Moving On

Moving On
Pura-Pura



Sudah berjam-jam berlalu. Selain lapar, Emelie merasa sangat panas siang itu. Wajahnya terus saja mengumpat kesal karena Zeroun menghilang begitu saja. Ini pertama kalinya Emelie kabur dengan penuh penderitaan. Putri Kerajaan itu duduk sambil bertopang dagu dengan tatapan mata ke arah pintu.


Ingin sekali ia teriak dan memarahi Zeroun saat ini. Melampiaskan seluruh isi hatinya karena sudah diabaikan. Namun, saat pintu terbuka dan Zeroun kembali muncul. Semua umpatan itu hilang begitu saja.


“Apa yang kau bawa?” Emelie beranjak dari tempat duduknya berjalan mendekati Zeroun.


Pria ini. Dia mandi dimana? Kenapa pakaiannya sudah terganti.


Emelie memperhatikan penampilan Zeroun yang sudah rapi. Rambutnya masih basah dengan wajah yang begitu segar. Aroma parfum juga tercium jelas saat Emelie berdiri di dekat Zeroun.


“Baju dan makanan,” ucap Zeroun pelan sambil memberi semua barang-barang itu kepada Emelie. Segala umpatan dan keluh kesah Emelie sudah didengar jelas oleh Zeroun melalui gelang yang kini dikenakan Emelie. Pria 29 tahun itu sesekali tertawa dan tersenyum saat mendengar kelakuan Emelie.


“Maafkan Aku karena pergi terlalu lama,” sambung Zeroun.


“Kenapa minta maaf? Aku tidak marah sama sekali.” Emelie berusaha menyembunyikan rasa kesalnya. Setidaknya pakaian dan makanan itu bisa mengobati rasa kesalnya karena sudah menunggu beberapa jam.


“Pergi mandilah, setelah itu kita akan segera makan.” Zeroun berjalan ke arah kursi. Duduk tenang sambil memandang keindahan laut biru.


Emelie meletakkan bungkusan makanan di atas meja, mengambil pakaian ganti lalu berjalan kearah kamar mandi.


Zeroun memandang pintu kamar mandi yang baru saja tertutup. Bibirnya tersenyum kecil saat ia kembali mengingat umpatan Emelie.


“Tidak cukup mandiri,” ucap Zeroun sambil menggeleng pelan.


Zeroun mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku. Tertulis nama Shabira di layar ponselnya. Sudah sangat lama ia tidak mendengar suara Zetta kesayangannya. Bibirnya tersenyum bahagia sebelum melekatkan ponsel itu di telinga.


“Zettaku, Apa kau merindukanku?” Ada senyum kecil dengan wajah berseri saat itu.


[Kak, Apa Kakak baik-baik saja?]


“Aku akan baik-baik saja. Bukankah sudah biasa berada dalam situasi seperti ini?”


[Jesica? Aku sudah menyelidikinya. Selama ini dia tidak pernah menjadi musuh yang tangguh untuk kami. Bagaimana bisa sekarang ia bertarung melawan kakak?]


“Aku akan menghadapinya. Bukankah hanya satu wanita tangguh yang tidak bisa Aku kalahkan?” Ada tawa kecil yang keluar dari bibir Zeroun.


Shabira terdiam sejenak. Sepertinya wanita itu mencerna setiap kata yang dikeluarkan oleh Zeroun.


“Aku akan baik-baik saja,” sambung Zeroun cepat. Setidaknya memang untuk detik ini ia masih dalam posisi aman dan baik-baik saja.


[Kakak buronan dan kakak bilang semua baik-baik saja?]


“Hanya salah paham, Aku sudah hampir menyelesaikannya.”


Zeroun asyik berbicara dengan Shabira. Ada tawa dan air mata disetiap percakapannya dengan Shabira siang itu. Ia terlalu asyik, hingga tidak menyadari kehadiran Emelie yang sudah berdiri di belakangnya.


Emelie terlihat sangat bingung dengan lawan bicara Zeroun saat itu. Bos mafia yang dingin itu kini tertawa. Bahkan, ini pertama kalinya Emelie memandang Zeroun tertawa dengan begitu lepas.


Dia tertawa? apa Aku tidak salah liat? siapa yang kini ia telepon? apa itu kekasihnya?


Ada rasa bahagia bercampur cemburu di dalam hati Emelie. Tidak senang melihat Zeroun menelpon terlalu lama. Wanita itu duduk di kursi sambil memandang ke arah laut. Wajahnya terlihat tidak peduli, namun telinganya ia pasang dengan begitu jelas.


“Baiklah, Aku juga sangat merindukanmu. Jaga kesehatan anak yang ada di dalam kandunganmu,” ucap Zeroun sambil mematikan panggilan masuk itu. Bibirnya tersenyum dengan bahagia.


