
Lana berdiri di pinggiran pantai yang tidak jauh dari rumah. Tubuhnya sudah kembali bertenaga. Wanita tangguh itu tidak lagi merasa sakit pada bagian pundaknya yang terkena pukulan. Ada senyum indah di bibirnya saat menatap keindahan rembulan di langit malam. Pantulan cahaya rembulan itu bisa ia lihat dengan jelas di atas permukaan laut.
Lana merentangkan tangannya sambil menghirup udara segar yang kini menerpa tubuhnya. Wanita itu memejamkan matanya untuk merasakan ketenangan suasana malam itu. Terdengar jelas hempasan ombak pantai yang beradu dengan batu karang. Aliran ombak itu sesekali membasahi mata kakinya. Lana tersenyum dengan hati penuh syukur, karena detik ini dirinya masih bisa menghirup udara bebas.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Lukas yang tiba-tiba muncul di belakang tubuh Lana. Pria itu memasukkan satu tangannya di dalam saku sambil berjalan mendekati posisi Lana.
Lana memutar tubuhnya untuk melihat wajah sang pemilik suara, “Aku hanya sedang mencari udara segar. Cukup membosankan juga jika tidak melakukan kegiatan apapun hari ini.”
“Apa kau tidak takut?” Lukas berdiri di samping Lana dengan tatapan ke arah lautan gelap.
“Untuk apa aku takut? Aku sudah berulang kali bertarung dengan kematian. Sepertinya malaikat pencabut nyawa juga bosan menungguku yang tidak kunjung mati,” ucap Lana asal saja sambil tertawa terpaksa.
Lukas menatap wajah Lana dengan seksama. Tatapan matanya terhenti pada bibir merah Lana yang merah dan sedikit kering. Pria itu menggeleng kepalanya sebelum memandang arah lain.
“Kau selalu saja merusak suasana hatiku!” ucap Lukas tanpa alasan yang jelas. Kali ini Lana sangat penasaran dengan bentuk rasa benci Lukas setiap kali pria itu menatap wajahnya. Dengan cepat, Lana menarik tangan Lukas untuk menghentikan langkah pria itu.
“Katakan, apa salahku hingga kau tidak pernah bisa menatap wajahku lagi? Selama ini kau selalu menantangku dengan wajah menyeramkan milikmu itu,” ucap Lana dengan wajah serius.
“Tidak ada,” jawab Lukas sambil menghempaskan tangan Lana dari tangannya, “Aku hanya tidak ingin berlama-lama di tempat ini.”
“Apa kau pikir kau ahli dalam berbohong?” Lana melipat kedua tangannya di depan dada, “Aku yakin, ini ada hubungannya dengan kejadian di ruang pendingin itu. Sejak kejadian itu, kau bertingkah aneh. Apa sebenarnya yang sudah aku lakukan hingga membuatmu seperti ini.”
Lukas mematung mendengar pernyataan Lana. Pria itu tidak akan sanggup untuk menceritakan semua yang terjadi. Rasa malu dan gengsi itu berbaur menjadi satu di dalam hatinya.
“Tidak ada,” jawab Lukas yang terus saja berusaha menutupi semua yang terjadi.
“Apa kau pikir aku tidak tahu?” ucap Lana sambil berjalan mendekati posisi Lukas saat itu. Wanita itu berdiri di hadapan Lukas dengan senyuman penuh arti. Kedua bola matanya menyipit untuk mengertak Lukas malam itu.
“Apa yang kau tahu?” tanya Lukas mulai gelisah. Harga dirinya akan hilang begitu saja saat Lana benar-benar tahu apa yang terjadi. Bagaimanapun juga, kejadian itu cukup membuat malu dirinya.
“Apa kau yakin mau mendengarnya sekarang?” Lana memajukan tubuhnya dengan satu jari di depan wajah Lukas.
“Katakan saja, aku tidak takut.” Lukas mencoba untuk memberanikan diri menantang Lana lagi. Pria itu sangat yakin, kalau saat kejadian itu Lana benar-benar mabuk dan tidak bisa mengingat semuanya.
Lana kembali mengingat kejadian itu. Walau hanya samar-samar dan belum terlalu yakin dengan apa yang ia lihat. Dengan wajah berani, Lana menatap kedua bola mata Lukas tanpa berkedip.
“Apa kau menciumku saat itu?” ucap Lana dengan suara cukup pelan. Kalimat Lana membuat Lukas mematung seketika. Pria itu syok ketika mendengar perkataan Lana. Padahal sejak awal ia sudah cukup percaya diri kalau Lana tidak mengingat apapun dari kejadian itu.
Kena kau. Berarti benar, telah terjadi sesuatu di dalam ruangan pendingin itu hingga membuatnya berubah. Astaga, bodohnya aku bisa sampai mabuk di hadapannya. Kira-kira apa yang terjadi. Apa benar-benar hanya ciuman.
