Moving On

Moving On
S2 Bab 13



“Ya,” sambung Lana cepat. Ekspresi wajah wanita itu berubah seketika saat menyadari nama kota yang baru saja di sebutkan oleh Lukas, “Darimana kau tahu?”


“Kau wanita itu?” ucap Lukas sambil mengeryitkan dahi. Ia masih tidak percaya kalau dunia terasa begitu sempit.


Lana adalah wanita yang membuat Lukas trauma hingga ia tidak mau bersentuhan dengan wanita. Rasa bersalahnya memuncak saat ia pernah mengalami insiden buruk. Dalam keadaan setengah sadar, Lukas meminta seseorang mengirim wanita ke dalam kamarnya. Setiap pria jalanan memang selalu bersentuhan dengan wanita. Termasuk Lukas dulunya.


Malam itu Lukas berpikir kalau wanita yang di kirimkan untuknya sama dengan wanita bayaran seperti biasa. Tidak di sangka, kalau wanita yang di kirimkan oleh pengirim itu adalah wanita yang masih suci.


Lukas melakukan semua itu dalam keadaan tidak sadar. Bahkan ia tidak lagi ingat bagaimana wajah wanita yang baru saja ia tiduri. Lukas beranjak pergi dengan wajah kesal saat sadar telah melakukan kesalahan. Sejak saat itu ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak lagi bersentuhan dengan wanita.


“Apa maksudmu?” ucap Lana bingung.


“Gantungan kunci itu berbentuk bintang,” ucap Lukas dengan penuh keyakinan.


Lana membisu sambil menatap wajah Lukas. Sorot matanya tidak lagi bisa berkedip. Ia tidak tahu harus berbicara apa saat itu. Hatinya bahagia sekaligus kecewa, “Apa kau pemilik mainan kunci itu?”


Lukas mengukir senyuman. Entah kenapa, detik itu hatinya terasa lega. Ada beban berat yang telah terbebas dari hidupnya. Rasa bersalah dan segala sumpah yang pernah ia ucapkan rasanya tidak lagi menjerat hidupnya. Lukas menarik tubuh Lana ke dalam pelukannya, “Aku tidak menyangka kalau kita kembali bertemu dengan cara seperti ini. Aku mencarimu setelah malam itu. Tapi, kau sudah menghilang.”


Lana melepas paksa pelukan Lukas. Wanita itu masih belum selesai mencerna kejadian masa lalu yang pernah terjadi di antara dirinya dan Lukas, “Lukas, kau terlihat begitu polos. Bagaimana mungkin kau tega merenggut kehormatanku malam itu dan tidak mau bertanggung jawab!” protes Lana dengan wajah tidak suka.


Lukas mengukir senyuman kecil, “Maafkan aku.”


Lukas tidak menyerah. Pria itu kembali memeluk tubuh Lana dengan hati yang sangat tulus, “Aku sangat mencintaimu, Lana. Selama ini aku tidak berani menyentuh wanita manapun karena aku sedang mencari wanita yang pernah aku lukai. Tidak di sangka, saat bertemu denganmu. Aku justru merasa tertarik dan berakhir dengan rasa cinta.”


Lana mengukir senyuman bahagia. Hatinya juga merasa lega saat mengetahui Lukas adalah pria pertama yang menyentuhnya. Rasanya, dunia ini sungguh sempit. Lana memang pergi meninggalkan kota itu untuk melupakan kejadian yang telah menimpahnya. Hingga akhirnya ia hidup di jalanan tanpa mau menetap di satu kota saja.


“Lukas, apa itu benar-benar kau? Aku masih tidak percaya jika kita memang di takdirkan untuk bertemu sejak lama,” ucap Lana sambil terus berpikir keras.


“Apa kau mau mengulanginya?” bisik Lukas dengan tatapan penuh arti.


Lana melebarkan kedua bola matanya. Selama ini Lukas sangat menjaga harga dirinya. Bahkan pria itu merasa aneh saat berciuman. Tetapi, detik ini dengan sadar Lukas menggodanya dengan kata-kata mesra.


“Apa kau mabuk?” Lana mengeryitkan dahinya sambil menatap wajah Lukas dengan seksama.


“Tentu saja tidak,” ucap Lukas penuh keyakinan.


“Kau kehilangan ciuman pertamamu. Apa kau berbohong soal itu? Apa kau hanya mengerjaiku? Apa kau berpura-pura polos selama ini!” tanya Lana penuh selidik. Jika benar selama ini Lukas hanya mengerjainya, maka ia siap untuk memberi hukuman.


