
Beberapa saat kemudian, Zeroun dan Emelie sudah berada di dalam mobil. Mereka memutuskan untuk pulang ke markas dan beristirahat di sana. Sedangkan Kenzo dan Shabira akan tidur di rumah sakit. Jika kondisi Shabira telah membaik, kemungkinan besok pagi wanita itu sudah di perbolehkan pulang.
Emelie sudah mengganti pakaiannya yang sempat basah dengan pakaian yang baru. Lana menghilang untuk mengambil baju pesananya yang baru saja tiba di lantai bawah rumah sakit. Setelah memberikan pakaian itu kepada Emelie, Lana pergi meninggalkan rumah sakit. Wanita itu ingin bertemu dengan kekasihnya.
Zeroun menghentikan laju mobilnya di depan markas. Pria itu menatap wajah Emelie dengan senyuman sebelum melepas sabuk pengamannya. Dua pasukan Gold Dragon berdiri di samping mobil dan membuka pintu mobil. Zeroun dan Emelie turun dari dalam mobil secara bersamaan.
“Apa Lukas sudah kembali?” tanya Zeroun pada pria yang berdiri tidak jauh dari posisinya berada.
“Belum, Bos.”
Emelie merangkul lengan Zeroun sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Wanita itu merasa sangat lelah. Ia ingin segera berbaring di atas tempat tidur dan beristirahat.
Setelah tiba di dalam rumah, Zeroun justru memutuskan untuk duduk di sofa. Pria itu terlihat memikirkan sesuatu. Ponselnya ia mainkan untuk menghubungi Lukas. Ia butuh kabar terbaru tentang keberadaan Inspektur Tao malam itu. Sudah cukup lama ia menunggu, namun Lukas tidak juga memberi kabar.
“Apa kau berhasil menemukannya?” ucap Zeroun dengan cepat.
“Belum, Bos. Inspektur Tao menghilang,” jawab Lukas dari dalam telepon.
Zeroun tidak lagi mau mengeluarkan banyak kata. Pria itu mematikan panggilan teleponnya sebelum meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menatap wajah Emelie dengan senyuman kecil.
Emelie duduk di atas pengkuan Zeroun. Wanita itu menjatuhkan kepalanya di pundak suaminya dengan begitu manja. Kedua tangannya ia lingkarkan di leher Zeroun.
“Apa Inspektur Tao menghilang karena marah dengan keputusan yang kita ambil? Dia sangat menyayangi Mia. Aku takut, peristiwa ini membuat masalah baru kembali muncul,” ucap Emelie dengan penuh keraguan.
“Tidak akan. Aku cukup kenal bagaimana Inspektur Tao. Ia tidak akan membuat masalah di dalam hidup kita nanti. Inspektur Tao pria yang cukup baik dan tulus.” Zeroun mengusap punggung Emelie.
Emelie menatap wajah Zeroun dengan seksama. Wanita itu mengusap lembut pipi Zeroun, “Aku tidak ingin melihatmu berperang lagi. Setidaknya kali ini kita harus fokus pada program kehamilanku.”
Zeroun mengukir senyuman, “Ya. Kita harus memikirkan masa depan kita saat ini.”
Dengan lembut Zeroun memberikan Emelie kecupan-kecupan singkat. Di pucuk kepala, dahi, mata, hidung, pipi hingga berakhir di bibir. Hanya kecupan singkat. Bibirnya kembali ia daratkan pada leher istrinya. Sesekali pria itu memberi gigitan kecil untuk menggoda Emelie.
Emelie merem*as baju Zeroun yang saat ia ada di dalam genggamnnya. Wanita itu memejamkan mata. Ia mendongakkan lehernya ke belakang. Sentuhan Zeroun memang cukup berhasil membuatnya melayang tinggi. Emelie tidak lagi sadar dengan posisi mereka berada saat itu.
Seteah cukup lama menghirup aroma tubuh Emelie sambil terus memberi godaan kecil. Zeroun mulai menghentikan aksinya. Pria itu menatap wajah Emelie dengan seksama. Ada makna yang tersirat namun tidak bisa ia ungkapkan dengan kata.
“Ini malam bulan madu kita yang terakhir,” ucap Zeroun dengan suara berat dan seakan tertahan.
Emelie mengukir senyuman. Wanita itu mengusap lembut pipi Zeroun dengan mesra, “Tentu saja kita harus merayakan malam terakhir kita di Spanyol.”
Zeroun menaikan satu alisnya. Kalimat yang diucapkan Emelie sudah lebih dari cukup untuk sejuta pertanyaan yang malam itu memenuhi pikirannya. Zeroun mengangkat tubuh Emelie ke dalam gendongannya. Pria itu berjalan dengan santai menuju ke kamar tidur miliknya.
Ia terlihat tidak sabar untuk memiiki istrinya. Hasratnya telah tertahan selama satu minggu. Malam ini Zeroun tidak ingin gagal lagi. Ia tidak ingin ada satu orangpun mengganggu malam indahnya.
