Moving On

Moving On
Pria Menyebalkan



Zeroun membawa Emelie ke ruangan penyimpanan senjata. Pria itu berdiri di depan rak sambil memandang kumpulan senjata api miliknya. Dari posisi yang tidak terlalu jauh, Emelie juga memandang kagum pada senjata-senjata api itu. Dengan hati-hati ia menyentuh senjata itu sebelum menarik tangannya lagi. Ada senyum puas di bibir wanita itu saat jarinya berhasil merasakan senjata yang biasa di gunakan kekasihnya.


Zeroun duduk di kursi hitam besar dengan satu pistol di tangannya. Pistol revolver dengan warna hitam keemasan menjadi pilihan Zeroun saat itu. Pistol itu adalah barang baru yang baru saja tiba dan secara khusus ia pesan. Senjata api itu dilengkapi dengan lensa bidik yang membuat tembakannya lebih tepat sasaran. Di tambah lagi, kecepatan pelurunya lebih unggul jika dibandingkan pistol milik Zeroun sebelumnya.


Emelie memandang pistol yang di pegang kekasihnya tanpa berkedip. Wanita itu sangat ingin menggunakan senjata api itu. Tetapi, ia tidak bisa menggunakannya. Selama ini, ia hanya pintar dalam memanah dan berkuda. Sedangkan panah dan kuda, kini tidak ada di sekitarnya. Hal itu membuat Emelie tidak bisa memamerkan bakat yang ia miliki.


“Sayang, kemarilah.” Zeroun mengacungkan jarinya agar kekasihnya mau mendekatinya. Putri kerajaan itu tersenyum indah sebelum mendekati kekasihnya. Ia berdiri tepat di depan hadapan Zeroun dengan kedua bola mata yang tidak lagi berkedip. Semakin lama, ia semakin tertarik dengan senjata api itu.


“Kemari ....” ucap Zeroun sambil menarik tangan Emelie. Wanita itu duduk di atas pangkuannya dengan wajah merah merona.


“Sayang, apa Aku boleh memegang pistol ini?” Emelie menatap wajah kekasihnya yang kini sangat dekat dengan kepalanya.


“Boleh, sini biar Aku ajari cara memegangnya,” jawab Zeroun sambil menarik kedua tangan Emelie.


“Di sini pelatuk yang harus kau tekan. Peluru di dalamnya akan keluar dan membunuh lawanmu,” sambung Zeroun dengan senyum kecilnya.


“Ajari Aku menembak,” ucap Emelie dengan wajah bersemangat.


“Aku tidak ingin Kau menembak,” sambung Zeroun cepat. Pria itu meraih pistol yang ada di genggaman Emelie dan meletakkannya kembali di atas meja.


“Aku juga ingin menembak seperti Lana,” rengek Emelie dengan wajah memelas.


“Sayang, semua permintaanmu akan Aku turuni kecuali belajar menembak.” Zeroun melingkarkan kedua tangannya di perut Emelie. Melakkan dagunya di bahu kanan sang kekasih dengan mesra.


“Menembak bukan satu kewajiban untukmu. Aku tidak ingin tangan suci yang lembut ini dipenuhi dengan lumuran darah. Aku ingin Kau tetap menjadi wanita seperti ini.”


Ada wajah khawatir dan takut di dalam pikirannya. Zeroun tidak ingin memiliki kekasih seorang wanita jagoan. Bagaimanapun juga setiap orang yang menembak pasti akan selalu tertembak. Pria itu tidak ingin wanita yang ia cintai terluka.


“Sayang, Aku ingin melihat keadaan Lana.” Emelie terlihat tidak suka dengan penolakan Zeroun. Wanita itu beranjak dari pangkuan kekasihnya sebelum berlalu pergi meninggalkan Zeroun sendiri di ruangan itu.


Zeroun menatap punggung Emelie dengan hembusan napas yang cukup kasar. Pria itu lebih suka melihat wajah kekasih yang cemberut seperti sekarang, daripada harus berwajah manis untuk merayunya agar bisa menembak.


“Maafkan Aku Emelie, Aku tidak bisa membiarkanmu jatuh cinta pada senjata ini.” Zeroun memandang pistol yang tergeletak di atas meja.