Lukas tertawa kecil, “Aku memang tidak pernah berhubungan lembut dengan wanita, Lana. Bahkan berciuman. Hidupku sejak dulu aku habiskan bersama dengan Bos Zeroun dan Gold Dragon. Malam itu kita tidak berciuman. Aku bahkan melakukannya dengan cukup kasar. Hal itu yang membuatku merasa bersalah padamu.” Lukas terlihat bersungguh-sungguh dengan apa yang ia ucapkan, “Sama halnya dengan Bos Zeroun, mungkin wanita yang pernah ia cium cuma Nona Serena dan Nona Emelie. Kami akan berbeda memperlakukan wanita yang kami cintai. Wanita yang kami cintai akan kami hargai dan kami hormati sepenuh hati."


“Apa kau tidak berbohong?” tanya Lana dengan ragu-ragu.


Lukas menggeleng pelan, “Memang seperti itu yang terjadi. Kau boleh percaya boleh tidak. Lana, walaupun aku bukan lelaki pertamamu. Aku akan tetap menerimamu."


Lana menghela napas, “Dilihat dari gaya ciumanmu yang tidak berkualitas itu, sepertinya kau benar-benar jujur.”


“Katakan sekali lagi,” ucap Lukas dengan ekspresi dingin favoritnya.


“Ciumanmu tidak berkualitas, Bos Lukas,” timpal Lana sebelum tertawa terbahak-bahak.


Lukas menarik kepala Lana agar mendekat dengan wajahnya. Pria itu mulai memainkan bibir Lana dengan cukup ahli. Kedua bola mata mereka saling terpejam. Lana mengalungkan kedua tangannya di pinggang Lukas. Wanita itu melayang dengan perasaan bahagia saat berhasil mengungkap luka masa lalunya kepada pria yang ia cintai.


Lana menjauhkan bibirnya sebelum melekatkan dahinya dengan dahi Lukas, “Aku mencintaimu, Lukas. Apa ini kebahagiaan yang harus aku terima saat sejuta kesedihan dulunya menghantui hidupku? Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini. Kau bukan hanya pria pertamaku. Tapi, kau cinta sejatiku. Aku berharap kau juga menjadi pria terakhir yang akan menemani hidupku nanti.”


“Aku berjanji akan selalu menjagamu, Lana. Aku juga sangat mencintaimu.” Lukas menarik tubuh Lana ke dalam pelukannya. Masa lalu dan segala hubungan Lana dengan Morgan tidak lagi ingin ia ketahui dan ia dengar. Pagi itu Lukas sudah cukup bahagia dengan kejutan cerita masa lalu yang kini ia terima.


Tidak pernah ia merasa sebahagia ini selama hidupnya. Sejak mengenal Lana, memang hidupnya terasa begitu berwarna dan di penuhi dengan tawa. Bibirnya yang cukup sulit untuk tersenyum mulai terbiasa untuk tersenyum. Lidahnya yang biasa membisu, kini mulai sering mengeluarkan kata. Cinta memang selalu bisa merubah sifat seseorang. Ada yang berubah menjadi buruk ada pula yang berubah menjadi jauh lebih baik.


***


London.


Emelie dan Zeroun baru saja keluar dari bandar udara. Sepasang suami istri itu berjalan sambil bergandengan tangan. Emelie mengenakan topi dan kaca mata hitam. Sesekali di tempat ramai wanita itu juga mengenakan masker. Memang seperti itu caranya keluar rumah agar bisa terbebas dari incaran media dan beberapa warga yang telah mengenal jelas wajahnya.


Siang itu Zeroun juga mengenakan topi dan kaca mata hitam. Setelah menikah dengan Emelie, identitas dirinya semakin di kenal. Bahkan Zeroun sendiri juga memiliki pemikiran, kalau semua musuh lamanya kini mungkin akan semakin mudah menemukan keberadaannya.


Zeroun menatap wajah Emelie sebelum memegang pintu mobil, “Masuklah. Akan kita bicarakan di dalam.”


Emelie masuk dan duduk dengan posisi nyamannya. Zeroun menutup pintu mobil lalu mengitari mobil tersebut. Sorot matanya memperhatikan setiap pengawal kerajaan yang secara sembunyi-sembunyi mengikuti dan melindunginya. Ada senyum tipis di bibir Zeroun sebelum pria itu masuk ke dalam mobil.


Zeroun memasang sabuk pengaman Emelie sebelum memasang sabuk pengamannya. Satu tangannya mengusap pipi Emelie sebelum melajukan mobilnya.


“Apa aku sudah boleh bercerita?” tanya Emelie dengan senyum yang masih terukir indah.


“Hmm, katakan sekarang. Aku akan mendengarkan semua cerita yang kau katakan, Sayang.” Zeroun mengukir senyuman manis ke arah Emelie sebelum memandang jalan di depan.


