
(NINO)
Saat ini, aku bersama istriku sedang makan siang bersama. Anita mengunjungi dengan membawa bekal yang ia bawa dari rumah. Tentu saja dia lah yang memasak.
"Mas, entar malam disuruh kerumah ibu." ujar Anita.
Ibu yang di maksud anita adalah ibu mertuaku.
"Iya sayang. Memang ada apa?"
"Cuman makan malam saja mas. Katanya ibu, kangen sama anak-anaknya."
"Okey, sayang."
Tiba-tiba Anita berdiri, mengambilkan segelas air minum. Kemudian ia berikan kepadaku karena saat ini makanan ku sudah habis. Sungguh wanita baik.
Dia merapikan makanan yang ada di meja. Dan menata kembali kedalam tas yang ia bawa.
"Terimakasih ,sayang." ucapku.
"Sama-sama mas. Sudah kewajibanku melayani mas dengan sepenuh hati." jawabnya
Aku tersenyum kepadanya dan memeluk dengan erat.
"Kamu baik wanita baik Anita. Maafkan aku."ungkapku.
"kenapa minta maaf mas? Kan gak salah."tanyanya.
"Karena kamu terpaksa mau menerima perjodohan ini."
"Aku gak terpaksa kok mas." jawabnya.
Tiba-tiba, terdengar dering telpon. Aku melepaskan pelukan Anita.
"Bentar, mas angkat telpon dulu."
"Iya mas."
Aku melangkah kearah meja kerja. Mengambil handphoneku dan menerima panggilan dari seseorang. Aku sedikit menjauh dari Anita, agar tidak mendengar.
"Halo, Nin."
"Iya halo,Al. Gimana?"
"Kamu bisa datang besok malam kerumahku?"
"Bisa. Ada apa sebenarnya? Kamu baik-baik saja kan."
"Iya aku baik-baik saja. Ara mengundang kamu makan malam."
"Serius?"
"Iya serius. Dia ngundang kamu kerumah."
"Pasti. Pasti aku akan datang. Terimakasih, Al."
"Sama-sama Nin. Jangan lupa datang."
"Iyaa... "
Panggilan telepon darinya berakhir. Aku masih syok, Ara mengundang makan malam.
Aku mematung di tempat. Hingga Anita memanggil diriku.
"Mas, kenapa?" Dia mendekat kearahku.
"Nggak ada apa-apa sayang."
"Yaudah. Aku pamit pulang dulu ya mas. Jangan lupa malam ini ada makan malam sama ibu. Jangan lembur. "
"Iya sayang. Hati-hati yaa..."
Kemudian Anita pergi. Meninggalkan ruang kerjaku. Aku kembali fokus dengan pekerjaan.
***
Malam ini, aku mengendarai mobil menuju ke rumah Almira. Di belakang mobil sudah ada boneka besar untuk putrinya dan bunga untuk Almira.
Aku semakin gugup. Ketakutan mulai menghampiriku. Banyak pertanyaan yang terlintas dalam pikiranku.
Bagaimana kalau Ara tidak suka dengan bonekanya?
Bagaimana kalau Ara ternyata tidak menyukaiku?
Bagaimana? Bagaimana?
Hanya pikiran negatif saja yang terlintas di benakku.
Saat ini, aku sudah berhenti didepan rumah Almira. Ini pertama kalinya aku datang ke rumahnya, setelah kepergian Almira.
Rumah ini masih seperti dulu, meski sudah di renovasi. Hatiku sakit karena merasa bersalah.
Aku menekan bell pintunya. Aku menjadi gelisah. Terdengar suara dari dalam. Kemudian pintu terbuka, dibalik pintu ada seseorang yang saat ini ingin aku memeluknya dengan erat. Dia adalah putriku,Arabela.
"Hai daddy..."sapa putri kecilku. Aku terkejut mendengarnya, dia memanggilku dengan daddy. Mata aku berkaca- kaca, hatiku seperti dicabik-cabik.
"Hai juga sayang..."
" Apa yang daddy bawa?"
"Hmm, sedikit hadiah buat kamu." Aku memberikan hadiah boneka kepadanya.
"Wow, sangat besar. Tinggi baby bears. I love so much. Thanks daddy." Boneka yang aku bawa memang lebih besar dan tinggi darinya. Dia sangat menggemaskan.
"Iya, you're welcome sweety." Aku mengusap rambut kepalanya.
" Dimana mama sayang?"
"It's okey,baby."
"Silakan masuk daddy." katanya. Dia mempersilahkan masuk, sungguh sangat menggemaskan.
Dia melangkah menuju keruang tamu, dengan membawa boneka besarnya. Kemudian, dia menaruh bonekanya di kursi.
"Daddy, mau minum apa?"
"Air putih aja sayang."
"Oke daddy. Wait, Ara ambilkan minum."
