
Malam hari, Bandar Udara.
Emelie dan Shabira berpelukan. Dua wanita itu mengukir senyuman indah dengan mata berkaca-kaca. Pertemuan singkat yang cukup berkesan. Shabira tidak lagi penasaran dengan keberadaan sahabat terbaiknya. Wanita itu juga sudah mengikhlaskan kepergian Mia.
“Zetta, kau harus menjaga kandunganmu.” Emelie mengusap lembut perut Shabira.
“Ya, Kak. Terima kasih,” ucap Shabira dengan senyuman. Wanita itu berjalan ke belakang untuk merangkul lengan Kenzo, “Aku harap tidak ada masalah lagi kedepannya.”
“Itu cukup mustahil. Baby Zeroun cukup nakal di masa kejayaannya, Sayang,” sambung Kenzo untuk meledek Zeroun.
Zeroun menghela napas sebelum menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya, “Kau akan menjadi seorang ayah. Aku tidak akan memberimu pelajaran untuk hari ini,” ucap zeroun dengan sorot mata yang mengancam. Hingga membuat semua orang tertawa kecil saat mendengar kalimat yang baru saja ia ucapkan.
“Kami harus segera berangkat. Sayang sekali tujuan kita tidak searah hingga kita tidak bisa berada di dalam pesawat yang sama,” ucap Kenzo sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.
Shabira melepas tangan Kenzo dari tubuhnya. Wanita itu ingin memeluk Zeroun sebelum berpisah, “Aku akan sangat merindukan Kakak.”
“Aku juga akan sangat merindukanmu,” ucap Zeroun sambil mengusap lembut punggung Shabira.
Setelah puas memeluk Zeroun, Shabira dan Kenzo berjalan pergi meninggalkan Zeroun dan yang lainnya. Pesawat Zeroun akan berangkat setengah jam lagi. Mereka masih memiliki waktu beberapa menit untuk mengobrol ringan bersama Lana dan Lukas.
Emelie memandang wajah Lukas dan Lana secara bergantian. Wanita itu tahu, kalau sepasang kekasih itu sedang tidak berbaikan, “Kalian boleh pergi. Kami juga akan segera berangkat,” ucap Emelie kepada Lana dan Lukas.
Zeroun memandang wajah Lukas sekilas sebelum memandang wajah Emelie, “Sayang, apa ada hal lain yang kau inginkan?”
“Tidak ada,” jawab Emelie dengan bibir tersenyum penuh arti.
Zeroun mengangguk pelan. Pria itu menatap wajah Lana dan Lukas, “Kalian boleh pergi. Berhati-hatilah.”
“Baik, Bos,” ucap Lana dan Lukas secara bersamaan. Sepasang kekasih itu memutar tubuh mereka lalu berjalan pergi meninggalkan Emelie dan Zeroun di sana.
Emelie melipat kedua tangannya di depan dada, “Mereka sedang marahan,” ucap Emelie sambil berpikir.
“Ya. Sepertinya begitu,” jawab Zeroun.
“Sayang, aku punya ide untuk membuat mereka berbaikan,” ucap Emelie dengan senyuman penuh arti.
Zeroun menyipitkan kedua matanya. Menatap wajah Emelie dengan tatapan penuh selidik, “Apa yang kau rencanakan kali ini, Baby?”
***
Lukas melirik wajah Lana sekilas sebelum memandang ke arah depan. Pria itu tahu kalau kekasihnya masih marah atas kejadian tadi siang. Sejak tadi siang, Lana belum mau mengeluarkan kata. Wanita itu lebih banyak diam dan tidak mau memandang wajah Lukas.
Lana dan Lukas berjalan beriringan. Namun, tiba-tiba saja Lana melangkah lebih cepat hingga wanita itu berada di depan Lukas. Mereka melewati segerombolan wanita seksi di sana. Gerombolan wanita itu terlihat kagum dengan pesona Lukas. Mereka bahkan memasang wajah genit untuk mencari perhatian Lukas.
Lana yang saat itu berada di depan Lukas menghentikan langkah kakinya. Wanita itu memutar tubuhnya untuk melihat arah pandang wanita-wanita seksi yang berada di hadapannya. Lana tampak cemburu atas apa yang ia lihat. Wanita itu memasang wajah cemberut karena tidak tahu harus berbuat apa.
Ingin sekali detik itu juga Lana merangkul lengan Lukas dan memamerkan pada semua orang kalau pria tangguh itu kekasihnya. Tapi, ia masih dalam keadaan marah. Lana tidak ingin dekat-dekat dengan Lukas dulu sebelum pria itu merayunya.
