Moving On

Moving On
Desa Clovelly



Setelah menempuh perjalanan lebih kurang 5 jam. Kini Zeroun sudah memasuki wilayah Inggris bagian Barat Daya. Hari sudah sangat terang. Mobil Zeroun juga sudah memasuki wilayah Torridge, Kabupaten Devon. Pagi itu Zeroun ingin mengunjungi salah satu desa yang ada di Inggris.


Zeroun memberhentikan mobilnya di lokasi parkir yang tidak jauh dari pintu masuk desa. Berdasarkan info yang ia dapat, Inspektur Tao kini bertugas untuk menjaga keamanan desa Clovelly. Ada komplotan perampok yang ingin menyerang para wisatawan yang ingin berkunjung ke desa itu. Inspektur Tao dikirim untuk menangkap para perampok yang selalu meresahkan wisatawan itu.


Selain tidak boleh masuk kendaraan, Desa itu juga tidak boleh dimasuki sepasang kekasih yang belom menikah. Tempat itu memang di bangun untuk merasakan hari bahagia sepasang suami istri. Zeroun sengaja membawah Emelie agar ia bisa masuk kedalam kota itu. Desa itu menghadap langsung ke laut Bristol Channel. Selain bisa menikmati pemandangan laut, desa itu juga memiliki air terjun yang indah di pinggiran pantai.


Zeroun melepas sabuk pengamannya. Matanya terasa sangat ngantuk dengan tubuh yang lelah. Sejak Pagi ia belum ada tidur, hingga kini pagi itu muncul kembali.


Saat merasakan panas dari pantulan cahaya matahari, Emelie mulai gelisah dengan tidurnya. Wanita itu membuka matanya secara perlahan, untuk melihat lokasi ia kini berada.


Zeroun memandang wajah Emelie tanpa ekspresi. Wajah pria itu terlihat sangat pucat dan tidak bersemangat.


“Zeroun, apa kau baik-baik saja?” Emelie memegang dahi Zeroun dengan wajah khawatir.


“Aku baik-baik saja.” Zeoroun menahan tangan Emelie agar wanita itu tidak menyentuh wajahnya.


“Emelie, kita akan menemui Inspektur Tao di desa ini. Tetapi, selama kita berada di desa ini. Kita harus berpura-pura menjadi pasangan suami istri,” sambung Zeroun sambil memperhatikan keadaan sekitar.


“Suami istri?” Wajah Emelie merona.


“Jangan berpikiran terlalu jauh. Hanya saat kita di luar. Setelah kita berhasil bertemu dengan Inspektur Tao, kita akan segera pergi meninggalkan desa ini.” Zeroun membuka pintu mobil, keluar dengan cepat.


Emelie masih mematung memahami semua kalimat yang diucapkan Zeroun.


“Apa ini balas budi yang harus aku lakukan?” Emelie juga membuka pintu mobil. Berjalan mendekati posisi Zeroun.


Ada beberapa pria yang kini berjalan menghampiri posisi Zeroun dan Emelie.


“Akting di mulai,” bisik Zeroun di telinga Emelie.


“Selamat Pagi, Tuan ... Nona. Selamat datang di desa Clevelly. Apa kalian berdua datang untuk berbulan madu?” Warga desa itu tersenyum ramah. Memperhatikan Zeroun dan Emelie dengan seksama


“Ya, saya ingin berbulan madu bersama istri saya.” Zeroun merangkul pinggang Emelie dengan begitu mesra. Dengan jantung berdebar cepat, Emelie melirik tangan Zeroun yang kini berada di pinggang rampingnya.


“Mari, Tuan. Akan saya tunjukan tempat anda istirahat.” Pria itu membawa Zeroun dan Emelie berjalan menuju ke arah gerbang masuk desa.


Setelah memasuki desa, Emelie memandang kagum keindahan desa itu. Sebuah desa yang sangat indah dan menjadi objek wisata populer. Desa itu merupakan warisan Inggris yang sangat berharga. Desa Clovelly terkenal dengan jalan batunya yang curam namun cantik.


Jalan itu mengarah langsung ke pelabuhan tua. Jalan bebatu itu diapit oleh cottage- cottage putih, dengan cerobong asapnya yang khas. Cottage itu memang disiapkan untuk para wisatawan yang ingin berkunjung. Tidak hanya Cottage, disepanjang jalan itu juga bisa di temukan toko souvenir dan cafe yang menawan. Jalan bebatu itu hanya bisa di lewati dengan berjalan kaki.


