
Pukul 3 Pagi.
Zeroun memberhentikan mobilnya di depan markas rahasianya. Pria itu membuka sabuk pengaman miliknya sebelum menatap wajah kekasihnya. Emelie telah tertidur dengan lelap. Kedua tangannya ada di atas pangkuan dengan air mata yang mengering di sudut matanya.
Zeroun melepas sabuk pengaman kekasihnya sebelum keluar dari dalam mobil itu. Pria itu tidak ingin mengganggu tidur Emelie. Dari kejauhan, Lukas dan Lana juga baru saja tiba. Dua pengawal setianya keluar dengan cepat dari dalam mobil dan berdiri di hadapan Zeroun.
“Istirahatlah. Luka itu harus sembuh secepatnya.” Zeroun membuka pintu mobil.
“Baik, Bos,” jawab Lana dan Lukas bersamaan. Namun, mereka masih berdiri di samping mobil Zeroun dengan posisi tegab. Mereka tidak akan masuk kerumah sebelum Zeroun masuk ke dalam lebih dulu.
Dengan ekspresi dingin, Zeroun mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya. Pria itu berjalan dengan begitu tenang memasuki rumahnya.
Lana lagi-lagi kagum dengan kelembutan Bos Mafia itu, “Bos Zeroun pria yang romantis bukan? sangat berbeda denganmu.” Mendengus kesal sebelum berlalu pergi meninggalkan Lukas.
“Semakin hari semakin berani!” umpat Lukas kesal sebelum berjalan masuk ke dalam rumah.
Dengan hati-hati Zeroun meletakkan Emelie di atas tempat tidur. Menarik selimut untuk menutupi tubuh kekasihnya dari angin yang begitu dingin.
“Maafkan Aku Emelie, karena sudah membuatmu bersedih.”
Bos Mafia itu mengelus lembut rambut Emelie sebelum pergi ke kamar mandi.
***
Pagi yang cerah. Cahaya matahari yang terang sudah menerobos masuk kedalam kamar. Angin yang kencang masih terasa dingin. Suara kicauan burung terdengar dengan sangat merdu. Embun pagi masih terlihat jelas mengelilingi rumah itu.
Emelie membuka matanya dengan hati-hati. Wanita itu mengeryitkan dahi saat melihat Zeroun yang kini ada di hadapannya. Dengan cepat, ia duduk dan membuang tatapannya dari wajah Zeroun. Ia masih ingat dengan amarahnya tadi malam.
“Selamat l
pagi, Emelie.” Zeroun tersenyum kecil memandang wajah Emelie. Pria itu bersandar di tempat tidur dengan posisi yang sangat santai. Entah jam berapa pria itu tertidur, namun pagi ini ia sudah bangun lebih dulu daripada Emelie.
Emelie tidak ingin menjawab pertanyaan Zeroun. Wanita itu membuka selimutnya dan berjalan kearah kamar mandi.
“Apa dia masih marah?” Zeroun melanjutkan tontonan serunya di ponsel. Sesekali ia tersenyum saat melihat ekspresi Emelie yang saat itu berani melawan Adriana dan Damian. Sejak bangun pagi, Zeroun ingin mengetahui semua yang terjadi dengan kekasihnya. Pria itu memutar semua rekaman sejak Emelie pergi meninggalkan club malam.
“Apa dia benar-benar berpikir Aku mencium wanita Brasil itu?” Zeroun menarik napasnya kasar sebelum meletakkan ponselnya di atas nakas. Pria itu berjalan kearah kolam renang. Pria itu memilih berenang sambil menikmati embun pagi yang sangat menyejukkan mata.
Beberapa saat kemudian. Emelie sudah keluar dari kamar mandi. Wanita itu memandang kearah tempat tidur yang sudah kosong.
“Bos Mafia itu sungguh menyebalkan! kenapa dia tidak merasa bersalah sama sekali.” Emelie memandang keluar jendela. Di kolam renang, terlihat Zeroun yang sedang berenang dengan begitu tenang.
“Berenang? dia memang pria yang menyebalkan. Bisa-bisanya dia berenang dengan keadaan seperti ini.” Emelie melipat kedua tangannya di depan dada. Ada rasa gengsi di dalam hatinya untuk berjalan ke kolam renang. Walaupun kini hatinya dipenuhi kerinduan untuk melihat wajah kekasihnya itu.
“Dia akan semakin besar kepala kalau Aku datang menemuinya saat ini.” Emelie memutar tubuhnya untuk berjalan ke arah pintu. Belum sempat menarik handle pintu, wanita itu menahan langkah kakinya.
“Tapi Aku ingin menemuinya,” ucap Emelie dengan wajah frustasi.
Emelie bersandar di dinding sambil memikirkan alasan untuk mendekati Zeroun pagi ini. Ia tidak ingin terlihat peduli kepada Zeroun. Wajahnya berseri saat melihat satu buku di atas nakas. Tanpa peduli itu buku tentang apa, Emelie mengambil buku itu dan membawanya ke kolam renang.
