Moving On

Moving On
Misi Pertama



Lukas mengemudikan mobil dengan cepat. Sesekali ia melirik ke arah spion untuk memandang Zeroun yang duduk di bangku belakang. Waktu sudah menunjukkan hampir jam 12 malam.


Zeroun memilih penyerangan di tengah malam untuk musuhnya di kota Cambridge. Semua pasukan Gold Dragon tidak ada yang memegang pistol. Semua senjata api yang mereka gunakan malam itu adalah senjata laras panjang dengan peluru yang jauh lebih besar.


Beberapa bahan peledak juga sudah disiapkan di bagasi mobil. Bukan hanya menembak musuh, tapi Zeroun bertekad untuk membuat markas musuhnya rata dengan tanah. Sama halnya dengan kapal yang ia miliki. Kapal itu tenggelam saat api melahab habis isinya.


Kabut malam dikota Cambridge terasa sangat dingin. Bahkan jauh lebih dingin dari di Hongkong. Semua mengenakan jaket kulit untuk menghangatkan tubuh.


“Bos, apa anda baik-baik saja?” tanya Lukas dengan wajah khawatir.


Zeroun mengangguk tanpa mengeluarkan kata. Menatap keluar jendela untuk memperhatikan Kota itu dengan seksama.


“Bos, saya yakin kita akan menang. Kita memiliki pasukan Gold Dragon yang sangat setia. Hampir di setiap negara kita memiliki mafia yang berada di bawah tangan kita.” Lukas terlihat yakin dan penuh percaya diri.


“Mereka tidak berani ikut campur kali ini, Aku sudah menghubungi mereka lebih dulu.” Zeroun memasang wajah tak terbaca. Ada rasa kecewa dan bingung di dalam hatinya.


Lukas terdiam sejenak. Mencerna setiap kata yang baru saja dikatakan Zeroun.


“Tuan Kenzo, Bos. Pasukan Tuan Kenzo juga banyak. Tuan Daniel ....”


Zeroun memasang wajah tidak suka. Terlihat jelas saat Lukas memandang wajah Zeroun melalui kaca spion.


“Mereka juga tidak akan aman,” sambung Zeroun yang terlihat menahan sesak di dadanya. Sudah setengah jalan, ia tidak ingin melangkah mundur lagi. Semua yang sudah terencana harus terjadi. Apapun resiko yang akan ia hadapi. Walaupun kali ini misinya akan melibatkan orang-orang yang ia sayangi.


Lukas tidak lagi ingin membahas masalah itu. Wajah Zeroun semakin terlihat sedih saat ia terus mendesak pria itu.


‘Bos, ini akan jadi pertarungan besar kita.


Beberapa saat kemudian, Mobil Lukas dan pasukan Gold Dragon telah berhenti di depan gedung itu. Dengan cepat, pasukan Gold Dragon menembak beberapa musuh dengan senjata api mematikan tanpa suara.


Zeroun dan Lukas turun bersamaan. Mengokang senjata laras panjang yang ada di tangan mereka. Sebagian pasukan Gold Dragon memasang bahan peledak yang mereka bawa. Sebagian lagi, mengambil posisi untuk menembak jitu. Sisanya menyerang langsung pintu utama yang dipimpin oleh Zeroun dan Lukas.


Untuk mengalahkan pertahanan bagian depan terlihat sangat mudah. Setelah tiba di dalam, pasukan Gold Dragon di sambut dengan tembakan yang muncul dari berbagai arah. Lukas membalas tembakan musuh sambil melindungi Zeroun.


Dari kejauhan, Lana juga menembak beberapa musuh dengan cekatan. Tubuhnya yang ramping memudahkan dirinya untuk melindungi diri di balik meja berukuran kecil.


Lukas membawa pasukan Gold Dragon untuk menyerang gudang senjata milik musuh. Mereka berjalan menuju ke salah satu pintu yang ada di lantai bawah. Sedangkan sisanya menembak musuh yang berani menghalangi jalan Zeroun dan Lukas.


Pintu itu di dorong dengan begitu kasar. Puluhan tembakan, lagi-lagi menyambut kedatangan mereka di ruangan itu. Ada banyak orang yang berkumpul di dalam ruangan itu.


