Moving On

Moving On
Tamu Spesial



Biao melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pria itu melirik beberapa mobil di belakang yang kini mengejar laju mobilnya. Dengan wajah cukup tenang dan ekspresi dingin ciri khasnya, Biao terus menambah laju mobilnya. Ia ingin membawa Emelie selamat sampai bandara. Hanya itu tugas terpenting saat ini yang diberikan dari Daniel dan Serena.


Emelie memutar kepalanya untuk melihat mobil yang berbaris di belakang. Di lihat dari jenis mobilnya Emelie tahu kalau itu mobil dari kerajaan yang ia miliki. Seseorang sudah memberi perintah kepada pengawal kerajaan untuk menangkap Emelie. Tidak sulit bagi Emelie untuk memberi perintah kepada mereka agar tidak mengejar lagi. Namun, itu juga bisa menimbulkan resiko besar seandainya pengawal-pengawal itu di kirim oleh Damian.


Biao menghentikan laju mobilnya secara mendadak. Bahkan membuat kepala Emelie terbentur kursi depan.


“Nona, apa anda baik-baik saja?” ucap Biao dengan wajah bersalah.


Emelie mengangguk pelan, “Aku baik-baik saja.”


Di depan mobil Biao telah berbaris rapi mobil-mobil hitam yang kini menghalangi. Biao melihat dari kaca spion kalau mobil yang di belakang juga sudah berhenti. Kini posisi mobil yang di kendarai Biao telah terkepung. Pria itu mengeluarkan dua pistol untuk memulai aksinya.


“Nona, apa anda bisa menyetir mobil?” tanya Biao dengan wajah cukup serius.


“Eh?” Emelie tertegun. Bagaimana mungkin pria asing yang kini ada di hadapannya menanyakan pertanyaan yang sama dengan Zeroun, “Aku bisa. Apa ini maksudnya aku harus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan kabur dari lokasi ini?”


“Benar, Nona. Saya akan turun untuk menghalangi. Sebaiknya anda melajukan mobil ini menuju ke bandara. Sudah ada bawahan saya yang akan menunggu anda di sana.” Biao mendorong pintu mobilnya.


“Tunggu,” ucap Emelie cepat.


Biao menahan langkah kakinya, “Ada apa, Nona?”


“Katakan pada Serena kalau aku sangat berterima kasih padanya,” ucap Emelie dengan hati yang sangat tulus.


Biao mengangguk, “Baik, Nona.”


Biao keluar dengan dua senjata api di tangannya. Pria itu mulai menembak ke arah lawan yang ada di depan. Setelah Biao keluar dari mobil, Emelie pindah ke kursi kemudi.


Wanita itu mencengkram stir mobil dengan sangat kuat. Tidak ada lagi sikap manja atau takut. Putri Kerajaan itu ingin menjadi wanita yang tangguh untuk melindungi dirinya saat ini. Sudah cukup sikap lemahnya membuat kesulitan dirinya sendiri selama ini.


Biao mulai menyerang. Satu lawan banyak tentu saja membuat Biao cukup kesulitan. Pria itu bahkan hampir kehilangan akal untuk memenangkan adu tembak saat itu. Tiba-tiba dari arah lain, ada mobil hitam yang datang dengan puluhan peluru.


Ada senyum kecil di sudut bibir Biao saat melihat wajah Lukas di dalam mobil itu. Lukas menabrak mobil yang ada di depan hingga ada cela untuk Emelie melarikan diri.


Setelah melihat ada cela, Emelie melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ilmu singkat yang pernah di berikan oleh Zeroun cukup bermanfaat baginya detik itu. Lana dan Lukas turun dari dalam mobil dengan tembakan yang tiada jeda.


Tidak ada satu mobilpun yang ada di lokasi itu yang mereka bebaskan untuk mengejar Emelie.


“Lana, kejar Nona Emelie dan lindungi,” perintah Lukas sambil terus menembak.


Lana mengangguk sebelum masuk ke dalam mobil. Wanita tangguh itu mengejar laju mobil Emelie agar bisa melindungi wanita yang paling berharga bagi bosnya.


Biao dan Lukas menembak dari arah yang berbeda. Bahkan Lukas juga mengeluarkan bom agar mobil-mobil itu tidak lagi terbentuk. Tidak butuh lama bagi Lukas untuk mengalahkan belasan mobil itu. Dalam hitungan menit, semua mobil takluk di tangannya.


