
Markas White Tiger Pukul 12 Malam
“Apa? Siapa yang berani menyerang kita?” Arron terlihat murkah saat mendengar markas miliknya telah rata dengan tanah. Baru saja beberapa detik yang lalu ia berhasil menyelamatkan nyawanya dari serangan Zeroun.
“Morgan, Bos,” jawab bawahan Arron dengan kepala menunduk.
“Morgan? Apa yang ia lakukan? Kenapa ia menyerang markas kita?” Suara Arron sudah tidak terkendali. Pria itu tidak lagi bisa bersabar saat mendengar kabar tersebut.
“Morgan datang menyerang markas kita saat …” ucapan pria itu terhenti. Lidah pria itu sangat sulit untuk menyebutkan kalimat selanjutnya.
“Katakan!” Arron menggebrak meja hingga membuat pria yang berdiri di hadapannya kaget.
“Menolong wanita bernama Lana, Bos,” sambung Pria itu takut-takut.
Napas Arron terlihat terputus-putus. Pria itu tidak lagi bisa bersabar. Dengan gerakan terburu-buru, Arron berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Ia ingin menagih penjelasan kepada anak buahnya yang lain. Kabar ini cukup membuatnya syok. Sejak awal ia tidak memberi perintah apapun kepada bawahannya untuk menculik Lana. Ia tahu, jika berurusan dengan Lana pasti berurusan dengan Morgan.
Langkah Arron terhenti saat melihat Morgan dan pasukannya sudah berdiri di hadapannya. Beberapa pasukan milik Arron telah tergeletak tidak bernyawa. Di samping Morgan, ada Lana yang juga ikut bertarung untuk membantu Morgan malam itu.
“Selamat malam, Arron. Kau terlihat terburu-buru. Apa kau ingin mencariku?” ucap Morgan dengan senyum menyeringai.
Arron memandang wajah Lana sekilas lalu memandang wajah Morgan dengan seksama, “Kenapa kau menghancurkan markasku? Aku tidak memiliki urusan apapun denganmu.”
“Kau sudah mengusik ketenangan wanitaku. Bukankah sudah pernah aku peringatkan untuk tidak menyerang wanita yang menjadi kekasihku ini,” ucap Morgan penuh semangat. Satu tangannya melingkar di pinggang Lana dan memeluk wanita itu dengan begitu erat.
“Aku tidak pernah memberi perintah apapun untuk melukai wanita ini,” bantah Arron.
“Apa kau pikir aku percaya? Bukankah di pertemuan pertama kita kau juga sangat ingin menembaknya,” jawab Morgan. Pria itu tidak percaya lagi dengan semua kalimat yang di ucapkan oleh Arron.
Arron tertawa kecil, “Apa kau sebodoh itu hingga bisa masuk ke dalam jebakan Gold Dragon?”
Lana terdiam seribu bahasa saat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Arron. Jika detik itu Morgan menyadari semua yang telah ia lakukan, maka bukan hanya dirinya saja. Seluruh pasukan Gold Dragon juga pasti dalam bahaya.
Morgan diam sejenak untuk mencermati kalimat yang di ucapkan oleh Arron. Pria itu sedikit ragu dengan semua masalah yang terjadi. Tapi, saat melihat Lana benar-benar tersiksa dan terikat di dalam markas White Tiger, membuat rasa benci di dalam hatinya kembali memenuhi isi pikirannya.
“Kau menyalahkan pihak lain karena tidak berani bertanggung jawab dengan kesalahan yang telah kau perbuat?” ucap Morgan dengan senyum tipis menghina, “Aku tidak sebodoh itu untuk percaya padamu, Arron. Kau dan Gold Dragon sama-sama musuhku saat ini.”
Lana membuang tatapannya ke arah lain. Wanita itu kembali bernapas lega saat Morgan tidak percaya dengan kalimat yang di ucapkan oleh Arron.
“Baiklah. Aku juga tidak membutuhkanmu. Kau harus membayar perbuatanmu. Aku tidak akan memberi toleransi lagi pada perbuatanmu tadi siang.” Arron memberi kode agar semua pasukan miliknya keluar.
Kali ini Morgan dan Lana serta pasukan Morgan lainnya ada di tengah-tengah. Pasukan White Tiger telah mengelilingi mereka sambil menodongkan senjata api.
Morgan memandang wajah Lana dengan seksama, “Apapun yang terjadi aku akan melindungimu, Honey. Walau harus mengorbankan nyawaku malam ini.” Morgan mengusap lembut pipi Lana.
Malam itu kalimat yang di ucapkan Morgan membuat Lana tersentuh. Lana menjadi tidak tega karena sudah menjebak Morgan hingga ke posisi seperti ini. Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Memang seperti ini jalan hidup yang harus ia lalui.
