Moving On

Moving On
Kiriman Jesica



Lana dan Lukas masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Wanita itu berjalan cepat untuk mengikuti langkah kaki pria berbahaya itu. Setekah adegan ciuman di pantai itu selesai. Lukas tidak lagi mau mengeluarkan kata. Pria itu melepas pelukannya dari tubuh Lana dan pergi begitu saja meninggalkan Lana sendirian di pantai. Bahkan saat Lana berteriak minta ditungguin, Lukas tidak mau menghentikan langkah kakinya.


“Apa kali ini salahku juga?” umpat Lana cukup kesal. Wanita itu menghentikan langkahnya sambil memandang punggung Lukas yang sudah hilang di balik pintu kamar. Kini wanita itu berdiri sendirian di ruangan luas. Di tengah kesunyian, Lana kembali membayangkan kejadian yang baru saja ia alami. Secara tidak di sengaja, Lana menyentuh bibirnya. Wanita itu mengukir senyuman saat membayangkan adegan ciumannya yang cukup romantis bersama dengan Lukas.


“Lukas, pria itu cukup menarik. Sepertinya aku sudah melupakan sikap aslinya sebagai seorang pria.” Lana mengukir senyuman sebelum berjalan menuju ke kamar tidur miliknya. Pintu kamar itu berada tidak jauh dari kamar Lukas.


Lana menatap pintu kamar Lukas beberapa detik sebelum masuk ke dalam kamar miliknya, “Selamat tidur, Lukas.”


Rumah Sakit, Kota Rio.


Agen Mia tidur dengan keringat yang berkucur deras. Wanita itu mengerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan mata tetap terpejam. Satu mimpi buruk kini kembali menghantui hidupnya. Suatu mimpi yang memang telah terjadi di dunia nyata kehidupannya. Dengan sadar dan tidak merasa bersalah, wanita tanggu itu membunuh keluarga Alexander dengan cukup keji.


Entah apa yang merasukinya malam itu hingga ia tega melakukan perbuatan yang tidak termaafkan itu. Satu keluarga yang selama ini merawatnya sejak kecil, ia bantai habis hingga tidak tersisa satupun. Bahkan marga Alexander yang sempat mendampingi namanya ia buang begitu saja.


Agen Mia membuka matanya secara tiba-tiba. Napasnya terputus-putus saat itu. Belum sempat ia mengatur napasnya yang terputus-putus. Kini dirinya di kagetkan dengan sosok wanita yang berdiri di samping tempat tidur. Wanita itu mengenakan pakaian yang sama dengan perawat yang bekerja di rumah sakit tempatnya di rawat.


Kedua tangan perawat itu memegang pisau dengan tatapan yang jauh lebih tajam. Ada senyum licik di bibir wanita berbaju putih itu sebelum melayangkan pisau tajam itu ke arah tubuh Agen Mia. Dengan cepat, Agen Mia menahan pisau yang akan segera meluncur di dadanya. Wanita tangguh itu berteriak dengan begitu keras, berharap ada orang yang mendengar dan mau menolongnya. Telapak tangan Agen Mia kini dipenuhi dengan lumuran darah. Cairan merah segar itu menetes deras membasahi baju yang kini ia kenakan.


“Siapa kau?” ucap Agen Mia sambil menahan rasa perih yang kini ia rasakan.


Wanita yang ada di hadapannya tidak mau mengeluarkan suara. Pembunuh bayaran itu justru semakin memperkuat dorongan pisau itu agar segera menancap di dada Agen Mia. Dengan sisa tenaganya, Agen Mia menendang wanita itu dengan kakinya. Hingga membuat pembunuh itu mundur beberapa langkah. Bahkan pisau yang sempat itu gunakan untuk membunuh Agen Mia kini berhasil direbut oleh Agen Mia.


