Moving On

Moving On
Bertemu Lagi



Zeroun, Damian, Emelie dan Adriana duduk di meja yang sama. Dua pria maskulin itu terlihat saling memandang satu sama lain. Satu tatapan yang penuh arti.


Satu pelayan berdiri di pinggiran meja. Membuka tutup gabus botol anggur. Menuangkan sedikit demi sedikit anggur merah itu ke dalam gelas bertangkai. Damian mengambil gelas yang sudah terisi, menggoyang-goyangkan isinya sebelum mengangkat gelas itu di hadapan Zeroun.


“Senang bertemu dengan anda, Zeroun Zein.”


Zeroun mengambil gelas yang sudah terisi yang ada di hadapannya. Satu senyum kecil menghiasi wajahnya sebelum mengeluarkan kata.


“Senang bertemu dengan anda, Damian.”


Kedua pria itu saling bersulang sebelum meneguk anggur berwarna merah yang ada di didalamnya. Sedangkan Emelie dan Adriana hanya diam mematung memperhatikan wajah dua pria itu secara bergantian. Emelie mengambil segelas lemon teh yang ada di hadapnnya, meneguknya secara perlahan. Sama halnya dengan Adriana, wanita itu juga mengambil minuman dingin yang ada di hadapannya, meneguknya bersamaan dengan Emelie.


“Kalau boleh saya tahu, apa tujuan anda datang ke Kota ini, Tuan Zeroun? anda pria yang sangat sibuk. Tidak mungkin hanya dengan alasan jalan-jalan saja bukan?” Damian meletakkan gelas itu kembali ke atas meja.


“Saya ingin bertemu dengan seseorang.” Zeroun melirik Emelie, membuat wanita itu sedikit salah tingkah.


Damian memperhatikan tatapan mata Zeroun sebelum melanjutkan perkataannya.


“Seseorang, apa dia seorang wanita?” Damian menaikan satu alisnya.


“Anggap saja begitu,” jawab Zeroun dengan ekspresi dingin.


Musik di aula itu telah berganti. Lampu yang semula terang kini mulai meredup. Beberapa pria dan wanita sudah berdiri di tengah-tengah lantai dansa. Waktunya pesta dansa. Musik mulai dimainkan dengan alunan yang begitu romantis. Beberapa orang mulai merangkul pasangannya masing-masing.


“Sayang, mari kita berdansa.” Damian mengulurkan tangannya di depan Emelie. Bibirnya tersenyum manis dengan tubuh sedikit membungkuk.


Emelie tidak menjawab perkataan Damian. Ia menyambut uluran tangan Damian sebelum turun dari kursi itu. Pangeran dan Putri itu berjalan dengan begitu mesra menuju ke lantai dansa.


Adriana mengalihkan pandangannya dari Damian dan Emelie. Ia tidak ingin merasakan luka saat melihat kemesraan sepasang kekasih itu. Satu gelas yang ada di hadapannya ia genggam dengan wajah menahan amarah.


Zeroun memperhatikan tingkah Adriana malam itu. Ada tersimpan rasa curiga saat melihat ekspresi Adriana. Tetapi, ia tidak ingin menyelidikinya saat ini. Misinya malam ini, jauh lebih penting dari hal apapun itu. Bibirnya mengukir senyum kecil saat melihat Lana dan Lukas yang baru saja muncul.


Zeroun berdiri dari kursinya, mengulurkan tangan di hadapan Adriana dengan senyum khas miliknya.


“Nona, apa anda mau berdansa dengan saya?” Zeroun membungkuk sedikit sambil menatap wajah Adriana.


Adriana terlihat tidak bersemangat untuk berdansa malam itu. Ditambah lagi, berdansa dengan pria asing yang sangat ia curigai.


“Nona, saya akan membuat anda berdansa dengan Pangeran Damian.” Zeroun melanjutkan perkataannya. Agar wanita itu mau berdansa dengannya dan membantu rencananya saat itu.


Satu harapan tersirat di wajah Adriana. Tanpa menunggu lagi, ia menyambut uluran tangan Zeroun saat itu. Mengikuti langkahnya menuju ke arah lantai dansa.


