. Kini dia bergabung di dalam komplotan mafia yang melawan kejahatan tingkat dunia.


Aku sudah ada di sini. Apa ini artinya, sisa hidupku akan aku habiskan dengan berkelahi? apa masih ada cara lain agar suatu hari nanti aku bisa terbebas dari lingkaran berbahaya ini.


Lana hanya bisa menyimpan rasa gelisahnya di dalam hati. Walaupun sudah terbilang akrab dengan Lukas. Tapi Lana tidak berani mengungkapkan isi hatinya saat ini.