Zeroun mendaratkan kecupan di bibir Emelie. Pria itu mendorong pintu kamar dengan menggunakan lengan kanannya. Sentuhan Zeroun sangat lembut dan dipenuhi perasaan.
Dengan lembut Zeroun meletakkan tubuh Emelie di atas tempat tidur. Pria itu melepas satu persatu kancing kemeja yang membungkus tubuhnya. Zeroun memamerkan tubuhnya yang kekar dan berotot. Lagi-lagi tato indahnya membuat daya tarik sendiri bagi Emelie.
Emelie meletakkan satu tangannya di dada Zeroun. Ia cukup kagum dan jatuh cinta pada tubuh suaminya, “Zeroun, aku sangat mencintaimu.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Emelie. Terima kasih karena sudah hadir untuk mewarnai hidupku.”
Zeroun mendaratkan satu kecupan di pundak Emelie. Pria itu menurunkan gaun istrinya dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Giginya menggertak. Sejujurnya ia sudah kesulitan untuk mengendalikan dirinya malam itu. Wajah cantik dan lekuk tubuh Emelie telah menggodanya sejak tadi.
Setelah tubuh Emelie telah berubah polos tanpa sehelai benangpun. Zeroun menarik selimut yang ada di bawah kaki. Pria itu juga masuk ke dalam selimut yang sama. Zeroun cukup tahu, ada banyak mata-mata di setiap tempat yang menjadi tempat dirinya berada. Ia tidak ingin ada orang lain yang berhasil melihat tubuh polos istrinya. Tubuh Emelie hanya miliknya seorang.
Zeroun memberi godaan di bagian dada Emelie. Pria itu meninggalkan jejak di setiap tempat yang sudah berhasil ia sentuh. Wajah Emelie sudah memerah seperti sebuah tomat. Walau sudah cukup sering melakukan hubungan seperti itu, tapi tetap saja masih membuat Emelie merasa malu.
Zeroun mengecup pipi Emelie sebelum mengecup bibir Emelie lagi. Ciuman itu awal-awalnya lembut namun lama kelamaan di penuhi dengan nafsu. Zeroun sudah tidak lagi bisa menguasai dirinya. Malam itu ia ingin segera memasuki istrinya. Memberikan kenikmatan yang tiada tara kepada Emelie.
Tubuh sepasang suami istri itu dibanjiri oleh keringat walau AC yang ada di dalam kamar tampak menyala dengan suhu yang cukup dingin. Zeroun mendaratkan kecupan cintanya di pucuk kepala Emelie, “Terima kasih, Sayang.”
Emelie mengusap lembut pipi Zeroun dengan bibir tersenyum. Tubuhnya terasa sangat lelah dan tidak bertenaga. Matanya terasa sangat berat. Emelie ingin segera tidur. Wanita itu tidak terlalu peduli dengan panampilannya yang polos.
Zeroun berbaring di samping tubuh Emelie. Pria itu memeluk Emelie dengan wajah berseri. Ia sangat cinta dan sayang kepada istrinya. Apapun keadaannya, Zeroun ingin Emelie selalu tersenyum seperti malam ini. Ia tidak pernah rela jika wanita yang ia cintai bersedih seperti tadi.
“Jangan pergi. Kau selalu pergi meninggalkanku saat aku telah terlelap,” ucap Emelie dengan mata terpejam.
Zeroun tertawa kecil saat mendengar keluhan istrinya, “Aku tidak akan pergi. Setelah kau tidur, aku akan pergi mandi.”
Emelie tidak lagi mau membalas kalimat Zeroun. Wanita itu lebih memilih untuk mencari posisi tidurnya. Ia memeluk tubuh Zeroun dengan bibir tersenyum. Napasnya yang sempat terputus-putus sudah kembali normal. Bahkan debaran jantungnya yang tadi tidak karuan kini sudah kembali berdetak dengan normal.
Zeroun mengusap lembut rambut Emelie. Pria itu ingin membuat istrinya segera tertidur dan larut di dalam mimpi indah, “Tidurlah. Aku akan selalu ada di sampingmu untuk menjagamu setiap saat.”
***
Di sisi lain. Lana baru saja tiba di atas gedung yang menjadi tempatnya bertemu dengan Lukas. Bibirnya mengukir senyuman indah saat melihat punggung Lukas di ujung gedung. Wanita itu sangat rindu dengan kekasihnya. Lana berlari kencang untuk mendekat dengan posisi Lukas berdiri.
Lana memeluk tubuh Lukas dari belakang. Wanita itu berjinjit untuk bisa mengecup leher Lukas. Bibirnya tersenyum. Bahkan ada tawa kecil yang lepas dari bibirnya yang merah.
