
Zeroun mengatur napasnya lagi. Pria itu tidak ingin menyerah untuk menaklukan hati kekasihnya. Dengan lembut ia menyentuh kedua tangan Emelie. Menatapnya dengan seksama.
“Apa yang harus Aku lakukan agar kau tidak marah lagi?” Wajahnya berubah memelas.
“Katakan, kenapa kau harus membohongiku?” Emelie menatap wajah Zeroun.
Zeroun tersenyum kecil, “Katakan, kenapa Kau membohongiku?”
“Itu pertanyaanku, kenapa Kau mengatakan kalimat yang sama.” Emelie berubah kesal.
“Karena Kau juga membohongiku.”
Emelie terdiam untuk mencerna semua perkataan Zeroun. Wanita itu kembali menyadari semua kebohongan yang selama ini telah ia lakukan.
Apa Zeroun sudah tahu kalau Aku menyembunyikan semuanya dan tidak ingin menceritakan dengan jujur. Seharusnya Aku tahu, dia pria yang waspada, bagaimana mungkin bisa Aku bohongi dengan cara seperti ini.
“Tidak bisa menjawab?” Zeroun mendekatkan wajahnya memandang wajah Emelie dengan jarak yang dekat.
“Biar Aku bantu menjawab. Karena Kau tidak ingin membagi beban itu kepadaku. Kau tidak ingin membuat hidupku dalam kesulitan. Emelie, jika seorang wanita tidak ingin membuat pria yang ia cintai kesulitan. Bagaimana mungkin Aku seorang pria membuat wanitaku kesulitan.” Zeroun menyentuh dengan lembut pipi Emelie.
“Aku selalu melindungi wanita yang Aku cintai. Membiarkannya tetap bebas menikmati semua yang ingin ia lakukan. Tapi, Aku tidak pernah mau dibohongi. Aku lebih suka Kau jujur sejak awal agar Aku bisa membantumu.”
“Apa kau mengerti, Emelie?”
Emelie mengangguk. Wanita itu tidak lagi mempermasalahkan kebohongan kekasihnya. Namun, kecemburuannya pada wanita seksi itu masih belum hilang. Ia ingin tahu, kenapa Zeroun begitu murahan memberi ciumannya pada wanita lain.
“Baiklah, Aku akan memaafkanmu untuk hal yang satu itu. Tapi, tentang ciuman itu.”
Zeroun tersenyum. Pria itu melekatkan wajahnya seolah-olah ingin mencium Emelie. Emelie memandang wajah Zeroun dengan seksama. Tetapi, pria itu justru melekatkan wajahnya ditelinga Emelie.
“Aku mencintaimu,” bisik Zeroun dengan mesra.
Zeroun kembali memandang Emelie. Pria itu memberikan gerakan yang sama persis saat ia melekatkan wajah dengan wanita Brasil itu.
“Kau hanya berbisik? tidak menciumnya?” Emelie memandang wajah Zeroun yang ada di hadapannya.
“Syukurlah, pagi ini kau tidak berubah bodoh saat berada di dekatku. Apa ada lagi yang membuatmu marah Emelie?” Zeroun menatap wajah Emelie dengan serius.
Emelie mengukir senyuman indah. Menggeleng kepalanya dengan hati yang bahagia. Wajahnya merona saat memandang tato indah yang ada di dada kekasihnya. Tatapan matanya kembali ia fokuskan pada inisial 'E'.
E? siapa inisial E itu? tidak mungkin namaku... Aku baru saja bertemu dengannya. Tetapi tato itu dibuat sudah cukup lama. Mungkin, itu sebuah kode. Aku akan menanyakannya nanti.
Kini semua salah pahamnya telah terjawab. Rasa sakit hati yang dirasakan Emelie telah terobati. Hatinya tidak lagi menyimpan amarah kepada kekasihnya.
“Aku mencintaimu,” ucap Emelie sambil mencium pipi Zeroun.
“Maafkan Aku. Aku terlalu mencintaimu hingga takut untuk kehilanganmu.”
Zeroun menarik tubuh Emelie ke dalam pelukannya, “Kita akan selalu bersama selamanya. Kau milikku dan Aku akan selalu menjadi milikmu. Kita akan menghadapi kesulitan ini bersama-sama.”
Emelie menganggukkan kepalanya di depan dada bidang Zeroun. Wanita itu tersenyum bahagia sambil memeluk erat tubuh Zeroun. Hatinya benar-benar bahagia pagi itu.
“Zeroun, Aku akan menyiapkan sarapan untukmu.” Emelie mendongakkan kepalanya menatap wajah Zeroun.
“Baiklah, cepat ganti pakaianmu sebelum pergi ke dapur. Aku akan menunggumu di sini.” Zeroun mengecup pucuk kepala Emelie.
“Ingat, kau hanya boleh memasak untukku.”
“Hmm, baiklah Bos Zeroun.”
