
Zeroun dan Emelie baru saja tiba di club malam yang dipenuhi para konglemerat Brasil. Bos Mafia itu menggandeng pinggang ramping Emelie, membawanya ke kursi tamu yang sudah disiapkan untuknya. Emelie sedikit tidak nyaman dengan pemandangan club malam itu. Ada banyak wanita seksi yang menari dan menggoda pria. Asap rokok dimana-mana. Di tambah lagi, bau alkohol itu sangat menyengat di hidungnya.
“Zeroun, apa kau sering datang ke tempat seperti ini?” ucap Emelie pelan, sambil memandang wajah Zeroun.
“Bisnisku ada di club malam. Bahkan Aku memiliki beberapa cabang club malam di Brasil.” Zeroun duduk berdampingan dengan Emelie.
“Seperti ini bisnismu?” Wajah Emelie berubah serius.
Zeroun tersenyum kecil memandang wajah Emelie. Menyentuh pipi wanita itu dengan lembut, “Ya.”
Emelie tidak lagi mau melanjutkan pertanyaannya. Setidaknya hari ini ia sedikit tahu tentang kehidupan pribadi kekasihnya yang tergolong misterius itu.
Zeroun bersandar dengan posisi nyaman. Pria itu memandang ke arah Lukas dan Lana yang baru saja tiba. Dua pengawal setianya duduk di kursi yang ada di dekat Zeroun.
“Apa semua sudah beres?” Zeroun menatap wajah Lana dan Lukas bergantian.
“Tomat busuk sudah mulai beraksi, Bos.” Ada rasa geli di lidah Lukas saat menyebutkan istilah itu. Tapi, sekarang. Itu aturan yang harus ia patuhi.
“Apa dia sudah tiba?” Zeroun mengambil wine yang tersedih di depannya. Menuang wine itu kedalam gelas kristal yang ada di hadapan Lukas.
“Sudah Bos.” Lukas mengambil gelas itu. Menggeserkan posisinya ke arah cahaya yang sedikit terang. Dari gelas itu, Zeroun bisa melihat jelas gerombolan Heel Devils yang kini memenuhi club malam. Ada senyum kecil di bibir Zeroun.
“Saatnya berpesta.” Zeroun mengambil gelas itu, meneguknya dengan begitu tenang.
Emelie memandang ke arah Zeroun dengan wajah bingung. Detik itu, ia merasakan sesuatu yang salah dengan Zeroun,. Entah kenapa, malam itu Zeroun terasa seperti orang asing baginya.
“Emelie, tetap bersama Lana.” Zeroun tersenyum sebelum beranjak dari duduknya. Lukas mengikuti Zeroun dari belakang. Sedangkan Lana mengambil posisi waspada untuk menjaga Emelie malam itu.
“Apa yang mau ia lakukan?” Wajah Emelie berubah sedih.
Pesta di mulai. Lampu club malam itu berubah redup. Kini wajah penghuni club itu tidak lagi terlihat jelas. Sorot lampu itu hanya menerangi penari-penari seksi yang ada di lantai dansa.
Emelie terus saja memperhatikan kepergian Zeroun. Walau di dalam cahaya redup. Tetapi Putri Kerajaan itu masih sangat kenal dengan wajah kekasihnya. Tangannya terkepal kuat saat pria yang sangat ia cintai kini duduk dengan seorang wanita berpakaian seksi. Tidak hanya seksi, wanita itu terlihat akrab dengan kekasihnya. Hati Emelie dipenuhi dengan kobaran api cemburu.
“Nona, apa anda baik-baik saja?” Lana menatap wajah Emelie dengan khawatir.
“Aku ingin pergi dari sini.” Emelie beranjak dari kursinya.
“Tapi, Nona ....” Lana berusaha menahan langkah Emelie malam itu.
“Aku tidak ingin ada di sini,” protes Emelie sebelum berjalan menuju pintu keluar.
Dengan sigap Lana mengikuti langkah Emelie dari belakang. Dari kejauhan, Zeroun menatap kepergian kekasihnya. Pria itu menatapnya dengan ekspresi dingin.
“Jaga dia,” perintah Zeroun pada Lukas.
“Baik, Bos.” Lukas memandang beberapa Gold Dragon untuk pergi mengikuti Emelie dan Lana.
“Zeroun, Aku hanya bisa membantumu dengan cara seperti ini.” Wanita seksi itu mengeluarkan kartu id untuk mempermudah Zeroun masuk kelantai rahasia.
