
Zeroun keluar dari kamar mandi dengan setelan pakaian tidur. Pria itu mengukir senyuman saat melihat wanitanya telah terlelap dalam mimpi. Bibir Emelie tersenyum dengan wajah cukup tenang. Zeroun duduk di tepian ranjang sambil mengusap lembut rambut kekasihnya. Semakin dekat dengan pertarungan besarnya bersama Heels Devils, hatinya semakin di penuhi rasa takut.
Ini pertama kalinya di dalam hidup Zeroun merasakan kata takut. Bukan karena takut kalah dalam pertarungan. Tapi, pria itu takut kalau harus meninggalkan Emelie untuk selama-lamanya. Emelie sudah berulang kali kehilangan. Zeroun tidak mau menjadi penyebab kesedihan wanita yang ia cintai.
Entah kenapa, malam itu Zeroun merasa kalau besok ia tidak lagi bisa melihat wajah kekasihnya. Hatinya terasa sangat berat untuk melewati malam ini. Padahal jika sesuai dengan jadwal yang sudah ia tentukan, masih ada satu malam lagi untuknya bertemu dengan Emelie. Tunangannya, wanitanya yang berharga.
“Maafkan aku karena sudah membuat hidupmu tidak tenang seperti sekarang,” ucap Zeroun pelan sebelum mendaratkan satu kecupan singkat di bibir kekasihnya. Lelaki itu mengusap lembut pipi Emelie dengan jemari.
Jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Entah kenapa rasa kantuknya hilang begitu saja. Zeroun beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju ke arah pintu keluar menuju kolam renang. Pria itu ingin menghirup embun malam yang tersebar di luar kamarnya.
Zeroun berjalan melewati kolam renang agar bisa berdiri di luas yang ada di ujung. Tangannya mencengkram kuat besi penghalang balkon. Zeroun memandang keindahan pantai pada malam hari. Dinginnya malam membuat tulangnya seperti di tusuk. Lelaki itu memejamkan mata sambil menghirup udara yang kini ada di hadapannya.
Tiba-tiba saja Zeroun merasakan tangan yang hangat di depan perutnya. Pria itu menundukkan kepalanya untuk melihat tangan yang melingkari. Bibirnya mengukir senyuman saat melihat tangan itu milik wanita yang paling ia cintai.
“Kenapa tidak tidur?” ucap Emelie sambil menyandarkan kepalanya di punggung Zeroun. Wanita itu terbangun saat merasakan tangan Zeroun menyentuhnya.
“Aku tidak bisa tidur, Sayang.” Lelaki itu mengambil tangan Emelie dan mengecupnya dengan penuh cinta. Memutar tubuhnya agar bisa menatap dengan jelas wajah tunangannya saat ini, “Apa tadi aku mengganggu tidurmu?” Jemarinya mulai menelusuri pipi Emelie yang lembut seperti kulit bayi.
Emelie menggeleng kepalanya pelan. Ia melepas tangan Zeroun yang melekat di tubuhnya. Kakinya berjalan menuju besi penghalang untuk menatap lautan pada malam hari. Angin berhembus dengan sangat kencang hingga membuat rambutnya berterbangan. Bahkan menutupi sebagian wajahnya.
“Aku takut,” ucap Emelie sambil menghela napas, “Di dalam hidupku. Kebahagiaan selalu datang sebelum kesedihan tiba. Seperti sebuah kutukan yang sangat mengerikan. Satu detik kebahagiaanku seperti harus di bayar dengan puluhan jam kesedihan.” Emelie merasakan hatinya kembali perih saat membayangkan segala kesedihan yang pernah ia alami.
Emelie memandang wajah Zeroun yang kini berdiri di samping tubuhnya. Wanita itu mengukir senyuman pahit dengan mata berka-kaca, “Aku tidak ingin kebahagiaan hari ini berakhir dengan tangisan lagi.”
Zeroun tertegun mendengar perkataan Emelie. Satu tangannya menarik tubuh wanita itu agar berada di dalam pelukannya. Satu tangannya mengusap lembut pundak wanita yang ia cintai.
“Tidak, Sayang. Kebahagiaan seperti ini tidak harus di bayar dengan kesedihan. Aku berjanji akan membuatmu selalu bahagia tanpa harus merasakan kesedihan lagi.” Zeroun mengecup pucuk kepala Emelie berulang kali, “Apa kau percaya padaku?”