"Iya sayang. Hati -hati."
Dia langsung belari-lari menuju ruang dapur. Aku mengikutinya dari belakang. Ara mengambil gelas yang berada di lemari bawah, sepertinya itu khusus untuk Ara karena bentuk mugnya untuk anak-anak. Almira mendidik putrinya dengan sangat baik.
"Kenapa daddy ngikutin Ara?" tanyanya. Dia sadar keberadaanku yang mengikutinya.
"Daddy, takut Ara kenapa- kenapa."
"Don't worry daddy. I'm fine."
"Okey." Dia menyerahkan secangkir minuman kepadaku.
"Makasih sayang."
"Ayoo,dad. Kita kembali keruang tamu, sambil nunggu mama."
"Iya sayang."
Dia meraih tanganku. Aku menggenggam tangan mungilnya, dan berjalan menuju keruang tamu bersama. Sangat hangat, tangan mungilnya. Hatiku pun menjadi hangat. Moment seperti ini lah yang ingin aku lakuin bersamanya.
Kita duduk di sofa panjang. Ara duduk menghadapku.
"Daddy, boleh Ara tanya?"
"Iya sayang." Aku menjadi gugup, sorot matanya menunjukan keseriusan.
"Daddy,sayang Ara tidak?"
"Iya. Daddy sangat sangat sayang Ara."
"I love you,dad." Ara memelukku dengan erat.
"I love you sayang. Maafkan daddy baru datang."
"Akhirnya, aku bisa meluk daddy seperti ini."
"Peluk daddy yang erat sayang. Daddy gak akan pergi lagi."
"Makasih daddy, udah datang menemui Ara."
Aku terharu dengan putriku. Dia sangat dewasa dan mengerti keadaan orang tuanya. Sungguh aku sangat berterima kasih dengan Almira yang telah mendidiknya dengan baik. Meski perjalanan kedepannya tak akan mudah. Aku sudah berkeluarga, tapi aku ingin melupakan sejenak. Aku ingin menikmati moment bersama putriku.
Kita saling bercerita sama lain. Dia juga katanya ingin bertemu dengan saudara sepupunya, yang sempat aku katakan yang mirip dengannya. Tapi aku memberikan penjelasan untuk saat ini, dia belum bisa menemuinya. Aku harus menjelaskan dengan ibunya, agar dia gak kaget dengan keberadaan Ara.
Tawa kita bergema di ruang tamu ini. Tak lama kemudian Almira datang menghampiri kita.
"Hai, kamu udah datang." sapanya.
"Hai juga. Iya." Aku menghampirinya dan memeluknya dengan erat. Aku merindukannya,sangat merindukannya.
"Makasih."
"Sama-sama,Nin. Welcome Home..." Aku tersenyum kepadanya,sambil melepaskan pelukan. Dia masih seperti dulu, masih cantik. Aku memandangnya matanya, dia tampak bahagia.
"Mom, hayo kita makan. Ara udah laper." ujar putri kecilku.
"Sorry,sayang. Hayo kita kedapur." ajak Almira.
"Hayo papa." Ajak Ara. Dia menggandeng tanganku. Sungguh, hari ini aku dibuat hati berbunga- bunga dengan tingkah Ara.
Aku melirik kearah Almira, dia hanya tersenyum melihatku. Dia menganggukan kepala, menyuruh dia mengikuti Ara.
Saat ini, kita semua sudah berada di meja makan. Banyak makanan yang sudah tersaji. Ara yang duduk berada di sampingku, sedangkan Almira berada di depanku.
"Semua masakan hari ini, yang masak mama dan di bantu Ara."kata Ara.
"Wah, Ara pintar sekali. Bagus sekali, daddy suka sekali kalau Ara sering membantu Mama."
"Hehehe... Siap daddy."
Aku melihat Almira tersenyum,
"Kamu baik-baik aja kan?"
"Iya, aku baik-baik aja. Aku hanya senang melihat kalian berdua."jawabnya.
Di masa lalu, aku pernah menyakitinya. Tapi kini, aku berusaha membuat mereka bahagia dan menjadi alasan aku lah yang membuat mereka bahagia. Mungkin, aku ingin melakukan yang membuat aku bahagia dan mereka berdua. Meski diluar sana banyak yang menentang di masa depan.
"Hayo,kita makan."ajak Almira.
" Selamat makan,mommy,papa." ujar Ara.
" Selamat makan juga." ujar Almira
"Selamat makan semua."
Akhirnya, kita makan dengan tenang. Kebahagian terpancar dimeja makan. Ara sangat menggemaskan, dia terlihat bahagia. Baginya hal ini adalah pertama kali bersama orang tua lengkap.
SELAMAT MEMBACA READERS 🥰
JANGAN LUPA LIKE AND COMENT 🤩😍
Love yaa ❤️