Moving On

Moving On
Masakan Emelie



Hari telah berganti malam. Zeroun duduk di atas sofa sambil mengotak-atik ponsel miliknya. Sejak tadi, ia memperhatikan lokasi yang ada di Brazil. Zeroun terus saja memikirkan teknik penyerangan untuk melawan Heels Devils. Baginya, walau hanya seorang wanita, tapi Jesica bukan lawan yang bisa di anggap remeh lagi. Zeroun harus benar-benar siap saat ingin menyerang wanita berbahaya itu.


Dari arah pintu terdengar bel pintu. Zeroun tahu, kalau yang datang bukan salah satu pelayan yang biasa mengunjunginya. Pelayan itu selalu mengetuk pintu sebagai kode. Zeroun meraih pistol yang ada di atas meja. Menggenggamnya dengan wajah waspada. Matanya mengintip di lubang kecil yang ada di pintu.


Zeroun kembali menyembunyikan pistol miliknya dibelakang punggung, sebelum membuka pintu. Pria itu berdiri dengan ekspresi dingin.


“Emelie?” Zeroun mengeryitkan dahinya. Menatap penampilan Emelie dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Malam itu penampilan Emelie terlihat berbeda. Ia terlihat seperti gadis biasa pada umumnya. Celana panjang dengan tshirt tangan panjang juga. Rambutnya diikat satu dengan karet pita berwarna hitam.


“Apa kau sudah makan? Aku punya hadiah untukmu, Zeroun.” Mengedipkan sebelah mata. Sambil memamerkan kantung plastik yang kini ia bawa.


Emelie berdiri di depan pintu Apartemen Zeroun dengan wajah berseri. Zeroun memandang lorong apartemen itu dengan seksama. Memastikan kalau tidak ada orang yang mengikuti Emelie malam itu.


“Jangan khawatir, tidak ada yang mengikutiku.”


Tanpa di suruh masuk, Emelie melangkah ke dalam ruangan luas itu. Seolah-olah rumah itu miliknya sendiri. Emelie langsung melangkah menuju ke arah dapur sambil membawa kantung-kantung plastik putih. Meletakkan kantung plastik dan tas miliknya di atas meja.


Zeroun menutup pintu itu kembali. Memutar tubuhnya memandang Emelie dari posisi yang tidak terlalu jauh. Memasukkan pistol miliknya ke dalam laci lemari.


“Apa itu?” Zeroun memperhatikan kantung plastik putih yang baru saja di letakkan di atas meja.


“Bahan makan malam,” jawab Emelie dengan senyuman.


Emelie tersenyum lebar sebelum mengeluarkan isi dari kantung plastik itu. Ada ikan, sayur dan beberapa bumbu masakan lainnya. Emelie ingin memasak sesuatu untuk Zeroun sebagai menu makan malamnya.


“Apa kau bisa memasak?” Ada keraguan di raut wajah Zeroun saat itu. Selama ini Emelie terlihat seperti Putri Kerajaan yang begitu manja.


“Tentu bisa.” Emelie mulai mengambil alih tugasnya di dapur.


Beberapa alat masak sudah ada di atas kompor. Emelie mencuci ikan itu tanpa jijik. Sepertinya ia sudah terbiasa dengan pekerjaan seperti itu. Memotong-motong sayuran dengan begitu ahli dan cepat. Emelie terlihat semakin cantik dan menawan saat ia sibuk di dapur. Bahkan setiap tetes keringat yang menetes dari wajahnya justru menonjolkan aura cantiknya yang alami.


Zeroun hanya memperhatikan semua kegiatan Emelie dengan ekspresi dingin. Sesekali ia tersenyum kecil, saat melihat wanita itu terlalu serius waktu memasak.


Beberapa menit kemudian, Emelie telah siap memasak satu menu andalannya. Dengan wajah penuh percaya diri, Emelie meletakkan ikan itu di atas meja yang ada di hadapan Zeroun.


“Ikan apa ini?” Zeroun sepertinya belum pernah memakan ikan dengan bentuk seperti itu.


“Yang Mulia sering bilang dengan nama ikan ekor kuning.” Emelie duduk di kursi yang ada di samping Zeroun.


Zeroun mendekatkan diri ke arah piring yang berisi ikan itu. Tercium aroma yang menggoda di sana.