Lukas menaikan satu alisnya saat melihat beberapa wanita memanggilnya tampan. Pria itu tidak terlalu peduli. Ia berjalan dengan santai ke arah depan untuk mengikuti jejak kaki Lana dari belakang. Walaupun malam itu Lukas telah memasang tatapan yang membunuh, tapi tetap saja tidak membuat wanita-wanita itu takut.
Tiba-tiba saja seorang wanita mengenakan rok mini dan pakaian yang cukup pendek berjalan mendekati Lukas. Wanita itu menghadang jalan Lukas dengan gerakan menggoda.
“Hai, tampan,” ucap wanita itu dengan rayuan. Bibirnya yang merah tersenyum. Namun, dalam hitungan detik, senyumnya hilang. Bukan hanya wanita yang ada di hadapan Lukas saja. Beberapa rekan wanita penggoda itu juga terlihat ketakutan. Mereka segera memutar tubuh mereka untuk menjauh dari Lukas.
Lukas mengeryitkan dahinya. Pria itu belum melakukan apa-apa. Ia sempat bingung atas perubahan reaksi wanita-wanita seksi itu. Ia kembali ingat dengan Lana. Pria itu memutar tubuhnya untuk melihat keberadaan Lana saat ini.
Lana berdiri dengan sebuah pistol di tangannya. Wanita itu benar-benar cemburu hingga mengancam wanita-wanita yang mendekati kekasihnya dengan senjata api. Melihat kelakuan Lana malam itu membuat Lukas secara spontan tertawa. Pria itu tidak lagi tahu harus berbicara apa. Kekasihnya sungguh lucu dan menggemaskan.
“Sayang, kau cemburu?” ucap Lukas dengan tawa kecil.
“Kalau iya. Kenapa?” ucap Lana dengan nada jutek.
Lukas berjalan pelan mendekati Lana. Pria itu memandang wajah Lana dengan seksama, “Aku membeli sebuah benda yang aku sendiri tidak tahu, apa kau menyukainya atau tidak.” Pria itu mengeluarkan dua buah gelang dari dalam jasnya. Ia memamerkan benda itu di hadapan Lana.
“Apa itu?” ucap Lana sambil merebut paksa gelang yang ada di genggaman Lukas. Lana memperhatikan gelang itu dengan seksama. Tidak ada yang spesial dari benda itu selain dua buah gelang dengan bentuk yang sama namun ukuran yang berbeda. Namun, saat sebuah besi berwarna hitam yang ada di gelang itu bersentuhan, benda itu menyatu.
“Aku harap itu bisa mengganti baju coupelmu tadi siang,” ucap Lukas sambil memperhatikan kedua gelang tersebut.
“Ini gelang coupel. Lihatlah. Gelang ini menyatu saat berdekatan,” ucap Lana kegirangan. Ia tidak lagi ingat dengan rasa kesalnya yang tadi. Wanita itu segera memakai gelang yang satu di tangannya sebelum memakaikan yang satunya lagi di tangan Lukas. Wajahnya terlihat berseri. Hadiah Lukas malam itu telah berhasil membuat Lana bahagia.
Lana menggenggam tangan Lukas. Secara otomatis, benda berbentuk bulat itu menyatu. Lana melepasnya dan melekatkannya lagi. Ia terlihat asyik dengan gelang itu, “Ini cukup menarik.”
Lukas mengukir senyuman melihat tingkah laku Lana, “Maafkan aku. Aku akan berusaha untuk memahamimu agar aku tahu. Bagaimana cara membuatmu bahagia.”
“Ayo, kita harus segera kembali ke markas,” ucap Lukas sambil menggandeng pinggang Lana. Pria itu merasa bahagia karena berhasil membujuk kekasihnya agar tidak marah lagi.
“Aku ingin segera tidur,” ucap Lana sambil menyandarkan kepalanya di tubuh Lukas.
Lukas mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana sebelum memandang ke depan, “Terima kasih, Bos,” gumamnya di dalam hati.
Beberapa jam sebelum tiba di bandara.
Lukas duduk dengan sebuah pistol di tangannya. Pria itu terlihat serius dengan senjata api yang baru saja ia beli. Beberapa peluru terlihat berbaris rapi di atas meja. Zeroun muncul dan duduk di hadapan Lukas. Pria itu melempar dua buah gelang di atas meja.
“Aku tidak ingin cari masalah lagi dengan wanita,” ucap Zeroun dengan wajah kesal.
Lukas memperhatikan gelang itu sekilas sebelum memandang wajah Zeroun, “Apa ini, Bos?”
“Benda itu adalah gelang coupel. Aku tidak mengerti, kenapa wanita menyukai benda-benda aneh seperti itu. Mereka cukup pantas memakainya. Tapi, bagaimana dengan kita,” ucap Zeroun dengan nada kesal.
