Moving On

Moving On
S2 Bab 69



Istana Kerajaan Madrid.


Zeroun dan Emelie baru saja tiba di lokasi pesta. Sepasang suami istri itu di sambut dengan penuh penghormatan. Malam itu Zeroun tidak membawa pengawal ke dalam lokasi pesta. Hal itu cukup beresiko dan Zeroun tidak mau mengambil resiko hingga akhirnya merusak semuanya.


Emelie mengenakan gaun berwarna merah marron dengan mahkota kecil di atas kepalanya. Rambutnya diikat sedikit di bagian belakang. Tangannya tampak menggandeng lengan kekar Zeroun dengan begitu mesra. Bibirnya tersenyum manis.


“Sayang, apa kau baik-baik saja?” bisik Zeroun. Pria itu terlihat bingung melihat ekpresi wajah Emelie malam itu.


“Perutku sedikit sakit. Sepertinya aku ingin ke toilet setelah bertemu dengan pemilik rumah,” ucap Emelie masih dengan ekspresi wajah baik-baik saja.


Zeroun mengeryitkan dahi. Mendengar istrinya sakit, tentu saja bukan hal yang sepele bagi Zeroun, “Sebaiknya kita pulang saja. Aku tidak mau kau sakit hanya gara-gara menghadiri pesta seperti ini.”


“Zeroun, apa kau bercanda. Kau pasti masih ingat, siapa yang meminta kita untuk datang ke pesta ini. Jika tidak ingin mencari masalah dengan Paman Arnold sebaiknya turuti saja permintaannya.” Emelie memandang wajah Zeroun dengan senyuman.


“Hmm, baiklah.” Zeroun membuang tatapannya ke arah lain.


Emelie dan Zeroun memberi penghormatan kepada Raja dan Ratu yang telah mengundang mereka. Tidak hanya kepada Tuan rumah. Semua orang juga mengucapkan selamat atas pernikahan Emelie dan Zeroun. Banyak orang-orang penting yang mengelilingi Zeroun dan Emelie malam itu.


Emelie terlihat semakin gelisah, “Aku ke toilet dulu. Tolong temani mereka dulu sampai aku kembali,” bisik Emelie.


“Sayang, apa kau bercanda? Kau memintaku menemani orang-orang tidak penting seperti ini dan membiarkanmu sendirian?” protes Zeroun namun masih tetap dengan suara yang cukup pelan.


“Itu jauh lebih baik.” Emelie melepas genggamannya dari lengan Zeroun, “Aku akan segera kembali.”


Zeroun menatap kepergian Emelie dengan tatapan tidak suka. Pria itu kembali memandang beberapa anggota kerajaan yang kini ada di hadapannya. Sebisa mungkin Zeroun menjawab pertanyaan yang dilayangkan untuknya.


Di sisi lain. Emelie berjalan ke arah toilet. Langkahnya terhenti saat melihat sebuah ruangan sunyi yang menghadap langsung dengan keindahan malam kota Madrid. Emelie tidak lagi ingat dengan perutnya yang sakit. Pemandangan indah itu seperti sebuah obat yang cukup hebat.


“Putri Emelie,” ucap seseorang dari arah samping. Emelie memutar tubuhnya. Bibirnya mengukir senyuman yang cukup indah. Sosok yang kini berdiri di hadapannya adalah sosok pria yang cukup dekat dengan cerita masa kecilnya.


“Harry?” celetuk Emelie dengan tatapan tidak percaya, “Hmm, maaf. Maksud saya Pangeran Harry.” Emelie tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


“Hei, kenapa kau menjadi formal seperti itu memanggilku? Bukankah sejak dulu kau selalu memanggilku dengan nama tanpa jabatan.” Pangeran Harry berjalan pelan mendekati Emelie. Pria itu tampak bahagia karena bisa bertemu dengan Emelie lagi.


“Senang bertemu denganmu, Harry. Tapi, aku harus kembali pada suamiku. Ia akan mencariku dan akan mengkhawatirkanku.” Emelie memutar tubuhnya. Wanita itu tidak ingin berlama-lama berada di depan pria karena statusnya sebagai seorang istri dari pria lain.


Namun, langkah kaki Emelie terhenti saat Pangeran Harry menggenggam pergelangan tangan Emelie. Pria itu berusaha menahan Emelie agar tidak secepat itu pergi meninggalkannya.


“Harry, ada apa?” tanya Emelie dengan alis saling bertaut. Wanita itu memandang tangan Pangeran Harry yang kini menggenggam tangannya dengan begitu erat.


“Kau harus datang ke pesta pernikahanku,” ucap Pangeran Harry dengan senyuman ramah.


Emelie mengukir senyuman yang cukup indah saat mendengar kabar baik yang baru saja ia dengar. Bahkan, Emelie tidak lagi ingat dengan tangannya yang kini ada di genggaman Pangeran Harry, “Tentu saja. Aku akan datang.”


