
Pagi yang cerah. Semua orang yang ada di rumah Zeroun sudah bersiap-siap untuk melakukan penerbangan menuju ke Inggris. Emelie terlihat cantik dengan gaun merah muda yang panjang hingga menutupi mata kakinya. Sedangkan Shabira lebih memilih gaun putih yang jauh lebih pendek dari Emelie.
“Sayang, pagi ini kau terlihat sangat cantik,” puji Kenzo. Lelaki itu memang selalu saja memasang wajah romantis yang bisa membuat Shabira melayang karena bahagia.
Emelie mengukir senyuman saat melihat keharmonisan adik iparnya. Tiba-tiba saja Zeroun mengecup pipinya dengan satu senyuman indah.
“Kau juga sangat cantik pagi ini, Baby,” bisik Zeroun dengan begitu mesra hingga membuat Emelie tersipu malu. Wanita itu menyelipkan rambutnya di balik telinga.
Zeroun membawa tubuh Emelie menuju ke depan. Di sana sudah ada dua mobil yang berbaris rapi. Kenzo akan mengambil alih kemudi saat itu. Sedangkan Shabira, lebih dulu menarik tangan Emelie agar duduk di bangku belakang bersama dengannya.
Zeroun memandang wajah Lukas yang masih berdiri di sampingnya, “Apa semua sudah di atur?”
“Sudah, Bos. Tidak akan ada yang tahu kalau pagi ini anda berangkat ke Inggris. Termasuk pihak kerajaan,” jawab Lukas sebelum menarik pintu mobil untuk memberi jalan kepada Zeroun.
“Aku tidak ingin ada masalah hingga kami tiba di Istana,” sambung Zeroun cepat sebelum masuk ke dalam mobil.
Lukas menutup pintu mobil sebelum berjalan menuju ke mobil yang ada di belakang mobil Zeroun. Dua mobil itu berjalan beriringan menuju ke arah bandara. Pesawat akan segera berangkat. Sesuai dengan perhitungan waktu yang di hitung Lukas. Pesawat itu akan berangkat saat rombongan Zeroun tiba di lokasi.
Shabira menjatuhkan kepalanya di pundak Emelie. Wanita tangguh itu memang sangat suka bermanja-manja dengan Emelie. Sesekali ia mengukir senyuman dan menatap wajah Emelie.
“Kak, Kakak sangat beruntung bisa berada di dalam kerajaan dan menjadi seorang Putri.” Shabira melepas genggamannya sambil menatap wajah Emelie.
“Tidak seindah yang kau bayangkan. Aku memiliki semua benda yang orang lain tidak punya. Semua orang memandangku dengan sosok yang cukup sempurna. Tapi, sebenarnya hidup di kerajaan itu cukup sulit. Kau harus mematuhi setiap aturan yang ada. Bahkan cara meminum saja jika tidak benar kau akan mendapat hukuman,” jawab Emelie dengan senyum penuh arti.
“Sungguh menyeramkan,” jawab Shabira, “Aku tidak mau menjadi Putri Raja. Aku ingin seperti ini saja kalau begitu.”
“Sayang, kau memang tidak di takdirkan menjadi Putri Raja. Kau di takdirkan untuk menjadi sosok malaikat di dalam hatiku.” Kenzo melirik wajah Shabira melalui kaca spion. Lelaki itu mengukir senyuman yang cukup indah saat berhasil menggoda istrinya.
“Kau pria yang sangat ahli dalam merayu, Kenzo.” Zeroun menepuk pundak Kenzo dengan bibir tersenyum, “Sepertinya aku harus banyak belajar darimu.”
“Baby, kau juga sudah cukup manis,” ledek Kenzo sebelum melayangkan satu tawa yang cukup riang.
Emelie dan Shabira juga tertawa saat mendengar perkataan Kenzo. Lelaki itu memang cukup sering meledek Zeroun dengan sebutan Baby, “Aku sudah tidak sabar melihat ekspresi Daniel saat mendengar cerita ini.”
“Kenzo, aku akan menghajarmu jika kau berani menceritakan semua ini kepada Ceo makanan ringan itu,” protes Zeroun dengan wajah cukup serius.
“Baby, apa kau malu saat memanggilku dengan sebutan itu?” timpal Emelie yang juga berniat untuk meledek kekasihnya.
Kenzo tertawa riang hingga suaranya memenuhi seisi mobil, “Lengkap sudah. Seharusnya kau menjadi keturunan keluarga Chen saja Zeroun.”
“Keluarga Chen?” celetuk Emelie dan Zeroun bersamaan.
“Ya. Keluarga Chen memiliki satu tradisi yang tidak bisa di hilangkan hingga sekarang,” jawab Kenzo yang sudah cukup sulit menahan tawanya yang akan segera pecah.
Shabira menutup mulutnya sambil menahan tawa. Wanita itu sudah cukup tahu dengan kalimat selanjutnya yang akan di katakan oleh Kenzo.
“Putri, apa kau ingin tahu tradisi apa yang ada di dalam keluarga Chen?” ucap Kenzo dengan penuh senyuman.
“Tradisi apa?” ucap Emelie dengan wajah yang cukup penasaran.
“Suami takut istri!” ucap Kenzo dengan wajah riangnya.
Zeroun membuang tatapannya keluar jendela. Cukup sulit menghadapi sikap Kenzo yang sekarang. Di tambah lagi lelaki itu sekarang sudah resmi menjadi adik iparnya. Setiap hukuman yang akan ia berikan sudah pasti mendapat perlindungan khusus dari Shabira.
“Tapi kau Bos Mafia. Aku rasa itu akan menjadi berita heboh dan paling di nanti sama semua orang. Saat Bos Mafia tunduk dan takut di depan istrinya.” Kenzo terus menanmbah ledekan-ledekan yang terus saja memojokkan Zeroun.
Shabira dan Emelie saling memandang sebelum melepas satu tawa. Bagi Zeroun hari ini adalah hari terburuk yang pernah ia alami karena mendapat perlakuan seperti itu dari orang terdekatnya.
“Terserah kau saja,” jawab Zeroun dengan wajah yang tidak lagi bersahabat.
“Kau cukup berhasil mengancam bawahanmu dengan wajah menakutkanmu itu, Zeroun. Tapi, kau tidak akan bisa mengancamku lagi dengan ekspresi wajah seperti itu. Kau bahkan sekarang terlihat jauh lebih manis dari pada Daniel.” Kenzo tidak ada cukupnya meledek Zeroun dengan satu tawa.
“Sayang, aku yang akan menghukummu jika kau terus meledek Kak Zeroun.” ucap Shabira dari belakang.
Zeroun menahan tawa. Sudah terbukti jelas di depan matanya bagaimana takutnya Kenzo dengan Shabira. Seperti apa yang sebelumnya ia katakan, kalau dirinya adalah suami yang takut dengan istri.
Zeroun memperhatikan kota Hongkong yang kini ia lewati dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak tahu kapan lagi akan berada di kota itu. Hidup selanjutnya akan banyak ia habiskan di Inggris. Di kota tempat sang kekasih tinggal dalam waktu yang cukup lama.
Malam ini satu dulu ya. Besok malam baru dua lagi. Terima kasih atas pengertiannya...🙏
Buat Reader yang ingin gabung sama grup chat tapi belum di konfir. Bisa tetap masuk dengan memberikan alasan tentang review novel ini dan pastinya tinggalkan jejak komentar.