
Matahari yang cerah dan terang menembus masuk melalui sela-sela jendela. Lukas merasakan kepalanya sangat berat. Pria itu memegang kepalanya sebelum memijatnya dengan lembut. Secara perlahan, ia membuka mata.
Satu pemandangan yang cukup membuatnya kaget. Kini Lana sedang berada di dalam pelukannya. Mereka tidur di atas tempat tidur dan berada di dalam selimut yang sama. Wanita itu terlihat sangat nyaman dengan posisi tidurnya.
Lukas kembali mengingat dengan apa yang terjadi sebelum ia tidak lagi sadar. Pria itu mengeryitkan dahi saat menyesali apa yang telah terjadi. Satu tangannya mengusap lembut punggung polos Lana. Kedua matanya menatap langit-langit kamar sambil menunggu kekasihnya bangun dari tidur.
Tidak harus menunggu lama. Setelah Lukas bangun, lima menit kemudian Lana juga bangun. Berbeda dengan ekspresi wajah Lukas yang sempat syok. Sedangkan Lana. Wanita itu justru terlihat sangat bahagia. Kedua tangannya semakin mempererat pelukannya di tubuh Lukas. Matanya kembali terpejam.
“Kau mencuri malam keduaku,” protes Lukas sebelum mendaratkan satu kecupan di pucuk kepala Lana.
Lana tidak tertarik membalas kalimat kekasihnya. Wanita itu lebih memilih memejamkan mata karena matanya masih terasa ngantuk. Berada di dalam pelukan Lukas adalah posisi yang sangat nyaman.
Ponsel Lukas berdering hingga memenuhi isi kamar tersebut. Dengan gerakan cepat tangan Lukas meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Pria itu mengeryitkan dahi saat melihat nama Zeroun yang tertulis di layar ponselnya.
“Selamat pagi, Bos.”
Lana mendongakkan kepalanya. Mendengar nama Zeroun membuat Lana kembali ingat dengan kelakuan pria itu. Ia melepas pelukannya dari tubuh Lukas lalu duduk membelakangi Lukas.
Lukas melirik Lana sebelum mematikan ponselnya saat pembicaraan mereka telah selesai. Pria itu meletakkan ponselnya kembali di atas nakas sebelum duduk berdampingan dengan Lana.
“Aku harus pergi,” ucap Lukas dengan hati yang cukup sedih.
Lana membuang tatapannya dari pandangan Lukas. Secara diam-diam ia menghapus air mata yang tidak sengaja menetes, “Pergilah.”
Lukas menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh Lana. Pria itu memeluk tubuh Lana dengan penuh cinta dan kasih sayang, “Aku percaya padamu. Setelah mengalahkan white tiger, aku akan menyelidiki masalah ini dan membersihkan namamu.”
Lana mengangguk pelan, “Maafkan aku tidak bisa menemanimu saat bertarung.”
Lukas menarik dagu Lana agar wanita itu bisa menatap wajahnya dengan jelas. jemarinya menghapus setiap tetes air mata yang jatuh di pipi Lana.
“Aku sangat mencintaimu, Lana. Jangan khianati cintaku.”
Lana menggeleng dengan bibir gemetar, “Tidak akan.”
Lukas menarik tubuh Lana sebelum mencium bibir wanita itu. Hatinya terasa sangat berat untuk meninggalkan Lana sendirian di rumah itu. Ia sangat khawatir jika nanti pasukan White Tiger melukai Lana.
“Pergilah, Aku yakin semua orang telah menunggumu.” Lana mendorong dada Lukas agar menjauh dari tubuhnya.
Lukas mengangguk pelan. Pria itu beranjak dari tempat tidur lalu berjalan ke arah kamar mandi. Lana memandang kekacauan yang telah ia perbuat. Botol kosong berserak di mana-mana. Bahkan baju miliknya dan Lukas telihat bertebaran di permukaan lantai dari sofa hingga samping tidur.
Lana mengukir senyuman saat membayangkan malam indahnya yang tidak lagi ia ingat, “Apa aku benar-benar telah melakukannya?”
***
Beberapa jam kemudian.
Zeroun dan Emelie telah bersiap-siap. Sepasang suami istri itu memang terlihat ingin berjalan-jalan untuk menikmati keindahan Spanyol. Agen Mia yang sejak tadi sudah berkumpul dengan pasukan Gold Dragon berdiri dengan posisi siap siaga. Wanita tangguh itu melirik sekilas wajah ceria Emelie sebelum menunduk hormat.
Ada rasa cemburu di dalam hati Agen Mia. Ia masih memiliki rasa terhadap Zeroun. Sayangnya nasipnya tidak seberuntung Emelie. Bahkan Mia sendiri tidak habis pikir jika Zeroun bisa melabuhkan hatinya dengan wanita manja seperti Emelie.