Terdengar suara pintu terbuka. Peluru berwarna emas itu langsung menembus punggung pembunuh bayaran itu. Wanita itu tersentak dengan rasa sakit yang tiba-tiba ia rasakan di punggungnya. Matanya membulat lebar seolah tidak mau menyerah. Satu tangannya berusaha mengambil pistol di dalam saku. Tapi, belum sempat tangannya menyentuh pistol itu. Tembakan kedua kembali melayang. Kali ini peluru itu menembus hingga ke jantung.


Agen Mia memandang ke arah pintu. Inspektur Tao berdiri di depan pintu itu dengan senjata yang masih mengarah ke pembunuh bayaran itu. Tidak puas saat melihat lawannya belum terjatuh di lantai, Inspektur Tao kembali mengeluarkan tembakan terakhirnya. Kali ini, lawannya tidak lagi bisa bertahan. Pembunuh bayaran kiriman Jesica itu terjatuh di lantai dengan kondisi tidak lagi bernyawa.


Beberapa polisi yang berbaris di belakang Inspektur Tao kini menerobos masuk ke dalam ruangan serba putih itu. Mereka kembali memastikan kalau pembunuh bayaran itu benar-benar sudah tidak bernyawa. Lantai putih nan bersih kini telah berganti warna merah. Wanita itu meregang nyawanya dengan mata melebar. Ada dendam dan kesedihan yang terpancar di dalam bola mata itu.


“Inspektur Tao, wanita ini sudah mati,” ucap salah satu polisi.


Inspektur Tao mengangguk, “Bersihkan semua kekacauan ini.”


Agen Mia kembali bernapas lega saat kakak angkatnya itu datang tepat waktu. Tidak pernah ia bayangkan, kalau kini ia mengalami penyerangan di saat tubuhnya tidak berdaya.


“Mia, apa kau baik-baik saja?” Inspektur Tao terlihat panik malam itu. Pria itu menekan tombol yang tidak jauh dari poisis Mia duduk. Pria itu menekan berulang-ulang, berharap perawat yang ia butuhkan segera tiba di kamar itu.


“Hanya luka kecil, Kak.” Agen Mia mengukir senyuman. Rasa perih itu masih jelas terasa di telapak tangannya. Namun, wanita itu tidak ingin membuat Inspektur Tao panik dan merasa khawatir.


Suara pintu terbuka secara tiba-tiba. Seorang suster masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah syok. Kedua bola matanya memandang tidak percaya atas darah bercecer di lantai bahkan di seluruh pakaian yang dikenakan Agen Mia.


“Apa yang terjadi?” tanya suster itu dengan tangan gemetar. Inspektur Tao menembak dengan pistol tanpa suara. Hal itu membuat keadaan rumah sakit tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di kamar Agen Mia.


“Tanganku terkena pisau,” jawab Agen Mia yang berusaha untuk menutupi yang sebenarnya terjadi. Polisi wanita itu tidak ingin membuat suster itu semakin panik dan takut.


“Suster, tolong obati luka adik saya,” pinta Inspektur Tao saat melihat perawat itu hanya berdiri di depan pintu.


“Saya ambil peralatannya dulu,” jawab suster itu sebelum berlari meninggalkan kamar itu.


Inspektur Tao menghela napas kasar. Pria itu tidak lagi bisa bersabar melihat keadaan adik yang ia sayangi seperti itu.


“Kakak, aku baik-baik saja.” Agen Mia memegang tangan Inspektur Tao untuk menenangkan pria itu.


“Mia, kita harus segera menemui Zeroun Zein dan memintanya untuk membantu kita menyerang markas Heels Devils.”


Agen Mia mengangguk, “Mungkin lusa aku sudah bisa keluar dari rumah sakit ini. Setelah keluar dan pulih, kita akan segera pergi untuk menemui Zeroun Zein.”


Inspektur Tao memandang darah yang ada di lantai. Ada dendam di dalam bola matanya malam itu. Pria itu tidak lagi bisa menunggu untuk menyerang markas milik Jesica. Setelah Jesica berhasil ia kalahkan, target keduanya adalah Damian. Pria itu ingin membalas perbuatan Damian dengan tangannya sendiri.


Besok ya crazy up-nya Readers... terima kasih.