
Zeroun mendorong kasar pintu kamar tidur miliknya. Pria itu berlari dengan sangat cepat menuju ke pusat suara tembakan yang sempat terdengar. Zeroun mematung saat melihat wanita yang ia cintai baik-baik saja. Sama halnya dengan Lukas. Pria itu menghela napas lega saat melihat kekasih bosnya tidak terluka.
Lana menunduk penuh rasa bersalah. Sejak awal memang dia tidak berani untuk memberikan pistol itu kepada Emelie. Andai saja Emelie tidak mengancamnya dengan melompat dari atas. Maka wanita itu tidak akan mungkin memberikan pistol itu kepada Emelie.
Kini Putri Raja itu tersenyum penuh kemenangan. Setelah lama menunggu, akhirnya benda yang ingin ia mainkan kini ada di genggaman tangannya. Kedua bola matanya terlihat menantang saat melihat Zeroun saat itu. Tidak sama dengan ekspresi Lana yang kini cukup ketakutan.
“Baby, aku bisa menembak. Lihatlah.” Emelie mengincar pot bunga yang ada di samping Zeroun. Wanita itu membidik pot bunga itu dengan penuh kosentrasi. Menarik pelatuknya pelan-pelan dengan hembusan napas yang teratur.
“Nona, jangan lakukan itu. Bagaimana kalau tembakannya mengenai Bos Zeroun.” Lana menahan pistol itu. Bagaimanapun juga Emelie baru saja belajar. Ada keraguan yang cukup besar di dalam hati Lana kalau Nonanya tidak akan tepat sasaran. Di tambah lagi, pot bunga itu benar-benar dekat jaraknya dengan posisi Zeroun berdiri.
“Lepaskan, Lana,” perintah Zeroun. Pria itu memasukkan kedua tangannya di dalam saku. Memasang ekspresi dingin untuk melihat aksi kekasihnya. Sama halnya dengan Lana dan Lukas. Pria itu sedikit ragu. Namun, wanitanya akan kecewa jika Zeroun melarangnya saat ini. Ia tidak ingin Emelie bersedih lagi seperti kemarin-kemarin. Walau harus luka, pria itu rela. Asalkan wanita yang ia cintai tetap bahagia.
“Tapi, Bos-” ucapan Lukas terhenti saat Zeroun menatap wajahnya. Lukas lebih memilih untuk menurut dengan jantung yang berdebar cepat.
Lana melepas tangannya dari pistol itu. Wanita itu menatap pot bunga yang akan jadi sasaran tembak Emelie dengan seksama. Napasnya seakan berhenti sampai putri kerajaan itu berhasil melepas pelurunya dengan sempurna nantinya.
Emelie mengukir senyuman saat mendapat ijin dari Zeroun. Wanita itu melanjutkan bidikannya dengan penuh percaya diri. Emelie biasa memanah. Bahkan panahannya selalu tepat sasaran. Baginya, tembakan ini sama seperti dirinya saat memanah.
DUARR
Sesuai dengan perkiraan Emelie. Tembakan yang baru saja ia lepas kini tepat sasaran. Pot bunga itu kini pecah hingga tanahnya berserakan di lantai.
Lukas dan Lana melebarkan kedua matanya karena kaget melihat aksi Emelie. Berbeda dengan Zeroun, pria itu memasang wajah tidak terbaca. Ia tidak ingin memiliki kekasih yang bermain dengan pistol lagi.
“Baby, lihatlah. Aku bisa.” Wajah Emelie kini terlihat sangat bahagia. Wanita itu memberikan pistol itu kepada pemiliknya. Emelie berlari cepat untuk memeluk tubuh kekasihnya. Wajahnya benar-benar berseri.
“Aku bisa melakukannya,” ucap Emelie sekali lagi saat tubuhnya berhasil memeluk Zeroun.
“Kau sangat hebat, Baby,” ucap Zeroun dengan nada yang sedikit berat. Lukas menunduk sebelum memutar tubuhnya. Sama halnya dengan Lana. Wanita tangguh itu juga lebih memilih untuk mengikuti jejak kaki Lukas daripada harus menonton adegan romantis bosnya.
