Moving On

Moving On
Dendam di hati



Zeroun membawa tubuh Emelie sambil berlari cepat. Bawahan Damian masih mengejarnya di belakang. Sesekali pria bermata hitam itu menembak lawannya dengan sisa peluru yang tersimpan di pistolnya. Tembakannya selalu saja tepat sasaran. Setiap satu peluru yang keluar dari dalam pistolnya, mampu melumpuhkan satu lawannya.


Setelah beberapa puluh meter berlari, Pria itu kini sudah bisa melihat keberadaan mobilnya. Zeroun sudah mempersiapkan rencana penyelamatan Emelie dengan begitu matang. Sejak awal, lelaki itu memparkirkan mobil miliknya di ujung jalan yang tidak jauh dari tempat Emelie di sekap. Ada senyum lega saat melihat mobilnya masih ada di tempat semula.


“Sayang, bangunlah. Jangan menakutiku dengan cara seperti ini.” Zeroun menatap wajah Emelie yang terlihat semakin pucat. Wanita itu kini memang sedang sakit. Suhu tubuhnya sejak pagi memang cukup tinggi. Di tambah lagi dengan penyiksaan yang diberikan Damian, membuat tubuhnya menjadi semakin lemah.


Zeroun membuka pintu mobil dengan cepat dan meletakkan Emelie dengan hati-hati di kursi samping kemudi. Pria itu menembak beberapa musuh yang masih terus mengejarnya. Setelah melihat musuhnya tidak tersisa, Zeroun masuk ke dalam mobil miliknya. Lelaki itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk meninggalkan lokasi itu.


Ada rasa kesal di dalam hatinya saat membiarkan Jesica bebas begitu saja tadi. Lukas juga tidak berhasil mengejar Jesica karena beberapa polisi ingin menangkapnya. Setelah Jesica pergi meninggalkan lokasi itu, seluruh anggota Heels Devils dan Gold Dragon juga pergi menyelamatkan diri masing-masing.


Lana yang tergeletak di tanah karena Luka pukulan juga sudah berhasil diamankan oleh Lukas. Walau hari ini mereka berhasil menghalangi usaha Jesica mendapatkan senjata itu, tetapi masih tersimpan rasa kecewa di dalam hatinya. Pria tangguh itu kembali memikirkan strategi selanjutnya. Ia tidak ingin gagal untuk kesekian kalinya. Pria itu ingin menghabisi Jesica walau nyawa taruhannya.


Zeroun memandang keindahan langit yang mulai berubah warna. Burung-burung terlihat berterbangan untuk kembali ke sangkarnya. Bibirnya terasa kaku untuk mengukir senyuman. Pria itu kini benar-benar terpuruk atas masalah yang ia hadapi.


“SIAL!” umpatnya kesal. Zeroun kini sangat membutuhkan bantuan seluruh keluarga dan sahabat yang ia miliki. Tetapi, keluarga dan sahabatnya juga belum berhasil menghadapi musuh yang dikirim oleh Jesica di Sapporo. Telah terjadi pertarungan besar di kota Sapporo saat ini. Zeroun bahkan juga tidak bisa membantu mereka saat ini. Lawan yang dikirim Jesica juga bukan orang-orang biasa. Bisa di bilang, kini keluarganya di Sapporo telah menghadapi musuh yang seimbang dengan kemampuan yang mereka miliki.


“Maafkan Kakak, Zetta. Kakak gak bisa menolongmu saat ini. Kakak harap Kau baik-baik saja di sana. Kenzo pasti akan menjagamu dengan baik.” Zeroun kembali membayangkan wajah adik kandungnya yang kini sangat ia rindukan.


Zeroun tidak pulang ke markas awal. Markas tersembunyi itu kini sudah rata dengan tanah. Zeroun sudah meledakkan markas itu, setelah beberapa bawahan Damian masuk ke dalamnya. Kini Lukas dan pasukan Gold Dragon lainnya sudah menemukan markas baru.