Lukas memiringkan kepalanya. Pria itu berusaha menatap wajah Lana yang kini memeluknya dari belakang. Tapi, cukup sulit. Dengan sengaja Lana menghindari pandangan Lukas. Wanita itu sengaja menjahili kekasihnya.
Lukas memiringkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Tapi, Lana juga melakukan hal yang sama. Kedua tangan wanita itu melingkari perut Lukas dengan erat. Sedangkan wajahnya ia sembunyikan agar tidak kelihatan.
Sudah cukup lama Lukas berusaha menatap wajah Lana. Hingga akhirnya ia tidak lagi bisa bersabar. Lukas melepas paksa tangan Lana dan membuat tubuh wanita itu berputar. Lukas membuat tubuh Lana seolah akan jatuh. Sebelum akhirnya, tangan Lukas menahan pinggang Lana dengan posisi setengah membungkuk.
Ada sorot mata yang cukup tajam dan intens dari ekspresi dingin Lukas malam itu. Cukup berbeda jika di bandingkan dengan Lana yang sudah sejak tadi tersenyum bahagia.
Lana memejamkan matanya dan merentangkan tangannya. Posisi wanita itu ada di ujung gedung dengan ketinggian yang cukup mengerikan. Lana tidak terlihat takut sama sekali. Pemandangan di bawah yang terlihat kecil itu seolah ia lihat seperti sebuah lampu yang menghiasi malam.
Terpaan angin membuat rambut Lana yang sudah mulai panjang berantakan. Wanita itu terlihat semakin cantik walau wajahnya jarang tersentuh make up. Lana memang wania tangguh yang memiliki wajah cantik yang alami.
Lukas memandang wajah Lana dengan seksama. Pria itu mengeryitkan dahi saat melihat aksi berani kekasihnya. Tubuh Lana yang tadinya ia letakkan di ujung gedung sebagai ancaman telah ia buat berdiri. Kini posisi mereka saling berhadapan. Mereka saling memandang dengan tatapan penuh cinta.
“Aku mencintaimu, Lana,” ucap Lukas dengan suara berat ciri khasnya, “Sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kejadian serupa terulang lagi. Setiap tetes air mata yang keluar dari mata indahmu. Telah berhasil membuat luka dan rasa perih yang luar biasa di dalam hatiku.” Lukas menyingkirkan rambut Lana yang menutupi wajah cantik kekasihnya.
Lana mengukir senyuman. Wanita itu cukup bahagia mendengar kata-kata romantis dari pria yang sangat ia cintai. Lana mengalungkan kedua tangannya di leher Lukas, “Aku juga mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku. Hanya maut yang dapat memisahkan kita.”
Lukas menyentuh pipi Lana dan mengusapnya dengan lembut. Pria itu mendaratkan kecupan cintanya di pucuk kepala Lana. Ia memejamkan mata dengan hati yang sangat tenang. Kecupannya turun ke hidung Lana. Dahi mereka menyatu sebagai bentuk rasa cinta mereka saat itu.
Lana menurunkan tangannya dari leher Lukas ke pinggang Lukas. Wanita itu merasa seperti melayang saat mendapat perlakuan lembut dan manis dari pria dingin seperti Lukas.
“Aku ingin melihatmu tersenyum,” ucap Lana dengan nada manja. Jika dulu ia sangat sulit meminta Lukas tersenyum, tapi kali ini ia tidak ingin mengalami hal yang sama.
Lukas mengukir senyuman kecil, “Seperti ini?”
Lana terlihat bahagia melihat senyum indah Lukas malam itu, “Ya. Itu cukup manis. Kau pria tampan yang sangat mempesona. Lain kali, aku ingin kita berjalan-jalan dengan pakaian seperti sepasang kekasih pada umumnya. Pakai baju coupel.”
“Lana, jangan meminta hal yang membuatku akan ditertawakan oleh pasukan Gold Dragon.” Lukas menatap wajah Lana dengan seksama. Senyum indah yang sempat terukir juga telah luntur dan menghilang entah kemana.
Lana tertawa kecil saat mendengar jawaban Lukas. Semakin di larang tentu saja semakin membuat Lana ingin segera melakukannya, “Secepatnya akan aku atur.”
Lukas menarik pinggang Lana agar wanita itu lebih dekat lagi dengan tubuhnya. Bibirnya mendarat di bibir Lana untuk menikmati bibir merah nan manis milik kekasihnya. Kecupannya sangat-sangat lembut. Cukup berbeda dari karakter Lukas selama ini yang terbilang keras dan tidak memiliki perasaan. Sentuhan Lukas malam itu dipenuhi dengan ketulusan dan cinta yang luar biasa untuk wanita yang ia cintai.
Lana memejamkan mata sambil membalas kecupan Lukas malam itu. Kedua tangannya mencengkram jas hitam milik Lukas. Ia merasa seperti melayang. Hatinya berbunga-bunga.
“Terima kasih karena sudah hadir di dalam hidupku. Aku mencintaimu, Lukas. Sangat mencintaimu.”