“Apa itu istrimu?” tanya Emelie dengan wajah menyelidik.


“Dimana sumber kebahagiaan itu berada?” Emelie juga mengambil kotak makanan yang sama dengan Zeroun.


Zeroun menatap wajah Emelie dengan seksama. Ekspresinya kembali berubah dengan ekspresi dingin. Wajah ceria dengan canda tawa itu tiba-tiba saja hilang. Emelie menyadari perubahan ekspresi Zeroun siang itu.


“Selamat makan,” ucap Emelie cepat. Ia segera mengambil Muffin dan memakannya dengan lahap. Tidak cukup satu, Emelie memakan beberapa roti panggang mentega itu hingga perutnya terasa kenyang.


Zeroun juga melanjutkan makan siangnya. Ia tidak lagi ingin membahas tentang Shabira bersama dengan Emelie. Baginya itu bukan suatu hal yang harus dijelaskan secara detail. Emelie bukan siapa-siapa baginya. Sekuat mungkin, Zeroun ingin menghindari perasaan di dalam hatinya agar tidak jatuh hati terhadap pesona Emelie lagi.


Beberapa menit telah berlalu. Zeroun membawa Emelie untuk berjalan-jalan melihat keindahan desa kecil itu. Wajah Emelie terlihat sangat bahagia. Sejak dulu, liburan menjadi hobi yang tidak bisa tergantikan bagi Emelie. Wanita itu memang sangat suka untuk berlibur dan menikmati keindahan alam.


“Berikan tanganmu,” ucap Zeroun sambil memandang wajah Emelie.


“Untuk apa?” Emelie menghentikan langkah kakinya, menatap wajah Zeroun dengan seksama.


Tanpa menjawab pertanyaan Emelie, Zeroun merebut paksa tangan Emelie. Menggenggamnya dengan begitu erat hingga kesepuluh jari mereka saling bertaut.


“Kenapa harus bergenggaman tangan?” Emelie menatap tangannya yang kini berada di dalam genggaman tangan Zeroun.


“Agar mereka percaya dengan kita. Sejak tadi, Mereka terlihat curiga saat kau terus saja menjauh dariku.” Zeroun memperhatikan warga sekitar yang berlalu lalang.


“Terserah Kau saja,” jawab Emelie dengan wajah pasrah.


Tangan Zeroun terasa hangat saat jari-jarinya mencengkeram jari Emelie. Wajahnya masih tetap dengan ekspresi dingin. Sesekali ia mengukir senyuman kecil saat berpapasan dengan beberapa warga asli desa itu.


Apa ini? kenapa dadaku terasa tidak karuan seperti ini. Kenapa pilihan Aktingnya harus seperti ini.


Emelie memejamkan mata saat merasakan genggaman tangan Zeroun yang terasa sangat hangat itu. Debaran jantungnya terasa begitu cepat. Wanita itu bisa merasakan dengan jelas, perubahan di dalam dirinya.


“Apa kau bisa melepaskan tanganku, sekarang?” Emelie memperhatikan lokasi yang sudah tidak berpenghuni.


“Kenapa?” Zeroun belum mau melepas genggaman tangannya. Wajahnya justru semakin dekat dengan wajah Emelie. Membuat debaran jantung Emelie semakin tidak karuan.


Apa yang ingin ia lakukan?


Emelie memejamkan mata saat wajah Zeroun semakin dekat dengan wajahnya saat ini. Menahan napasnya agar tidak terlihat grogi di depan Zeroun. Zeroun tersenyum tipis saat melihat ekspresi Emelie siang itu.


“Karena Aku sangat mencintaimu,” ucap Zeroun pelan.


Deg, Emelie membuka matanya dengan cepat. Menatap wajah Zeroun dengan seksama. Jarak wajah keduanya hanya tinggal beberapa centi saja saat itu. Satu gerakan yang dilakukan Emelie, akan membuat bibir keduanya saling bersentuhan.


“Dia ... dia bilang suka padaku? Aku yang salah dengar atau ini cuma mimpi.


Wajah Emelie merona malu. Perkataan Zeroun membuat wanita itu menjadi semakin terbawa dengan perasaannya saat ini.


Zeroun tersenyum lagi, “Seseorang sedang mengawasi kita. Apa yang kau pikirkan?” bisik Zeroun pelan di telinga Emelie.


Emelie tersadar dengan ekspresi wajahnya saat itu. Dengan cepat, ia hempaskan tangan Zeroun dan berjalan lebih dulu ke arah depan. Ada perasaan kecewa saat Zeroun mengatakan semua itu hanya pura-pura.


Zeroun terlihat bingung menatap perubahan sikap Emelie. Kepalanya menggeleng pelan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


“Apa yang ia pikirkan saat ini?” Zeroun menghembuskan napas secara kasar sambil mengikuti Emelie dari belakang.