“Kau pasti akan menyukainya. Ada bumbu dan rempah dari resep kerajaan di dalamnya.” Emelie mengambil piring kosong, sendok dan garpu. Meletakkan alat makan itu di hadapan Zeroun.


“Cobain,” pintah Emelie dengan senyuman.


Zeroun memotong ikan berdaging tebal itu. Ikan itu kering bagian luarnya karena di goreng. Namun, bagian dalamnya tetap lumer di tambah lagi, Emelie menyiram ikan itu dengan saus kemerahan yang menggiurkan.


Perlahan, Zeroun memasukkan potongan ikan itu ke dalam mulutnya. Sejenak pria itu terpaku. Masakan Emelie memang terasa sangat nikmat dan membuat ketagihan.


“Apa masakanku sangat enak?” tanya Emelie dengan raut wajah penuh harap.


Lumayan? Pria ini orang pertama yang bilang masalahku lumayan.


Emelie menghembuskan napasnya dengan wajah sedikit kesal. Memandang arah lain dengan tangan yang menopang dagu.


Zeroun tersenyum kecil memandang ekspresi Emelie saat itu. Ia mengambil satu potongan kecil. Mengoleskan daging ikan itu dengan sedikit bumbu. Menyodorkan garpu itu di hadapan Emelie.


“Ini makanlah,” ucap Zeroun dengan wajah tidak terbaca.


Emelie memandang potongan ikan itu dengan seksama sebelum menatap wajah Zeroun lagi. Belum pernah ada orang yang menyuapi dirinya seperti itu. Ada rasa malu dan canggung di dalam diri Emelie.


“Aku tidak akan mengulang untuk yang kedua kalinya,” sambung Zeroun cepat. Saat Emelie tidak kunjung membuka mulutnya.


Dengan ragu-ragu, Emelie membuka mulutnya. Zeroun memasukkan potongan ikan itu ke dalam mulut Emelie. Perlahan Putri Kerjaan itu mengunyah masakannya sendiri.


Emelie sudah biasa memakan ikan itu. Bahkan hampir seminggu sekali Emelie merasakan masakan seperti itu. Tapi, malam itu ikan itu terasa beda. Jauh lebih nikmat dari yang ia makan sebelumnya. Wajah Emelie merona malu. Wanita itu mengalihkan wajahnya agar Zeroun tidak menyadari perubahan wajahnya.


Setelah berhasil memasukkan ikan itu ke dalam mulut Emelie, Zeroun melanjutkan makan malamnya. Menikmati setiap potongan ikan yang sudah di masak oleh Emelie.


Emelie memandang Zeroun secara sembunyi-sembunyi. Wanita itu tersenyum dengan rasa bahagia yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Ini pertama kalinya ia memasak untuk orang asing yang tidak terlalu dekat dengan dirinya. Emelie sendiri juga tidak memiliki alasan, kenapa ia mau melakukan semua itu. Satu hal yang ia tahu, hatinya bahagia saat berada di dekat Zeroun.


Ponsel Emelie bergetar. Emelie mengambil ponselnya dari dalam tas. Mengeryitkan dahi saat melihat bawahannya mengganggu momen indahnya bersama Zeroun.


“Ada apa?” tanya Emelie dengan wajah kurang suka.


(Putri, sudah waktunya untuk kembali.)


Emelie menatap jam yang tertempel di dinding. Memang sudah waktunya untuk pulang. Emelie tidak ingin banyak protes lagi. Pihak Istana akan curiga jika ia tidak kembali tepat waktu.


“Baiklah, tunggu aku di tempat semula.”


Emelie memutuskan panggilan masuk itu. Memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


“Zeroun, Aku harus segera kembali.” Emelie beranjak dari duduknya. Menjinjing tas kecil miliknya.


Zeroun mengangguk pelan tanpa suara.


“Baiklah, selamat malam.” Emelie melangkah cepat ke arah pintu.


Zeroun memperhatikan kepergian Emelie yang sudah hilang dari balik pintu. Menatap lagi, ke arah piring yang sudah kosong. Terdengar jelas suara high heels wanita itu yang semakin menjauh dari pintu apartemennya. Bibirnya tersenyum kecil.


“Selamat malam, Emelie.”


.


..


Reader, Kalau author up 1 bab itu artinya kalau GK sakit, sibuk, atau GK dpt inspirasi.🤭


Jadi mohon pengertiannya😊