“Jesica Gigante, Aku tidak akan membiarkanmu hidup bebas!” ucap Zeroun pelan dengan mata yang cukup tajam. Pria itu menambah laju mobilnya agar bisa segera tiba di markas baru miliknya. Ia ingin segera mengobati kekasihnya yang kini sakit dan tidak sadarkan diri.


***


Lukas bersandar di sebuah sofa yang ada di sebuah kamar berukuran luas. Di depan sofa itu ada meja yang kini di penuhi dengan senjata api dan belati. Pria itu memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelahnya hari ini. Di tempat tidur yang ada di dalam kamar itu, ada Lana yang masih memejamkan mata.


“Nona!” teriak Lana secara tiba-tiba dengan posisi duduk. Napasnya terlihat terputus-putus dengan keringat yang berkucur deras. Lana baru saja mengalami mimpi buruk. Di dalam mimpinya, sesuatu yang buruk telah menimpah Emelie.


Lukas yang mendengar teriakan Lana kini membuka matanya. Pria itu menatap wajah Lana dari kejauhan, “Ada apa?” ucap Lukas dengan ekspresi dingin ciri khasnya.


“Dimana Nona Emelia? apa dia baik-baik saja?” tanya Lana dengan wajah dipenuhi kecemasan. Terakhir kali melihat wajah Emelie, saat Damian menyeret paksa wanita itu. Lana berusaha keras untuk melindungi Emelie tadi siang. Wanita tangguh itu menyembunyikan Emelie di belakang tubuhnya. Tapi, tiba-tiba balok kayu berukuran besar mengenai pundaknya. Wanita itu merasakan sakit yang luar biasa sebelum pandangannya berubah menjadi gelap.


“Nona Emelie akan baik-baik saja. Bos Zeroun pasti berhasil menyelamatkannya,” jawab Lukas dengan wajah tidak bersemangat. Kini pria itu juga mengkhawatirkan keadaan Zeroun Zein. Bos Mafia itu tidak mengijinkan dirinya ikut saat ingin menyelamatkan Emelie tadi siang. Zeroun justru memberi perintah kepadanya untuk membawa Lana dan Gold Dragon lainnya pergi ke luar kota untuk menghindari kejaran polisi.


“Sekarang mereka dimana?” tanya Lana dengan penuh rasa penasaran.


“Aku juga tidak tahu.” Lukas membuang tatapanya sebelum menghela napas secara kasar.


“Aku harap, mereka baik-baik saja,” ucap Lana dengan kepala menunduk. Ada rasa kecewa kepada dirinya sendiri karena kini dirinya gagal lagi melindungi Emelie. Padahal, sejak awal ia sudah berusaha keras agar tidak gagal lagi saat melindungi kekasih bosnya itu.


“Aku memang tidak berguna. Aku memang tidak pantas ada di antara Gold Dragon.” Tiba-tiba saja suaranya berubah serak. Tetesan air mata kini mulai membasahi wajahnya. Kedua tangannya meremas kuat seprei tempat tidur itu. Dari kejauhan, Lukas hanya diam memandang wanita bawahannya itu. Sekilas ada rasa kasihan atas kesedihan yang kini dirasakan oleh Lana. Tetapi, saat mendengar kalimat terakhir Lana membuat Lukas kecewa. Pria itu beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati posisi Lana.


“Aku memang tidak suka melihat orang yang gagal dalam tugasnya. Tapi, Aku lebih tidak suka lagi saat melihat orang yang mudah putus asa dan menyerah.” Setelah berhasil meluapkan isi hatinya, Lukas pergi meninggalkan Lana sendirian di kamar itu. Pria itu ingin menunggu kedatangan Zeroun di lantai bawah rumah mewah itu.


Lana memandang punggung Lukas dengan wajah sedih, “Bagaimana Aku tidak merasa ingin menyerah, jika kehadiranku justru hanya membuat masalah.”


Like, vote dan Komen ya. terima kasih.