Disisi lain. Emelie berjalan ke arah toilet wanita. Wanita itu berdiri di depan cermin dengan wajah kesal bercamur marah.
“Kau menyebalkan. Apa kau tahu kalau kau sangat menyebalkan!” ucap Emelie berulang kali.
Lana bersandar di dinding toilet itu dengan wajah yang sangat tenang. Kini ia tahu apa yang menyebabkan kekasih Bos nya itu tiba-tiba berubah sikap. Tetapi, Lana tidak memiliki keberanian untuk menceritakan semua yang terjadi.
Lana kenal dengan wanita yang tadi ditemui oleh Zeroun. Wanita itu adalah orang yang dikirim Zeroun untuk menyelidiki lantai rahasia sebelum mereka melakukan misi berbahaya ini.
“Nona, Bos Zeroun pria yang setia. Anda tidak perlu berpikiran buruk tentangnya.” Lana melipat tangannya di depan dada.
“Setia? dia bahkan mencium pipi wanita itu.” Buliran air mata karena cemburu itupun akhirnya menetes.
Lana menggeleng kepalanya sebelum memberikan tisu kepada Emelie.
Mereka tidak berciuman Nona. Hanya berbisik. Apa anda tidak bisa membedakan mana berciuman mana berbisik.
“Nona, apa anda ingin kembali ke kamar? Saya akan menemani anda di kamar.” Lana berdiri di samping Emelie.
“Aku hanya ingin berjalan-jalan di lantai atas. Katanya di lantai atas ada kolam renang yang sangat indah. Apa Aku boleh ke atas untuk melihatnya?” Emelie menghapus air matanya dengan tisu.
“Tentu Nona. Mari saya antar.” Lana mengukir senyuman indah sebelum pergi meninggalkan toilet itu bersama dengan Emelie.
Lana dan Emelie berjalan ke arah Lift yang ada di ujung lorong. Wanita itu memberi kode kepada Gold Dragon yang sejak tadi mengikutinya untuk menjaga jarak agar Emelie tidak curiga.
“Mari, Nona.” Lana memberi jalan kepada Emelie untuk masuk lebih dulu saat pintu lift terbuka.
Secara tiba-tiba wanita berpakaian mini menerobos masuk kedalam lift. Hal itu membuat Lana semakin waspada. Semua orang yang tidak ia kenali berpotensi sebagai musuhnya malam ini. Lana berdiri di samping wanita tidak dikenali itu. Di depan kedua wanita itu ada Emelie yang berdiri dengan wajah santainya.
Suasana di dalam lift itu begitu mencekam. Lana terus saja waspada saat wanita asing itu tidak kunjung keluar meninggalkan lift.
Pintu lift terbuka. Dengan gerakan cepat, wanita itu mengeluarkan pistol untuk menembak Emelie. Dengan langkah cepat, Lana menendang tangan musuhnya hingga pistol itu terpental keluar lift.
Emelie mematung melihat kejadian itu. Ia berjalan mundur meninggalkan lift itu dengan wajah pucat.
“Nona, pergilah. Gold Dragon akan melindungi anda. Biar saya yang menghadapi wanita ini,” teriak Lana yang kembali menutup pintu lift. Wanita itu ingin menjauhkan Emelie dari jangkauan musuhnya.
Pintu lift kembali tertutup. Emelie melangkah mundur dengan wajah bingung. Kini wanita itu sudah ada di lantai teratas gedung. Ada kolam renang yang terlihat sunyi di lokasi itu. Di tepian balkon ada seorang wanita yang berdiri membelakanginya. Emelie terlihat penasaran dengan wanita itu walau kini hatinya merasa takut. Gelang pemberian Zeroun kembali ia pandang. Ia sangat yakin, dimanapun kini ia berada. Zeroun akan melindunginya.
Belum sempat ia mendekat ke arah wanita itu sudah muncul seseorang yang sangat ia kenali. Emelie memilih bersembunyi dengan tangan menutupi mulut. Wanita itu bersandar di balik tiang beton yang tidak jauh dari posisi wanita itu berdiri.
“Damian, apa yang ia lakukan di tempat ini. Siapa wanita itu?” Emelie mengatur napasnya dengan tenang. Wanita itu tidak ingin Damian mengetahui kehadirannya saat ini.
“Sayang, Aku sangat merindukanmu.”
Emelie melebarkan matanya saat mendengarkan suara wanita itu, “Adriana?”
Like, Komen,Vote.