
Lukas melajukan membawa Lana masuk ke dalam mobil. Ia mendudukkan Lana di bangku yang ada di samping kemudi. Memasangkan sabuk pengaman agar Lana tetap pada posisi duduknya. Setelah melihat Lana aman, Lukas menutup pintu mobil lalu mengitari bagian depan mobil tersebut.
Lukas masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobionya dengan kecepatan tinggi. Tidak ada hal lain yang ia pikirkan selain rumah dan Dokter. Lukas berencana membawa Lana kembali pulang sebelum meminta seorang Dokter memeriksa keadaan kekasihnya.
"Lana kau akan baik-baik saja. Bertahanlah," ucap Lukas dengan penuh khawatir. Satu tangannya menggenggam tangan Lana yang terasa sangat panas.
"Kakak ...." ucap Lana dengan nada yang cukup lirih.
Lukas mengeryitkan dahi saat mendengar igauan Lana saat itu. Ia tahu siapa yang kini sangat ingin di temui oleh Lana. Sayangnya, Alika tidak ada di Hongkong. Wanita itu sedang ada di Dubai untuk mengantar perjalanan bulan madu Zeroun dan Emelie.
"Apa kau merindukan Alika?" ucap Lukas dengan suara yang lembut. Ia kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera tiba di rumah. Untuk urusan Alika, Lukas akan mencari jalan keluarnya nanti.
Lana membuka matanya secara perlahan. Tatapannya terasa berputar-putar. Ia tidak lagi bisa melihat wajah Lukas dengan jelas walau pria itu duduk tidak jauh dari hadapannya.
"Lukas," ucap Lana pelan.
Lukas memandang wajah Lana sekilas. Ia kembali fokus pada jalanan depan agar tidak celaka, "Istirahatlah. Kita akan segera tiba di rumah."
"Aku tidak mau pulang ke rumah itu," bantah Lana. Walau dalam kondisi lemah dan tidak berdaya. Tetap saja Lana bersih keras untuk menolak bertemu dengan Agen Mia.
"Kau harus segera diperiksa oleh Dokter, Lana. Demammu sangat tinggi." Lukas terlihat kesal saat kekasihnya menolak untuk pulang ke rumah.
"Hentikan mobilnya!" teriak Lana dengan suara yang serak. Walau dalam keadaan lemah, tetap saja tidak menghilangkan sifat keras kepala Lana sore itu.
Lukas menghentikan laju mobilnya karena tidak ingin berdebat dengan Lana. Walau di dalam hati ya ingin segera tiba di rumah agar bisa segera memanggil Dokter untuk memeriksa Lana.
"Lana, apa yang kau inginkan?" ucap Lukas bingung.
"Aku tidak ingin pulang ke rumah. Apa aku boleh tidur di apartemen Kak Alika?" ucap Lana sambil menatap wajah Lukas. Ekspresi wajahnya sangat menyedihkan. Hal itu juga berhasil membuat Lukas menjadi luluh tak berdaya.
"Hmm... baiklah. Aku akan meminta Dokter untuk memeriksamu di sana." Lukas melanjutkan perjalanannya. Kali ini ia memutar arah dari tujuannya semula. Tidak buruk bagi Lana untuk tinggal di Apartemen Alika.
Lana mengukir senyuman sambil menatap wajah Lukas. Ia belum mau mengungkap alasannya kenapa tidak mau balik ke rumah. Dengan kepala yang masih terasa berat, Lana mulai kembali memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian.
Lukas menghentikan laju mobilnya saat sudah tiba di parkiran apartemen. Pria segera keluar dari dalam mobil lalu membuka pintu mobil tempat Lana berada. Tidak banyak kata yang terucap.
Dengan hati-hati Lukas mengangkat Lana ke dalam gendongannya. Wajahnya semakin panik saat memegang suhu tubuh Lana yang semakin tinggi.
"Apa kau tidak menjaga kesehatanmu, hingga bisa sakit seperti ini," ucap Lukas sambil berjalan cepat menuju ke arah apartemen.
Lana yang masih setengah sadar mengukir senyuman kecil. Wanita itu mengalungkan tangannya di leher jenjang sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.
"Terima kasih karena kau mau menjadi kekasihku," ucap Lana dengan nada yang sangat pelan dan mata yang masih terpejam.
"Kau tidak perlu mengatakan kata terima kasih kepadaku. Aku hanya butuh rasa cintamu, bukan sekedar kata dari bibirmu Lana." Satu kecupan di daratan Lukas di pucuk kepala Lana, "Cintai aku dengan setulus hatimu. Itu jauh lebih berharga dari kata terima kasih."
Lana mengangguk pelan. Ia juga mempererat pelukannya di leher Lukas, "Aku berjanji untuk selalu mencintaimu. Tidak akan mengkhianatimu."
Lukas membuka pintu kamar Alika lalu masuk ke dalamnya. Ia menghidupkan lampu agar ruangan itu kembali terang. Lukas memandang pintu kamar Lana lalu berjalan ke arah kamar tersebut.
Kamar Lana tertata rapi dan cukup bersih. Lukas memperhatikan kamar Lana dengan seksama sebelum masuk ke dalamnya. Ia meletakkan tubuh Lana di atas tempat tidur dengan hati-hati.
"Aku akan menghubungi Dokter," ucap Lukas sebelum menegakkan tubuhnya yang sempat membungkuk.
Lana menahan leher Lukas. Wanita itu menatap wajah Lukas dengan tatapan senduh, "Mendekatlah."
Lukas mengeryitkan dahi saat mendengar kalimat yang diucapkan oleh Lana. Tanpa mau banyak protes, Lukas mendekatkan wajahnya dengan Lana. Ia juga tidak tahu, apa tujuan kekasihnya memintanya mendekat.
Lana menarik kepala Lukas agar lebih dekat lagi dengan wajahnya. Wanita itu mengecup bibir Lukas dengan kecupan singkat, "I love you, Lovely."
Lukas mematung beberapa detik. Satu tangannya mengusap lembut pipi Lana. Hatinya terasa perih dan terluka saat melihat wanita yang ia cintai jatuh sakit, "I love you to, Lovely."
"Kau terlihat sangat manis saat menyebutkan kata itu," ucap Lana dengan tawa kecil.
Lukas kembali melekatkan bibirnya dengan bibir Lana. Hatinya tetap saja terasa perih walau Lana tertawa saat itu. Ia ingin Lana sehat dan ceria seperti biasanya. Tidak sepeti sekarang, berwajah pucat dan tidak berdaya.
Lukas rindu tawa dan sifat galak kekasihnya. Ia rindu teriakan wanitanya, "Cepat sembuh. Aku tidak sanggup jika melihatmu seperti ini."
"Aku baik-baik saja. Hanya demam biasa. Aku memang mudah sakit sejak dulu," jawab Lana dengan bibir tersenyum.
"Aku akan menelepon Bos Zeroun. Aku akan meminta Alika untuk kembali ke sini," ucap Lukas dengan wajah serius.
"Jangan. Aku tidak ingin merepotkan siapapun.Hanya dirimu yang boleh mengurusku saat sakit."
Lukas meraih tangan Lana lalu mengecupnya berulang kali, "Aku akan selalu ada di sini untuk menjagamu sampai sembuh."
Lana mengukir senyuman manis. Hatinya semakin tenang saat itu. Walau kini ia merasa tidak enak badan, tapi cinta Lukas seperti obat yang meringankan sedikit rasa sakit yang ia rasakan.
.
.
.
Like, Komen, Vote. Terima kasih.