Moving On

Moving On
S2 Bab 79



Lukas memberhentikan mobilnya di depan markas Gold Dragon. Kedua pria itu keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Beberapa pasukan Gold Dragon terlihat berbaris rapi menyambut kedatangan mereka.


Lukas melirik jam yang melingkar di tangannya. Sudah waktunya pemakaman Agen Mia. Ia harus segera siaga di lokasi pemakaman. Lukas memutuskan untuk masuk ke dalam markas dan membawa Lana pergi bersama dengan dirinya ke pemakaman.


Berbeda dengan Zeroun. Pria itu tidak terlalu bersemangat untuk datang ke pemakaman Agen Mia. Ia tidak tega melihat Zetta menangis nantinya. Akan ada rasa bersalah di dalam hatinya, saat melihat wanita yang ia sayangi menangis karena dirinya.


Di dalam markas, ruangan terlihat sangat sunyi. Kursi yang sejak awal di duduki Lana dan Emelie sudah tidak berpenghuni. Dua pria itu terlihat mencari keberadaan dua wanita yang mereka cintai. Mereka berdua memutuskan untuk mencari di dalam kamar.


Baru beberapa meter melangkah, sudah terdengar tawa yang tidak asing bagi dua pria tangguh itu. Mereka sama-sama mengeryitkan dahi dengan ekspresi wajah bingung. Zeroun dan Lukas berjalan bersama-sama ke sumber suara yang mereka dengar siang itu.


Sumber tawa itu terdengar jelas dari halaman belakang. Halaman itu cukup jarang di gunakan. Bahkan hampir tidak pernah, Zeroun dan Lukas berkunjung ke sana. Mereka semakin mempercepat langkah kaki mereka karena sudah sangat penasaran dengan keberadaan wanita yang mereka cintai di sana.


Di halaman belakang, ada Emelie dan Lana yang sedang melukis. Ya, dua wanita itu ahli dalam melukis. Karena bosan menunggu Zeroun dan Lukas yang pergi entah kemana. Akhirnya Emelie dan Lana memutuskan untuk melukis.


Mereka melukis sambil bercanda tawa. Sesekali Emelie menjahili Lana dengan memberikan cat pada wajah wanita itu. Begitu juga sebaliknya. Di dalam kanvas, telah terlukis dengan indah sebuah pistol. Dua wanita itu melukis sebuah pistol dengan ukiran tato Gold Dragon di dalamnya.


Zeroun dan Lukas tertegun. Mereka tidak pernah menyangka kalau Emelie dan Lana memiliki bakat melukis. Walau terlihat jelas cara melukisnya asal-asalan, tapi hasil akhir yang diberikan cukup bagus.


“Sejak kapan Lana melukis?” ucap Zeroun kepada Lukas.


“Saya juga tidak tahu, Bos. Sepertinya itu bukan hasil karya Lana. Mungkin milik Nona Emelie. Biasanya, Putri Kerajaan memiliki bakat yang banyak.” Lukas melipat kedua tangannya di depan dada.


Tidak ingin terlalu lama memikirkan hasil lukisan siapa, Zeroun dan Lukas memutuskan untuk melangkah lebih dekat lagi. Namun, langkah kaki mereka harus terhenti saat sebuah lukisan yang ada di hadapan Emelie terlihat dengan jelas.


Di situ Emelie melukis Zeroun yang sedang menggendong seorang bayi laki-laki. Terlihat jelas wajah bahagia dan terharu Emelie saat melihat hasil lukisan miliknya. Lana yang berdiri di samping Emelie juga terlihat mengukir senyuman dengan mata berkaca-kaca.


Walau hanya sebuah lukisan, tapi tersirat jelas harapan Emelie di dalam lukisan itu. Gambar Zeroun menggendong bayi sudah pasti sebuah permohonan kalau Emelie ingin segera hamil. Ia ingin mengandung seorang Pangeran untuk Zeroun.


“Nona, setelah tiba di Inggris. Anda pasti akan menerima kabar bahagia,” ucap Lana berusaha memberi semangat.


Emelie mengukir senyuman terpaksa. Entah kenapa ia ingin menangis. Tanpa mau mengeluarkan kata lagi, Emelie memeluk tubuh Lana. Wanita itu meneteskan air mata karena tersentuh dengan kalimat yang dikatakan oleh Lana.


“Sayang,” ucap Zeroun dari kejauhan.


Emelie dan Lana melepas pelukan mereka. Dua wanita itu memandang dua pria yang mereka cintai. Ada rasa bahagia dan senyuman indah saat itu. Dua wanita itu memasang wajah penuh percaya diri atas karya yang baru saja mereka buat.


“Kau sudah kembali,” ucap Emelie sebelum berlari untuk memeluk Zeroun. Wanita itu memejamkan mata sambil menekan kesedihan di dalam hatinya. Ia tidak ingin Zeroun tahu, kalau kini ia telah bersedih.