Senyum mengembang terukir di bibir Adriana. Sedangkan Emelie, memasang ekpresi yang tidak terbaca.


Dari balik pintu yang ada di ujung aula, muncul dua orang yang sangat di tunggu-tunggu oleh Zeroun.


Lana menggandeng lengan Lukas seperti layaknya sang kekasih. Lana mengenakan gaun mengkilat panjang hingga ke mata kaki berwarna merah maroon. Gaun itu terlihat sangat cocok dengan dirinya. Belahan di samping kanan membuat kakinya yang jenjang terlihat. Satu pistol sudah terselip di dalam gaunnya dengan begitu rapi. Wanita berusia 24 tahun itu terlihat menggoda namun tetap berbahaya. Bibirnya yang merah tersenyum kecil saat memperhatikan beberapa pria yang kini menatap wajahnya.


Lukas mengenakan setelan jas hitam yang menutupi kemeja berwarna putih. Di bawah leher jenjangnya terdapat dasi kupu-kupu berwarna hitam. Wajahnya yang tampan namun tetap misterius, membuat semua wanita tertarik untuk mendekati dirinya.


“Apa kita juga harus berdansa?” Lana memperhatikan wajah kerumunan orang di lantai dansa. Mereka harus mencari cara untuk menyampaikan pesan singkat itu kepada Zeroun.


“Ya,” jawab Lukas singkat saat memperhatikan Zeroun dan Emelie ada di lantai dansa.


Sepasang petarung itu berjalan ke lantai dansa. Lukas mengunci tangannya di pinggang Lana. Membuat Lana terbelalak kaget. Tidak pernah terlintas di dalam pikirannya, kini tubuhnya ada di genggaman pria berbahaya itu.


“Apa kau mau membongkar akting kita dengan sikapmu itu?” bisik Lukas.


Lana memejamkan mata saat merasakan hembusan hangat di telinganya. Mengatur napasnya agar normal kembali sebelum melanjutkan dansa itu bersama Lukas. Tubuhnya berputar di bawah tangan Lukas. Sedikit demi sedikit, Lukas dan Lana berhasil berada di belakang Zeroun.


Dengan penuh hati-hati dan waspada, Lana memasukkan lipatan kertas di dalam saku Zeroun. Setelah berhasil menyampaikan pesan rahasia itu, Lana dan Lukas berjalan meninggalkan arena dansa. Menuju ke arah pintu yang berada tidak jauh dari lantai dansa itu.


Zeroun tersenyum kecil saat melihat kertas terlipat di dalam sakunya. Tidak ingin membuat Emelie curiga, ia memutar tubuh Emelie agar bisa melihat jelas arah kepergian Lukas dan Lana.


Di sisi lain. Damian dan Adriana masih menikmati alunan musik di lantai dansa itu. Tatapan mata penuh cinta tersirat jelas di kedua bola mata Adriana saat itu.


“Pangeran, sepertinya Aku pernah melihat pria bernama Zeroun itu. Tapi Aku lupa, dimana bertemu dengannya,” bisik Adriana di telinga Damian.


“Sayang, pria itu adalah Zeroun Zein. Ketua mafia Gold Dragon yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Berhati-hatilah dengan segala rencanamu selama beberapa hari ke depan. Aku belum berhasil mengetahui tujuan utamanya datang ke kota ini.” Damian kembali memperingatkan kekasihnya. Matanya melirik ke arah Zeroun dan Emelie.


“Pria itu sangat berbahaya,” sambungnya lagi.


Adriana hanya mengangguk pelan. Satu peringatan yang dikatakan oleh Damian sudah bisa membuat dirinya semakin hati-hati.


“Aku mencintaimu. Saat melihatmu bersama dengan orang lain. Seperti ada sebilah pisau yang berputar-putar di dalam jiwaku. Ingin sekali aku membunuh penghalang yang memisahkan kita.” Adriana mencengkram tangannya di leher Damian.


“Sayang, kita harus bersabar. Suatu hari nanti, Kau akan menjadi pendamping hidupku. Jangan lakukan hal bodoh yang bisa merusak semua rencana kita.” Damian tersenyum manis di hadapan Adriana.


Adriana hanya diam untuk kembali menikmati dansa itu.


Like, Komen dan Vote