Lana mengukir senyuman untuk menutupi isi hatinya. Wanita itu tidak terlalu yakin awalnya. Namun, sejak melihat ekspresi wajah Lukas yang tiba-tiba berubah, membuat Lana semakin yakin.
“Apa itu benar?” Lana menutup mulutnya dengan tangan. Lukas kembali sadar, kalau ini hanya jebakan Lana semata. Pria itu mengumpat kesal dirinya sendiri karena begitu mudah masuk ke dalam jebakan Lana malam itu.
“Ya, kau terlihat begitu ahli dalam berciuman.” Lukas memasukkan kedua tangannya di dalam saku sebelum memasang ekspresi dingin favoritnya. Ia tidak ingin Lana tahu, perasaan campur aduk yang kini menyiksanya.
“Hanya ciuman? aku pikir juga apa,” jawab Lana dengan ekspresi biasa saja.
Lukas melirik wajah Lana dengan wajah kesal. Pria itu merasa hidupnya selalu dihantui dengan ciuman pertamanya saat itu. Sedangkan Lana, terlihat biasa saja saat mendengar tragedi ciuman waktu itu.
“Bukankah itu hal yang biasa. Kenapa kau mempermasalahkannya hingga separah ini.” Lana menatap wajah Lukas.
“Biasa?” celetuk Lukas sambil mengeryitkan dahi.
Lana mengangguk pelan, “Iya, ciuman hal yang biasa terjadi bukan?”
Lukas mengeluarkan tangannya dari dalam saku sebelum mengepal kuat tangannya. Ciuman pertamanya di rebut oleh wanita yang biasa berciuman dengan pria lain. Hal itu cukup membuat pria itu disulut api emosi.
“Kau tidak seharusnya berlebihan seperti ini Lukas. Untuk kehidupan kita yang seperti ini, hal itu sudah sering terjadi. Kecuali, aku merebut ciuman pertamamu,” ledek Lana lagi tanpa ampun. Malam ini Lukas kalah telak di buat Lana. Pria itu kehabisan kata untuk melawan ocehan Lana yang di sengaja untuk memojokkan dirinya.
“Apa kau mabuk?” Lukas memegang dahi Lana dengan wajah menyelidik. Wanita yang selama ini di pandangnya lugu kini bertingkah seperti orang yang tidak ia kenali.
“Tentu saja tidak,” jawab Lana sambil menurunan tangan Lukas yang ada di dahinya, “Lukas kemarilah,” ucap Lana pelan untuk meminta pria itu membungkuk sedikit.
“Aku tidak mau menurutimu, kau terlihat seperti wanita aneh malam ini.” Lukas menatap ke arah depan sebelum berjalan untuk meninggalkan Lana. Dengan cepat, Lana mengalungkan kedua tangannya di leher Lukas sebelum mengecup bibir pria itu dengan cepat.
“Aku mencuri ciuman keduamu,” ledek Lana dengan wajah penuh kemenangan.
Lukas terdiam memandang wajah Lana yang kini hanya berjarak beberapa inci di depan wajahnya. Ada aliran aneh yang kini terasa berbeda saat tubuh wanita itu melekat di tubuhnya. Kedua bola mata hitam miliknya tidak lagi berkedip, saat menyadari wajah cantik wanita yang kini ada di hadapannya. Lamunannya terhenti saat Lana menjahukan tangannya dari leher Lukas. Wanita itu tertawa puas karena berhasil mengerjai Lukas lagi dan lagi.
“Lihatlah wajah merahmu Lukas. Aku tidak pernah menyangka, pria berbahaya seperti dirimu tidak pernah berciuman.” Lana menutup mulutnya dengan tangan sambil tertawa lepas.
Lukas menarik tangan Lana dan mencengkram kuat pinggang wanita itu. Melekatkan tubuh Lana dengan tubuhnya. Satu tangannya yang lain menarik kepala Lana agar mendekat dengan wajahnya.
Tanpa permisi lagi, Lukas mengecup bibir Lana tanpa jeda. Memberikan sensasi menggoda yang cukup memabukkan. Lana melebarkan matanya saat bibirnya dikuasai oleh Lukas. Wanita itu mengepal tangannya sebelum memejamkan mata.
Entah kenapa, ciuman Lukas terasa berbeda. Sentuhan pria berbahaya itu tidak sama dengan sentuhan pria-pria yang sebelumnya ia kenal. Ada rasa nyaman dan tenang di dalam ciuman Lukas malam itu.
Apa ini? kenapa jantungku berdetak dengan cepat seperti ini.
Ucap Lana di dalam hati, sambil terus berusaha mengimbangi ciuman Lukas malam itu.