“Apa yang kau pikirkan?” ucap Zeroun sambil mengusap lembut punggung Emelie.


“Tidak ada,” jawab Emelie sambil mempererat pelukannya.


“Apa itu lukisan yang kau buat?” ucap Zeroun sambil memandang lukisan indah karya tangan Emelie.


“Ya. Aku membuat gambar itu. Lalu yang di samping itu karya dari Lana,” jawab Emelie sambil menunjuk ke arah dua lukisan yang telah selesai.


“Ayo. Aku ingin melihatnya dengan jarak yang dekat.” Zeroun merangkul pinggang Emelie. Lukas hanya diam mematung. Ia melirik lagi waktu yang sudah tidak banyak.


Zeroun mengangguk pelan, “Jika kau melihat keberadaan Inspektur Tao. Segera beritahu aku,” ucap Zeroun kepada Lukas.


“Baik, Bos,” jawab Lukas sebelum memandang wajah Lana. Pria itu memberi kode kepada Lana agar segera mendekat dengan dirinya.


Lana menunduk hormat di depan Emelie dan Zeroun, “Saya permisi, Nona.” Wanita itu meraih tangan Lukas. Mereka pergi sambil bergandengan tangan. Ada senyum indah di wajah Lana siang itu.


“Lukisan itu cukup bagus,” ucap Lukas masih dengan pandangan ke depan.


Lana tertawa kecil, “Tidak sebagus hasil karya Nona Emelie. Gambar yang ia buat penuh dengan perasaan dan detail yang cukup indah,” ucap Lana sambil menjatuhkan kepalanya di lengan Lukas, “Apa Inspektur Tao belum ketemu?” tanya Lana penuh selidik.


"Belum," jawab Lukas singkat.


“Apa dia tidak ada di bandara? Apa orang yang memberi kabar itu salah?” Lana mulai sadar kalau Lukas dan Zeroun hanya menggunakan nama Inspektur Tao sebagai alasan saja.


“Ya.” Lukas membuka pintu mobil. Pria itu memiringkan kepalanya agar Lana masuk ke dalam mobil.


Lana menutup kembali pintu mobilnya, “Apa kau berbohong padaku?” Lana menatap kedua bola mata Lukas dengan seksama. Ada tatapan menyelidik dari pandangan wanita itu.


Lukas mengeryitkan dahi. Ia tidak ingin ketahuan bohong di depan Lana. Bagaimanapun juga, semua juga salah Lana. Jika saja sejak awal wanita itu tidak mengungkit masalah baju coupel, maka Lukas dan Zeroun tidak perlu berbohong.


“Kau tidak percaya padaku?” tanya Lukas penuh penekanan. Pria itu memajukan kepalanya hingga jarak wajah mereka sangat dekat.


“Bu-bukan begitu. Hanya saja,” ucapan Lana tertahan. Wanita itu memejamkan matanya, “Nona Emelie memaksaku untuk melihat gps mobil.”


“What?” teriak Lukas histeris. Jika Lana dan Emelie melihat gps mobil yang ia kendarai, sudah pasti kebohongan mereka ketahuan. Lukas memutar tubuhnya untuk memandang markas. Lebih tepatnya membayangkan wajah Zeroun saat ini.


“Maafkan saya, Bos,” ucap Lukas dengan suara pelan. Ia sudah cukup paham, kalau kini pria itu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Emelie akan segera murkah saat mengetahui kebohongan yang mereka lakukan.


“Kau mengkhawatirkan Bos Zeroun? Apa kau tidak mengkhawatirkan dirimu sendiri?” tanya Lana sambil memainkan alisnya dengan senyum tertahan.


Lukas melirik wajah Lana sekilas. Pria itu tidak ingin terlihat lemah di depan wanita yang ia cintai. Dengan sekuat tenaga, ia mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat sedang merasa bersalah.


“Lana, kita sudah terlambat. Apa kau mau berdiri di sini sampai proses pemakaman selesai?” ucap Lukas dengan nada mengancam.


Lana memajukan bibirnya sebelum masuk ke dalam mobil. Wanita itu tidak berani menentang Lukas. Wajah pria itu masih tetap saja menyeramkan walaupun kini Lukas yang bersalah.


Lana duduk di kursi sambil melipat kedua tangannya. Ia memasang wajah kesal dan sedih. Wanita itu tidak mau memandang wajah Lukas lagi,


Lukas masuk ke dalam mobil. Pria itu memandang wajah Lana sekilas sebelum melajukan mobilnya, “Apa seperti ini rasanya memiliki kekasih dan berpacaran?” gumam Lukas di dalam hati.


.


.


Pada penasaran ya Zeroun di marahi sama Emelie gimana🤣. Besok siang di tambah lagi ya... author ngantuk banget. Terima kasih.