Emelie berjalan manaiki tangga dengan langkah gusar. Membanting pintu ruangan itu dengan begitu kasar. Terdengar jelas suara benturan sebelum Emelie hilang di balik pintu. Putri kerajaan itu terlihat begitu tidak bersahabat.


“Pria ini juga tidak jauh berbeda dengan yang ada di dalam,” ucap Emelie pelan sebelum melipat tangannya di depan dada.


“Selamat sore, Nona.” Lukas membungkuk hormat saat berhadapan langsung dengan Emelie.


“Apa Lana sudah bangun?” Menaikan satu alis.


“Belum, Nona. Dokter baru saja memeriksa keadaanya dan sekarang ia masih istirahat di kamar.” Lukas memandang ke arah pintu penyimpanan senjata.


“Saya permisi dulu, Nona.” Lukas berlalu pergi dengan langkah cepat. Pria itu tidak ingin terlalu lama berhadapan dengan Putri Kerajaan itu. Akan ada banyak pertanyaan yang sulit untuk ia jawab nantinya. Di tambah lagi, tadi Emelie melihat jelas kalau dirinya terkurung bersama dengan Lana di ruang pendingin itu. Bahkan dengan posisi yang bisa di bilang cukup mesra.


Emelie menghembuskan napas dengan begitu kasar, “Kenapa semua orang sangat menyebalkan hari ini. Tadi pagi Aku bertemu dengan Jesica, sekarang di rumah harus berhadapan dengan pria-pria menyebalkan seperti mereka.” Emelie melanjutkan langkah kakinya untuk melihat keadaan Lana saat ini.


***


Zeroun masih terlihat melamun sambil memikirkan strategi yang bagus untuk penyerangan gudang senjata pemerintahan itu. Chip sudah berada di tangan Jesica, sudah bisa dipastikan kalau dalam waktu dekat Heels Devils pasti akan segera menyerang gudang senjata itu. Bos mafia itu tidak ingin membiarkan musuhnya berhasil dalam misinya saat ini. Bagaimanapun caranya, ia ingin mengagalkan rencana besar yang sudah di susun rapi oleh Jesica.


Suara pintu terbuka dengan begitu pelan. Lukas muncul dengan ekspresi dinginnya. Pria itu menunduk hormat saat berada di hadapan Zeroun Zein.


“Selamat Sore, Bos.” Masih menunduk tanpa berani memandang wajah sang majikan. Bagaimanapun juga, kesalahannya hari ini sudah membuang banyak waktu berharga miliknya. Seharusnya sejak tadi ia sudah berangkat untuk menyusun strategi nanti malam.


“Pergilah, selesaikan semuanya. Pastikan Agen wanita itu masuk dalam jebakan kita.” Zeroun mengibaskan tangannya tanpa mau memandang wajah Lukas. Bahkan ia tidak terlalu tertarik untuk menanyakan alasan Lukas kenapa dia bisa terjebak di dalam ruangan itu.


“Baik, Bos.” Lukas memandang wajah Zeroun sebelum memutar tubuhnya. Pria itu mengambil beberapa senjata api yang tersimpan rapi di dalam lemari sebelum pergi meninggalkan ruangan berbahaya itu.


Zeroun menopang dagunya dengan wajah tidak bersemangat, “Selalu saja ada polisi yang menghalangi.” Sejak dulu, aksi berbahayanya tidak pernah berkaitan dengan polisi. Polisi di setiap kota tempatnya tinggal selalu saja dengan mudah di ajak bekerja sama.


Tetapi sejak bertemu dengan Emelie, semua tidak lagi mudah seperti dulu. Kini bukan hanya mafia yang harus ia hadapi. Tetapi aparat negara yang berambisi untuk memasukkan tubuhnya ke dalam jeurji besi juga harus ia hadapi secara terang-terangan.


Setelah menyelidiki semua tentang Agen wanita itu membuat Zeroun tidak lagi bisa memandang rendah polisi wanita itu. Bisa di bilang, kalau Agen Mia adalah malaikat pencabut nyawa yang sengaja dikirim pihak Negara besar itu untuk menangkap para penjahat yangmembuat masalah di negaranya.


“Agen Mia, kita akan bertemu nanti malam. Bukankah Kau selalu mencariku selama ini?” Ada senyum tipis di sudut bibir Zeroun Zein.