
Lana terbangun dengan napas terputus-putus. Ia baru saja mengalami mimpi buruk saat itu. Wajahnya terlihat ketakutan dengan keringat yang berkucur deras. Bajunya basah walaupun kini ia ada di ruangan ber AC. Lana menatap wajah Lukas dengan seksama. Pria itu duduk di sofa dengan mata terpejam. Tidak mengenakan baju hingga membuat perban bekas luka tembak tadi malam terlihat begitu jelas.
Lana termenung beberapa detik untuk mengingat semua yang terjadi. Wanita itu kembali ingat dengan Morgan sebelum ia memejamkan mata, “Apa aku hanya bermimpi tadi malam?” ucap Lana dengan wajah bingung, “Jika memang benar tadi malam aku bertemu dengan Morgan, seharusnya sekarang aku bersamanya. Lalu kenapa aku bisa ada di rumah ini bersama Lukas?”
Lana memandang cahaya terang di luar jendela. Wanita itu menurunkan kakinya satu persatu sebelum berjalan mendekati Lukas. Langkahnya terhenti saat melihat pakaiannya telah terganti.
“Siapa yang mengganti pakaianku?” ucap Lana bingung. Dari kemeja yang kini ia kenakan, ia sudah tahu kalau kemeja putih itu milik Lukas. Tanpa mau mempermasalahkan penampilan, Lana melanjutkan langkah kakinya.
Perban putih dengan darah merah yang terlihat jelas di lengan Lukas menjadi pusat perhatiannya. Terakhir kali berpisah dengan kekasihnya keadaan pria itu masih baik-baik saja. Luka itu memang membuat tanda tanya di dalam hati Lana.
Lana duduk di samping Lukas sambil menatap wajah Lukas dengan seksama. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat wajah lelah pria tangguh yang ia cintai. Satu jemarinya mengusap lembut rambut Lukas. Secara perlahan ia mendekatkan bibirnya kepada pria yang ia cintai itu dengan senyum berseri. Pagi itu ia ingin membangunkan Lukas dengan cara menciumnya.
“Apa kau baik-baik saja?” ucap Lukas pelan.
Lana menghentikan gerakannya kepalanya. Alisnya saling bertaut saat gagal mencium kekasihnya pagi itu, “Kau sudah bangun tapi pura-pura tidur?” ucap Lana kesal.
Lukas menghela napas lalu mengatur posisi duduknya. Sorot matanya memandang wajah Lana dengan seksama, “Apa kau tidak ingin mengatakan sesuatu?” ucap Lukas penuh selidik. Pria itu ingin tahu, apa yang terjadi sebelum Morgan membawa Lana.
“Tidak ada,” jawab Lana dengan nada pelan. Lana melamun untuk kembali mengingat pertemuannya dengan Morgan, “Aku menembak Morgan di dalam mimpiku. Kenapa lenganmu yang berdarah. Aku juga menembak bagian kanan.” Lana memegang lengan Lukas yang terkena luka tembakan.
“Kenapa kau bisa menembaknya?” tanya Lukas lagi. Pria itu belum puas dengan jawaban kekasihnya.
“Aku sudah berjanji kepadamu kalau akan menembaknya jika bertemu dengannya. Lalu di dalam mimpi aku bertemu dengannya. Jadi, aku tembak.” Lana tersenyum menyeringai. Tubuhnya terasa sangat lelah hingga ia berpikiran kalau pertemuannya dengan Morgan hanya sebuah mimpi.
“Kau memimpikannya?” ucap Lukas sambil mendekatkan wajahnya dengan Lana.
Lana menatap wajah Lukas dengan seksama, “Aku tidak merencanakannya. Jika aku bisa memesan mimpi yang akan aku alami maka aku akan meminta untuk memimpikanmu setiap malam.”
Lukas menyentil dahi Lana dengan jari. Pria itu tidak habis pikir dengan sikap bodoh dan lugu kekasihnya tersebut, “Terkadang kau terlihat seperti wanita yang sangat cerdas dan jenius. Tapi, pagi ini aku melihatmu seperti wanita bodoh yang cukup konyol.”
“Apa yang kau lakukan!” protes Lana sambil memegang dahinya yang memerah dan terasa sakit.
“Kau memang bertemu dengannya. Semua itu bukan mimpi. Aku bahkan mempertaruhkan nyawaku untuk merebutmu darinya.” Lukas membuang tatapannya ke arah lain. Wajahnya terlihat kesal saat mendengar jawaban-jawaban yang di ucapkan Lana. Tidak ada satu jawabanpun yang memuaskannya.
Lana segera memeluk Lukas dengan wajah merasa bersalah. Wanita itu memejamkan matanya, “Maafkan aku.”