“Seharusnya kau memberikanku senjata itu agar aku bisa melindungi diriku. Aku pasti bisa menembak dan mengalahkan musuhmu, Baby.” Emelie mempererat pelukannya.
“Tapi aku tidak ingin kau melakukannya,” jawab Zeroun dengan tenang. Sejak tadi, bahkan pria itu tidak membalas pelukan wanitanya. Kedua tangannya masih tetap di dalam saku.
“Aku sudah pernah bilang sebelumnya. Aku tidak ingin tanganmu ini sama denganku. Dipenuhi darah dan bayang-bayang mayat yang begitu banyak,” sambung Zeroun.
Emelie menunduk. Wanita itu masih ingat jelas dengan alasan Zeroun untuk melarangnya menembak. Tetapi, entah kenapa ia sangat ingin menembak seperti kekasihnya juga. Di tambah lagi. Bakat yang ia miliki cukup menjadi dasar kuat agar kemampuan menembaknya menjadi cukup sempurna.
“Emelie. Maafkan aku, Sayang. Aku tidak suka melihatmu memasang wajah sedih seperti ini lagi.” Zeroun mengeluarkan kedua tangannya dari dalam saku. Pria itu menarik tubuh Emelie agar ada di dalam pelukannya, “Aku akan mengajarimu menembak. Tapi, kau harus berjanji satu hal padaku.”
“Apa?” tanya Emelie cepat.
“Pistol itu ada di genggamanmu hanya untuk melindungi dirimu saja. Kau tidak perlu ikut bertarung denganku melawan musuh atau apapun itu. Apa kau bisa berjanji untuk tidak melanggarnya?” tanya Zeroun dengan penuh harapan. Apapun petarungan yang ia hadapi, ia tidak mau membawa kekasihnya lagi. Sudah cukup wanita yang ia cintai dulu melindunginya dari bahaya. Kali ini, Zeroun tidak ingin kejadian yang sama terulang lagi. Ia ingin wanitanya tetap aman dan tidak terluka sedikitpun.
“Aku janji,” jawab Emelie sebelum melingkarkan kedua tangannya di pinggang Zeroun. Wanita itu mengukir senyuman bahagia, karena akhirnya Zeroun mau mengajarinya untuk menembak.
Di sisi lain. Lana masih berusaha mengejar langkah kaki Lukas. Wanita itu cukup kesal saat teriakannya tidak dihiraukan sama Lukas.
“Lukas!” teriaknya sekali lagi. Kali ini, sebelum masuk ke dalam kamar, Lukas menghentikan langkah kakinya.
“Ada apa?” Lukas lagi-lagi memasang wajah dingin favoritnya.
“Kenapa kau marah padaku. Nona Emelie yang mengancamku tadi. Aku tidak punya pilihan lain.” Lana berusaha untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Aku tidak mempermasalahkannya,” jawab Lukas sambil memegang handle pintu.
“Lukas ....” Lana menahan tangan Lukas agar pria itu tidak masuk ke dalam kamar, “Aku ingin tahu, kenapa polisi wanita itu datang kemari.”
Lana memang sangat penasaran dengan tujuan kedatangan Agen Mia dan Inspektur Tao. Seingatnya, mereka tidak pernah menjalin hubungan baik dengan dua polisi itu. Bahkan terakhir kali bertemu juga masih berstatus sebagai musuh. Lana tidak pernah mengetahui informasi terbaru. Lukas jarang menceritakan semua masalah yang terjadi kepadanya. Termasuk kecelakaan yang baru saja di alami Agen Mia beberapa hari yang lalu.
Lukas kembali ingat dengan perkataan Zeroun. Pria itu harus membawa Lana untuk menghancurkan kasino milik Damian di Monako. Ada senyum kecil di bibir Lukas, “Ayo kita latihan.” Pria itu mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Melatih Lana jauh lebih penting saat ini daripada kegiatan lain. Lukas tidak ingin wanita itu lagi-lagi kalah saat beraksi.
“Kau belum menjawabku. Lukas, kau memang sangat menyebalkan,” protes Lana sambil terus mengikuti langkah Lukas yang kini menyeretnya paksa. Lana memang tidak pernah bisa memiliki pilihan kedua saat Lukas sudah mengambil keputusan. Kini wanita itu hanya bisa menurut tanpa ingin membantah lagi.