“Kita akan-”


Suara ponsel Zeroun berdering. Senyum Emelie yang semula indah sudah luntur. Wanita itu cukup kesal karena tidak bisa menyampaikan kabar gembira yang kini ia miliki. Selalu saja ada yang menghalanginya untuk bercerita.


“Sayang, ini Lukas. Aku angkat sebentar,” ucap Zeroun yang seolah mengerti dengan suasana hati Emelie saat itu. Pria itu mengangkat panggilan masuk Lukas lalu melekatkan handsfree di telinga kanannya, “Apa kau baik-baik saja?” ucap Zeroun tanpa mau basa-basi. Sudah banyak panggilan yang ia layangkan kepada Lukas namun tidak ada satupun yang di jawab pria tangguh itu. Hal itu cukup membuat Zeroun merasa khawatir.


[Saya baik-baik saja, Bos. Apa anda memiliki masalah hingga menghubungi saya?] Suara Lukas juga di penuhi dengan kepanikan. Zeroun tidak akan pernah menghubunginya jika bukan ada hal yang penting.


“Tidak ada,” jawab Zeroun singkat. Pria itu mematikan panggilan teleponnya secara sepihak. Baginya, mendengar kabar Lukas baik-baik saja di Hongkong sudah lebih dari cukup.


Zeroun memandang wajah Emelie yang kini membuang tatapannya ke arah luar jendela. Ada senyum kecil di bibir Zeroun saat itu. Ia cukup tahu kalau istrinya marah.


Zeroun menghentikan laju mobilnya di pinggiran jalan. Pria itu mematikan mesin mobilnya lalu memandang wajah Emelie, “Sayang, apa kau marah padaku?”


“Sejak tadi pagi aku ingin mengatakannya. Tapi, kau terlihat sibuk hingga tidak mau mendengarkanku,” protes Emelie tanpa mau memandang Zeroun.


“Maafkan aku karena sudah membuatmu kesal,” ucap Zeroun dengan suara yang cukup lembut. Pria itu memainkan rambut Emelie sebelum menghirup aromanya, “Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah lagi? Apa ini bisa membuatmu tersenyum?”


Zeroun menunjukkan foto yang menjadi tujuan mereka untuk menghabiskan momen bulan madu. Bulan madu itu sudah dipersiapkan Zeroun sejak tadi pagi. Pria itu mengukir senyuman penuh percaya diri. Ia cukup yakin kalau Emelie tidak akan marah lagi kepadanya.


Emelie memegang tumpukan foto itu. Bibirnya mengukir senyuman bahagia, “Darimana kau tahu kalau aku ingin mengatakan tentang bulan madu kita?”


“Tidak ada hal apapun yang bisa kau sembunyikan dariku,” jawab Zeroun dengan senyum bahagia.


“Sayang, lalu bagaimana caranya agar aku bisa membuat satu kejutan untukmu jika semua rencanaku sudah kau ketahui.” Emelie memajukan bibirnya dengan wajah cemberut.


“Tersenyumlah. Itu satu kejutan indah yang ingin aku nanti setiap detiknya,” ucap Zeroun sambil mengusap pipi Emelie dengan kelembutan.


Tadi pagi, Emelie memohon kepada Paman Arnold untuk mengundur penobatannya sebagai seorang Ratu. Emelie meminta kepada Paman Arnold untuk mengambil alih kerajaan sampai dirinya dan Zeroun puas bersenang-senang dan merayakan bulan madu yang indah.


Tidak di sangka-sangka, Paman Arnold menyetujui permintaan Emelie. Pria itu cukup mengerti, jika Emelie segera di nobatkan maka sepasang pengantin baru itu tidak lagi memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang. Ada banyak tugas negara yang menanti dan menuntut untuk di selesaikan.


“Lalu kita akan pergi kemana?” ucap Emelie dengan penuh kegirangan.


“Aku memilih Dubai sebagai tempat pertama yang kita kunjungi. Aku memberikan kesempatan kepadamu untuk menentukan tempat selanjutnya,” ucap Zeroun sambil mengusap rambut Emelie.


Emelie terdiam beberapa detik sambil memikirkan tempat selanjutnya yang akan ia pilih untuk bulan madu. Bibirnya tersenyum bahagia saat ia sudah berhasil menentukan lokasi bulan madunya, “Aku tahu. Ada tempat yang cukup indah yang hampir aku kunjungi namun gagal beberapa tahun yang lalu.”


“Dimana?” tanya Zeroun dengan alis saling bertaut.


“Spanyol,” ucap Emelie kegirangan.


.


.


.


Apa yang terjadi di Spanyol? Like, Komen dan Vote. Terima kasih.