Dari kejauhan, Zeroun muncul. Pria itu berjalan dengan ekspresi dingin favoritnya. Sorot matanya cukup tajam saat melihat tangan pria lain kini menyentuh istrinya. Namun, Zeroun tidak ingin terlalu kelihatan kalau sedang marah. Pria itu mengatur ekspresi wajahnya setenang mungkin agar tidak menimbulkan masalah di lokasi pesta tersebut.


Zeroun menarik pinggang Emelie secara tiba-tiba saat sudah berada sangat dekat dengan istrinya. Tubuh Emelie berada di dalam pelukan Zeroun. Tangan Pangeran Harry yang sempat ada di pergelangan Emelie juga terlepas.


Zeroun menatap wajah Pangeran Harry dengan tatapan membunuh. Giginya saling beradu dan siap untuk melayangkan pukulan kepada Pangeran Harry malam itu. Emelie tahu, arti tatapan Zeroun. Ia tertawa kecil untuk memecah tatapan menyeramkan Zeroun.


“Pangeran Zeroun, ini-”


“Eh?” celetuk Emelie bingung. Namun, dalam waktu singkat wanita itu sadar dengan maksud dari kalimat Zeroun, “Ya. Baby.” Emelie tertawa kecil sambil menatap wajah Pangeran Harry.


“Baby?” ucap Pangeran Harry dengan ekspresi wajah menahan tawa.


“Ya. Baby Emelie. Apa ada masalah, Pangeran Harry?” ucap Zeroun dengan wajah yang sudah tidak lagi bersahabat.


“Tentu saja tidak ada. Jadi, Pangeran Harry mengundang kita ke pesta pernikahannya.” Emelie menatap wajah Zeroun dengan senyuman penuh arti.


Zeroun bisa kembali bernapas lega. Setidaknya pria yang kini berdiri di hadapannya bukan pria yang berniat untuk merebut Emelie dari sisinya.


“Pangeran Zeroun, senang bertemu dengan anda. Anda pria yang cukup manis,” ucap Pangeran Harry dengan senyuman yang cukup ramah.


“Manis?” celetuk Zeroun dengan senyum penuh arti, “Senang bertemu dengan anda, Pangeran Harry.”


“Ya. Saya pikir pertemuan kita sampai di sini. Saya harus segera kembali ke Inggris.” Pengeran Harry menatap wajah Emelie sekali lagi, “Maafkan saya karena tidak hadir di pesta pernikahanmu, Emelie. Waktu itu saya sangat sibuk.”


“Ya. Tidak masalah,” jawab Emelie dengan senyum semanis mungkin.


Pangeran Harry menatap wajah Zeroun sekilas sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Kini yang tersisa di tempat itu hanya ada Emelie dan Zeroun yang berdiri mematung sambil memandang punggung Pangeran Harry yang telah menjauh.


“Apa kau sudah bosan bersamaku?” bisik Zeroun.


Emelie memiringkan kepalanya. Wanita itu tertawa kecil sebelum mengusap lembut pipi Zeroun, “Kau cemburu?”


Zeroun melepas tangannya yang sejak tadi ada di pinggang Emelie. Pria itu berjalan ke sebuah kursi yang ada di ruangan. Lokasi itu memang cukup sunyi. Biasanya di gunakan oleh beberapa pengunjung untuk menelepon agar terhindar dari keributan yang terjadi di lokasi pesta.


Emelie mengukir senyuman. Ia duduk di atas pangkuan Zeroun dan memeluk leher suaminya dengan manja, “Aku mencintaimu.”


“Ya. Aku tahu.” Zeroun mengukir senyuman kecil. Bisa di bilang senyuman terpaksa.


Emelie melekatkan bibirnya dengan bibir Zeroun. Wanita itu berusaha mencairkan suasana yang sejak tadi menegangkan. Emelie tidak lagi memiliki cara lain untuk membujuk suaminya selain cara seperti itu.


“Kau wanita yang cukup cerdas, Emelie,” ucap Zeroun dengan senyum kecil.


“Baby Emelie,” protes Emelie dengan bibir maju ke depan.


Zeroun tertawa kecil sebelum membalas ciuman Emelie malam itu. Ia juga sudah mengalungkan kedua tangannya di pinggang Emelie. Kecupan Zeroun malam itu cukup lembut dan dipenuhi dengan cinta. Rasa cemburunya memang selalu saja tumbuh jika menyangkut wanita yang ia cintai. Jangankan di sentuh. Bahkan wanitanya dipandang oleh pria lain saja Zeroun tidak terima.


“Akhirnya, ia tidak marah lagi. Aku tidak memiliki cara lain untuk menyenangkannya malam ini. Maafkan aku, Zeroun. Tapi, wajah cemburumu tadi cukup manis. Ekspresi wajahmu membuatku semakin cinta kepadamu,” gumam Emelie di dalam hati.


.


.


.


Bagi vote dan Komen yang positif. Itu menentukan mood author untuk menulis. kalian pasti tahu, bagaimana gencar2 nya author pada mau Hiatus. Aku tetap bertahan di sini demi kalian. Menyelesaikan ceritanya sampai tamat pastinya. Jadi, tolong Like, komen dan Vote walau sedikit. Terima kasih. Author sayang reader 🥰