“Jika aku memintamu untuk membunuhnya, apa kau mau melakukannya?” Lukas masih penasaran dengan isi hati dan jalan pikiran Lana. Ia takut kecewa dan mendapatkan pengkhianatan dari wanita itu. Walau memang di dalam hati kecilnya ia sudah percaya 100 persen pada Lana.
“Tentu saja,” jawab Lana dengan suara pelan.
“Lalu, bagaimana lagi cara menjawabnya. Kau terus saja memojokkanku karena aku memiliki hubungan dengan musuh lamamu,” ujar Lana sambil melepas pelukannya.
“Kau masih mencintainya?” tanya Lukas tanpa peduli dengan wajah Lana yang memang sudah berubah kesal.
“Jika aku masih mencintainya. Aku sudah meracunimu sejak semalam agar kau mati dan aku bisa kembali dengannya,” jawab Lana dengan wajah memerah karena menahan amarah. Bahkan napas wanita itu terlihat dengan jelas kalau kini berubah sesak.
“Kau berniat meracuniku?” tanya Lukas dengan alis terangkat.
“Kau memang menyebalkan, Lukas!” teriak Lana dengan emosi yang tidak terkendali. Wanita itu beranjak dari posisi duduknya untuk meninggalkan Lukas di tempat tersebut.
Dengan gerakan cepat Lukas menarik tangan Lana. Memeluk Lana lalu mengangkat tangannya secara perlahan. Pria itu mengusap lembut punggung kekasihnya, “Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi.”
“Kau memang pria kutub yang cukup menyebalkan. Bukankah Morgan kehilangan matanya saat itu. Apa benar kau yang melakukannya?” tanya Lana dengan penuh hati-hati.
“Ya,” jawab Lukas dengan senyuman bahagia. Setidaknya ia pernah menyiksa lawannya hingga separah itu.
“Sekarang ia sudah bisa melihat lagi. Aku cukup yakin, ia akan membalaskan dendamnya kepadamu,” ucap Lana sambil memegang pipi Lukas, “Aku sangat mengkhawatirkanmu.”
Lukas memegang tangan Lana dengan bibir tersenyum, “Aku akan menang melawannya. Sejak dulu hingga sekarang. Pria itu tidak akan pernah bisa menang melawanku,” jawab Lukas penuh percaya diri.
Lana menunduk dengan wajah bingung, “Ada hal penting yang ingin aku katakan kepadamu sejak kemarin.”
Lukas menatap Lana sebelum menyentuh dagu wanita itu. Secara perlahan ia menarik dagu Lana agar bisa dengan jelas menatap wajah wanita itu, “Katakan.”
“Aku tidak pernah memiliki niat untuk mencelakaimu selama ini. Aku tidak pernah bekerja sama dengan Morgan untuk menjebakmu. Aku memang pernah memiliki hubungan dengannya, tapi itu bukan berarti selamanya aku akan bersama dengannya. Sejak ia pergi aku sudah memutuskan hubungan di antara kami. Hanya saja ....” Lana menahan kalimatnya. Ada keraguan di wajahnya saat ingin mengungkapkan isi hatinya saat itu.
“Lana, aku percaya padamu sejak awal. Kau di pilih oleh Bos Zeroun langsung. Bos Zeroun tidak pernah keliru memilih orang. Jika tidak percaya padamu, aku mungkin sudah menembakmu saat di Monako.” Lukas menatap wajah Lana dengan seksama. Sorot matanya di penuhi dengan hati yang tulus kalau ia benar-benar cinta dengan Lana.
“Bukan hanya itu. Lukas, kau pria yang cukup setia dan tidak sembarangan mendekati wanita. Berbeda denganku. Kau bukan pria pertamaku lagi, Lukas. Seseorang telah merenggutnya lebih dulu.” Hati Lana terasa hancur saat mengucapkan derita yang pernah ia alami. Detik itu juga ia sudah siap untuk menerima keputusan yang akan di ambil Lukas.
“Morgan?” celetuk Lukas dengan wajah tidak suka.
“Bukan. Aku bahkan tidak tahu siapa. Satu-satunya petunjuk yang aku punya adalah sebuah mainan kunci. Sepertinya pria itu meninggalkannya setelah ia selesai menodaiku.” Lana mengukir senyuman pahit. Wanita itu kembali membayangkan masa-masa terpuruknya dulu saat pertama kali kehilangan hal yang selama ini ia jaga, “Aku tidak bisa menemukannya. Pria itu hilang tanpa jejak. Sepertinya kami sama-sama mabuk malam itu. Aku di jebak oleh temanku hingga tidak bisa mencegahnya sejak awal.”
Lukas memandang wajah Lana dengan seksama. Cerita Lana kembali mengingatkannya dengan kejadian masa lalu yang pernah ia alami, “Granada.”