Lukas mengeryitkan dahi saat mendengar perkataan Biao. Pria itu memutar pandangannya. Kini hanya ada mobil terbakar di sekelilingnya. Tidak ada tersisa satu kendaraanpun yang bisa ia gunakan untuk lari mengejar kekasihnya ataupun Emelie.


“Apa sekarang kau berpikir? Apa seperti itu wajahmu berpikir?” Biao menatap tajam wajah Lukas sebelum mengeluarkan ponsel dari dalam saku. Ia ingin memberi perintah kepada bawahannya untuk mengirim mobil lagi.


“Kenapa kau bisa di sini?” Lukas mengeryitkan dahi. Pertolongan Serena hari ini memang tidak di ketahui oleh Zeroun maupun Lukas. Bahkan mereka memiliki rencana sendiri untuk membawa lari Emelie dari pesta pernikahan.


“Karena kita sehati. Aku akan selalu datang saat kau membutuhkan pertolongan,” jawab Biao asal saja sambil melekatkan ponselnya di telinga.


“Apa kau Biao?” tanya Lukas kurang percaya.


“Bukan. Aku Tama yang sudah operasi plastik.” Wajah Biao sudah mulai berubah kesal.


Lukas mengeryitkan dahinya sambil menahan tawa. Pria itu membuang tatapannya ke arah lain dengan hati yang cukup lega. Jika Biao ada di kota itu sudah bisa di pastikan kalau Serena juga ada di kota itu. Memang sejak dulu ia sangat butuh bantuan wanita tangguh itu. Hanya saja, Zeroun selalu menghalanginya. Kini Zeroun tidak memiliki Gold Dragon lagi. Pasukan yang mereka miliki sudah habis tertangkap polisi dan tewas dalam insiden ledakan besar Jesica.


“Apa kau tidak tahu kalau kami akan datang?” Biao memasang wajah serius, “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa separah ini?”


Lukas menggeleng kepalanya pelan, “Ceritanya cukup panjang. Kau tidak akan punya banyak waktu untuk mendengarkannya.”


Biao menghela napas. Memang tidak mudah berbicara dengan Lukas. Pria itu selalu saja membuatnya kesal dan naik darah. Tidak lama menunggu, dari kejauhan mobil yang di lajukan Lana muncul. Wanita itu sudah berhasil menjaga Emelie hingga selamat sampai di bandara.


“Bos Lukas, apa itu pacarmu?” ledek Biao dengan satu senyuman tipis.


Lukas melirik tanpa menjawab. Lana memberhentikan mobilnya tepat di depan dua pria tangguh itu. Wanita itu keluar dengan wajah berseri.


“Semua sudah aman. Pesawat akan berangkat beberapa menit lagi. Maaf, Tuan. Aku mengirim Nona Emelie naik pesawat Bos Zeroun.” Lana melirik ke arah Biao. Di bandara Biao sudah menyiapkan pesawat S.G. Group untuk mengantar Emelie ke Hongkong. Ia juga tidak tahu kalau Zeroun sudah menyiapkan pesawat untuk membawa kabur Putri Kerajaan itu.


“Itu sama saja. Yang terpening Nona Emelie selamat.” Biao menatap wajah Lana dengan seksama. Di lihat dari penampilannya, Lana kembali mengingatkannya dengan Shabira, “Nona, apa anda kekasih pria dingin ini?” Biao melirik ke arah Lukas.


Lana menatap wajah Lukas dengan seksama. Wanita itu tidak mengenal Biao. Ia takut jika salah menjawab akan menimbulkan masalah nantinya, “Saya dan Bos Lukas ....”


“Ya. Namanya Lana. Dia kekasihku,” jawab Lukas cepat.


Lana tertegun beberapa detik saat mendengar jawaban Lukas. Bahkan saat berdua saja Lukas tidak mau mengakuinya.


“Apa ada yang salah?” Lukas berjalan lalu merangkul pinggang Lana. Menatap wajah Biao dengan tatapan yang cukup tajam.


Biao menggeleng kepalanya, “Tidak ada yang salah. Semua benar. Sekarang mari kita bertarung,” ucap Biao dengan suara pelan. Pria itu masuk ke dalam mobil untuk mengambil alih kemudi.


Lana mengukir senyuman dengan hati yang sangat bahagia. Sepasang kekasih itu juga masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan misi selanjutnya.


Vote, Like... Satu bab dulu ya. besok dua bab lagi....😘