Zeroun berdiri di tepian kolam yang menghadap ke arah pegunungan. Pria itu menikmati udara sejuk yang ada di depan matanya. Langkah kaki seseorang membuatnya berputar dan melihat siapa yang datang. Ada senyum kecil di sudut bibirnya saat melihat Emelie duduk di pinggiran kolam dengan satu buku di tangannya. Wanita itu terlihat serius dengan bacaan paginya.
Tanpa pikir panjang Zeroun berenang ke tempat Emelie berada. Pria itu ingin membujuk kekasihnya agar tidak marah lagi.
“Apa yang kau baca Emelie?” Zeroun masih ada di dalam kolam. Memandang wajah cantik kekasihnya dari bawah.
“Jangan berbicara denganku, Aku lagi serius membaca.” Emelie memasang wajah cuek dan tidak ingin memandang wajah kekasihnya.
“Emelie, sejak kapan kau suka membaca teknik menembak?” Kali ini Zeroun mengangkat satu alisnya dengan wajah penuh kemenangan.
Emelie terdiam beberapa detik. Wanita itu tidak tahu kalau judul buku yang kini ia pegang adalah buku teknik menembak. Tidak ingin ketahuan kalau buku itu hanya sebuah alasan. Emelie kembali melanjutkan aktingnya.
“Aku ingin menembak juga. Biar bisa membunuh semua orang yang menyakiti hatiku. Termasuk kau!” Emelie melebarkan matanya sebelum memandang buku lagi.
“Kau sudah menembakku duluan di sini,” sambung Zeroun sambil memegang dadanya.
Wajah Emelie merona malu, wanita itu menutup wajahnya dengan buku karena tidak ingin Zeroun tahu kalau kini wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
“Emelie, maafkan Aku. Aku tidak mencium wanita itu. Kau sudah salah paham.” Zeroun menyentuh tangan Emelie. Dengan cepat, Emelie menangkis sentuhan Zeroun.
Zeroun menarik napas kesal. Ia tidak pernah tahu bagaimana cara merayu seorang wanita. Ditambah lagi, wanita yang seperti Emelie. Satu tangannya menarik pinggang Emelie membawa wanita masuk ke dalam kolam bersamanya.
“Zeroun!” teriak Emelie dengan begitu kencang.
Buku yang ada di genggamannya terbang ke atas sebelum masuk ke dalam kolam renang yang sama dengan dirinya.
Dari arah ruangan lain. Terdengar suara pintu kaca yang tiba-tiba terbuka. Lukas muncul dengan satu pistol di tangannya. Saat mendengar teriakan Emelie, pria itu berubah waspada dengan keadaan bosnya. Namun, wajahnya berubah salah tingkah saat meliat Emelie dan Zeroun kini berada di dalam kolam.
“Maafkan saya, Bos.” Lukas menunduk sebelum memasukkan pistolnya ke dalam saku. Pria itu memutar tubuhnya dengan cepat sebelum Zeroun mengeluarkan kata.
Menutup pintu kamarnya dengan begitu hati-hati hingga tidak terdengar suara apapun.
Emelie memandang Lukas tanpa berkedip. Wanita itu menjadi malu karena pemandang ini kini terlihat oleh orang lain.
“Lepaskan Aku!” teriak Emelie sambil terus berusaha melepas pelukan Zeroun.
“Aku sudah mandi kenapa kau membuatku basah.” Dengan sekuat tenaga, Emelie ingin melepaskan diri dari pelukan Zeroun.
“Bukankah Kau suka mandi dengan baju Emelie.” Zeroun menyeringai untuk meledek kekasihnya.
“Itu ... itu berbeda. Semalam Aku tidak memiliki baju renang.” Emelie menunduk malu.
“Kau lebih cantik jika mandi dengan baju seperti ini.” Zeroun memandang gaun Emelie yang kini terapung di permukaan air.
“Zeroun, Kau.” Emelie semakin malu. Kini wanita itu tidak memiliki kata-kata lagi untuk membela dirinya.
Zeroun menarik tubuh Emelie mencium bibirnya dengan begitu mesra. Ia tidak lagi ingin Emelie mengeluarkan kata-kata konyol yang membuat wanita itu terlihat bodoh. Bibirnya yang semula dingin kini berubah hangat saat bersentuhan dengan bibir Emelie. Matanya terpejam untuk menikmati ciuman itu. Tidak berlangsung lama, ciuman itu terlepas saat Emelie mendorong tubuhnya.
“Emelie,” protes Zeroun.
“Kau menyebalkan.” Emelie menghapus bekas ciuman Zeroun di bibirnya. Wanita itu belum juga luluh dengan sikap romantis Zeroun pagi ini.
.
.
Apakah Bos Mafia Berhasil merayu sang kekasih?🤭
Like, Komen, Vote.
Kalau Votenya smpek 30k besok aku crazy up lagi....😊