
Mendengar teriakan Lukas yang tiba-tiba, membuat Lana memejamkan mata. Detik itu juga, Lana merasakan bahaya telah mengancam nyawanya. Ada rasa menyesal karena sudah merencakan hal bodoh seperti sekarang. Peluru itu mengikis sedikit bagian telinganya hingga membuat luka kecil. Ada darah yang menetes membasahi baju yang saat itu ia kenakan. Sedikit saja dia bergerak tadi, mungkin peluru berwarna emas itu akan menancap di dahinya.
Lukas kembali bernapas lega saat melihat Lana baik-baik saja. Peluru bidikannya hanya meleset beberapa centi dari mata wanita itu. Setelah melihat Lana masih baik-baik saja, Lukas kembali mengingat kalimat yang diucapkan oleh Lana di waktu ia menarik pelatuk.
“Apa kau gila?” teriak Lukas penuh amarah. Ia tidak suka dengan candaan Lana siang itu. Hampir saja dirinya melakukan satu kecerobohan yang akan ia sesali seumur hidupnya.
“Yee, aku menang,” sorak Lana tanpa peduli dengan teriakan Lukas yang kini memarahinya. Hanya ada satu hal memenuhi pikiran Lana, dirinya menang dalam pertarungan siang itu. Kini wanita tangguh itu terlihat melompat penuh kegirangan, “Sudah ku duga, rencana ini pasti berhasil.”
“Lana!” teriak Lukas saat wanita tangguh itu tidak kunjung menghiraukanya.
“Aku menang. Sekarang saatnya kau menuruti permintaanku.” Lana memegang telinganya yang sedikit terluka. Rasa sakitnya tidak lagi terasa karena ia bisa memenangkan pertarungan.
Lukas terdiam beberapa saat. Pria itu menatap wajah Lana dengan ekspresi dingin. Kini wanita tangguh yang sempat mengganggu pikirannya telah berjalan untuk mendekati tubuhnya. Dengan wajah penuh percaya diri, Lana siap untuk meminta hadiahnya.
“Kau kalah,” ledek Lana sekali lagi saat wanita itu berdiri tegak di hadapan Lukas.
Lukas melirik ke arah telinga Lana yang terluka sebelum memandang wajah Lana dengan seksama, “Apa yang kau minta?”
“Tawamu,” ucap Lana penuh percaya diri. Kini wanita itu mengukir senyuman yang cukup indah. Memang sejak awal, hal yang sangat ingin ia lihat adalah tawa pria berekspresi dingin itu. Lana sudah memikirkan rencananya sejak tadi, agar bisa menang dan bisa melihat tawa milik Lukas.
“Aku tidak bisa,” jawab Lukas menolak. Pria itu membuang tatapannya ke arah lain, “Selain itu.”
“Kau tidak bisa tertawa?” Lana mengeryitkan dahi. Wanita itu tidak pernah menyangka, kalau Lukas benar-benar tidak bisa untuk tertawa. Bahkan tersimpan di dalam pikiran Lana, kalau Lukas lupa cara untuk tertawa.
“Aku hanya mau kau membayar kekalahanmu dengan tawa. Ayolah tertawa. Tawa itu gratis. Kau tidak perlu membayarnya Lukas.” Lana menarik kedua pipi Lukas untuk mengukir senyuman di bibir pria itu.
“Hentikan, Lana. Kau sudah keterlaluan. Sepertinya kau sudah tidak tahu batasan lagi. Ingat! Kau masih bawahanku. Di dalam geng mafia ini, setiap atasan dan bawahan memiliki batasan yang harus mereka jaga. Kau sudah jauh melewati batas.” Lukas menatap wajah Lana dengan emosi yang ingin segera meledak. Pria itu sudah cukup sabar menghadapi tingkah laku Lana selama beberapa hari ini.
“Aku hanya ingin membuatmu tertawa,” ucap Lana pelan. Wanita itu sudah mulai takut dengan ucapan yang baru saja di ucapkan oleh Lukas, “Jika kau tidak bisa tertawa, aku akan membawamu ke suatu tempat yang bisa membuatmu bahagia nanti malam.” Lagi-lagi Lana berusaha untuk membujuk pria berbahaya itu agar bisa tertawa.
“Tunggu!” teriak Lana. Wanita itu berdiri di hadapan Lukas untuk menghadang pria itu pergi. Masih ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada Lukas. Lana tidak ingin siang itu kemenangannya tidak membuahkan hasil.
“Kau selalu memikirkan orang lain hingga lupa dengan hidupmu sendiri. Setiap kali orang lain bersedih, kau jauh lebih sedih. Walaupun itu Bos Zeroun, tetapi ka tidak boleh terlalu menggantungkan hidupmu padanya. Aku yakin, Bos Zeroun juga ingin melihatmu bahagia,” ucap Lana sambil menghela napas.
“Lana!” bentak Lukas tidak terima.
“Apa? Kau mau marah padaku? Mau memukulku atau ingin membunuhku? Silahkan. Karena aku sudah siap untuk mati. Di saat maut mau menjemputku. Setidaknya aku mati dan pergi meninggalkan dunia ini dengan senyuman. Tidak seperti dirimu Lukas. Hidupmu sungguh menyedihkan.” Lana mendekatkan wajahnya ke wajah Lukas hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci saja.
“Seseorang yang tidak pernah memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk bahagia adalah seorang pengecut,” ucap Lana sebelum menjauhkan wajahnya dari wajah Lukas.
Perkataan Lana cukup menghantam hati Lukas siang itu. Kini Lukas berdiri tegak sambil memikirkan semua kalimat yang terucap dari bibir Lana. Ada wajah penyesalan di raut wajah Lukas karena membentak wanita itu tanpa alasan. Setelah berpikir beberapa detik, Lukas memutar tubuhnya untuk memandang punggung Lana.
“Maaf,” celetuk Lukas dengan suara khasnya. Nada bicaranya tidak terlalu kuat. Namun, Lana bisa mendengar ucapannya dengan jelas. Wanita itu memutar tubuhnya untuk menatap wajah Lukas. Ada rasa ragu atas pendengarannya saat itu.
“Maaf kau bilang?” ulang Lana tidak percaya.
“Aku tidak akan mengulang untuk yang kedua kalinya.” Lukas berjalan mendekati posisi Lana berada. Pria itu berdiri sambil menatap wajah Lana dengan seksama, “Tentukan jam dan tempatnya, aku akan datang nanti malam.” Lukas melanjutkan langkah kakinya untuk pergi meninggalkan pantai itu.
Lana mengukir senyuman saat tawarannya di terima oleh Lukas. Wanita itu tidak menyangka, kalau Lukas bahkan mau mengucapkan kata maaf, “Aku akan membuatmu tertawa dan menikmati hidup, Lukas.”
Lana melanjutkan kegiatan bermain air di pantai. Wanita itu kini terlihat bahagia dengan wajah berseri. Siang itu ia benar-benar berhasil memenangkan pertarungannya dengan Lukas. Bahkan, ia juga berhasil membawa Lukas untuk pergi nanti malam. Satu tempat yang cukup bagus sudah terancang rapi di dalam pikiran Lana. Wanita itu sangat yakin, kalau nanti malam Lukas akan tersenyum dengan bahagia.
**Mohon maaf kalau kualitasnya kurang bagus. Author ge kurang sehat. Tangannya masih sakit. Mungkin akan ada banyak typo. Terima kasih atas pengertiannya.
Vote yg banyak ya, biar Moving On bisa bertahan di 20 besar**.