“Dimana Lukas?” ucap Zeroun sambil memeriksa wajah bawahannya.
“Saya di sini, Bos,” suara Lukas tiba-tiba terdengar. Pria itu muncul dengan wajah yang tidak terbaca.
Zeroun mengangguk pelan, “Kami akan berjalan-jalan. Kalian bisa membentuk formasi rahasia untuk melindungi kami,” ucap Zeroun dengan wajah santai.
“Baik, Bos,” ucap semua pasukan Gold Dragon secara serempak.
Zeroun mengukir senyuman sebelum berjalan ke arah pintu. Satu tanngannya merangkul pinggang Emelie dengan cukup mesra. Beberapa pasukan Gold Dragon mengikuti langkah Zeroun dan Emelie dari belakang.
Agen Mia menatap wajah Lukas dengan senyuman tipis, “Apa kekasihmu itu baik-baik saja saat ini? Kau meninggalkannya? Apa kalian putus?” ledek Agen Mia dengan tawa kecil.
Lukas menatap wajah Agen Mia sekilas sebelum melangkah pergi. Pria itu sama sekali tidak tertarik untuk berdebat dengan seorang wanita.
“Hei, tunggu,” teriak Agen Mia sambil mengejar langkah kaki Lukas dari belakang.
Di halaman depan, Zeroun dan Emelie menghentikan langkah kaki mereka. Satu pasukan Gold Dragon berlari kencang mendekati mereka. Di lihat dari raut wajahnya, ia seperti membawa informasi yang sangat penting.
Lukas dan Agen Mia yang baru saja keluar, berdiri di depan pintu. Mereka juga menatap wajah pasukan Gold Dragon yang membawa berita itu dengan seksama.
“Ada apa?” teriak Lukas dengan sorot mata yang tajam.
Pria itu berusaha mengatur napasnya. Ia menatap wajah Lukas lalu berganti dengan wajah Zeroun. Tidak tahu berita yang ia bawa bermanfaat atau tidak.
“Nona Lana berhasil di tangkap White Tiger, Bos,” ucap Pria itu dengan nada yang cukup tegas.
Lukas melangkah maju. Namun, dengan cepat Agen Mia menahan lengannya. Wanita itu menggeleng sebagai bentuk larangan agar Lukas tidak berontak dan berdebat dengan Zeroun.
Emelie menutup mulutnya dengan tangan. Baginya kabar yang baru saja ia dengar adalah kabar buruk. Baru saja ia sangat mengkhawatirkan wanita itu. Tapi, detik ini kabar buruk itu harus ia dengar.
Zeroun menghela napas dengan wajah yang cukup tenang, “Kemana mereka membawanya?”
“Ke sebuah gudang besar yang ada di kota Sevilla, Bos. Sepertinya gudang itu salah satu markas terbesar milik White Tiger, Bos.”
Zeroun terlihat semakin berseri. Pagi ini kabar yang di bawa oleh bawahannya merupakan kabar yang cukup baik, “Kau boleh pergi.”
“Terima kasih, Bos.” Pria itu menunduk lalu memutar tubuhnya dan pergi.
Zeroun memutar tubuhnya untuk melihat Lukas. Pria itu menatap wajah Lukas dengan tatapan tajam, “Lakukan penyerangan malam ini di markas milik White Tiger yang ada di kota ini.”
Lukas terlihat ingin menolak perintah Zeroun. Kekasihnya ada di kota lain. Tapi, dengan wajah santai dan cukup tenangnya Zeroun memberinya perintah untuk menyerang markas yang lain. Andai saja sesuatu terjadi pada Lana, maka Lukas tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
“Lukas, apa kau mendengar perkataan Bos Zeroun?” ucap Agen Mia sambil memukul lengan Lukas. Pria itu terlihat mematung sambil melamun.
Lukas menunduk dengan wajah rasa bersalah, “Baik, Bos.”
Zeroun mengangguk sebelum membawa Emelie masuk ke dalam mobil. Ia sudah cukup paham dengan apa yang di pikirkan Lukas saat ini. Namun, ia belum bisa mengatakan semua rencananya kepada Lukas. Kali ini masalah yang mereka hadapi tidak seperti masalah yang pernah terjadi. Harus ada yang di korbankan untuk memenangkannya. Termasuk mengorbankan perasaan.
.
.
.
Yang penasaran sama masa lalu Agen Mia, part tentang dia udah semakin dekat...sabar ya...😁
Like, Komen dan Vote. kalau dikit yg vote dan komen besok aku 1 bab lagi 🤣🤣