“Di sini, Tuan.” Pria itu membuka satu pintu kamar cottage.


Zeroun tidak terlalu peduli dengan keadaan kamar itu. Tanpa pikir panjang, Zeroun menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Membaringkan tubuhnya dengan posisi yang sangat nyaman. Bahkan sepatunya masih melekat di kaki. Dengan cepat Zeroun memejamkan mata untuk beristirahat.


Sedangkan Emelie hanya berdiri mematung melihat kelakuan Zeroun pagi itu. Selain hanya memiliki satu tempat tidur, kamar itu terbilang sangat sempit. Tidak ada sepertiganya dari kamar yang dimiliki oleh Emelie selama ini.


Hanya ada satu lemari kecil, dua kursi kayu yang melingkari meja berbentuk lingkaran. Emelie berjalan ke arah kamar mandi. Kamar mandi itu juga terlihat sangat sederhana. Hanya ada shower dan perlengkapan mandi seadanya. Tidak ada bak mandi seperti yang ada di dalam kamar mandi miliknya.


“Tempat apa ini? kenapa suasananya mengingatkanku dengan rumah kontrakan di Hongkong.” Emelie merasakan tubuhnya yang lengket karena keringat. Tapi, ia tidak membawa pakaian ganti. Bahkan ia juga tidak memiliki uang untuk berbelanja baju.


Putri Kerajaan itu sedikit frustasi dengan keadaan yang ia alami saat ini. Saat tidak ada pilihan lagi, Emelie membatalkan niatnya untuk mandi lalu berjalan ke arah kursi. Ada dua botol air mineral di atas meja. Pagi itu selain lapar ia juga merasa sangat haus.


“Setidaknya bisa menghilangkan rasa hausku hingga Zeroun bangun.” Emelie meneguk minuman itu sambil memandang wajah Zeroun. Walaupun di lihat dari jarak yang jauh, tetapi wajah Zeroun masih terlihat sangat jelas.


Wajah Zeroun terlihat sangat tenang. Tidak akan pernah ada yang menyangka, jika wajah setenang itu dimiliki oleh bos mafia. Emelie menepuk pipinya, agar tidak lagi memandang wajah Zeroun yang sedang tidur. Tatapannya ia alihkan ke arah jendela. Karena cottage itu terletak di dataran tinggi, membuat pemandang laut terlihat sangat jelas dan begitu indah.


Emelie menopang dagunya dengan satu tangan. Membuka jendela kamar agar angin yang sejuk itu memenuhi isi kamar.


“Tempat ini sangat indah,” ucap Emelie sambil tersenyum manis.


Menikmati setiap hembusan angin yang masuk dengan mata yang dimanjakan oleh langit dan laut yang biru. Emelie terlihat menikmati pemandangan itu. Wanita sambil melamun membayangkan masa-masa kecilnya yang indah. Hingga beberapa saat kemudian.


“Apa yang kau lakukan?”


Emelie tersentak dari lamunanya. Menatap wajah Zeroun dengan seksama. Pria itu hanya tidur selama 30 menit dan kini sudah terbangun.


“Kau sudah bangun?” tanya Emelie dengan wajah tidak percaya.


“Apa kau berharap Aku tidak bangun lagi?” Zeroun tersenyum tipis, mengambil botol air mineral yang ada di atas meja. Meneguk minuman itu dengan cepat sebelum duduk di bangku kayu.


“Bukan, bukan begitu. Hanya saja, terlalu cepat.” Emelie memperhatikan botol mineral yang ada di genggaman Zeroun.


“Itu sudah cukup lama,” sambung Zeroun cepat.


Emelie tidak lagi ingin membantah. Putri Kerajaan itu melanjutkan pengamatannya teradap keindahan laut yang berada tidak jauh dari pandangannya.


“Aku keluar sebentar, kau tetap di sini. Jangan pergi kemana-mana.” Zeroun beranjak dari tempat duduk itu, berjalan menuju pintu. Menutup pintu kamar itu dengan hati-hati hingga tidak terdengar suara sedikitpun.


“Apa yang ingin ia lakukan? Kenapa Aku tidak boleh ikut,” umpat Emelie dengan wajah kesal.


Like, Komen, Vote.,