Zeroun mencari orang yang memimpin markas itu. Satu pintu mencurigakan ia masuki bersama dengan Lukas dan 5 orang Gold Dragon.


DUARR! DUARR!


Lagi-lagi terdengar suara tembakan dimana-mana. Bom dengan daya ledak kecil juga dilempar di hadapan Zeorun. Dengan cepat, Zeroun menghindar sebelum bom itu meledak.


Lukas menembak kaki pria berambut pirang. Pria itu tidak lagi bisa berlari. Semua musuh yang ada di ruangan itu telah tewas. Zeroun berjalan ke arah pria yang menjadi pimpinan geng mafia kecil itu.


Pria itu tertawa kecil menghina Zeroun. Walaupun kini ia tewas, tapi masih ada orang yang akan membalas perbuatan Zeroun malam itu. Pria itu terlihat tenang dan tidak ingin membuka suara.


Zeroun menarik senjata api itu, mengeluarkan beberapa lembar foto, melemparkan foto itu di hadapan musuhnya. Sepertinya rencana Zeroun berhasil. Pria itu terlihat ketakutan, saat melihat foto-foto orang yang ia kenal kini berada di dalam sanderaan Zeroun.


“Gold Dragon! Kalian bisa berkuasa di wilayah kalian. Tapi, ini Inggris. Ini wilayah kami. Kalian bisa masuk ke sini, tapi jangan pernah bermimpi untuk keluar dengan selamat.” Satu senyuman menutupi wajahnya yang terlihat panik.


“Bunuh semua orang yang ada difoto itu. Kirimkan tubuhnya ke sini secepatnya.” Zeroun memberi perintah kepada salah satu Gold Dragon.


“Jangan, jangan lakukan itu. Maafkan Aku.” Pria itu menunduk bingung.


“Katakan,” ucap Lukas sambil berjongkok dan menjambak rambut pria itu.


“Siapa yang mengirim kalian untuk membakar kapal kami,” sambung Lukas dengan tatapan membunuhnya.


“Kami juga tidak tahu, siapa big bos kami. Kami hanya bekerja di bawah perintah suara. Kami diberi perintah untuk membunuh Putri Emelie dan membunuh siapa saja yang berani menghalangi kami.” Pria itu terlihat ketakutan.


Lukas membanting kepala pria itu di dinding yang ada di belakangnya.


“Apa kau pikir aku percaya? He?” Lukas menaikan satu alisnya.


“Kau boleh membunuhku dan menghancurkan markasku saat ini. Tapi, Aku memang tidak mengenal big bos yang kalian cari.” Darah mengalir deras, kesadaran pria itu hampir hilang. Rasa sakit yang luar biasa kini menyerang tubuhnya.


“Dimana kami bisa menemukannya?” Lukas bertanya untuk yang terakhir kalinya sebelum membunuh pria itu tanpa ampun.


“Satu minggu lagi, dia akan hadir di kota ini. Hotel Golden, kalian bisa menemuinya di sana. Dia akan ada di Hotel itu.”


Lukas menusuk pria itu dengan belati. Membuat pria itu membuka lebar matanya untuk menahan rasa sakit.


Zeroun memalingkan wajahnya sebelum pergi dari tempat itu. Memperhatikan tumpukan obat-obat terlarang yang ada di ruangan itu.


“Pria yang tidak berguna,” umpat Lukas dengan wajah kesal.


Lana muncul dari balik pintu dengan napas tidak teratur, “Bos, semua sudah siap.”


Zeroun mengangguk lalu berjalan pergi. Lukas dan pasukan Gold Dragon lainnya mengikuti langkah Zeroun dari belakang. Setelah semua tiba di halaman depan, Zeroun menatap gedung itu dengan penuh kebencian.


“Sekarang,” ucap Zeroun memberi perintah.


Lukas menekan alat pacu peledak yang ada di tangannya. Membuat semua Bom yang mereka susun meledak secara bersamaan. Gedung itu kini dipenuhi kobaran api yang menyala-nyala.


Misi mereka kali ini berhasil. Zeroun dan pasukan Gold Dragon pergi meninggalkan gedung itu tanpa jejak. Memikirkan strategi selanjutnya untuk melawan musuh yang sudah hampir diketahui identitasnya itu.


Like jangan lupa😊