Zeroun tersenyum. Mengangkat tubuh Emelie agar naik ke atas kolam. Pria itu berdiri beberapa saat untuk melihat kepergian Emelie. Saat Emelie sudah masuk kedalam kamar, Zeroun melanjutkan mandinya. Pria itu kembali berenang untuk melatih otot-otot tubuhnya.
Lukas menutup gorden kamarnya. Sejak tadi, pria itu mengintip Zeroun dan Emelie untuk memastikan hubungan keduanya. Kini pria itu tidak lagi ragu dengan hubungan Bos mafia itu.
“Anda selalu saja berubah saat sedang jatuh cinta, Bos.” Lukas memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu.
***
Di dapur.
Emelie memotong sayur dan sosis dengan wajah berseri. Wanita itu ingin membuat omelet spesial untuk Zeroun Zein. Dari kejauhan, Lana muncul dengan luka yang sudah hampir mengering. Wanita tangguh itu berdiri di samping Emelie, menatap wanita itu dengan seksama.
“Jangan, masakan ini khusus untuk Zeroun. Aku ingin membuatkan sarapan untuknya.” Emelie mendorong Lana agar wanita itu menjauh.
“Masakan ini sangat enak. Apa saya boleh memintanya Nona.” Lana menyeringai tipis.
“Tidak boleh, Zeroun melarangku agar tidak memasak untuk orang lain.” Emelie mulai menyajikan Omeletenya di atas piring kaca. Menyusun makanan itu di atas nampan.
“Nona, makanan itu terlihat lezat. Kenapaanda tidak membaginya.” Lana melipat kedua tangannya.
“Kita akan masak bersama nanti siang, bagaimana?” Emelie tersenyum.
“Apa anda serius, Nona?” Wajah Lana berseri.
“Tentu, kita akan memasak untuk makan siang.”
“Baik, Nona." Wajah Lana berseri penuh semangat.
"Sekarang Aku harus pergi membawa makanan ini untuk Zeroun.”
“Silahkan Nona.” Lana memberi jalan kepada Emelie. Wanita itu tersenyum melihat kelembutan Emelie.
“Nona, anda wanita yang sangat sempurna.”
.
.
.
Zeroun duduk di sebuh sofa dengan bersandar. Menatap ke arah luar untuk menikmati pemandangan. Wajahnya terlihat begitu tenang pagi ini. Rencananya tadi malam berjalan dengan begitu sempurna. Kini tinggal melanjutkan rencana selanjutnya. Ia ingin menghancurkan Heels Devils secara perlahan. Membuat musuhnya merasa tidak lagi tenang dan selalu merasakan penderitaan.
Lamunannya pecah saat ia mendengar suara pintu terbuka. Pria itu memutar tubuhnya untuk memandang ke arah pintu. Emelie muncul membawa makanan dengan begitu hati-hati. Bibirnya tersenyum dengan indah saat bisa memasak sesuatu untuk kekasihnya.
“Apa kau sudah lama menunggu?” Emelie meletakkan nampan itu di atas meja. Bibirnya masih tetap tersenyum sebelum duduk di samping Zeroun.
“Kali ini tidak ada kata lumayan.” Emelie mengedipkan sebelah matanya.
Zeroun tertawa kecil saat mendengar perkataan Emelie. Tanpa menunggu lama, pria itu mulai mencicipi masakan kekasihnya.
Emelie memandang wajah Zeroun dengan seksama saat makanan yag ia masak telah masuk kedalam mulut pria itu. Hatinya dipenuhi harap-harap cemas kalau Zeroun akan menyukai makanan itu.
“Apa tidak enak?” Emelie memandang makanannya dengan tatapan bingung. Tiba-tiba saja Zeroun meletakkan garpu itu di atas piring. Membuat Emelie merasa ragu dengan masakan yang telah ia buat.
“Sangat enak, tapi Aku ingin Kau juga memakannya.” Zeroun tersenyum.
Emelie mengambil garpu itu. Wanita itu juga memakan masakannya.
"Bukankah ini sangat enak?" Emelie memotong telur itu, memberikannya kepada Zeroun
"Buka mulutmu."
Zeroun tersenyum kecil sebelum menerima suapan itu. Bos Mafia itu memakan makanannya dengan wajah bahagia.
Aku pernah merasakan cinta namun berakhir dengan kata luka.
Aku pernah merasakan rindu namun berakhir dengan kata kehilangan.
Aku pernah merasa memiliki namun berakhir dengan kata kecewa.
Tetapi ...
Aku pernah merasakan luka yang berakhir dengan senyum bahagia.
Kali ini aku hanya ingin merasakan cinta, rindu dan memiliki. Aku tidak ingin merasakan luka lagi. Mulai detik ini apapun yang menjadi milikku akan selamanya menjadi milikku. Aku tidak akan melepaskannya untuk siapapun dengan alasan apapun.
~Zeroun Zein~
Maaf ya Readers.. blm bsa crazy up karena kondisi kurang fit. diusahakan besok. terima kasih.