Lukas masih tidak nyambung dengan arah pembicaraan Zeroun. Pria itu meraih benda yang ada di atas meja, “Gelang ini.... ” ucapan Lukas tertahan.
“Ya. Itu gelang coupel,” jawab Zeroun cepat, “Bukan hanya itu. Ada juga kalung coupel, cincin coupel.” Zeroun menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya.
“Bos, anda juga memakai benda seperti ini?” tanya Lukas ragu-ragu.
“Awalnya Emelie memaksaku untuk mengenakannya. Tapi, setelah aku mengatakan padanya, kalau kau dan Lana yang lebih pantas. Ia menyetujuinya. Kami sudah memiliki cincin pernikahan. Jadi, benda seperti itu tidak lagi penting,” jawab Zeroun masih dengan mata terpejam.
Lukas memperhatikan gelang itu dengan seksama, “Semoga saja Lana tidak marah lagi jika aku memberikan gelang ini kepadanya. Lagian, benda ini tidak terlihat buruk jika dibandingkan baju tadi,” gumam Lukas di dalam hati dengan bibir tersenyum.
***
Lukas membuka pintu mobil. Pria itu memandang wajah beberapa pasukan Gold Dragon sebelum menutup kembali pintu mobil. Ia berjalan pelan mengitari mobil dan masuk ke dalam bangku kemudi.
“Lukas, dimana Inspektur Tao? Apa dia tidak ikut dengan pesawat Bos Zeroun?” ucap Lana saat Lukas telah duduk di sampingnya.
“Inspektur Tao sudah berangkat sejak tadi. Ia tidak mau ikut dengan Bos Zeroun,” jawab Lukas sebelum melajukan mobilnya.
Lana mengangguk pelan sebelum bersandar dengan posisi yang nyaman. Wanita itu memandang keluar jendela. Ia mengukir senyuman sambil memandang keindahan lampu-lampu pada malam hari.
“Malam yang indah dan cerah,” gumam Lana di dalam hati.
Sebuah mobil berwarna hitam berada di samping mobil Lukas. Lana memperhatikan mobil itu dengan seksama. Debaran jantungnya tidak karuan saat melihat kaca mobil itu terbuka secara perlahan. Hingga dalam hitungan detik, Lana terlihat kaget.
“Morgan?” celetuk Lana.
Lukas memiringkan kepalanya. Pria itu menggertakkan giginya saat melihat Morgan berada di samping mobilnya. Kedua tangannya mencengkram kuat stir mobilnya. Lukas mulai mengatur kecepatan mobilnya agar bisa mengimbangi laju mobil Morgan malam itu.
Lana membuang tatapannya. Ia tidak ingin terlalu lama memandang wajah Morgan. Wanita itu lebih memilih menunduk daripada harus melihat senyuman licik Morgan. Hatinya masih sakit saat membayangkan kejahatan Morgan terhadap dirinya beberapa hari yang lalu.
Morgan menghidupkan klakson mobilnya sebelum melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sengaja melakukan hal itu untuk membuat Lukas emosi. Ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Malam ini juga, Morgan ingin bertarung melawan Lukas. Ia ingin membuktikan kepada pria itu kalau dirinya bukan pria yang lemah seperti apa yang dikatakan oleh Lukas selama ini.
Lukas sudah terpancing emosi. Pria itu mengikuti laju mobil Morgan dari belakang. Pasukan Gold Dragon juga masih setia mengikuti laju mobil Lukas, “Lihat saja. Malam ini aku akan membunuhmu!” ucap Lukas dengan wajah memerah sebelum menambah kecepatan mobilnya.
********************************
Reader : Thor, Cuma satu bab? Dikit amat.🤔
Author : Ya. Cuma satu bab. ☺️ Tapi ini jumlah katanya 1.500 lho. Partnya sedikit panjang.
Reader : Thor, jangan tamat sebelum Emelie hamil.🤣
Author : Tenang reader, novel ini akan tamat setelah Emelie hamil. Sabar-sabar. Masih proses babynya.😀
Reader : Thor, Lana sama Lukas cepetan nikah.🤗
Author : Aku akan berusaha untuk buat mereka berjodoh. Kalian bantu doa ya, agar mereka tetap berjodoh.🙏
Reader : Gak enak firasatku buat baca part besok, thor.🤔
Author : Aku hanya bisa bilang wkwkwkwkwkwk. 🤣
Love u full reader. Aku sayang kalian. Karena kalian sudah bisa di bilang reader setia novelku. Pasti kalian tahu, bagaimana cara aku nulis dan kasih kejutan sesekali sebagai hadiah. 🤭🤭😘😘😘