Emelie menatap wajah Zeroun dengan seksama sebelum mengangguk pelan, “Aku selalu percaya padamu, Zeroun. Berjanjilah untuk selalu kembali padaku sejauh apapun kau pergi nanti.”
Zeroun mengangguk tanpa mengeluarkan kata. Lelaki itu menarik pinggang Emelie untuk mengecup bibir tunangannya. Memeluknya dengan begitu erat dengan rasa takut kehilangan.
“Sudah semakin pagi. Ayo kita tidur.” Zeroun melepas kecupannya. Memegang bibir Emelie dengan jari.
***
Markas Heels Devils.
Di sebuah markas bawah tanah yang ada di bawah jalan. Sudah cukup lama ia bersembunyi dengan tenang di tempat itu. Tempat itu memang tidak bisa di lacak oleh siapapun. Bahkan Damian sendiri tidak tahu soal markas rahasian Jesica itu.
Jesica duduk di depan meja yang berisi bahan-bahan untuk membuat bom. Wanita itu mengenakan pakaian cukup terbuka hingga memamerkan bagian dadanya. Di ujung jarinya ada rokok terselip yang sudah mulai habis. Wanita itu menatap satu persatu orang kepercayaannya yang kini membantunya merakit bom.
“Aku ingin benda ini ada di tengah-tengah kota,” perintah Jesica sebelum mematikan rokoknya di atas asbak. Sebotol minuman beralkohol berwarna kristal ia teguk seperti orang yang sangat kehausan, “Kau bertugas untuk membunuh dua polisi sialan itu.” Jesica melempar dua foto yang berisi wajah Agen Mia dan Inspektur Tao.
“Bagaimana dengan Bos Gold Dragon, Bos?” tanya salah satu pria berbadan tegab.
“Pria itu biar aku yang menghadapinya.” Jesica melempar foto yang berisi wajah Lukas dan Lana, “Untuk mengalahkan dua orang ini, kalian hanya perlu mengincar wanita ini.” Jari-jarinya menunjuk ke wajah Lana.
“Bukankah wanita ini yang malam itu mengejarku?” jawab salah satu wanita tangguh yang juga mengelilingi meja bundar.
“Ya. Ilmu bela dirinya tidak terlalu hebat. Tapi, kau tidak bisa meremehkan pria yang ada di sampingnya. Berhati-hatilah sebelum menyerangnya. Bisa jadi, kau yang lebih dulu tertembak dan tewas di tempat.”
Jesica beranjak dari duduknya, “Jika kita kalah. Setidaknya kita bisa meratakan kota Rio ini dengan tanah. Jika kita tidak selamat, maka tidak ada satu orangpun dari musuh kita yang boleh selamat.” Wanita itu cukup dendam dengan nama-nama yang kini tertera di atas meja.
Kini aksesnya untuk pergi memang telah di batasi. Kota Rio di kepung oleh polisi hingga membuatnya harus bertahan di dalam markas bawah tanah yang sulit untuk di lacak. Andai saja markas itu berada di gedung yang ada di atas tanah mungkin sejak beberapa hari yang lalu ia sudah tertangkap oleh Inspektur Tao.
“Bos, Pangeran Damian akan membantu jika kita mengalami kesulitan,” ucap salah satu pria berbadan tegab.
“Aku tidak ingin merepotkannya kali ini. Ia sudah cukup berduka atas kehilangan Adriana. Tanpa aku pinta, pria itu juga pasti akan membalaskan dendamnya kepada Zeroun Zein.” Jesica berjalan ke lemari yang di penuhi bahan peledak dan senjata api. Jemarinya mengusap lembut satu bom yang memiliki daya ledak cukup besar. Bibirnya mengukir senyuman saat membayangkan bagaimana ledakan dahsyat yang nantinya akan diciptakan oleh Bom rakitannya itu.
“Zeroun Zein, jika aku kalah. Maka kita akan mati bersama. Bukankah itu cukup adil? Heels Devils hilang bersamaan dengan Gold Dragon. Nama kita berdua akan di kenang di seluruh dunia mafia.” Jesica tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi isi ruangan berukuran luas itu.
Like dulu baru lanjut.