Morgan mengangguk pelan sebelum memandang wajah Arron. Pria itu berlari kencang untuk mulai menyerang Arron dan bertekad mengalahkan pria tersebut. Melihat Arron yang kini lemah tak berdaya, sudah berhasil membuat Morgan yakin kalau dirinya akan menang.
Satu pukulan di layangkan Morgan ke arah wajah Arron. Bersamaan dengan itu, Lana juga menyerang kaki pria itu agar terjatuh dan memudahkan mereka untuk menyerangnya. Tapi, tidak semudah itu. Walau Arron sudah kehilangan banyak tenaga karena bertarung dengan Zeroun tadinya, tapi detik itu ia masih memiliki tenaga cadangan untuk mempertahankan dirinya agar tidak mudah kalah.
Pasukan Morgan dan White Tiger telah berbaur menjadi satu. Suara tembakan terdengar di mana-mana. Lana memandang keadaan sekitarnya dengan perasaan ngeri. Jika puluhan peluru itu ada yang menyasar ke tubuhnya. Maka detik itu juga nyawanya tidak akan bisa tertolong.
Lana kembali memandang wajah Arron. Kini dua pria itu bertarung hebat di hadapan Lana. Lana tidak tahu harus kembali menolong atau tidak. Sejak awal rencananya hanya sebatas itu saja. Membuat Morgan dan Arron berkelahi hingga salah satu dari mereka kalah.
Tapi, melihat sifat tulus Morgan yang melakukan semua pengorbanan itu demi dirinya, maka Lana tergerak untuk membantu Morgan. Dengan gerakan cepat Lana menyerang Arron. Tidak peduli tenaga yang ia miliki berhasil atau tidak untuk mengalahkan Arron.
Bersamaan dengan pertempuran sengit antara Arron dan Morgan, Zeroun dan Lukas muncul. Dua pria tangguh itu tersenyum kecil dengan penuh kemenangan. Tembakan demi tembakan di layangkan ke arah pasukan Morgan dan White Tiger. Dalam hitungan detik, semua pihak musuh tergeletak di lantai. Kini pasukan yang tersisa hanya pasukan milik Zeroun Zein. Gold Dragon.
Morgan terjatuh terduduk di lantai. Bersamaan Arron di hadapannya. Dua pria itu terlihat sama-sama lemah dan tak berdaya. Ada darah di sekujur tubuh mereka karena koyakan-koyakan yang terjadi pada kulit.
Morgan sudah kesulitan untuk berdiri. Pria itu memandang kemunculan Zeroun dan yang lainnya dengan senyum tipis. Detik itu ia sadar kalau semua ini adalah permainan dari Zeroun dan timnya. Tapi, semua seakan sudah terlambat. Morgan sudah kehilangan pasukan miliknya yang berharga.
Sama halnya dengan Arron. Pria itu sudah babak belur dan tinggal sendirian. Tidak terbayangkan di dalam rencananya, kalau ia akan kalah secepat ini. Padahal sejak awal, strategi yang ia persiapkan sudah cukup bagus.
“Apa kalian kaget melihat kemunculan kami?” Zeroun berjalan dengan wajah yang cukup tenang. Kedua tangganya ada di dalam saku sambil terus berjalan mendekati posisi Morgan dan Arron berada. Ada Lukas yang selalu setia mendampinginya.
Langkah Zeroun terhenti saat ia sudah berada di hadapan Lana, “Good Job, Girl.”
Lana mengukir senyuman sebelum berhambur ke dalam pelukan Lukas. Wanita itu cukup bahagia karena kini ia bisa berada di dalam Gold Dragon lagi.
Morgan memandang kesal dengan hati yang mengumpat, “Shi*t! Beraninya kau menjebakku, Lana.”
Arron tertawa kecil saat mendengar kalimat yang di ucapkan Morgan, “Kau pria hebat yang berubah bodoh karena cinta.”
Zeroun mengeluarkan senjata apinya. Pria itu mengarahkan ujung pistolnya ke arah Arron. Sorot matanya yang tajam memandang wajah Arron yang sudah tidak berdaya. Arron sendiri terlihat pasrah karena tenaganya sudah habis.
Tapi, secara diam-diam Arron mengambil pistol secara untuk menyerang Zeroun di sisa tenaganya. Jika harus mati. Ia ingin mati bersama-sama dengan Zeroun. Satu jarinya ia letakkan di pelatuk. Dengan gerakan cepat ia juga mengarahkan pistol itu ke arah Zeroun.
DUARR DUARR
.
.
.
like, Komen dan Vote. Terima kasih